Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Malam Pertama


__ADS_3

Untuk malam pertama pengantin, Yati dan Biyan memilih sebuah suite mewah di hotel. Kamar mereka sudah dihiasi dengan indah, menciptakan suasana yang romantis dan penuh intim. Cahaya lembut dari lentera-lentera kecil memberi ruangan sentuhan magic.


Mereka memasuki kamar dengan tangan saling menggenggam, dengan wajah mereka yang bersinar penuh dengan kebahagiaan dan kepuasan. Meskipun mereka sudah saling mengenal selama beberapa waktu, malam ini adalah awal dari babak baru dalam hubungan mereka.


Mereka saling berpandangan dengan penuh cinta, menyadari bahwa mereka akan menghabiskan malam ini bersama-sama sebagai suami dan istri.


"I-ni begitu indah, sayang. A-ku tak bisa membayangkan tempat yang lebih romantis untuk malam ini." Yati berkata dengan senyum malu-malu, mengalihkan kegugupannya.


"Aku senang kau suka, Yati. Malam ini adalah malam yang kita tunggu-tunggu bersama. Iya, kan?" tanya Biyan dengan lembut, sambil membelai wajah Yati.


Apa yang dilakukan Biyan, justru membuat Yati semakin gugup. Padahal ia sadar bahwa ia bukanlah gadis remaja yang belum pernah tersentuh.


"A-ku ... a-ku juga, Biyan. Emh ... sayang. A-ku tak ada ..."


Yati tersenyum penuh kebahagiaan hingga tidak bisa berkata-kata dengan mudah. Wanita itu gugup untuk menghadapi malam pertamanya sebagai seorang "istri" yang sesungguhnya.


Biyan memandang Yati dengan penuh kasih sayang, menggenggam dan mengecup punggung tangan istrinya.


"Kita sudah melewati begitu banyak bersama, dan sekarang, kita resmi menjadi suami dan istri. Aku bersyukur memilikimu."


Yati, sambil menggenggam erat tangan Biyan, tersenyum dengan keharuan yang dirasakannya.


"Aku juga bersyukur, Biyan. Ayku tak sabar untuk melangkah bersama dalam setiap langkah hari-hari kita."


Mereka berdua, kembali saling berpelukan dengan penuh kasih sayang, merasakan kehangatan satu sama lain.


Malam ini adalah awal dari kisah cinta baru mereka, dan keduanya tak sabar untuk melangkah bersama dalam perjalanan kehidupan yang indah.


Perasaan dalam suasana keintiman dan kehangatan mengisi udara, saling canggung. Meskipun dulu mereka pernah melakukan, bahkan Yati pastinya telah "mahir" tapi tetap saja rasanya berbeda.


"Emhhh ... a-ku ..." Yati, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Hemmm," deheman Biyan, menambah rasa gugup yang dirasakan Yati.


Sekarang mereka duduk berdampingan di ranjang, berbagi percakapan yang intim dan jujur tentang harapan dan impian mereka. Mereka merencanakan masa depan mereka bersama-sama, dengan candaan dan tawa yang akhirnya tercipta alami di antara mereka.

__ADS_1


Seiring malam berjalan, ciuman-ciuman lembut di beberapa bagian tubuh, terasa sangat nikmat dengan keintiman yang mendalam. Setiap sentuhan memancarkan cinta dan kasih sayang yang tercipta.


"Ahhh ... B-iyan ..."


"Hem, kita lanjutkan?" tanya Biyan, menjeda aktivitasnya.


Tanpa mengeluarkan suara, Yati menjawab "iya" dengan anggukan kepalanya.


Malam itu adalah awal dari petualangan baru yang penuh dengan cinta, pengertian, dan dukungan. Mereka merangkul keintiman ini dengan hati terbuka, siap untuk melangkah maju bersama-sama dalam pernikahan mereka.


Di bawah cahaya lembut lentera, siluet mereka menari dalam pelukan mesra cinta mereka. Setiap sentuhan adalah simfoni kasih sayang, sebuah bukti kedalaman hubungan mereka.


Bisikan-bisikan hasrat terus terdengar di udara, saat jantung mereka berdetak beriringan, menggemakan ritme pengabdian mereka bersama dengan peluh yang membasahi dalam penyatuan cinta keduanya.


Dalam belaian lembut ujung jari Biyan, Yati menemukan ketenangan dan gairah terjalin. Desahannya melukiskan kanvas tempat perlindungan pribadi mereka, masing-masing merupakan sapuan kerinduan yang tak terucapkan. Jiwa mereka terjalin, sebuah janji diam-diam akan selamanya terukir di permadani malam.


Saat mereka terdiam dalam pasang surut kemesraan mereka, tatapan Biyan mencari persetujuan Yati, sebuah pertanyaan yang terucap dalam bahasa jiwa mereka. Dengan penegasan dalam hati, anggukkan demi anggukan Yati bergema melalui kepompong suci mereka, sebuah janji untuk melanjutkan penjelajahan mereka atas kedekatan yang baru ditemukan ini.


Malam itu terbentang bagaikan kelopak bunga yang lembut, memperlihatkan lapisan gairah dan kelembutan. Bisikan afirmasi mereka, musik perjalanan mereka bersama, bergema di dinding, mewarnai ruangan dengan warna cinta dan kerentanan.


Satu jam kemudian, di saat mereka telah selesai melakukan ritual malam pertama, mereka membersihkan diri.


"Aku pesan makanan ya, kamu pasti lapar, kan?" tanya Biyan, dengan menawarkan.


"Iya, aku lapar." Yati, menjawab dengan malu-malu.


Yati sendiri heran, dengan dirinya saat ini. Dua adalah wanita yang sangat berpengalaman dan "profesional" di masa lalu saat berperan sebagai Mis Yeti. Tapi sekarang, saat baru saja berstatus sebagai istri semuanya seperti ini, yang tidak pernah dibayangkannya.


Puk puk!


"Istirahatlah dulu, aku akan menunggu pesanan datang." Biyan, menyanyi untuk berbaring dengan menepuk-nepuk tempat tidur.


"Heem, aku memang capek dan mengantuk."


Untuk menutupi rasa gugup dan malunya, Yati segera berbaring di tempat tidur. Tapi pernyataannya itu justru membuat Biyan menyentuh kakinya, kemudian mulai memijat lembut.

__ADS_1


"Eh, i-ni ..."


"Tidak apa-apa. Nanti, bisa gantian aku yang dipijit." Biyan, tidak membiarkan Yati beranjak dari tempat tidurnya.


Ting tong ting tong!


"Itu, sepertinya pesanan makanan kita."


Biyan beranjak menuju ke arah pintu. Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa makanan yang sudah dipesannya.


"Ayo, kita makan dulu. Setelah itu, kita bisa saling memijat lagi." Biyan, berkata dengan mengedipkan matanya.


"Ihhh, apa sih?" tanya Yati, yang sebenarnya tahu arti dari perkataan suaminya barusan.


Sekarang mereka memutuskan untuk makan malam ringan di kamar mereka, menikmati hidangan lezat sambil bercerita tentang momen-momen bahagia mereka saat tadi, di acara pernikahan mereka.


"Aku sangat bersyukur, akhirnya bisa memilikimu, Yati. Kamu adalah impianku yang kini menjadi kenyataan," ungkap Biyan, sambil menyuapi istrinya.


"Dan aku merasa sangat beruntung memilikimu di sisiku, Biyan. Kita akan melewati segala rintangan bersama-sama," ungkap Yati, selesai mengunyah dan menelan makanannya.


Setelah makan malam, mereka duduk berdua di sofa, menikmati kebersamaan mereka dengan saling memandang penuh cinta. Melukiskan momen-momen istimewa yang hanya mereka berdua yang milikinya saat ini.


Saat malam semakin larut, mereka memilih untuk kembali beraktivitas sebagaimana layaknya sepasang pengantin baru.


"Aku sudah mengisinya dengan sabun aroma sakura, dan esensial yang aromanya sama-sama menenangkan."


"Hemmm ... ini acara mandi yang sangat penting, aku ingin ini bisa terulang setiap waktu."


Biyan, segera mengangkat tubuh Yati ke atas pangkuannya. Dan Yati sendiri paham dengan apa yang ingin dilakukan oleh suaminya. Dia pun tidak menolak, memahami kebutuhan biologis suaminya yang lebih muda.


"Ahhh ... sayang ..."


"Ya, sayang. Aku mau ini setiap saat," ucap Biyan, dengan aktifitas tangan dan bibirnya yang tiada henti.


Acara mandi yang seharusnya tidak terlalu lama, menjadi satu jam lebih untuk pasangan pengantin baru ini.

__ADS_1


Akhirnya, setelah selesai untuk urusan di kamar mandi, mereka berpindah ke tempat tidur dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Mereka menghabiskan sisa waktu pagi itu dengan berbicara dan tertawa, mempererat ikatan mereka sebagai pasangan suami istri.


__ADS_2