
Yati duduk di samping tempat tidur ayahnya, melihat bagaimana keadaan ayahnya yang tidak bisa berbuat banyak seperti dulu.
"Ayah, bagaimana kabarmu? Sakitmu sudah lebih baik, ndak?" tanya Yati, yang sudah terbiasa memanggil Tuan Wasito dengan sebutan "Ayah".
Tuan Wasito tersenyum lemah, memaksakan bibirnya agar bisa membentuk senyuman yang sempurna.
"Iyoo, Y-ati. Kabaarr k-amu pi-piye?"
Meskipun terbata-bata dan tidak terlalu jelas, tapi Yati tahu maksud pertanyaan ayahnya.
"Iki Yati, ayah. Yati datang, pengen liat keadaan ayah."
Dengan memberikan jawaban seperti itu, Yati tidak mau menambah beban pikiran ayahnya.
Selama ini, Tuan Wasito memang tidak tinggal di dekat rumah Yati. Tapi ada perawat khusus yang mengurus setiap hari, bahkan perawat tersebut menginap di rumah agar Tuan Wasito ada yang menjaga.
Meskipun demikian, ada beberapa orang-orang kepercayaan Tuan Wasito yang tetap ada-menemaninya hingga sekarang.
"A-paa oraangg desaa m-asih bersikap t-idak baik, p-padamu?"
Gelengan kepala Yati, cepat sebagai jawaban atas pertanyaan ayahnya yang kesulitan bicara.
"Nek wis gak tahan, tinggalke desa itu. Di sini saja bersama dengan, ayah. K-amu, akan tenang di sini. Ini semua, milik ayah, akan menjadi milikmu juga, Yati."
Yati hanya bisa mengangguk dengan tangisan yang ditahan.
"Matur suwun, Yah. Yati ora pengin nyusahi ayah, tapi jebule keputusan iki wis ora biso digandhengake. Yati, juga berencana untuk pindah."
Mendengar jawaban tersebut, Tuan Wasito tersenyum bahagia. Sepertinya, keinginannya untuk dekat dengan Yati akan segera terwujud.
"Ora opo-opo, Yati. Ayah seneng bener karo niatmu neng ati. A-yah dadi bangga bener karo Yati. Ora ono kesalahan sing ora biso digawe bener. Sing penting Yati mesti tetep semangat."
Yati kembali menganggukkan kepalanya, kemudian menggenggam tangan tua yang dulunya sangat perkasa dan kuat.
"Matur suwun, ayah. Nanti Yati bakal golek panggonan yang dekat dengan rumah ayah."
Tapi Tuan Wasito menggeleng cepat, meskipun tetap terlihat lamban. Dia tidak mengijinkan anaknya untuk mencari tempat tinggal lain, karena dia ingin Yati ada di rumahnya-bersama dengannya.
Yati, memang sengaja datang ke rumah ayahnya ini untuk memberitahukan rencananya. Tapi ternyata bukan untuk tinggal di rumah ayahnya ini, melainkan di tempat yang lain yang tidak jauh dari sini.
Sayangnya, Tuan Wasito tidak memberikan izin. Dia tidak mau jauh-jauh dari anak satu-satunya yang dimilikinya hingga sekarang.
Bahkan dulu, Tuan Wasito tidak pernah membayangkan bisa diberikan kesempatan dan waktu untuk bertemu dan mengenal anaknya, yang tidak pernah diketahuinya sejak lahir!
"Yati, pikir-pikir dulu, Yah. Yati juga belum menemukan pembeli rumah Yati yang sesuai."
Secara emosional, Yati mengalami perubahan batin yang mendalam. Mulai dari perasaan beban karena harus bisa mengurus ayahnya yang sakit, meskipun tetap dibantu dengan perawat.
Dia juga merasa haru karena saat ini sudah menjalin hubungan yang lebih baik dengan ayahnya, yang selama ini tidak dekat.
Namun, Yati tetap ingin menunjukkan bahwa dia siap untuk menghadapi tantangan demi mencari kedamaian dan mencari cara untuk menerima masa lalunya dan meneruskan kehidupan yang lebih baik.
__ADS_1
"Bagian paling sulit adalah meninggalkan rumah kenangan simbok. Dia adalah satu-satunya orang yang menerima aku apa adanya, sejak aku bayi dan masa laluku."
Tuan Wasito meraih tangan anaknya, mencoba memberikan kekuatan.
"Saat aku pergi dari sana, rasanya seperti kehilangan orang yang benar-benar memahami dan menyayangiku."
Yati, kembali berbicara sendiri-mengenang Mbok Inah.
"J-ika k-amu tetap di sana, kamu akan terus jadi bahan omongan dan tidak akan pernah bisa lepas dari masa lalumu. Sama seperti yang ayah alami saat itu. Memilih pergi dan mengambil kesempatan adalah keputusan terbaik untuk mencari kedamaian dan mencoba melupakan bagian buruk yang dulu."
Mendengar perkataan ayahnya, Yati mengangguk setuju. Dia memang berniat untuk pergi dari desa untuk memulai hidup baru.
Pilihan untuk meninggalkan desa dan semua kenangan bersama Mbok Inah merupakan keputusan yang berat bagi Yati.
Meskipun dia merasa terikat dengan desa dan kenangan masa lalunya, dia menyadari bahwa pergi adalah langkah yang diperlukan untuk mencari kedamaian, memberi perhatian pada ayahnya, dan membuka babak baru dalam hidupnya.
Kemarin, Yati menghadapi keputusan yang sulit. Melihat ayahnya yang sedang sakit stroke, dia tahu dia harus mengambil langkah berani untuk merawatnya. Sang ayah adalah satu-satunya keluarga yang tersisa, meskipun mereka tidak memiliki hubungan yang dekat.
Perasaan cinta dan tanggung jawab sebagai anak membuatnya merasa berkewajiban untuk mengurusnya.
Namun, keputusan untuk pergi berarti meninggalkan semua miliknya bersama Mbok Inah, dan semua kenangan yang telah mereka bangun di desanya.
"Maafkan Yati, Mbok. Yati terpaksa," gumam Yati tertahan.
Rasa takut akan kehilangan orang yang paling dia sayangi, sama seperti saat kehilangan Mbok Inah, membuat kekhawatiran tentang masa depan yang menyesaki hatinya seandainya ayahnya pergi juga meninggalkan dirinya.
Yati bimbang antara mengejar kebahagiaan dan mencari kedamaian atau tetap tinggal di desa Mbok Inah dan menghadapi bisikan-bisikan serta prasangka buruk orang lain.
Di tengah perasaan yang campur aduk, Yati tahu dia harus mengambil langkah maju-sama seperti nasehat ayahnya.
Dia ingin merawat ayahnya dengan memulai kehidupan baru, meskipun itu berarti harus meninggalkan desa dan semua kenangan yang ada.
Hati Yati penuh dengan kekhawatiran dan ketidakpastian, tetapi dia juga merasa ada harapan di balik keputusan berani ini. Dia siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang dan mencari cara untuk menerima masa lalunya serta membuka lembaran baru dalam hidupnya.
***
Beberapa hari kemudian, Yati menawarkan rumah dan tanah pada seorang calon pembeli.
Pembeli ini, tertarik dengan iklan yang dia posting di salah satu group lapak jual beli online.
"Pak, mau beli rumah dan tanah di desa ini? Harganya cukup terjangkau dan lokasinya strategis."
Calon Pembeli terdiam sebentar, tidak langsung memberikan jawaban.
"Hmm, saya perlu waktu untuk berpikir, Mbak. Saya akan beritahu nanti."
Ternyata, menawarkan lahan bersama dengan bangunan rumah tidak semudah menjual nadi di warung.
Ini jauh lebih sulit!
Setelah berulang kali menawarkan rumah dan tanahnya pada calon pembeli, Yati mendapati kesusahan mendapatkan pembeli.
__ADS_1
Beberapa calon pembeli menunjukkan minat, tetapi sebagian besar hanya sebatas pertanyaan, melihat kondisi dan keadaan kemudian pergi dan belum memberikan kepastian.
"Kok gak laku-laku? Apa aku memberikan penawaran yang terlalu tinggi?" tanya Yati, mengoreksi.
"Jika tidak ada yang beli, bagaimana?"
Seiring berjalannya waktu, Yati semakin merasa khawatir dan cemas karena belum ada yang benar-benar tertarik untuk membeli propertinya.
Akhirnya, Yati bertanya kepada pak RT, sekaligus meminta Pak RT agar pembantunya memasarkan rumahnya.
"Pak, kulo nyuwun tulung. Ini kesusahan mendapatkan pembeli untuk rumah dan tanah, Yati. Sudah beberapa bulan ditawarkan, tapi belum ada yang serius mau membeli."
Pak RT sudah mengetahui jika rumah tersebut mau dijual, mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Tenang, Yati. Mungkin memang butuh sedikit waktu dan kesabaran. Kamu bisa mencari orang-orang yang biasa melakukan jual beli rumah atau kebun-untuk membantu mempromosikan rumahmu."
Yati, mengangguk mengiyakan. Tapi, dia sendiri tidak paham siapa saja orang-orang yang seperti dibicarakan Pak RT.
"Nanti Bapak bantu, juga. Jadi tidak perlu khawatir, ya?"
"Matur suwun, Pak. Yati sudah coba beberapa kali membuat iklan di sosial media, tapi sepertinya tidak ada yang cocok. Beberapa agen properti resmi, juga kesulitan menemukan pembeli yang cocok."
Pak RT, mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Yati.
"Apa karena desa kita termasuk pedalaman, ya? Semua ini membuat Yati semakin khawatir, apalagi Yati ingin segera pindah dan merawat ayah."
Meskipun rumah Yati memiliki bangunan yang lebih bagus dari milik orang lain, tapi entah kenapa tidak ada yang tertarik.
"Jangan menyerah, Yati. Kamu bisa mencoba cara lain seperti memperluas jangkauan promosi, atau mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh calon pembeli di daerah ini."
Pak RT, memberikan informasi yang kemungkinan memang tidak diketahui oleh Yati.
Yaitu tentang minat pembeli!
"Iya, mungkin Yati perlu memikirkan kembali strategi promosi dan juga menyesuaikan harga agar lebih menarik minat calon pembeli. Yati tidak ingin terus-terusan menghadapi kesusahan ini."
Sepertinya, letak geografis desa juga mempengaruhi. Sebab para pembeli merasa keberatan dengan harga yang tinggi yang ditawarkan.
Padahal, Yati sudah memperhitungkan seminimal mungkin. Apalagi rumahnya ini termasuk bangunan yang mewah dibandingkan dengan rumah warga desa lainnya.
"Tetap semangat, Yati. Bapak yakin ada pembeli yang akan tertarik dengan rumahmu. Jangan terlalu stress, percayalah segala sesuatunya akan berjalan baik pada waktunya."
"Terima kasih, Pak. Yati akan mencoba yang terbaik dan berharap ada pembeli yang serius segera datang."
Setelahnya, Yati pamit pulang karena merasa urusannya selesai.
Tapi sebelum Yati benar-benar pergi dari rumah Pak RT, istrinya Pak RT menegur suaminya dengan suara yang keras.
Terdengar sengaja, supaya Yati bisa ikut mendengarnya.
"Opo to, Pakne! Gak usah sok-sokan bantu mantan *****! Kita bisa kena imbasnya, nanti!"
__ADS_1