
Hubungan yang baik, tidak akan pernah terjadi jika kedua belah pihak tidak ada rasa saling percaya dan terbuka. Tidak ada kesadaran yang datang dari diri sendiri dan juga hati masing-masing.
Jika hanya ada kecurigaan dan saling menyalahkan, yang ada hanyalah sikap acuh, dingin, dan tidak peduli antara satu dengan yang lain.
Itu juga yang kemarin terjadi pada Mr Ginting dan kakeknya.
Jika sang kakek bisa melunakkan hatinya sendiri, tidak dengan Mr Ginting.
Dia jadi dingin, dan selalu menyalahkan sang kakek, untuk semua yang sudah terjadi pada dirinya selama ini.
Karena memang sang kakek yang selama ini memutuskan sesuatu untuk dirinya. Baik untuk kehidupannya sehari-hari, dan juga pendidikannya yang super ketat, karena ada di asrama dan itu sangat disiplin. Mereka kebanyakan adalah anak-anak yang dididik untuk mewarisi kedudukan orang tuanya, entah dalam urusan negara, kerajaan ataupun bisnis keluarga.
Hal yang sama untuk Mr Ginting, yang merupakan ahli waris dari perusahaan mediang papanya.
Sekarang, Mr Ginting dan kakeknya, sepertinya sudah tidak lagi ada penghalang untuk saling terbuka. Mereka bisa menikmati kebersamaan mereka, antara cucu dengan kakeknya.
Tapi sepertinya itu tidak bisa dilakukan untuk saat ini. Mereka masih harus membicarakan tentang rencana pesta pernikahan itu, yang hampir 95% rampung. Tinggal gladi bersihnya saja. Dan juga menunggu persetujuan dari Mr Ginting sendiri, sebagai pengantin prianya.
"Jadi, Aku hanya datang untuk mendengar semua rencana pesta besok? Apa tidak bisa dihandle sendiri oleh EO nya?" tanya Mr Ginting dengan membuang nafas.
Orang-orang kepercayaan sang kakek, hanya bisa menundukkan kepalanya, saat mendengar perkataan tuan mudanya itu.
"Bukan begitu Boy. Mereka semua, tidak ingin ada kekurangan yang membuat tidak sempurnanya pesta besok. Kamu bisa melihat dan mengomentarinya sendiri, sehingga mereka dapat memperbaiki jika memang ada yang perlu di perbaiki juga."
Sang kakek menjawab pertanyaan dari cucunya, Mr Ginting, yang terkesan kesal, karena harus mengevaluasi kinerja mereka semua.
"Tapi Kek, besok Aku masih ada beberapa pekerjaan di kantor. Kakek tahu sendiri kan!" ucap Mr Ginting, mengingatkan kakeknya, tentang pekerjaannya di kantor.
__ADS_1
"Limpahkan saja pada Surya. Kamu fokus pada persiapan pesta. Ini sudah tidak ada waktu lagi. Kamu mau jika besok ada kesalahan, ataupun kekurangan, yang baru Kamu lihat?" Kakek Mr Ginting, memperingatkan cucunya juga.
Ini untuk kebaikan mereka semua, dan juga keberhasilan dari pesta yang sudah di rencanakan oleh sang kakek, untuk cucunya itu.
Mr Ginting melihat ke arah istrinya, yang sedari tadi hanya bisa diam dan mendengarkan mereka berdebat. Dia meminta pendapat istrinya, lewat pandangan matanya.
Yati tersenyum dan mengangguk. Dan akhirnya, Mr Ginting menghela nafas panjang, kemudian berkata, "baiklah. Aku akan melakukannya."
Sang kakek tersenyum puas, mendengar perkataan dari cucunya. Dia juga menoleh ke arah Yati, yang saat ini masih menatap ke arah suaminya. Yaitu Mr Ginting, cucunya sendiri.
Sang kakek merasa bahwa, istri dari cucunya itu, bisa menjadi 'rem' emosi. Bisa menjadi perantara juga untuk perbaikan hubungannya dengan Mr Ginting, cucunya, yang selama ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Dia benar-benar berterima kasih kepada Yati, istri dari cucunya itu.
Tak lama kemudian, kesepakatan antara Mr Ginting dengan orang-orang kakeknya terjadi. Mr Ginting akan meninjau ulang, semua keperluan dan persiapan pesta. Ini karena Mr Ginting juga tidak mau, jika ada kekurangan dan juga kejadian yang tidak diinginkan besok, di hari yang sudah ditentukan. Hari dimana pesta pernikahannya digelar.
Tapi tak lama kemudian, Mr Ginting sadar, jika semua ini hanya sebuah sandiwara belaka. Tidak ada yang benar-benar terjadi, antara dirinya dan juga Yati. Meskipun secara hubungan, mereka berdua sudah sama layaknya sepasang suami istri.
"Apa ini akan berakhir, sama seperti yang dulu Aku inginkan? atau akan berakhir seperti di dalam film-film, yang kadang memang ada di dunia nyata? Tapi apa mungkin, ini akan menjadi seperti itu? Aku dan Yeti yang seorang geisha. Meskipun sebenarnya dia sangat baik dan juga tidak seperti itu, tapi apa mungkin? Bagaimana dengan diriku sendiri? Apa yang Aku rasakan kemarin-kemarin, saat Aku ingin cepat-cepat bisa ada didekatnya? Apa Aku sama seperti laki-laki yang lainnya? Atau Aku yang tidak normal sebagai seorang laki-laki selama ini?"
Berbagai macam pertanyaan muncul di hati Mr Ginting. Dia meragukan dirinya sendiri, untuk kedepannya nanti. Dia tidak tahu, apa yang akan terjadi, pada hubungan mereka ini.
"Shunjin. Shunjin. Mr Ginting," bisik Yati lebih dekat lagi, karena Mr Ginting tidak juga menyahuti panggilannya.
"Eh, iya ada apa?"
Mr Ginting menjawab dengan sebuah pertanyaan dan dalam keadaan gugup. Dia takut jika, istrinya itu bisa mengetahui apa yang sedang dia pikirkan. sama seperti dirinya, yang akan tahu, apa yang dipikirkan istrinya jika sedang membatin seorang diri.
"Kita diminta untuk datang ke meja makan. Hidangan sudah siap," kata Yati, menjawab pertanyaan dari Mr Ginting.
__ADS_1
"Oh. Iya-iya. Ayok!"
Akhirnya, Mr Ginting mengikuti langkah Yati dari arah belakang. Dia merasa sangat lega, karena Yati tidak tahu, apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
"Untungnya, dia tidak punya kemampuan yang sama sepertiku. Jika iya, bisa mati kutu Aku," batin Mr Ginting sambil tersenyum tipis.
Yati, uang sudah sampai di depan meja makan, ikut tersenyum, karena berpikir bahwa, suaminya itu menyukai hidangan yang disajikan dalam jamuan makan malam kakeknya.
Mr Ginting segera memundurkan satu buah kursi untuk diduduki istrinya. Setelah Yati duduk, dia mengambil tempat duduk di sebelahnya. Dan sekarang, mereka berdua duduk tepat di depan sang kakek.
Para tamu yang lain, para utusan sang kakek tadi, sudah meminta untuk undur diri terlebih dahulu. Mereka semua tahu, jika tuan besar dan tuan mudanya, membutuhkan waktu yang lebih privasi, apalagi saat ini ada istri dari cucunya juga. Hal yang memang seharusnya, karena ini adalah jamuan makan malam untuk mereka berdua saja, tanpa ada pihak keluarga lainnya, apalagi mereka yang memang tidak ada hubungan keluarga, dan hanya sebagai seorang pegawai dan atasan saja. Meskipun tidak selamanya sang kakek melihat dari segi hubungan seperti itu, karena kadang kala, kakek tua itu juga menjamu mereka, sama seperti layaknya sebuah keluarga.
"Aku merasa sangat senang, jika Kalian berdua, mau menerima kado dari kakek tua ini."
Mr Ginting memicing karena curiga, jika ini adalah sebuah pengusiran yang terselubung.
Di usir untuk sebuah rencana sang kakek, agar bisa mendapatkan kabar jika istrinya, akan bisa segera hamil.
"Apa Kek?" tanya Yati dengan antusias, karena merasa penasaran dengan perkataan kakeknya Mr Ginting.
Yati tidak tahu, jika semua sudah terbaca oleh suaminya sendiri, Mr Ginting.
"Kado untuk pernikahan kalian berdua. Ini tidak seberapa sebenarnya. Kakek_mu ini hanya ingin, kalian berdua bisa menikmati kebersamaan dan tidak ada gangguan dari kertas-kertas kantor."
Jawaban dari sang kakek, membuat Yati terbelalak. Ini karena dengan segera, dia memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang kakek.
"Kiara ikut saja, terserah dari shunjin."
__ADS_1
Akhirnya Yati menyerahkan semua keputusan pada suaminya. Dia tidak mau, jika jawabannya akan membuat Mr Ginting marah. Apalagi, dia juga tidak tahu, jadwal pekerjaan suaminya itu di kantornya.