Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Semua Sudah Siap


__ADS_3

Yati bersiap untuk berangkat ke kota lagi. Dia akan kembali, sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan oleh suaminya, Mr Ginting. Dia tidak mau mengulur waktu, dan membuat Mr Ginting marah, dan tidak akan memberinya sedikit kebebasan, untuk melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan pernikahan mereka. Sama seperti yang saat ini dia lakukan. Ada di kampung halamannya, dan itu tanpa Mr Ginting, sebagai suaminya.


"Saya sudah siap Pak," kata Yati, memberitahu pak supir, yang menunggu dirinya.


Pak supir mengangguk. Dia juga sudah siap, karena sudah beristirahat semalam, saat Yati dan Mbok Minah ada di rumah sakit. Dia beristirahat sejenak, meskipun berada di ruang tunggu operasi.


Dan pagi ini, dia kembali bertugas, untuk mengantar istri bos-nya itu kembali ke kota, di mana bos-nya juga sudah menunggu.


Yati harus kembali ke kota. Selain memang dia hanya mendapat ijin selama dua hari saja, operasi kang Yoga juga sudah dilakukan. Dia baru saja sadar dan Yati langsung kembali pulang, bersama dengan mbok Minah, untuk bersiap-siap.


"Baik Miss," ucap pak supir, dengan mengangguk mengiyakan.


Pak supir menghabiskan kopi-nya terlebih dahulu, kemudian membantu Yati membawakan tas jinjing yang dibawa Yati, meskipun tidak terlalu besar.


"Terima kasih," kata Yati, saat tas-nya itu di minta pak supir.


Pak supir hanya mengangguk. Dia berjalan terlebih dahulu, keluar dari dalam rumah.


Setelah membuka bagasi, pak supir meletakkan tas yang dia bawa tadi, kemudian segera membukakan pintu mobil untuk Yati.


Yati yang sedang berpamitan dengan mbok Minah, meminta pada pak supir untuk menunggu sebentar.


"Mbok, Yati pamit dulu. Salam buat kang Yoga. Semoga operasinya semalam, bisa menjadi jalan untuk dia busa sembuh dan sehat lagi," kata Yati, sambil memeluk simbok- nya.


"Iya. Kamu ati-ati kalau kerja. Terus ini, nantinya Kamu lama gak pulang ya?" mbok Minah bertanya, tentang alasan Yati, yang semalam dia sampaikan, saat menunggu operasi kang Yoga.


"Ya Mbok. Ngapunten njeh Mbok. Yati akan lama tidak pulang. Mbok jaga diri ya!" jawab Yati dengan mengangguk, mengiyakan pertanyaan dari mbok Minah.


Setelah mereka berdua melepaskan pelukannya, Yati segera masuk ke dalam mobil, yang pintu belakangnya masih terbuka, dengan pak supir yang ada di sebelahnya.


Begitu Yati masuk ke dalam mobil, pak supir masuk ke dalam mobil, pada bagian depan dan siap untuk menyetir. Mengantar kembali istri dari bos-nya, ke kota. Di mana si Bos sudah menunggu kedatangan istrinya, miss Kiara.


*****


"Kapan dia sampai?"


Terdengar gerutuan Mr Ginting, yang uring-uringan sendiri di ruangannya.

__ADS_1


Dia baru saja mendapatkan kabar dari pak supir, yang saat ini sedang berada dalam perjalanan, bersama dengan istrinya.


Dia segera sudah berpesan, agar segera menghubungi dirinya, jika mereka sudah sampai di rumah. Tapi ternyata, sampai sekarang, belum juga ada kabar, jika mereka sudah tiba di rumah.


Ting!


Notifikasi pesan di layar handphonenya berbunyi. Ada pesan yang baru saja masuk.


Mr Ginting, segera memeriksa, pesan apa yang dia terima.


Tak lama kemudian, sebuah senyuman terukir di wajahnya, yang tadi terlihat kusut dan suntuk.


"Akhirnya, datang juga dia," gumam Mr Ginting tidak jelas.


Dia segera membereskan beberapa berkas yang masih terbuka di meja kerja. Setelah dirasa cukup rapi, dia segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke pojok ruangan, di mana tas kerjanya berada.


Mr Ginting menghubungi supir, untuk menyiapkan mobil. Dia akan segera pulang, sekarang juga.


******


"Kamu kenapa lama sekali di kampung?" tanya Mr Ginting dengan gemas, saat sudah berada di dalam kamar, bersama dengan istrinya, Yati.


Yati terlihat manja, apalagi Mr Ginting yang terkesan protektif terhadap dirinya. Dia jadi merasa diutamakan. Sama seperti seorang istri yang sesungguhnya. "Apakah Aku punya kesempatan untuk bisa menjadi seorang istri yang sebenarnya, suatu hari nanti?" batin Yati, dengan menatap wajah suaminya.


Tapi sepertinya, kemampuan Mr Ginting yang bisa tahu apa yang sedang dipikirkan oleh orang lain, tidak lagi bisa digunakan pada Yati. Entah kenapa, kemampuannya itu menghilang saat bersama dengan istrinya itu.


Padahal, Mr Ginting masih bisa mengandalkan kemampuannya itu pada orang lain. Entah karena hatinya sendiri, yang sudah penuh dengan Yati atau ada alasan yang lainnya, Mr Ginting juga tidak tahu penyebabnya. Yang pasti, dia tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh istrinya itu sekarang. Dia tidak bisa membaca pikiran Yati.


Saat ini, mereka berdua saling berpelukan. Menyalurkan rasa rindu yang mereka rasakan selama dua hari ini. Terutama Mr Ginting.


Dia tidak bisa menahan diri, untuk melakukan apa saja yang dia inginkan. Apalagi, Yati juga menyambutnya dengan penuh kehangatan.


"Apa Kamu tidak capek?" tanya Mr Ginting, saat mereka berdua sudah berada di tempat tidur.


Yati mengeleng sambil tersenyum nakal. Dia merasa sangat senang, bisa menggoda suaminya itu, dalam keadaan seperti ini. Tidak sama seperti saat Mr Ginting sedang serius dan berkonsentrasi pada pekerjaannya.


Sangat berbeda di mata Yati. Dan Yati, suka dengan sikap Mr Ginting yang seperti sekarang ini. Sesuai dengan semangat yang sama, dan rasa yang sama juga.

__ADS_1


*****


Sang Kakek sedang menunggu laporan yang akan diberikan oleh orang suruhannya.


Tadi, orang tersebut menghubungi Kakek, dan mengatakan bahwa, dia sudah mendapatkan informasi tentang istri dari cucunya, Mr Ginting.


Sang kakek menunggu kedatangan orang itu dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa cemas, dan juga khawatir. Entah apa yang sebenarnya terjadi nanti. Tapi sepertinya, sang Kakek mendapat firasat yang tidak baik, untuk semua yang akan dia ketahui setelah semua terungkap.


"Kenapa Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres ya? Perasaan apa ini? Hah!"


Dengan membuang nafas kasar, sang Kakek memejamkan mata sambil berpikir. Tapi karena dia memang belum tahu apa-apa, dia juga tidak bisa menyimpulkan sendiri, apa yang menjadi kekhawatirannya kali ini.


"Tuan. Ada tamu yang datang. Katanya sudah ada janji dengan Tuan Besar."


Salah satu penjaga rumah, datang melapor pada sang Kakek. Penjaga itu mengatakan bahwa, tamu tersebut memiliki ciri-ciri yang sama seperti temannya, yang dia perintahkan untuk menyelidiki menantunya. Istri dari cucunya, Mr Ginting.


"Ajak dia masuk," kata sang Kakek memberikan perintah.


"Baik Tuan!"


Penjaga rumah, bergegas keluar rumah. Dia menemui tamu yang datang, dan masih menunggu di pos penjagaan.


"Mari Tuan," ajak penjaga rumah, dengan mengangguk sopan.


Tamu tersebut juga ikut mengangguk mengiyakan ajakan penjaga rumah. Dia mengikuti langkah penjaga tersebut, untuk menemui tuan Besar-nya, yang sudah menunggu semua laporan dari hasil pengamatan dan penyelidikannya, selama hampir seminggu ini.


"Tuan. Ini tamu yang datang ingin menemui Tuan Besar."


Penjaga rumah, kembali datang untuk melapor, bahwa tamunya sudah dia ajak, untuk menghadapnya.


Di belakang penjaga rumah, tampak seorang laki-laki yang sudah tidak lagi muda. Tapi dia juga tidak terlihat tua.


"Apa kabar Andre?" tanya Sang Kakek, kemudian memeluk suami dari keponakannya sendiri.


Meskipun pertalian darah antara sang Kakek dengan istrinya itu terbilang cukup jauh, tapi hubungan antara sang Kakek dengan tamunya itu termasuk dekat, karena mereka berdua, sama-sama dari alumni sekolah angkatan yang sama.


Itulah sebabnya, sang Kakek memiliki ketegasan dan kedisiplinan, yang diterapkan pada pendidikan cucunya, sejak masih kecil dulu.

__ADS_1


Sedangkan tamu yang sang Kakek sebut dengan nama Andre, saat ini bertugas menjadi seorang duta di negara Eropa. Dia tidak lagi bertugas sebagai penyidik ataupun Intel.


Karena pengaruh dari jabatan mertuanya, ayah dari istrinya, dia diangkat menjadi duta besar, dan harus berpindah-pindah negara untuk tugasnya itu. Dan sekarang, dia meluangkan waktu libur cutinya, untuk membantu sang Kakek, yang ingin mengetahui latar belakang keluarga dari miss Kiara. , istri dari Mr Ginting. Cucu sang Kakek sendiri.


__ADS_2