
Waktu ibarat roda yang terus menerus berjalan, menuju ke tempat tujuan, yang akan membawa kita pada apa yang kita inginkan.
Perputaran roda itu, tentang kecepatan dan lambannya, juga tergantung kepada kita sendiri yang mengendalikannya.
Jadi, apa yang terjadi pada diri kita, tergantung pada apa yang kita lakukan juga.
Tidak perlu banyak menengok ke arah orang lain, jika itu akan memperlambat jalan yang kita lakukan.
Lebih baik fokus, pada tujuan yang telah kita buat. Yang pasti, ada niat, dikerjakan, dan optimis, dengan apa yang kita lakukan akan membawa keberhasilan.
Jika orang lain mampu, kemungkinan kita juga akan mampu, meskipun dengan waktu yang berbeda dari orang tersebut.
Percaya dengan apa yang ada pada diri kita. Dan pasrahkan saja semuanya pada Tuhan. Karena Tuhan tidak akan pernah membiarkan umat-Nya, berusaha tanpa ada hasilnya.
Meskipun, hasilnya tidak sama seperti yang kita inginkan, tapi percayalah, akan ada keberhasilan yang lain, yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan, untuk diri kita. Mungkin saja, ada pada tempat dan bidang yang lain, dengan waktunya yang lebih tepat menurut Tuhan.
*****
Kebimbangan yang dialami oleh Yati, terlihat jelas, karena apa yang dia kerjakan, tak kunjung selesai. Dia lebih banyak melamun, dari pada segera menyelesaikan pekerjaan, yang harus dia lakukan.
Mbok Minah menggelengkan kepalanya, melihat keadaan cucunya itu. Tapi perkiraannya salah, karena bukan soal ayahnya, tuan Wasito, yang membuat Yati galau seperti itu.
Tapi panggilan telpon dari Mr Akihiko, yang meminta Yati untuk kembali ke kota lah yang membuat dirinya seperti sekarang ini.
"Nduk," sapa mbok Minah pelan.
Yati diam dan tidak menyahut atau menoleh, saat di panggil oleh mbok Minah.
"Nduk. Yati."
Mbok Minah kembali memanggil. Namun kali ini, dengan menyentuh pundak cucunya itu, agar segera sadar dari lamunannya.
Dan sentuhan tangan Mbok Minah pada pundaknya, membuat Yati sadar.
Yati tampak terkejut, dan cepat menoleh ke arah samping, di mana mbok Minah berdiri di dekatnya.
"Eh, i_iya Mbok. Ada apa?" tanya Yati gugup.
"Ngelamunke opo? kok meneng wae Ket mau." ( melamun karena apa? kok sedari tadi diam saja )
"Emhhh, mboten nopo2 Mbok. Oh ya, masake sampun?" ( Gak apa-apa Mbok. Apa masaknya sudah selesai? )
Yati tersenyum canggung, karena ternyata dia lupa, jika dia sedang mengiris-iris sayur, yang akan di masak oleh mbok Minah.
Jadi, mana mungkin mbok Minah sudah selesai dengan masakannya, jika sayurnya saja belum selesai di iris oleh Yati. "Oh iya. Maaf-maaf Mbok," ucap Yati, dengan gugup. Karena akhirnya ketahuan juga, jika dia sedang melamun sendiri sedari tadi.
Mbok Minah tersenyum, mendengar ucapan kata maaf dari Yati. Apalagi saat Yati memerah wajahnya, karena merasa malu, dengan apa yang dia tanyakan, padahal dia sendiri yang belum selesai menerjemahkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Tidak usah dipikirkan. Jalani saja, apa yang ada. Jika Kamu ingin beristirahat atau berhenti, jangan di paksa. Tidak baik, jika harus memaksakan diri, untuk apa yang harus kita lakukan."
Yati tertegun sejenak, mendengar nasehat dari mbok Minah, yang tidak dikatakan secara gamblang, apa yang ingin dia sampaikan pada Yati.
Akhirnya, Yati hanya bisa tersenyum, setelah beberapa saat kemudian, saat dia baru menyadari, apa yang dikatakan oleh mbok Minah padanya tadi.
"Iya Mbok. Matur suwun." ( Terima kasih )
*****
Seminggu kemudian, akhirnya Yati kembali ke kota, di mana biasanya dia bekerja selama ini.
Dia tidak mungkin mengabaikan panggilan dari Mr Akihiko. Karena tanpa adanya Mr Akihiko juga, Yati tidak mungkin bisa bertemu dengan ibunya, meskipun semuanya bisa di bilang sebagai sebuah kebetulan belaka.
Dan tepat sehari kemudian, setelah Yati pergi kembali ke kota, tuan Wasito, datang lagi ke rumah Mbok Minah, mencari keberadaan anaknya, Yati.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Tuan Wasito mengetuk pintu rumah Mbok Minah beberapa kali, tapi ternyata, Mbok Minah justru menyahuti dari arah belakang tuan Wasito.
"Njeh, monggo." ( Ya, silahkan )
Tuan Wasito menoleh ke arah belakang, dan menemukan keberadaan tuan rumah.
"Sakeng kebon niku." ( Dari kebun situ )
Mbok Minah menjawab pertanyaan dari tuan Wasito, dengan menunjuk ke arah kebun kecil di samping rumahnya.
Rumah mbok Minah tidak besar, tapi juga tidak kecil. Bentuknya juga tidak modern. Hampir sama dengan rumah-rumah penduduk lainnya, yang ada di kampungnya ini.
Tapi karena Yati sudah bisa menghasilkan uang banyak untuk merawat rumah ini, jadilah rumah sederhana mbok Minah terlihat lebih baik dan bersih, di banding dengan rumah-rumah yang ada di sekitarnya juga.
Akhirnya, Mbok Minah mempersilahkan tuan Wasito untuk masuk ke dalam rumah.
Tapi karena tuan Wasito datang sendiri, dia hanya duduk-duduk saja di kursi bambu, yang ada di teras depan rumah.
Mbok Minah juga tidak memaksa. Apalagi, Yati juga sudah tidak ada di rumah. Cucunya itu sudah pergi lagi ke kota, kemarin pagi.
"Maaf Mbok. Apa Yati ada?" tanya tuan Wasito, yang menanyakan keberadaan anaknya.
"Wah maaf Tuan. Yati tidak ada di rumah. Dia sudah kembali ke kota. Dia kan kerja di sana." Mbok Minah menjawab pertanyaan dari tuan Wasito, yang akhirnya merasa kecewa, karena tidak bisa bertemu dengan anaknya kali ini.
"Kapan berangkat dia Mbok?" tanya tuan Wasito lagi. Menanyakan waktu berangkatnya Yati ke kota.
"Wingi esok Tuan. Niki ya wes tekan neng kota." ( Kemarin pagi Tuan. Sekarang ya sudah sampai di kota )
__ADS_1
Rasa kecewa yang dirasakan oleh tuan Wasito, terlihat jelas dari wajahnya yang tampak muram.
Tapi, saat dia bertanya, di mana alamat Yati tinggal di kota atau tempat kerja anaknya itu, mbok Minah tidak bisa menjawabnya.
Mbok Minah memang tidak tahu, di mana Yati tinggal, jika berada di kota. Di mana letak restoran Jepang, tempat Yati bekerja, mbok Minah juga tidak tahu.
Jadi, mbok Minah tidak bisa memberikan banyak bantuan, pada tuan Wasito, yang ingin bertemu dengan anaknya itu.
Sebenarnya, tuan Wasito ingin mengajak Yati ke Singapura. Sama seperti yang dia katakan kemarin-kemarin saat dia bertemu dengan anaknya, dan mengetahui bahwa, ibunya Yati telah tiada. Sedangkan makamnya ada di negara Singapura sana.
"Apa mbok Minah punya nomer telpon Yati?"
Akhirnya tuan Wasito menemukan cara untuk bisa menghubungi anaknya. Dia bertanya pada Mbok Minah, nomer handphone Yati, yang bisa dia telpon nantinya.
Mbok Minah akhirnya tersenyum, saat sadar jika sekarang, semua bisa dilakukan lewat jarak jauh, karena adanya kemudahan berkomunikasi lewat telpon dan juga kecanggihan yang lainnya.
Dengan senang hati, Mbok Minah memberikan nomer telpon Yati, pada tuan Wasito. Ayah kandung Yati, yang baru saja diketahui beberapa minggu kemarin.
Tuan Wasito juga merasa senang. Karena akhirnya bisa mendapatkan nomer telpon Yati, anaknya, yang baru saja dia ketahui kebersamaannya.
Dengan demikian, dia bisa menelpon anaknya itu, untuk dia ajak ke Singapore, atau keperluan lain.
Sepertinya, tuan Wasito ingin menebus kesalahan-kesalahannya di masa lalu, dengan mendekati anaknya itu.
Dia tidak mau kehilangan kesempatan, untuk bisa mendapatkan perhatian dari Yati.
*****
Di kota, Yati sedang bersiap-siap, untuk berangkat ke restoran Jepang, di mana kantor Mr Akihiko juga ada di sana.
Dia senang menyisir rambutnya, saat handphone miliknya berdentang.
Kluntang Klunting!
Kluntang Klunting!
Yati melirik sekilas ke arah layar handphone tersebut. Ada panggilan masuk, tapi dia tidak mengenal siapa yang saat ini menelponnya.
Jadi, Yati mengabaikan panggilan telpon tersebut, sehingga handphonenya tidak lagi bersuara.
Tapi ternyata, tak lama kemudian, Handphone miliknya itu kembali berdenting.
Dan Yati merasa terganggu, sehingga dia menekan tombol merah, untuk menolak panggilan telpon tersebut.
Tak lama kemudian, ada pesan yang masuk, dari nomer yang tadi menelepon.
Saat Yati membukanya, dia membelalakkan matanya, karena di sana ada pesan dari seseorang, yang belum bisa dia terima sepenuh hati, akan keberadaan dirinya. Di kehidupan Yati sendiri.
__ADS_1