
Pesawat tiba di bandara Singapura, saat hari sudah gelap. Tapi itu tidak menjadi masalah, untuk mereka melanjutkan perjalanan menuju ke rumah sakit, di mana ibunya Yati di rawat.
"Sebenarnya, apa yang terjadi Kek?" tanya Yati, yang sudah merasa curiga, jika terjadi sesuatu pada ibunya.
"Kita lihat nanti," jawab sang Kakek, yang tidak bisa memberinya banyak informasi dan penjelasan.
Akhirnya, Yati diam dan tidak lagi bertanya-tanya pada sang Kakek. Dia hanya bisa berdoa, supaya ibunya itu tidak kenapa-kenapa, sehingga bisa dia ajak pulang ke Indonesia secepatnya.
Pukul setengah delapan malam, waktu setempat, mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan rumah sakit, khusus untuk gangguan kejiwaan.
Yati, yang belum pernah punya kesempatan untuk bisa melihat ibunya selama dirawat di rumah sakit ini, menjadi tercengang.
Rumah sakit yang ada di depannya saat ini, lebih mirip dengan sebuah bangunan apartemen, atau hotel berbintang. Tidak ada tanda-tanda jika, bangunan tersebut adalah sebuah rumah sakit jiwa.
Tapi, semua bisa saja terjadi di negara Singapura, yang sudah terkenal sebagai negara paling maju, di antara negara-negara Asia Tenggara yang lain.
Sang Kakek, mengajak Yati ke ruang dokter, yang bertanya, dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ibu Yati. Wanita-nya sang Kakek.
Dari penuturan dokter, siang tadi, ibu itu melakukan tindakan, yang bisa mencelakakan dirinya sendiri. Dia berusaha untuk bunuh diri. Untungnya, ada perawat yang memergokinya, saat dia sedang mencekik lehernya sendiri.
"Sekarang, dia ada di mana?" tanya Yati cepat. Dia ingin tahu, bagaimana keadaan ibunya sekarang.
"Mari Saya antar," jawab dokter, mengajak Yati dan sang Kakek, untuk melihat keadaan ibu tersebut.
Sekarang, mereka bertiga berjalan bersama menuju ke arah kamar ibunya Yati di rawat. Lorong rumah sakit ini sepi, meskipun sangat bersih. Sama seperti lorong-lorong apartemen, dan kamar-kamar pasien juga tidak seperti sebuah kamar rumah sakit, untuk pasien depresi dan gangguan kejiwaan.
Yati berpikir bahwa, sang Kakek sangat memperhatikan dan mencintai ibunya itu. Sehingga saat ibunya dalam keadaan seperti sekarang ini, sang Kakek masih mau mengeluarkan uang banyak untuk biaya perawatannya.
Bahkan, itu sudah sangat lama. Termasuk rumah, perawat pribadi dan para pelayan serta bodyguard di rumah pinggir kota yang dulu Yati datangi untuk pertama kalinya.
Yati juga merasa sangat yakin, jika ada sesuatu yang ada di dalam ibunya, yang membuat sang Kakek tidak bisa meninggalkan dirinya, bahkan di saat mentalnya terganggu sekalipun.
Sekarang, mereka bertiga sudah sampai di depan pintu sebuah kamar, yang di kunci dari luar.
Dokter mengeluarkan sebuah kunci pintu dari dalam saku bajunya, kemudian membuka pintu kamar yang ada di depannya saat ini.
Klek Klek
Clek!
__ADS_1
Pintu kamar terbuka. Ruangan di dalam kamar tersebut tampak sepi, dan dingin. Ada sebuah brangkar pasien, yang terdapat seorang pasien, dalam keadaan terikat tangannya.
Pasien tersebut, duduk merenung, melihat ke arah dinding kamar, tanpa ekspresi. Dia juga tidak menoleh, saat ada tiga orang yang memasuki kamarnya.
"Bibi. Ada anak dan suamimu yang datang. Apa Bibi mau bicara dengan mereka berdua?"
Dokter tadi, bertanya di depan ibunya Yati. Tapi sepertinya, ibu tersebut tidak mendengar perkataan dokter. Dia juga tidak menoleh dan tetap pada posisi semula. Tidak bergerak sesenti pun dari tempatnya duduk.
Perawat datang, kemudian memeriksa keadaan dan suhu tubuh ibunya Yati.
"Semua normal Dok. Cuma, matanya terlihat tidak biasa. Mungkin karena tadi dia memasukkan air minumnya ke mata."
Perkataan dari perawat, yang baru saja memeriksa keadaan ibunya, Yati mengerutkan kening.
Yati tampak mengeleng beberapa kali, mendengar perkataan dari perawat tersebut.
"Bagaimana Kiara? Kamu yakin bisa merawat ibumu sendiri, dalam keadaan seperti ini?" tanya Sang Kakek pada Yati, pada saat dokter dan perawat melakukan pemeriksaan ulang terhadap ibunya itu.
"Apa boleh?" tanya Yati, yang masih berkeinginan untuk membawa ibunya pergi dari tempat ini dan merawatnya sendiri di rumah. Di Indonesia.
"Tapi Kamu harus tahu, jika Kakek tidak akan bisa ikut campur lagi, dalam pembiayaan perawatan ibumu, jika sudah Kamu ambil. Kakek lepas dari tanggung jawab ini. Apa Kamu sanggup? Biaya perawatan ibumu, tidak sedikit Kiara. Belum lagi jika dia sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja."
Yati mendengarkan semua perkataan sang Kakek. Tapi dia merasa sangat yakin, jika dia mampu mengatasi semuanya sendiri.
"Silahkan," jawab dokter tersebut, kemudian menepi, bersama dengan perawat yadi. Dokternya memberikan kesempatan pada Yati, untuk berkomunikasi dengan pasiennya itu.
"Bu. Ibu tahu, Aku adalah anak ibu. Sekarang, Aku sudah besar Bu. Aku ingin ibu sehat dan ikut dengan anak ibu ini. Ibu, ini anakmu yang dulu masih bayi Bu."
Yati mendekat dan berusaha untuk berbincang dengan ibunya.
Ibu itu tampak menolehkan kepalanya, menatap ke arah Yati. Dia melihat Yati dari atas ke bawah. Dari bawah ke atas.
"Aku anak Ibu."
Yati mengeluarkan baju bayi miliknya, yang sudah dia pasang dengan Bros Bunga, di bagian dada baju bayi tersebut.
Dengan sangat yakin, Yati menempelkan baju bayi tersebut di depan dadanya, agar ibu itu melihatnya. Dia ingin tahu, bagaimana reaksi dari ibunya, setelah melihat baju bayi tersebut bersama dengan Bros Bunga_nya juga.
"An_anak. Anakku! Anakku! Mana anakku?"
__ADS_1
Ibu tersebut berteriak-teriak. Dia memanggil-manggil anaknya, sambil berusaha untuk melepaskan ikatan yang ada ditangannya.
"Dok, aman tidak membuka ikatan tangannya?" tanya Yati pada dokter, yang masih ada di tempatnya, bersama dengan perawat dan juga sang Kakek.
"Sus. Coba longgarkan ikatannya. Jika dia bereaksi lebih baik, buka saja. Tapi jika dia mengamuk lagi, kencangkan lagi ikatannya."
Perawat melakukan apa yang dikatakan oleh dokter. Dia membuka ikatan tali pada tangan ibu Yati, dan tidak segera pergi dari tempatnya. Dia masih memantau, kondisi dari pasiennya itu.
Ibunya Yati, dengan cepat menarik baju bayi, yang ada di depan dadanya Yati.
Ibu itu tampak memeluk baju bayi tersebut, dengan menangis. "Anakku... Anakku. Huhuhu...!"
Yati memeluk ibunya dengan cepat. Dia ikut menangis. "Aku sudah besar Bu. Kita pulang ya, Ibu mau kan?" tanya Yati, yang masih dalam keadaan menangis, dengan memeluk ibunya itu.
Ibu itu tampak terdiam. Dia tidak lagi menangis, kemudian berusaha untuk lepas dari pelukan Yati.
"Anakku! Anakku!" Teriaknya lagi, dengan melihat ke arah sekeliling kamar.
Pada saat matanya menemukan keberadaan sang Kakek, dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak-tidak! Anakku, mana anakku?"
Teriakan dan pertanyaan yang diajukan oleh ibunya Yati, membuatnya mengamuk lagi. Dia membuang baju bayi tersebut dan mengubah posisi duduknya, dengan meringkuk.
"Tidak. Bukan, bukan Kamu anakku, mana anakku?"
Dia membuang bantal dan selimutnya. Dia juga berteriak-teriak, mencari keberadaan anaknya.
Perawat segera bertindak, saat tangan ibu tersebut mulai memukul kepalanya sendiri. Tangannya kembali diikat, sama seperti tadi.
"Sepertinya, Bibi ini tidak bisa melakukan perjalanan keluar. Apalagi, tidak ada tenaga ahli, yang bisa mengatasinya, jika dia ada dalam keadaan seperti ini."
Yati menoleh cepat, ke arah dokter. Dia tidak mau, jika ibunya terus berada di rumah sakit ini. Yati berpikir bahwa, jika ibunya akan semakin merasa tertekan, dengan keadaan yang ada di rumah sakit jiwa. Meskipun perawatan di rumah sakit ini sangat baik, tapi itu hanya sebatas prosedur yang ada, bukan dengan kasih sayang, sebagai seorang anggota keluarga.
"Bagaimana Kiara?" tanya sang Kakek, meminta pendapat pada Yati.
"Kiara tetap ingin membawa ibu pulang Kek," jawab Kiara, dengan yakin.
Sang Kakek tampak menghela nafas panjang. Dia melihat ke arah dokter tersebut, kemudian berkata, "Lakukan perawatan medis yang terbaik. Besok kami kembali, untuk membawanya pulang ke Indonesia."
__ADS_1
Dokter tampak seperti ingin membantah, tapi akhirnya hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaan dari sang Kakek. "Kami akan usahakan sebaik mungkin," jawab dokter tersebut, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa harus mengatakan apa-apa, yang bisa saja terjadi kedepannya nanti.
Yati tampak tersenyum senang, saat mendengar keputusan yang diambil oleh sang Kakek. Dari tatapan matanya, Yati mengucapkan terima kasih, untuk semua yang sudah dilakukan oleh sang Kakek pada ibunya, dan juga dirinya sendiri.