
Pesawat tiba di bandara Indonesia sore hari. Padahal, jika cuaca mendukung, perjalanan mereka pulang ke Indonesia, tidak akan memakan waktu lama, mungkin sebelum jam dua belas siang, pesawat sudah mendarat di Indonesia.
Sayangnya, karena cuacanya yang tidak memungkinkan, akhirnya pesawat gagal terbang, dan menuggu hingga cuaca cukup baik, untuk melakukan penerbangan.
Dan beginilah akhirnya, Yati baru bisa berada di kost pada saat hari sudah gelap. Dia membawa mobil sendiri, meskipun sebenarnya tadi mau diantar pulang oleh sang Kakek.
Tapi karena mobilnya masih berada di parkiran bandara, dia tidak mau diantar, dan pulang dengan membawa mobilnya sendiri.
"Besok, saat tes DNA keluar, Aku akan mengajakmu untuk melakukan panggilan virtual dengan dokter di rumah sakit." Sang Kakek, memberitahu pada Yati, supaya bisa lebih tenang dan tidak memikirkan permalasahan tes DNA, yang dia lakukan di Singapura kemarin.
"Ya Kek, terima kasih." Yati hanya mengucapkan terima kasih kepada sang Kakek, dan tidak lagi mengajaknya bicara.
Setelah masuk ke dalam mobil, Yati membuka kaca jendela mobil tersebut, kemudian berpamitan pada sang Kakek. "Kiara duluan Kek," kata Yati, dengan menganggukkan kepalanya.
Sang Kakek juga mengangguk mengiyakan. Dia kembali ke posisi mobilnya, dimana dua bodyguardnya itu sudah menunggu.
"Kita langsung pulang." Sang Kakek memberikan perintah.
Satu bodyguard masuk ke dalam mobil sebagai seorang supir. Dan satunya lagi, duduk disebelah supir, sebagai pengawalnya.
Ternyata, di dalam mobil sudah diatur sedemikian rupa, sehingga sang Kakek bisa merebahkan tubuhnya dengan nyaman, untuk beristirahat sebentar, hingga sampai di rumah.
"Aku mau tidur sebentar. Sampai di rumah, bangunkan." Sang Kakek bicara dengan dua orang yang duduk di depan, dengan mengunakan mikrofon penghubung antara penumpang yang ada di depan dengan belakang.
"Siap Tuan."
Setelah mendengar jawaban dari orang yang ada di depan, sang Kakek merebahkan dirinya sendiri, untuk beristirahat dan tidur, sebelum dia melakukan panggilan untuk Mr Andre, agar segera pulang ke Indonesia.
Beberapa saat kemudian, setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, mobil memasuki halaman rumah sang Kakek. Dan setelah mobil berhenti tepat di depan pintu rumah, salah satu dari dua orang yang duduk di bangku depan tadi, turun untuk membuka pintu mobil bagian belakang.
Orang tersebut, juga ingin membangunkan Tuan Besar-nya, sesuai dengan permintaannya yang tadi.
"Tuan. Tuan Besar," panggil orang tersebut pada sang Kakek.
"Hemmm," sahut sang Kakek, dengan membuka matanya perlahan-lahan.
Setelah semua kesadarannya kembali, sang Kakek merapikan pakaiannya, baru kemudian turun dari dalam mobil.
__ADS_1
Suasana rumahnya, masih tetap sama seperti waktu dia meninggalkannya dua hari kemarin. Tidak ada yang berubah, dari bentuk dan tata letak benda-benda; yang ada di tempatnya.
Tapi, ada sesuatu yang terasa tidak sama seperti kemarin. Yaitu perasaan sang Kakek sendiri. Hatinya yang kemarin-kemarin merasa tidak nyaman dan aman, sekarang ini lebih terasa lega. Ada sesuatu yang hilang dari beban pikiran dan hatinya. Mungkin juga karena dia sudah tahu, jika di Bros Bunga tersebut, sudah tidak ada apa-apanya lagi, dan hanya sebagai aksesoris wanita belaka.
Satu yang membuat sang Kakek merasa lega adalah, karena untuk waktu yang lama, mikro chip tersebut tidak ada yang membuka dan melaporkan semua isi dari mikro chip tersebut. Bisa jadi, orang yang mengambilnya dari Bros Bunga itu karena orang tersebut juga terancam keselamatannya, jika sampai mikro chip itu dia laporkan ke pihak kepolisian, atau yang berwenang untuk urusan penyelewengan jabatan dan kekuasaan.
Setelah masuk ke dalam rumah, sang Kakek menelpon Yati.
Tut
Tut
Tut
Telpon belum juga diangkat oleh Yati. "Apa Kiara belum sampai di rumahnya?" tanya sang Kakek sendiri.
Tiba-tiba, handphone miliknya berdenting. Tanda jika ada pesan atau informasi yang masuk.
Kiara; 'Kiara baru saja sampai. Bahkan, belum turun juga dari dalam mobil Kek. Apa ada sesuatu yang terjadi?'
Kiara; 'Baik Kek. Terima kasih atas perhatian yang Kakek berikan pada Kiara. Terima kasih juga, karena sudah merawat ibu Kiara, meskipun dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.'
Sang Kakek; 'Tidak perlu sungkan Kiara. itu adalah kewajiban Kakek sendiri.'
setelah itu, Yati tidak lagi membalas pesan dari sang Kakek. Dan sang Kakek, juga tidak lagi memberikan nasehat dan pesan untuk istri dari cucunya itu.
*****
Di kamar kost milik Yati.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Yati merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mencoba untuk membuat pesan untuk Mr Ginting. Tapi tentunya, pesan itu tidak melalui pesan biasa. Dia membuat pesan tersebut lewat email, yang khusus dari Mr Andre untuknya.
To Mr Andre.
Apa Anda bisa pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini? Jika bisa, tolong segera hubungi Saya. Ada sesuatu yang ingin Saya sampaikan pada Anda.
Ini adalah sebuah rahasia, yang tidak semua orang tahu. Dan Anda, sepertinya terlibat di dalam rahasia ini.
__ADS_1
Jika Anda ingin tahu, segeralah pulang ke Indonesia, dan temui Saya.
Terima kasih.
From miss Yeti.
Send.
Pesan dikirim oleh Yati dengan segera. Dia tidak mau menunda-nunda pekerjaan yang harus dia lakukan untuk tahu lebih dulu, apa rahasia yang di maksud oleh sang Kakek dengan mikro chip, yang dulu pernah ada di Bros Bunga.
Yati juga ingin bertanya pada Mr Andre, tentang wanita-nya sang Kakek. Yang diperkirakan sebagai ibu kandungnya sendiri.
Setelah Yati mengirim pesan tersebut, dia berusaha untuk bisa terpejam. Dia ingin tidur, meskipun matanya susah juga untuk terpejam.
Drettt
Drettt
Drettt
Handphone milik Yati, yang baru saja dia letakkan di atas meja, bergetar. Ada panggilan telpon yang masuk.
Setelah melihat ke layar handphone miliknya, Yati tersenyum, karena panggilan tersebut dari suami seperti, Mr Ginting. Dan ini adalah panggilan video call, bukan panggilan telpon biasa.
Untungnya, Yati sudah berada di dalam kamar kostnya sendiri. Dan itu akan membuat semua yang sudah dia lakukan bersama dengan sang Kakek, tetap aman, dan tidak diketahui oleh Mr Ginting.
..."Halo Sayang."...
Yati menyapa Mr Ginting, dengan dada-dada. Karena tentunya Mr Ginting akan tahu bagaimana dia, yang saat ini sedang berbaring di tempat tidur, di kamar kost miliknya.
..."Hai, sudah mau tidur?"...
..."Ya, tapi kenapa susah ya?"...
Mr Ginting benar-benar tidak tahu, dan tidak pernah berpikir, jika istrinya itu, bersama dengan sang Kakek, yang merupakan kakeknya sendiri, melakukan perjalanan ke Singapura, dua hari yang lalu.
Mr Ginting hanya tahu bahwa, istrinya itu ada di kost-kostan miliknya, sama seperti yang dikatakan dan diinginkan oleh istrinya sendiri, sebelum dirinya pergi ke negara-negara Eropa sana.
__ADS_1