Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Was-was


__ADS_3

Setelah di antar oleh sang Kakek ke hotel, untuk beristirahat, Yati merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia mencoba untuk menenangkan pikirannya, dan menyakinkan diri bahwa, dia bisa membawa ibunya itu, pergi dari negara Singapura ini.


Yati merasa lebih lega, karena akan berkumpul bersama ibu kandungnya sendiri. "Semoga besok keadaan ibu bisa lebih stabil, sehingga diperbolehkan untuk dibawa pulang," kata Yati pada dirinya sendiri.


Mengingat kondisi badannya yang capek, Yati segera bangkit dari tempat tidur. Dia membuka tas miliknya, untuk mengambil sabun aroma terapi sakura, yang bisa dia gunakan untuk merelaksasi pikirannya, tentang semua hal yang dia lalui hari ini.


Dengan tersenyum, Yati masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengisi bathtub kamar mandi hotel, dengan air hangat, kemudian menaburkan sabun aroma terapi tersebut.


Setelah selesai, Yati mengaduk-aduk air tersebut biar tercampur dengan sabun secara baik, dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya, memegang handphonenya, memeriksa pesan yang masuk.


Ternyata, ada satu pesan yang masuk dua jam yang lalu. Pesan itu dikirim melalui email. Jadi, itu pastinya adalah pesan dari Mr Andre.


Dan ternyata benar. Pesan itu dari Mr Andre, untuk membalas pesannya kemarin, soal ayah kandungnya Yati.


Yati mengehentikan kegiatannya, yang sedang mengaduk-aduk air di bathtub. Dia duduk dengan posisi yang lebih baik, di pinggir bathtub, baru kemudian membaca pesan tersebut.


To miss Yeti


Dulu, dulu sekali, dua puluh tahun yang lalu atau bisa jadi lebih, Saya pernah mengetahui di mana daerah lelaki itu tinggal. Tapi Saya tidak merasa yakin untuk sekarang ini. Apakah masih ada di daerah itu atau sudah pindah.


Dia dulu pernah ada di daerah timur. Paling timur di pulau ini. Daerah ***** yang jauh dan berada daerah perkampungan yang belum ramai. Ada di daerah perbukitan.


Jika miss Yeti masih ingin mencarinya, cari saja dia dengan nama Wasito. Dulu dia mengunakan nama itu, untuk menghilangkan identitas dirinya yang asli. Nama asli laki-laki tersebut adalah Tama.


Jika ada sesuatu yang ditanya dan bisa membantu pencarian yang miss Yeti lakukan, Anda bisa bertanya pada Saya. Meskipun Saya tidak ada di Indonesia, dan juga tidak bisa membalas pesan dari Anda dengan cepat, setidaknya, Saya akan usahakan untuk sebisa mungkin, membantu Anda dalam bentuk yang seperti ini saja.


Terima kasih miss Yeti. Saya selalu merindukan dirimu.


From Mr Andre


Yati tersenyum sendiri, begitu selesai membaca pesan tersebut, yang dikirimkan oleh Mr Andre untuknya.


Sekarang, Yati sudah tahu nama ayah kandungnya, dan juga di mana letak daerah yang menjadi tempat tinggal ayahnya sekarang. Meskipun tadi Mr Andre tidak yakin, untuk yang sekarang, setidaknya, dia sudah tahu, ke mana pencariannya itu di mulai.


Dia berencana untuk mencari keberadaan ayahnya, begitu pulang ke Indonesia, setelah membawa ibunya, untuk dia rawat sendiri, dan tidak menempatkan ibunya di rumah sakit jiwa, seperti sekarang ini.


Akhirnya, Yati membalas pesan dari Mr Andre, untuk mengucapkan terima kasih atas semua informasi yang dia berikan.


To Mr Andre


Terima kasih atas semua bantuan, dan informasi yang diberikan. Jika ada sesuatu yang Saya butuhkan, pasti akan Saya hubungi lagi.


Saya juga selalu merindukan Anda, Mr Andre.


Form miss Yeti

__ADS_1


Send.


Yati bernafas lega, setelah selesai membalas pesan tersebut. Setelah itu, dia melanjutkan kegiatannya yang tertunda, yaitu berendam.


Setelah memastikan semua pintu, baik pintu kamar hotel, ataupun kamar mandi terkunci dengan benar, Yati melepaskan pakaiannya, kemudian memasuki bathub untuk berendam.


Malam sudah larut, saat Yati baru saja selesai menghabiskan makan malamnya, yang dia pesan melalui servis pihak hotel, untuk dibawa ke dalam kamar.


Setelah selesai makan, Yati menaruh semua peralatan makan di pojok kamar, di kereta makan, yang tadi di bawa oleh pelayan hotel.


Baru setelah itu, Yati bersiap untuk tidur. Tapi karena perutnya terasa penuh, akhirnya Yati menunda untuk berbaring di tempat tidur.


Yati duduk di dekat jendela. Melihat ke luar, di mana pemandangan kota pada malam hari, yang tampak begitu jelas indahnya. Meskipun sebenarnya, di balik keindahan itu, ada banyak kehidupan di dalamnya, yang tidak semua warganya juga ikut merasakan.


Yati memeriksa handphone miliknya. Tidak ada pesan ataupun panggilan untuk dirinya.


Tapi Yati masih sangat ingat, dengan pesan dari Mr Andre tadi.


"jadi, nama ayahku Tama. Dan sekarang berganti nama menjadi Wasito." Yati berkata dengan suara pelan, karena untuk dirinya sendiri.


Saat sedang melamunkan ayahnya, tiba-tiba bergerak, tanda jika ada panggilan masuk.


Drettt


Drettt


Drettt


Dengan cepat, Yati menggeser tombol hijau di layar handphone tersebut, untuk menerima panggilan telpon dari sang Kakek.


..."Ya halo Kek. Ada apa?"...


..."Bersiap sekarang Kiara, dan segera turun ke bawah. Kakek akan jemput Kamu. Terjadi sesuatu pada ibumu!"...


Suara sang Kakek yang terdengar cemas dan khawatir, membuat Yati gugup. Dia merasa was-was, jika telah terjadi sesuatu pada ibunya, yang saat ini masih ada di rumah sakit jiwa.


..."Baik Kek."...


..."Kakek sudah ada di perjalanan. Mungkin lima menit lagi akan sampai."...


..."Iya-iya."...


Klik!


Yati menutup panggilan telpon dari sang Kakek, karena dia harus segera bersiap-siap.

__ADS_1


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada ibu," gumam Yati, dengan kecemasan yang tidak mungkin bisa dia hindari.


Tiga menit kemudian, Yati sudah berada di dalam lift hotel, untuk turun dan menemui sang Kakek. Dia melihat arloji di tangannya, masih ada dua menit untuk bisa sampai di bawah.


Tapi ternyata, lift yang membawa Yati, harus berhenti di beberapa lantai, karena ada beberapa penghuni hotel, yang ikut naik dan turun di lantai-lantai berikutnya.


Butuh waktu tiga menit lebih, untuk busa sampai di lantai dasar. Dan pada saat Yati keluar dari dalam lift, sang Kakek sudah menghubungi dirinya lagi.


Drettt


Drettt


Drettt


..."Ya Kek. ini Kiara sudah ada di lantai dasar."...


..."Cepat. Mobil ada di depan pintu lobi!"...


..."Iya-iya."...


Klik!


Yati setengah berlari, untuk bisa lebih cepat lagi, agar sang Kakek tidak lagi menelponnya.


Dan ternyata benar. Mobil sang Kakek, sudah terlihat di depan lobi hotel.


Setelah Yati masuk ke dalam mobil, sang Kakek memerintahkan pada supir, untuk segera berangkat ke rumah sakit jiwa, di mana wanita-nya sang Kakek, ibunya Yati, di rawat.


"Apa yang terjadi Kek?" tanya Yati, yang tidak sabar untuk bertanya, apa yang terjadi pada ibunya.


"Kakek juga tidak tahu Kiara. Kakek hanya dihubungi pihak rumah sakit, jika ibumu kritis."


Yati memicingkan mata, mendengar jawaban dari sang Kakek. "Kritis? maksudnya?" tanya Yati, yang bingung dengan kejadian mendadak sekarang ini.


"Kakek juga tidak tahu Kiara. Makanya Kakek diminta untuk segera datang ke sana, oleh pihak rumah sakit, untuk mengetahui apa yang terjadi pada ibumu itu."


Sang Kakek, menjawab pertanyaan dari Yati, yang sama cemasnya seperti dirinya juga.


"Sudah. Kita berdoa saja, semoga tidak terjadi sesuatu pada ibumu. Dan kita akan membawanya pulang besok," kata Kakek, melanjutkan kata-katanya yang tadi. Dia mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya Yati. Padahal sebenarnya, dia sendiri juga merasakan hal yang sama.


Cemas dan was-was tentu saja dirasakan oleh sang Kakek. Karena berita yang dia terima dari pihak rumah sakit, tidak menjelaskan secara rinci, tentang keadaan yang ada pada wanita-nya.


Sang Kakek hanya bisa berharap, agar wanita-nya itu dalam keadaan baik-baik saja, agar dia tidak merasa bersalah atas semua yang sudah terjadi, dalam kehidupan wanita-nya selama ini.


Karena semua ini, sang Kakek_lah yang paling bersalah atas perbuatannya pada wanita-nya itu.

__ADS_1


Dengan semua ambisi dan ketakutannya juga, dia menyiksa wanita-nya itu, sehingga menjadi sebuah beban mental pada wanita tersebut.


__ADS_2