
Selama perjalanan, Mr. Ginting merasa semakin kesal dan frustrasi karena upaya komunikasinya dengan Biyan tidak mendapatkan jawaban atau balasan. Dia mengumpat dalam hati, membiarkan perasaan frustasinya mengambil alih pikirannya.
Setiap suara dering ponsel yang datang tanpa jawaban dari Biyan semakin membuatnya merasa tidak sabar.
"Kenapa dia tidak menjawab? Sudah banyak pesan dan panggilan yang saya kirim, tapi tidak ada respon sama sekali. Apakah dia sengaja menghindar? Ataukah dia benar-benar tidak peduli dengan tugasnya?"
Ketika hujan dan kemacetan jalanan tampaknya semakin menambah kondisi hatinya yang kacau, kekesalan Mr. Ginting semakin terasa. Dia merasa seperti dalam kondisi yang sulit.
Di satu sisi, dia ingin mengejar perasaannya terhadap Yati, tetapi di sisi lain, ketidakpastian dan ketidakjelasan dalam komunikasi dengan Biyan semakin menghantuinya.
"Huhfff ... semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan," gumam pria itu menenangkan dirinya sendiri.
Meskipun perasaannya campur aduk, Mr. Ginting tahu bahwa dia harus tetap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Dia menyadari bahwa situasinya mungkin bisa memiliki penjelasan yang tidak dia ketahui. Namun, kesulitannya dalam mengatasi perasaannya dan kegundahannya karena kurangnya komunikasi dengan Biyan tetap menjadi beban yang berat selama perjalanan menuju Bogor.
***
Di rumah Yati, Biyan masih berbincang-bincang dengan wajah berseri-seri.
"Ah ya, hujan Bogor memang terkenal begitu. Tapi terima kasih sudah mau mampir, meskipun itu karena cuaca sedang tidak bersahabat."
Ibu Nina, menengahi agar suasana tidak terasa canggung dan tegang. Wanita paruh baya itu sepertinya tahu situasi, membuat senyuman terbit di wajah masing-masing.
Sambil berbicara, suasana semakin akrab. Ayah Yati dan Biyan mulai berbicara tentang hobi mereka, pengalaman hidup, dan berbagi cerita yang menggelitik tawa, meskipun pria tua itu kesulitan saat berkomunikasi.
Ibu Nina juga ikut meramaikan percakapan dengan cerita lucu dari rumah sakit, atau menyampaikan apa yang ingin disampaikan Tuan Wasito. Jadi ia seperti seorang juru bicara, menerjemahkan kata-kata Tuan Wasito yang tidak jelas.
Perlahan, ketika hujan mulai mereda, mereka berempat duduk bersama di ruang tamu, dengan canda tawa yang mengalir begitu saja. Tampak keakraban sebagaimana sebuah keluarga.
Pemuda itu merasa hangat diterima dalam lingkaran akrab keluarga Yati, dan seolah hujan itu sendiri telah membuka pintu untuk pertemuan yang tak terduga ini.
'Aku seperti sudah menjadi bagian dan salah satu keluarga Mis Yeti,' batin pemuda itu bahagia, menjalar ke seluruh tubuh.
Setelah momen yang akrab dan hangat di rumah Yati, Biyan merasa bahwa dia telah mengambil langkah lebih maju dalam usahanya mendekati Yati.
__ADS_1
Percakapan santai dengan ayah Yati dan perawat ayahnya memberinya kesempatan untuk menunjukkan dirinya dari sudut yang berbeda, di luar suasana formal atau santai.
Biyan merasa bahwa hubungan mereka semakin dekat, dan ini memberinya keyakinan bahwa perasaannya terhadap Yati tidak hanya satu arah. Dalam kebersamaan tersebut, dia merasa lebih percaya diri untuk mengekspresikan perasaannya lebih jujur kepada Yati.
'Apakah ini bentuk dari dukungan alam untukku?' tanya Biyan penuh harapan.
'Sepertinya iya, dan aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini.'
Meskipun hujan yang deras tadinya tampak menghambat perjalanannya, malah menjadi katalisator yang memfasilitasi pertemuan yang penting ini. Saat hujan reda dan mereka masih duduk bersama, Biyan merasa bahwa momen ini adalah kesempatan emas untuk mendekati Yati secara perlahan dan tulus.
Dengan hati yang berbunga-bunga, Biyan memutuskan bahwa dia akan berbicara dengan Yati ketika momen yang tepat tiba. Dia percaya bahwa perasaannya yang tulus dan kesan baik yang ditinggalkan pada keluarga Yati akan membantunya memperkuat hubungan mereka dalam langkah-langkah mendatang.
Saat Biyan tiba di hotel dan memeriksa ponselnya, dia terkejut melihat banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Mr. Ginting.
"Mr Ginting?"
Perasaan khawatir dan rasa bersalah mulai melingkupinya, karena dia menyadari bahwa tugas utamanya adalah menjaga Yati, bukan mendekatinya secara pribadi. Dia merasa berada dalam dilema yang sulit.
Biyan merenung sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasinya kepada Mr. Ginting. Dia ingin tetap jujur, namun juga tidak ingin menyakiti perasaan Mr. Ginting yang jelas tertarik pada Mis Yeti nya juga.
Dengan hati-hati, Biyan akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan kepada Mr. Ginting.
..."Halo, Mr. Ginting. Maaf jika saya tidak bisa merespon panggilan dan pesan Anda. Saya baru sampai di Bogor dan sedang menjalankan tugas untuk menjaga Yati. Sepertinya ada beberapa kesalahpahaman, dan saya ingin memastikan bahwa semuanya tetap profesional dan sesuai tugas. Semoga Anda bisa mengerti. Terima kasih."...
Sambil mengetik pesan tersebut, hati Biyan berbunga-bunga, karena dia menyadari bahwa perasaannya terhadap Yati tidak bisa dibiarkan menghalangi tanggung jawab profesionalnya. Meskipun sulit, dia percaya bahwa ini adalah langkah yang tepat untuk menjaga hubungan mereka di tempat yang tepat.
***
Di rumah, Yati duduk berbicara dengan ayahnya dalam suasana yang hangat. Mereka saling berbagi cerita tentang berbagai hal, dan pada suatu titik, ayahnya berkomentar dengan tulus.
"Nduukk, Yaattiii. A-yah harus bilang, A-yaahh sukaahh deng-aan pemuda t-adi. Bi-iyaannn itu. Diaaa ... dia keli-lihatannya baikkk dannn perhatian pa-ada muuu."
"Ayah ... Ayah gak boleh begitu saja membuat asumsi," kata Yati tapi dengan senyum dan wajahnya yang memerah.
__ADS_1
Ayah Yati tersenyum melihat perubahan warna wajah anaknya itu.
"Hehehe, ma-aaf ya, an-nakku. T-api a-ku sebagai a-yah, merasa senang jika k-amuuu punya seseorang ... seseorang yang pe-duli padamuuu."
Yati merasa terharu oleh dukungan ayahnya, namun hatinya berat. Dia tahu bahwa dia memiliki rahasia tentang hubungannya dengan Biyan yang tidak bisa dia ungkapkan.
Biyan sendiri adalah seseorang yang pernah dekat dengannya, namun saat itu tidak mendapatkan persetujuan dari keluarganya.
Yati merenung, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak ingin membuat ayahnya kecewa.
'Ayah, aku juga senang Biyan baik padaku. Tapi ... ada hal-hal tentang dirinya yang belum aku ceritakan padamu, dan sepertinya itu tidak terlalu penting.'
"Nduukk ... A-pa yang k-amu pikirkan? Jang-aan ragu-ra-guuu bii-caraaa pada Ayaaah."
Yati merasa deg-degan. Dia tahu bahwa mengungkapkan rahasia ini bisa membuat hubungannya dengan ayahnya terganggu. Namun, dia juga merasa bahwa kejujuran adalah hal yang penting.
Wanita itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya berkata untuk menceritakan segalanya yang pernah terjadi waktu dulu.
"Ayah, sebenarnya ... Biyan pernah berada dalam hubungan yang lebih mendalam dengan aku sebelumnya. Tapi saat itu, hubungan kami ... tidak mendapat restu dari keluarganya."
Ayah Yati mengangguk perlahan, menunjukkan pemahaman. Walaupun dia tidak mengetahui semua detail, dia bisa merasakan bahwa ada lebih banyak cerita di balik itu.
Tapi pria tua itu tidak pernah menduga bahwa anaknya, pernah terlibat dalam hubungan yang ternyata lebih rumit. Meskipun ia sadar, Biyan jauh lebih muda dibandingkan dengan anaknya ini.
'Aku tahu bahwa kadang-kadang hal-hal tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Tapi yang penting, jika Yati merasa baik bersama Biyan sekarang, dan jika dia benar-benar telah berubah, mungkin ada kesempatan baru di masa depan.'
Pria itu tidak memberikan jawaban atau pernyataan, tapi ia bicara sendiri dalam hatinya. Ia mengerti bagaimana kehidupan anaknya di masa lalu.
Meskipun ada rahasia yang masih harus dihadapi, percakapan mereka ini membuat Yati merasa lebih baik. Ada dorongan untuk tetap berpegang pada prinsip kejujuran dan keikhlasan. Ia tahu bahwa meski perjalanan akan sulit, menghadapi masalah dengan jujur akan membantu menjaga hubungannya dengan ayah dan mengatasi rintangan di hadapannya.
"Yati tidak tahu Yah, bagaimana jalan Yati ke depannya. Tapi, meskipun tidak ada pria yang bisa berpasangan dengan Yati, maka Yati akan tetap bersyukur."
Tuan Wasito tersenyum penuh haru. Ada air mata di sudut matanya yang berdesakan ingin keluar, apalagi saat Yati memeluk tubuh ringkihnya. Ada penyesalan yang mendalam, tapi juga rasa syukur atas semua yang ada saat ini.
__ADS_1