Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Pusaran Nasib


__ADS_3

"Nduuuk... Ko-weeh no-oopppo? A-yaah liat, ka-uu seperti sed-daang sedih?" tanya Tuan Wasito berat.


Pria tua itu kesulitan berbicara, karena penyakit stroke yang membuatnya susah untuk menggerakkan saraf-saraf di bibir dan lidahnya.


Tapi dengan telaten, Yati yang mulai terbiasa meladeni ayahnya dalam keadaan seperti ini bisa paham.


"Mboten, Yah. Yati ndak apa-apa."


Wanita itu terpaksa berbohong. Dia tidak mau membuat orang tua yang ada di tempat tidur itu kepikiran dan mempengaruhi kesehatannya.


Beberapa hari ini, Yati memang tidak tenang. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi dan beberapa kali melihat ada seseorang yang berusaha mengikutinya.


"Ap-paa ... Ji-ikaa adaah mas-saalah mung-kiin ki-ttaa bis-saa pin-dahhh dari sin-ni."


"Tidak apa-apa, yah. Yati baik-baik saja," elaknya, tetap tidak mau menceritakan keresahan hatinya.


Sayangnya, pria tua itu tentu lebih berpengalaman karena pengalaman masa lalunya. Dia tidak mudah dibohongi, sebab pekerjaannya bukanlah pekerjaan biasa-biasa saja. Ada banyak pelajaran yang harus diperhatikan meskipun tuhannya sekedar raut wajah saat berbicara.


Pria itu mengeleng pelan. Dia juga tidak ingin memaksa sang anak untuk berbicara jujur.


Dengan gerakan isyarat, pria itu meminta izin untuk beristirahat terlebih dahulu. Dia meminta sang anak supaya beristirahat juga.


"Baiklah. Ayah istirahat saja, Yati akan menunggu sampai ayah tidur."


"Yaa ..." jawabnya singkat.


Pagi ini, mereka berdua berada di rumah. Pria tua itu sudah diperbolehkan pulang, sehingga Yati tidak ada pekerjaan lain selain menunggu ayahnya.


Ibu Nina, diminta untuk pergi ke warung., membeli sayuran yang akan mereka masak di rumah.


Selama berada di Jakarta, mereka memang lebih banyak makan di luar atau membeli makanan jadi karena tidak sempat memasak. Selain itu, waktu mereka lebih banyak dihabiskan di rumah sakit.

__ADS_1


Setelah memastikan sang ayah tidur, wanita itu merapikan selimut kemudian keluar.


Tapi baru saja mencapai pintu, ponselnya berdering. Ada nomor tidak dikenal yang menghubunginya.


Kring kring kring


"Siapa?" tanya Wanita itu tanpa ada yang menjawab.


Dia seorang diri, sedangkan sang ayah baru saja tertidur. Tapi dikarenakan nomor yang menghubunginya tidak dikenal, wanita itu tidak menjawab.


"Jika memang penting, pasti akan menelpon lagi."


Ya, begitulah pemikirannya. Seperti biasa, jika ada berita penting atau sesuatu hal yang terjadi, nomor barusan bisa dipastikan akan menghubunginya kembali.


Sayangnya, lebih dari lima menit panggilan tersebut tidak ada lagi. Membuat wanita tersebut mengangkat kedua bahunya acuh.


"Sambil menunggu Bu Nina, lebih baik aku merebus air terlebih aku membereskan dapur sebelum digunakan untuk memasak."


Wanita itu berjalan menuju dapur, mempersiapkan segala sesuatunya dengan peralatan yang akan digunakan untuk memasak. Lama tak digunakan, tentu banyak peralatan yang kotor sehingga harus dibersihkan terlebih dahulu.


Kring kring kring


Tidak mau menunggu lagi, wanita itu menerima panggilan dengan menekan aikon warna hijau.


"Ya, halo. Ini siapa?" sapa wanita itu dengan bertanya.


Wanita itu tentu saja bertanya, sebut tidak mengenal pemilik nomor ponsel yang menghubunginya.


Tapi orang di seberang sana tidak menjawab pertanyaan wanita tersebut. Hal ini membuatnya mengerutkan keningnya bingung.


"Jika tidak ada yang perlu disampaikan, saya tutup. Maaf," ucap Yati yang kesal karena menelepon justru membisu.

__ADS_1


Sedetik kemudian, penelepon menyapanya dengan singkat dan hanya 1 kata saja.


"Maaf," ucap orang di seberang sana.


"Hem, tapi ini siapa?" tanya wanita itu memastikan.


"Anda, di rumah?" tanya orang di seberang lagi, tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh wanita tersebut.


"Saya ..."


"Mis Yeti, miss you."


Wanita itu tertegun sejenak dengan ucapan orang tersebut. Dia mencoba mengenali suara yang menyapa telinganya, memastikan agar tidak salah menduga.


"Bi-biyan?" tanyanya kemudian.


Ya, wanita itu akhirnya bisa mengenali suara siapa yang menelponnya!


Tadi, wanita itu terlalu fokus sehingga tidak bisa mengenali suara tersebut. Apalagi suara di telepon dengan aslinya saat bertemu langsung terdengar berbeda.


"Aku mencarimu, Mis Yeti."


Wanita itu tidak menjawab atau menyahut. Dia mulai berpikir, dari mana pemuda tersebut bisa mengetahui nomor teleponnya.


Bahkan pihak rumah sakit saja tidak ada yang tahu, seperti yang digunakan untuk melakukan hubungan dengan pihak rumah sakit ketika mendaftarkan sang ayah, Yati menggunakan nama the nomor ponsel ibu Nina.


"Mis Yeti, masih mendengar dan ada di sana?" tanya Biyan, yang tidak mendengar suara wanita itu lagi.


"Ya, maaf."


Hanya itu yang diucapkan Yati, karena ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya lagi.

__ADS_1


Apakah sekarang ia bisa menghindar dari pria muda itu?


Apakah ia harus kembali terjebak pada hubungan yang tidak bertepi seperti dulu lagi?


__ADS_2