
Yati sudah berasa di kampungnya lagi. Dia sekarang juga sudah memiliki kesibukan, dengan toko baju yang dia buka.
Yang menjaga dan mengelola toko baju tersebut adalah para gadis-gadis, anak tetangga. Dan yang bertanggung jawab atas pembukuan tokonya Yati adalah, anaknya pak RT, yang masih berstatus sebagai mahasiswi di sebuah universitas yang ada di kabupaten.
Yati membuka toko baju ini dengan tujuan, untuk mencegah anak-anak gadis di kampung halamannya, agar tidak harus ke kota, kemudian berakhir dengan pekerjaan yang sama seperti dirinya sendiri.
Hal yang sebenarnya tidak pernah diinginkan oleh Yati sendiri.
Tapi semua sudah menjadi jalan takdir dari Yati. Dia tidak menyalahkan siapapun, untuk semua yang sudah terjadi dalam kehidupannya selama ini.
Karena ternyata, ke-dua orang tuanya sendiri, adalah orang-orang dengan masa lalu dan masa sekarang, yang juga bukan orang-orang yang baik.
Karena itu juga, dia tidak ingin melihat anak gadis lain, yang akan menjadi korban atas jalan hidup yang tidak banyak lurus_nya.
Sebisa mungkin, Yati ingin menciptakan lapangan kerja, untuk gadis-gadis tersebut.
Tapi tentu saja, hanya untuk yang mau ikut, dan memilih bekerja di daerah sendiri, dan tidak perlu ke kota besar, dengan segala resiko yang lebih besar, untuk dihadapi mereka. Sama seperti yang dulu pernah dialami oleh Yati sendiri.
Saat ini, Yati sedang memeriksakan laporan keuangan toko, dengan dibantu oleh anaknya pak RT.
Anaknya pak RT itu, memberikan penjelasan kepada Yati, dengan menunjukkan apa saja, soal laporan-laporan yang sudah dia buat.
Baik untuk keuntungan, dan juga jumlah barang yang tersedia. Mana yang harus ditambah dan tidak.
Yati menyimaknya dengan seksama. Dia yang tidak tahu urusan pembukuan, harus bisa cepat belajar, agar perputaran modal, bisa berjalan dengan baik dan lancar. Sehingga tokonya tidak akan tutup dengan cepat, karena kerugian ataupun modal yang macet, karena barang-barang dagangan yang tidak bisa dengan cepat di putar ulang.
"Yang model ini, jika tidak ada yang minat, tidak usah ambil lagi dari dropship. Yang ini, sederhana, tapi banyak peminatnya. Ambil lagi dengan motif yang berbeda. Biar tidak monoton dengan motif yang polos."
Yati memberitahu apa-apa, yang seharusnya memerlukan perhatian di tokonya. Dia memperhatikan, bagaimana model-model baju yang laris dan tidak, sehingga bisa mengambil keputusan untuk ke depannya nanti.
"Iya Mbak," jawab anaknya pak RT, dengan mengangguk patuh.
Dia tahu, meskipun secara pendidikan dia lebih baik dan tinggi, tapi soal pengalaman, tentu saja, dia kalah dengan Yati, yang hanya lulus SMP saja.
Karena itu juga, dia patuh dan tetap berusaha untuk belajar, agar toko yang doa pegang atas kepercayaan Yati, bisa tetap berjalan dan jika mungkin, bisa lebih berkembang lagi.
"Oh ya Dek, untuk urusan gaji dan bonus Tolong Kamu rekap juga ya. Jika ada keuntungan lebih setelah di kurangi semua itu, nanti Mbak ajak kalian semua jalan-jalan akhir tahun ini."
"Beneran Mbak?" tanya anak pak RT kaget. Dia tidak percaya, dengan apa yang baru saja dia dengar tadi.
Yati mengangguk mengiyakan dengan cepat.
Dan itu membuat anaknya pak RT melonjak kegirangan.
"Kasih tahu juga teman-teman yang lain, biar mereka semua lebih semangat kerjanya."
Tentu saja, apa yang menjadi rencana Yati ini, disambut dengan gembira oleh semua pegawai tokonya.
__ADS_1
Mereka tentu merasa sangat senang. Selain bisa bekerja di dekat rumah, dan tidak mengharuskan mereka pergi jauh-jauh, Bos-nya itu, Yati, juga ramah dan baik. Tidak terlalu menekan dalam pekerjaan.
Yang penting, semua pekerjaan beres, dan mendapatkan untung, sehingga selain gaji pokok yang akan mereka terima, akan ada uang tambahan juga sebagai bonusnya.
Para orang tua yang anak-anaknya ikut bekerja di tokonya Yati, juga ikut merasa senang.
Mereka berterima kasih pada Yati, karena memberikan pekerjaan pada anak-anak mereka tanpa harus merasa was-was, karena jauh dari pengawasan mereka.
Tentu saja, perasan mereka, para orang tua, akan berbeda jika anak-anak mereka bekerja jauh alias harus ke kota besar, dengan bekerja di dekat tempat mereka tinggal. Meskipun dengan hasil yang tidak terlalu besar.
Yati pun merasa lebih nyaman, karena tidak menjadi jalan bagi anak-anak gadis di kampungnya ini, untuk menjadi sama dengan dirinya, suatu hari nanti, jika mereka harus pergi ke kota besar.
*****
Seminggu sudah berlalu, pasca Yati menemukan keberadaan ayahnya.
Dia sudah berusaha untuk melupakan semuanya, dan tidak menganggap bahwa, dia pernah bertemu dengan ayah kandungnya, dengan kehidupan yang ayahnya jalani.
Tapi ternyata, suatu pagi, di saat Yati baru bersiap-siap untuk berangkat ke toko, ada sebuah mobil yang lebih bagus dari miliknya Yati, berhenti di halaman rumahnya.
Mbok Minah yang sedang ada di luar rumah, tentu saja heran, karena ada mobil yang lebih bagus lagi, dari pada milik cucunya itu.
Dengan mulut melongo, mbok Minah bengong saja, di saat ada suara laki-laki yang menegurnya.
"Mak." ( Ibu )
"Eh, iya-iya. Opo Yo?"
"Ngapunten, ajeng tanglet." ( Maaf. Mau tanya )
Akhirnya, laki-laki tadi menunjukan layar handphone miliknya, pada mbok Minah.
Mbok Minah tentu saja merasa kaget, karena ada gambar cucunya, yaitu Yati, di layar handphone tersebut.
"Lho, itu kan Yati. Kok nek kono?" ( Itu kan Yati. Kok ada di situ. Maksudnya di layar handphone orang yang tanya )
"Mak kenal?"
Mbok Minah mengangguk cepat.
Dia mengatakan bahwa, yang ada di layar handphone tersebut adalah cucunya sendiri, yaitu Yati.
Begitulah akhirnya. Laki-laki tadi tahu, siapa nama gadis yang saat ini sedang dia cari.
"Oh, namanya Yati..." gumam orang tersebut.
"Ya. Dia Yati, cucuku."
__ADS_1
Laki-laki tadi, mengangguk mengerti.
Dengan tersenyum, laki-laki tadi berjalan kembali menuju ke tempat mobilnya, dan meminta pada supirnya, untuk mengeluarkan semua hadiah yang dia bawa untuk anaknya, Yati.
Ternyata, laki-laki tadi adalah tuan Wasito. Ayah kandung Yati sendiri.
Dia tahu rumah anaknya ini karena, kemarin, saat Yati pulang tanpa mau mengatakan apa-apa tentang dirinya, tuan Wasito menyuruh seseorang untuk membuntuti, hingga sampai di rumah ini.
Dan orang itu adalah, yang sekarang ini menjadi supir tuan Wasito sendiri.
Supir tersebut, juga menjadi salah satu pengawalnya.
"Mak. Kulo niki ayahnya Yati. Cucune Mak." ( Bu. Saya ini ayahnya Yati, cucunya Ibu )
Pengakuan laki-laki yang sekarang ini ada dihadapannya itu, membuat mbok Minah berkedip untuk beberapa kali.
Mbok Minah tentu merasa bingung. Sebab, kemarin Yati mengatakan bahwa, ayahnya itu ternyata sudah tiada, dan Yati tidak menemukan anggota keluarga yang lain.
Tapi sebelum mbok Minah mengatakan apa-apa, Yati keburu keluar dari dalam rumah, dan memotong pembicaraan mereka berdua.
"Tidak usah percaya Mbok. Cuma ngaku-ngaku saja dia!"
Laki-laki tadi, menoleh dengan cepat, ke arah sumber suara.
Begitu juga dengan mbok Minah sendiri.
Yati melangkah menuju ke tempat keduanya berdiri. Dia berdiri di dekat Mbok Minah, dan menatap dengan tajam ke arah tuan Wasito.
"Apa maksud Anda datang ke sini?"
Supir tuan Wasito, sudah selesai mengeluarkan semua bingkisan yang di bawa. Dia meletakkan semua hadiah-hadiah itu, di bale-bale bambu, yang ada di teras depan rumah Mbok Minah.
Sekarang, supir tersebut mendekat ke tempat tuan Wasito. "Semua sudah Tuan," kata supirnya itu melapor, dengan menunjuk ke arah teras rumah.
Yati melihat ke arah yang ditunjuk oleh supir ayahnya itu. Dia melihat banyak bingkisan, yang sekarang ada di bale-bale bambu tersebut.
Dan setelah itu, Yati kembali mengalihkan perhatiannya pada ayahnya.
"Apa maksud Anda ini?"
"Maaf Nak. Ayah tahu, meskipun bergunung-gunung bingkisan yang Ayah bawa, itu tidak bisa menebus kesalahan yang sudah Ayah lakukan."
Yati diam dan tidak menyahuti perkataan dari ayahnya itu. Dia tidak peduli, dengan semua yang di bawa atupun yang dikatakan ayahnya saat ini.
Yati sudah terlanjur kecewa, dengan kelakuan ayahnya, yang ternyata tidak pernah berubah menjadi lebih baik, dalam kehidupan yang sekarang.
Bahkan sekarang ini, ayahnya jauh lebih parah, karena bukan hanya sekedar menjadi pengawal pribadi dari pelaku kejahatan. Tapi dia sendirilah, yang justru menjadi big bos dari semua kejahatan yang ada di hotel. Tempat usaha ayahnya selama ini.
__ADS_1