Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Dilema Biyan


__ADS_3

Di Jakarta, Biyan merasa gelisah saat menunggu mamanya di rumah sakit. Pikirannya terus melayang pada Yati, situasi yang sedang terjadi, dan semua perasaan yang telah ia simpan dalam hatinya.


Meskipun berada dalam situasi yang tidak menentu dengan keadaan sang mama, pikiran Biyan tidak bisa lepas dari Yati.


"Apakah, Mis Yeti menerima Mr Ginting?" tanya Biyan pada dirinya sendiri.


"Apa yang terjadi di Bogor? Kenapa a-ku, aku tidak tenang seperti ini?" gumam Biyan bertanya-tanya.


Duduk di ruang tunggu rumah sakit, Biyan merasa kegelisahan dan rasa khawatir yang tumbuh di dalam dirinya. Dia berusaha untuk tetap fokus pada situasi di depannya, tapi pikirannya terus kembali pada Yati.


Apa yang sedang terjadi di tempat Yati, bagaimana dia menghadapinya, dan apakah semua yang telah terjadi akan mempengaruhi pilihan mereka di masa depan.


Saat mamanya masih tertidur? Biyan mencoba mengatasi perasaan gelisahnya dan memberikan perhatian pada kondisi sang mama. Namun, pikiran tentang Yati tetap ada di benaknya, memberikan tekanan yang sulit untuk diabaikan.


"Mas Biyan, saya ingin berbicara denganmu tentang kondisi Nyonya Cilla. Kami telah mengevaluasi hasil pemeriksaan, dan Nyonya Cilla butuh waktu untuk pemulihan yang cukup lama." Dokter berbicara dengan pelan.


"Apakah mama, dalam kondisi serius, Dok?" tanya Biyan dengan cepat.


Biyan cemas dengan kondisi sang mama, tapi juga tidak tenang dengan perasaannya sendiri.


Dalam situasi yang penuh perasaan dan kebingungan, Biyan merasa bahwa ia harus menemukan cara untuk menghadapi situasi di hadapannya dan mengatasi perasaan yang menderanya. Dalam beberapa detik ke depan, keputusan besar mungkin akan diambil, dan takdir akan berubah.


"Kami menemukan beberapa masalah kesehatan yang membutuhkan perawatan dan observasi lebih lanjut. Saat ini, dia masih dalam proses stabilisasi."


Biyan memahami, dan mengangguk mendengar penjelasan yang diberikan oleh dokter. Ia tidak bisa banyak bicara, hanya mengangguk saja dan hanya mengikuti petunjuk yang diberikan oleh dokter.


"Apa ini masalah yang parah? Apakah butuh waktu lama?" tanya Biyan, mencoba mencari solusi.


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk merawat Nyonya Cilla, tetapi pemulihan memerlukan waktu. Jadi, akan lebih baik jika Anda tetap berada di dekatnya."

__ADS_1


Biyan merasa dilema dalam situasinya. Meskipun memiliki anak buah atau rekan kerja yang bisa membantunya, dia merasa bahwa masalah ini adalah urusan pribadi yang dia ingin tangani sendiri.


Meskipun begitu, dia juga merasa terbatas karena tidak bisa meminta izin kepada saudaranya yang lain untuk mengizinkannya pergi.


Dalam hati, Biyan merenungkan betapa kompleksnya situasi ini. Dia merasa berada di persimpangan di mana dia ingin menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri, tetapi juga merasa keterbatasan yang membuatnya sulit untuk mengambil langkah tersebut.


"Saya memang ingin melihatnya kembali dalam kondisi yang lebih baik, Dok. Saya, menyerahkan perawatan mama pada Anda." Biyan, akhirnya angkat berbicara setelah terdiam beberapa saat.


"Tentu, Mas Biyan. Itu adalah keputusan yang bijak. Terkadang, kehadiran keluarga dapat memberikan semangat dan dukungan yang diperlukan dalam proses pemulihan. Namun, saya harus menekankan bahwa meninggalkan rumah sakit saat ini mungkin bukan pilihan yang bijak."


Biyan merasa frustrasi setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh dokter barusan.


"Tapi, saya juga memiliki urusan penting di Bogor. Saya ingin menyelesaikannya secepatnya," ungkap Biyan menyakinkan.


Dalam kebingungannya, Biyan merasa bahwa dia perlu menemukan jalan keluar yang paling tepat untuk situasinya. Dia merasa bahwa harus ada cara untuk menghadapi masalah ini tanpa merugikan siapa pun, termasuk dirinya sendiri. Dalam beberapa detik ke depan, dia harus bisa membuat keputusan besar yang akan mempengaruhi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.


"Saya mengerti bahwa ini bisa menjadi situasi yang sulit. Tetapi, saat ini kondisi Nyonya Cilla adalah prioritas utama. Mungkin Anda bisa mencari jalan lain untuk menyelesaikan urusan di Bogor, tanpa meninggalkan rumah sakit." Dokter memberinya saran.


"Saya paham bahwa ini bisa menjadi dilema. Kami akan tetap memantau kondisi Nyonya Cilla, dan memberi tahu Anda tentang perkembangan terbaru. Jika ada kesempatan, mungkin Anda bisa meninggalkan rumah sakit untuk sementara, tetapi pastikan Anda dapat dengan cepat kembali jika dibutuhkan."


Mendengar penuturan dokter, Biyan justru semakin merasa cemas. Ia tidak mungkin egois, tega meninggalkan mamanya demi kepentingannya sendiri.


"Terima kasih atas pemahaman Anda, Dokter. Saya akan mencoba menemukan solusi yang terbaik," ujar Biyan dengan mengangguk.


"Itu baik, Mas Biyan. Ingatlah bahwa kesehatan mama Anda adalah yang paling penting. Kami akan melakukan yang terbaik untuk memastikan pemulihannya. Jangan ragu untuk bertanya jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut."


"Saya akan tetap di sini. Terima kasih atas perhatiannya, Dokter."


"Sama-sama, Mas Biyan."

__ADS_1


Biyan bersiap-siap meninggalkan ruangan, guna menghubungi beberapa orangnya juga bertanya pada saudara-saudaranya yang sedang dalam perjalanan dari luar negeri.


Dalam perbincangannya dengan dokter, Biyan merasakan adanya tekanan yang menghalanginya untuk bisa pergi ke Bogor. Meskipun sulit, dia sadar bahwa kesehatan sang mama adalah prioritas utamanya.


Situasi yang rumit ini, memaksa Biyan untuk bisa mencari solusi yang bisa mengakomodasi kepentingannya tanpa mengorbankan perhatian yang diperlukan bagi mamanya yang sedang sakit.


..."Kak Aji, baru perjalanan dari India."...


Pesan masuk ke ponselnya, dan itu datang dari kakak tertuanya. Sebelumnya, ada pesan dari saudara kembarnya yang sekarang berada di Belanda.


Untuk kakaknya yang perempuan, justru baru saja melahirkan sehingga belum bisa pergi ke mana-mana.


"Ayah Sangkoer juga sedang masa perawatan," gumam Biyan dengan memejamkan mata.


Situasi keluarganya yang tersebar di berbagai tempat membuat Biyan merasa semakin terjepit. Saudara-saudaranya yang ada di India, Belanda, dan yang baru saja melahirkan, serta ayah tirinya yang juga sedang dalam kondisi tidak sehat, menambah beban pikiran dan tanggung jawab yang harus dia hadapi.


Biyan merasa kewalahan dengan perasaan ingin berada di tempat berbeda secara bersamaan, tetapi juga merasa pentingnya hadir untuk keluarganya yang sedang memerlukan dukungan.


"Andai a-ku bisa teleportasi, hehehe ..."


Pria itu terkekeh kecil, mengingat pikirannya yang sedang kacau. Di tengah semua ini, Biyan menyadari bahwa dirinya tidak bisa memecahkan semua masalah ini seorang diri. Dalam keadaan yang serba rumit ini, dia merasa terpaksa tetap berada di Jakarta untuk memberikan dukungan kepada mamanya yang sedang sakit.


Keputusannya untuk tetap berada di Jakarta adalah bentuk tanggung jawabnya terhadap keluarga dan peran yang harus dia jalani dalam situasi ini.


"Hahh ... aku pasrahkan pada takdir, jika memang ini yang terbaik."


Biyan merenungkan keadaan ini dengan berat hati. Dia merasa bahwa banyak hal yang diluar kendalinya dan dia hanya bisa melepaskan kembali semuanya kepada Tuhan, terkait dengan keputusan Yati.


Dalam keadaan yang tidak pasti ini, Biyan merasa perlu untuk tetap bersabar dan berdoa, mengandalkan rasa keyakinan bahwa takdir akan membawa mereka pada jalan yang tepat.

__ADS_1


"Aku pasrahkan hanya padaMu, Tuhan."


__ADS_2