Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Ketakutan


__ADS_3

Mr. Akihiko, yang masuk dan duduk di kursi penumpang mobilnya sendiri, tersenyum dalam keheningan. Pandangannya terfokus pada Yati yang dengan hati-hati mengemudikan mobil di tengah lalu lintas kota yang sibuk.


Mata pria Jepang itu memancarkan kilau misterius, seolah menyimpan rahasia yang belum terungkap.


"Kamu, yang teristimewa, Mis Yeti."


Setelah bergumam demikian, Mr Akihiko meminta pada supirnya untuk kembali ke kantor.


Di sisi lain, Yati merasa lega bisa kembali ke rumah kontrakan setelah melewati hari yang panjang di rumah sakit dan bertemu dengan Mr Akihiko, dengan menyampaikan.


Dia menyalakan lampu ruang tamu dan duduk di sofa, memikirkan kondisi ayahnya yang sedang dirawat di rumah sakit. Meskipun hatinya cemas, Yati tahu bahwa ayahnya sedang dalam perawatan yang baik di bawah pengawasan ibu Nina.


"Huhfff ... aku lelah."


Saat duduk di sofa, Yati melihat sekitarnya, kemudian tersenyum sendiri saat matanya terpaku pada foto dirinya bersama Mbok Inah.


Foto tersebut sengaja dibawa Yati, agar merasa tetap ada didekat orang yang sangat disayanginya itu.


"Mbok. Yati di sini, lagi. Tapi dengan niatan berbeda."


Dia tersenyum mengingat momen-momen bahagia yang pernah mereka lewati bersama. Namun, pikirannya kembali teralih saat dia merenungkan kondisi ayahnya.


"Ayah butuh perawatan, dan Yati terpaksa membawa ke sini. Hem ..."


Beberapa menit kemudian, Yati memutuskan untuk mandi dan istirahat sejenak. Dia merasa tubuhnya lelah setelah menjalani hari yang penuh perjalanan antara rumah sakit dan rumah kontrakan, ditambah dengan perdebatan kecil dengan Mr Akihiko, tadi.


Dalam keheningan kamar mandi, air hangat menenangkan tubuh Yati yang capek.


"Ini lebih baik," gumamnya lirih.


Setelah mandi, dia memutuskan untuk berbaring sejenak di atas tempat tidur.


"Untung ibu Nina mau dan bersedia tetap ada di Jakarta, bersama merawat ayah."


Dalam kegelapan kamar, pikiran Yati melayang-layang. Dia merenungkan tentang bagaimana ibu Nina begitu perhatian terhadap ayahnya di rumah sakit. Yati merasa beruntung memiliki perawat yang peduli dan berdedikasi seperti ibu Nina.


"Oh ya, aku harus segera tidur dan kembali ke rumah sakit, nanti."


Di saat hampir tertidur, Yati mengingatkan dirinya sendiri untuk kembali ke rumah sakit setelah istirahat sejenak. Dia tahu bahwa meskipun dia membutuhkan istirahat, ayahnya juga membutuhkan dukungan dan kehadirannya di sana.


Dengan perasaan lega dan pikiran yang lebih tenang, Yati pun akhirnya tertidur pulas. Dia yakin bahwasannya dia akan bangun dengan semangat baru untuk kembali menemani ayahnya di rumah sakit dan memberikan dukungan penuh.

__ADS_1


Tok tok tok


Sayup-sayup terdengar suara pintu diketuk seseorang dari luar.


Tok tok tok


Lagi, syarat ketukan itu terdengar dengan jelas di telinga Yati yang baru saja terlelap.


Yati terbangun dari tidurnya, terkejut karena suara ketukan pintu yang seperti menurut untuk segera dibuka.Jantungnya berdegup kencang, dan dia merasa tiba-tiba sadar akan sekelilingnya.


"Siapa di luar? A-ku ... tidak punya kenalan di sini."


Cahaya bulan temaram masuk melalui jendela dan menerangi sebagian ruang tidur, menciptakan bayangan-bayangan samar di dinding.


Wanita itu duduk tegak di atas tempat tidur, memicingkan mata ke arah pintu. Pikirannya berkecamuk, berusaha mencari cara untuk menghadapi situasi ini.


"Tidak ada siapapun yang tahu rumah ini. Dan Rina ataupun Mr Akihiko juga," gumamnya sendiri.


Yati merasa tidak memiliki kenalan yang tinggal di dekat rumah kontrakannya, jadi ini benar-benar menjadi misteri yang mengganggu.


Telinganya berusaha mendengarkan setiap suara di luar sana. Suara langkah kaki lembut yang tidak terdengar asing baginya, hembusan angin yang berdesir, dan sesekali suara gemericik dedaunan. Namun, saat itu juga, ketukan pintu kembali terdengar, lebih keras kali ini, memecah keheningan malam.


Tok tok tok


Tok tok tok


"Buka tidak, ya? Aku, takut."


Yati merasa adrenalinya meningkat. Dia meraba sekitarnya mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata jika perlu. Tangan gemetarnya berpegangan erat pada benda yang ia temukan, raket nyamuk, yang siap untuk digunakan sebagai alat menghadapi apa pun yang mungkin terjadi.


"Ini lebih baik daripada aku tidak ada senjata," ujarnya lirih.


Namun, sebelum dia bisa membuat keputusan lebih lanjut, suara suara dari luar mulai membuktikan keberadaannya. Dia mendengar suara lembut seorang wanita yang berkata dengan pelan.


Tok tok tok


"S-iapa ... siapa di luar sana?!" desak Yati dengan suara gemetar, matanya membelalak ke pintu yang diterpa bayangan gelap. Hatinya berdebar keras, pikirannya mencoba merangkai kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.


"Tidak mungkin ada yang datang ke sini sekarang, kan? Di tengah malam begini?" gumam Yati sendirian, tangannya masih mencengkram benda yang bisa dia jadikan senjata.


"Ya Tuhan, apakah ini perampok? Atau pencuri? Apa yang harus aku lakukan?" pekik Yati dengan suara tercekat, napasnya terengah-engah karena ketakutan yang semakin merajalela.

__ADS_1


Tok tok tok


"Mbak, buka pintunya. Mbak Yati."


"Dengarkan baik-baik, jangan berani-berani masuk! A-ku ... aku punya cara untuk membela diri, jadi jangan main-main dengan aku!" ujar Yati dengan nada yang bergetar, mencoba memberikan ancaman palsu kepada siapa pun yang mungkin berada di luar sana.


Tapi di saat dia mendengar suara wanita yang berbicara di luar pintu, Yati merasa bingung, takut dan semakin panik.


"Tapi ... tapi bagaimana dia tahu namaku? Apakah ini trik mereka untuk membuatku membuka pintu?" pikir Yati dalam kebingungannya.


"S-siapa kau sebenarnya?! Jangan berpura-pura mengenaliku!" seru Yati dengan suara yang meninggi, matanya terus terpaku pada pintu yang terbuka sedikit.


Dia masih takut untuk melepaskan kewaspadaannya sepenuhnya.


Akhirnya, ketika Yati mendengar dengan jelas jika itu adalah ibu Nina tentang kedatangannya, nada suaranya yang tegang dan panik perlahan mulai mereda.


"Maafkan saya, Mbak Yati. Saya Nina, perawat Tuan Wasito dari rumah sakit. Ada sesuatu yang penting, dan ponsel Mbak Yati tidak aktif."


"Oh ... jadi kau ibu Nina? Maafkan aku, aku hanya sangat ketakutan tadi..." ucap Yati dengan suara lirih, rasa lega dan penyesalan bergelayutan dalam kata-katanya.


Ketika mendengar kata-kata itu, Yati merasa lega dan melepas pegangan eratnya dari raket nyamuk yang ia pegang. Dia berjalan dengan hati-hati menuju pintu, masih waspada namun lebih tenang dari sebelumnya.


Ceklek!


"Bu Nina?"


Ketika dia membuka pintu, di hadapannya berdiri seorang wanita matang dengan senyum hangat di wajahnya. Itu adalah ibu Nina, perawat ayahnya.


"Maaf, Mbak Yati."


"Ada apa, Bu Nina? Ayah, di rumah sakit sendirian?" tanya Yati dengan tegang karena merasa khawatir.


"Iya, Mbak. Tapi, sudah saya titipkan pada perawat dan dokter jaga."


Bu Nina menjelaskan dengan penuh pengertian tentang alasan kedatangannya. Dia memberitahu Yati bahwa kondisi ayahnya stabil, namun ada perkembangan yang perlu diinformasikan.


Yati merasa lega mendengarnya dan merasa bersyukur atas kehadiran ibu Nina.


"Ayo, masuk dulu, Bu Nina!"


"Iya, Mbak Yati. Terima kasih, dan maaf sekali lagi."

__ADS_1


Sambil masih dalam ketegangan dan cemas, Yati mengajak ibu Nina masuk ke dalam. Keduanya duduk di ruang tamu, berbicara dengan hati-hati tentang kabar terbaru mengenai ayah Yati.


Di bawah cahaya temaram dan rasa lega, situasi yang awalnya menegangkan akhirnya menjadi perbincangan yang lebih ringan dan penuh pengertian.


__ADS_2