Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Hadiah Untuk Yati


__ADS_3

Tamu-tamu yang datang sudah pergi, karena pesta juga sudah selesai. Yang tinggal hanya para panitia dan juga sang kakek bersama dengan cucunya, Surya Jaya.


Tamu yang terakhir datang, yang ternyata adalah Mr Andre, juga sudah pulang.


"Kemana tadi si Ginting?" tanya kakek pada Surya Jaya.


Surya jaya tidak menjawab pertanyaan dari kakeknya. Dia hanya menaikkan kedua bahunya dan mengeleng beberapa kali.


Tapi sepertinya, di gedung memang sudah tidak ada lagi Mr Ginting, bersama dengan istrinya, Yati. Karena semua orang, tidak ada yang melihat keberadaan mereka berdua.


"Sudah pulang ya mereka?" tanya sang kakek lagi pada Surya Jaya.


"Mungkin," jawab Surya Jaya cepat, dengan nada cuek, karena memang dia tidak tahu, kemana kakak sepupunya, Mr Ginting bersama dengan istrinya, miss Kiara.


"Sudah gak tahan! hahaha..." sambung Surya Jaya dengan maksud bercanda.


"Hah, maksudnya apa?" tanya sang kakek blank, dan tidak berpikir ke arah 'sana' sama sekali.


"Haduh Kakek ini bagaimana? katanya mau minta cicit, ya mereka segera proses lah Kek," sahut Surya Jaya menjelaskan pada kakeknya.


"Oh itu ya? eh, hahaha... kenapa Kakek jadi benar-benar pikun ini?" ujar sang kakek dengan tertawa senang, meskipun terlambat dalam memahami perkataan Surya Jaya.


Akhirnya mereka berdua saling tertawa terbahak-bahak bersama-sama, menyadari jika mereka berdua sebenarnya juga sama-sama tidak tahu apa yang dikerjakan oleh Mr Ginting dan Yati.


Tapi ternyata memang benar. Mr Ginting dan Yati, sudah pulang, lewat pintu belakang dan meminta pada supir untuk menjemput mereka berdua. Mr Ginting yang meminta supaya pulang terlebih dahulu. Dia tidak mau berada di gedung tempat berlangsungnya pesta lebih lama lagi.


Mr Ginting ingin beristirahat dengan tenang, bersama dengan istrinya itu.


Semua hal yang berkaitan dengan Mr Ginting dan Yati, sebagai mempelai, seperti kado, hadiah dan yang lainnya, diurus oleh pegawai Mr Ginting. Semua akan dibawakan oleh mereka, dan sampai di rumah dengan selamat.


Tadi, Mr Ginting hanya membawa dus kotak kecil pemberian sang kakek, dan satu amplop coklat pemberian dari sepupunya, Surya Jaya.


Sekarang, setelah semua selesai, dia juga sudah selesai mandi bersama dengan Yati, membuka hadiah dari sang kakek untuk mereka berdua.


Setelah membukanya, ternyata berisi masing-masing satu jam tangan mewah yang berharga sangat fantastis.


Jam itu cople dan hanya di produksi khusus untuk mereka saja, karena merupakan pesanan ekslusif. Jadi, jam tangan itu tidak ada yang memiliki lagi, selain mereka berdua.


"Kakek pesan jam ini khusus untuk kita saja?" tanya Yati kaget, setelah Mr Ginting menjelaskan kepadanya tentang desain dan keterangan yang ada di dalam kotak jam tangan tersebut.

__ADS_1


Mr Ginting mengangguk mengiyakan pertanyaan dari istrinya itu.


Yati jadi semakin merasa tidak enak hati. Dia juga tidak berani memakai jam tangan mewah tersebut. "Aku jadi tidak enak dan takut jika memakai jam tangan itu," kata Yati dengan menutup kotak jam tangan, kemudian menyerahkannya pada Mr Ginting.


"Lho, kenapa? Ini kan ada inisial namanya," sahut Mr Ginting bertanya.


"Itu kan untuk Kiara, bukan nama Saya. Lagipula, Saya juga tidak berhak menerima hadiah sebesar itu dengan semua hal yang sudah kita lakukan pada kakek."


Yati benar-benar merasa sangat menyesal, dan tidak tega, pada perasaan kakek Mr Ginting. Dia merasa sangat bersalah.


"Sudahlah. Simpan ini dan pakai jika sewaktu-waktu ada pertemuan dengan Kakek."


Mr Ginting menyerahkan kembali kotak jam tangan tersebut pada Yati. Dia juga sebenarnya tidak tega melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh kakeknya. Tapi dia tidak ada pilihan lain, selain melakukan semua ini.


Sekarang, Mr Ginting ganti membuka amplop coklat pemberian Surya Jaya, yang tadi sempat membuat dirinya kesal, karena amplop coklat itu adalah amplop perusahaan. Dia jadi berpikir bahwa, sepupunya itu hanya ingin bercanda dan bermain-main dengan dirinya.


Tapi ternyata semua itu salah. Dugaan Mr Ginting tidak benar sama sekali.


Amplop coklat pemberian Surya Jaya itu berisi kertas semacam kwitansi pembayaran sebuah mobil sport mewah keluaran terbaru.


Meskipun Mr Ginting tidak berekspresi kaget, tapi sebenarnya dia memuji sepupunya itu dalam hati. "Keren juga dia milih hadiah," katanya sambil tersenyum tipis.


Yati jadi semakin tidak enak hati, karena semua hadiah-hadiah untuk mereka berdua, dari orang-orang terdekat Mr Ginting, keluarga suaminya.


Tut


Tut


Tut


Telpon Mr Ginting berdering. Dengan malas, dua melihat layar, untuk mengetahui siapa yang sudah menghubungi dirinya saat ini.


Ternyata dari pelayan utama di rumahnya ini.


"Ehemmm!"


Mr Ginting berdehem terlebih dahulu, sebelum menerima panggilan telpon tersebut.


..."Ya, ada apa?"...

__ADS_1


Mr Ginting langsung bertanya keperluan dari pelayan tersebut menghubunginya. Tanpa basa-basi terlebih dahulu.


..."Ini Mr. Hadiah-hadiah pesta tadi mau di taruh di mana?"...


..."Taruh saja di ruang tengah."...


..."Ya. Muat kan?"...


..."Baik Mr."...


Ternyata, pelayan utama menelpon Mr Ginting, untuk bertanya tentang hadiah-hadiah yang dia terima untuk pernikahannya. Dan semuanya sudah di kirim ke rumah.


Pelayan jadi bingung, untuk meletakkan semua hadiah-hadiah tersebut, karena terlalu banyak dan tentunya bukan cuma hadiah-hadiah biasa saja yang ada di dalamnya. Itulah sebabnya, dia perlu bertanya terlebih dahulu pads Mr Ginting, sebelum mengambil keputusan untuk menyimpannya.


Dan ternyata benar. Mr Ginting hanya memintanya untuk menaruhnya di ruang tengah, dan bukan di ruang kerjanya atau kamar istrinya.


Pelayan itu berpikir, jika hadiah-hadiah ini, sepertinya tidak menarik sama sekali untuk Mr Ginting, karena dua yakin jika, Mr Ginting sebenarnya tidak menginginkan semua hadiah itu. Karena pesta pernikahan yang baru saja berlangsung, hanya sebuah tantangan untuk kakeknya saja. Agar sang kakek, memiliki pekerjaan di luar tanggung jawabnya di kantor.


Karena pada awalnya Mr Ginting tidak bermaksud untuk membuat pesta ini. Dia justru berpikir jika kakeknya akan marah, karena membawa seorang istri, yang tidak pernah dia kenal. Karena seharusnya, sang kakek yang akan memperkenalkan gadis-gadis untuk dipilih cucunya itu, sebagai calon istrinya nanti.


Sayangnya, Mr Ginting bukanlah cucu yang penurut. Dia tidak mau lagi diperintah oleh sang kakek. Dia merasa tidak bebas, dan selalu patuh kepada kakeknya itu.


Itulah sebabnya, dia tidak mau dijodohkan dan meminta bantuan pada Mr Akihiko, untuk seorang gheisa nya supaya menjadi istri kontraknya untuk dua tahun ke depan. Meskipun sebenarnya Mr Ginting juga tidak tahu, apa yang akan terjadi nanti, jika semuanya sudah selesai. Sedangkan waktu dua tahun itu sangat pendek.


"Kamu mau hadiah ini?" tanya Mr Ginting pada istrinya, dengan memperlihatkan bukti pembayaran mobil dari Surya Jaya.


"Itu kn hadiah untuk Mr Ginting dari sepupunya Mr juga. Saya tidak mau ambil," jawan Yati dengan mengeleng.


Mr Ginting memicingkan matanya, menatap ke arah istrinya itu. "Kamu yakin?" tanya Mr Ginting memastikan.


Yati mengangguk dengan pasti.


Mr Ginting menghela nafas panjang, kemudian meletakkan kertas tersebut di atas tempat tidur.


"Ini untuk Kita, bukan untukku saja. Tapi Aku memberikannya untukmu. Terserah Kamu mau ambil kapan saja, yang penting simpan saja kertas itu." Mr Ginting menyerahkan amplop coklat tersebut, meskipun kertasnya masih ada di atas tempat tidur.


Sekarang, dia beranjak turun dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi. Dia ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu, sebelum keluar dari kamar istrinya.


"Aku mandi dulu, atau Kamu juga mau ikut mandi bersamaku?" tanya Mr Ginting menawari Yati, sebelum pintunya terbuka.

__ADS_1


__ADS_2