Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Tidak Bisa Menahan Diri


__ADS_3

"Ibu. Itu Ibu?"


Yati bertanya pada dokter. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


Di depannya, di tempat tidur pasien atau brangkar, terdapat seseorang yang sudah di tutup dengan kain putih. Seluruh tubuhnya tertutup rapat.


Tentu saja, Yati tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Dia tidak percaya, jika seseorang yang ditutup dengan kain putih itu adalah ibunya sendiri.


Ibu yang kemarin malam baru saja dia tinggal, dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun tidak dengan kejiwaannya, secara normal, sama seperti orang-orang kebanyakan di luar rumah sakit jiwa ini.


Kepala Yati mengeleng beberapa kali. Dia benar-benar tidak percaya, dengan penglihatan matanya saat ini. "Dok, jangan bercanda dan mengolok-olok Saya dengan candaan seperti ini. Hari ini bukan April Mop." Yati berkata pada dokter tersebut, dengan perasaan yang was-was.


"Kami juga tidak percaya. Tapi Anda bisa membaca apa yang dia tinggalkan untuk Anda tadi," sahut dokter tersebut, dengan menunjuk ke arah tangan Yati, di mana tadi dia menyerahkan secarik kertas, yang dia temukan bersama dengan tubuh ibunya, di dekat tempat tidur.


Tapi Yati diam dan tidak membuka tangannya. Dia tidak ingin membaca pesan apapun, yang ada di dalam kertas tersebut. Dia ingin melihat ibunya, yang saat ini sudah tidak bisa lagi memeluknya, sama seperti kemarin-kemarin.


Dokter tadi, terus mengawasi dan mendampingi Yati. Dia juga tidak mau terjadi sesuatu pada anak dari pasiennya, yang tentu saja tidak akan pernah percaya, jika ibunya baru saja ditemukan oleh penjaga keamanan yabg berkeliling setiap kamar, tadi pagi, sekitar jam enam pagi.


Kejadiannya memang belum lama. Dan pada saat itu, di penginapan, Yati baru saja selesai mandi, dan sedang bercermin. Dan tanpa sengaja, dia menyenggol cermin tersebut, hingga pecah berantakan.


Tapi karena kejadian itu juga tidak sengaja dilakukan, Yati juga tidak memiliki firasat apapun. Dia melanjutkan kegiatannya dan sarapan pagi seperti biasanya. Setelah itu, baru berangkat ke rumah sakit, untuk menemani ibunya. Sama seperti yang dia lakukan setiap hari, selama berada di Singapura ini.


Tidak ada air mata yang mengalir, saat Yati melihat wajah ibunya, yang tampak tenang dalam diamnya, untuk selama-lamanya.


Setelah puas melihat wajah ibunya itu, Yati meminta ijin pada dokter, untuk mencium ibunya, untuk terakhir kalinya, sebelum dibersihkan dan dikafani.


Dokter mengijinkan Yati, dengan apa yang dia inginkan.


Dengan sekuat perasaannya, Yati tetao berusaha untuk bisa menahan kesedihan yang ada pada hatinya sendiri, dan juga mengusahakan agar air matanya tidak ikut campur, dengan mengalir dan menetes, meskipun itu tidak disengaja sekalipun.


Setelah merasa cukup yakin dengan semua yang dia usahakan, Yati menyentuh pipi ibunya untuk terakhir kali, dengan kedua tangannya.


"Yati ikhlas Bu. Pergilah dengan tenang. Jika ini memang jalan terbaik untuk kehidupanmu. Aku ikhlas. Tapi jika ini ada kesengajaan atau sabotase, Yati berjanji, akan mencari kebenaran dan pelakunya sampai menemukannya."


Tak lama kemudian, setelah mengatakan semua itu di depan wajah ibunya, Yati mencium kedua pipi ibunya itu, dengan sepenuh perasaan yang ada di dalam hatinya.

__ADS_1


Untungnya, usaha yang dilakukan oleh Yati, untuk menahan diri dan juga air matanya, sukses hingga dia sendiri yang menutupi wajah ibunya kembali, dengan kain putih yang tadi digunakan untuk menutupnya.


Yati berjalan menuju ke arah tempat berdirinya dokter, yang juga ada beberapa perawat dan juga penjaga rumah sakit ini.


"Lakukan sesuai prosedur yang ada di rumah sakit ini. Berikan juga semua laporan, bagaimana dia ditemukan oleh penjaga, dalam keadaan tidak lagi bernyawa, dan waktu kejadian juga. Saya tidak akan menuntut apa-apa, jika semua laporan dari pihak rumah sakit ini, tidak ada rekayasa. Karena Saya pasti bisa menemukan bukti, jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan laporan yang di buat, dan Saya terima nanti.


Suara Yati terdengar tegas dan tidak seperti biasanya. Tentu saja, beberapa perawat dan penjaga rumah sakit, yang sudah terbiasa bertemu dan berbicara dengannya menjadi heran.


Mereka semua juga kaget, jika gadis lemah, yang biasa menemani ibunya yang kurang waras itu, menjadi bisa seperti tadi.


Setelah mengatakan semua itu, Yati keluar dari kamar isolasi IGD. Dia berjalan dengan cepat, menuju ke arah kamar mandi, yang ada di ujung lorong.


Yati menumpahkan semua kesedihan dan kekecewaan yang dia rasakan di dalam kamar mandi tersebut.


Tangisannya tidak bersuara, tapi air matanya, mengalir dengan deras, tanpa bisa dua bendung lagi.


Sebagai seorang geisha yang sudah banyak belajar menahan diri dan ekspresi wajah, Yati tentu bisa mengatasinya jika ada orang lain di sekitarnya.


Tapi semua yang sudah dia pelajari, tidak akan berguna, jika dia dalam keadaan seperti ini, sendiri di dalam kesedihannya, karena kehilangan seorang ibu, yang dia cari-cari sedari dulu.


Namun sayangnya, saat ini semua itu tidak ada artinya. Dia benar-benar lemah, dan juga tidak tahu, apa yang akan dia alami setelah ini.


Saat teringat dengan secarik kertas yang diberikan oleh dokter, dan tadi dia simpan di dalam saku celananya, Yati segera mencarinya, karena dia juga ingin tahu, apa yang dituliskan oleh ibunya, di dalam kertas tersebut.


*Buat anakku Yati.


Maafkan Ibu Nak. Ibu tidak bisa menjagamu selama ini. Ibu juga minta maaf, karena tidak bisa menemanimu, seperti yang Kamu inginkan selama ini.


Ibu harus pergi. Ini demi kebahagian dan juga keamanan dirimu.


Ibu harus pergi, dan hiduplah seperti biasanya, dan tidak perlu memikirkan Ibu.


Ibu melakukan semua ini untuk kebaikan semua orang, terutama untuk dirimu, anakku.


Tidak usah mencari-cari ayahmu. Dia sudah tidak ada lagi di dunia ini.

__ADS_1


Ibu akan menyusul ayahmu, dan bahagia bersama dengannya di atas langit sana.


Semoga kedepannya, Kamu bisa berbahagia.


Ibumu*.


Tangisan Yati semakin kencang, dan itu tampak dari guncangan pundaknya. Meskipun suaranya terdengar hanya berupa sesenggukan belaka.


Itu karena Yati masih berusaha keras, untuk tetap menahan diri, agar tidak menangis kencang, dengan suara yang keras.


Dia tidak mau menjadi pusat perhatian, di mana ini adalah kamar mandi umum, yang ada di rumah sakit.


Setelah beberapa saat kemudian, Yati mengusap air matanya. Dia juga menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan, untuk melegakan dadanya yang terasa sesak.


Dengan memejamkan mata, Yati berusaha untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya, dengan adanya pesan yang disampaikan lewat kertas tersebut.


"Ibu dari mana mendapatkan kertas itu? Dan ibu bagaimana bisa tiba-tiba memutuskan untuk bunuh diri, dengan menelan semua obatnya. Bukannya obat-obatan ibu di simpan oleh perawat, dan baru diberikan pada ibu, saat waktunya untuk diminum."


Berbagai macam pertanyaan, hadir di dalam hati dan pikirannya Yati. Entah teka-teki apa lagi yang ada di dalam hidupnya kali ini.


Sekarang, Yati membasuh mukanya, supaya tidak lagi terlihat kusut dan lebih segar lagi. Dia juga merapikan rambutnya, dengan sisir yang ada di dalam tas. Bercermin dan tersenyum samar, untuk melupakan semua kesedihan yang ada di dalam hatinya.


Setelah merasa cukup baik dan bisa mengendalikan perasaan dan emosinya, Yati keluar dari dalam kamar mandi tersebut. Dia berjalan menuju ke arah kamar ibunya, di mana tadi pagi penjaga menemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa lagi.


"Miss-Miss! Maaf Miss. Anda di larang untuk masuk ke dalam kamar tersebut."


Seorang penjaga yang kebetulan lewat, melarang Yati untuk masuk ke dalam kamar tersebut, yang merupakan kamar ibunya.


Perawat melarangnya karena kamar itu sedang dalam proses penyidikan.


"Kenapa?" tanya Yati, yang pura-pura tidak tahu, apa yang terjadi di dalam kamar tersebut.


"Kamar itu sedang di kosongkan, karena pasien yang menempati kamar tersebut, ditemukan tidak bernyawa tadi pagi Miss."


"Penyebabnya apa?" tanya Yati lagi, ingin tahu, berita apa yang beredar di rumah sakit ini, tentang ibunya yang bunuh diri.

__ADS_1


__ADS_2