
Ada beberapa hal yang tidak bisa kita bicarakan dengan orang lain, termasuk dengan keluarga sendiri. Karena mungkin saja, itu adalah hal yang sensitif dan memang seharusnya tidak dibicarakan.
Namun, kadang hal tersebut, justru menjadi bumerang bagi kita sendiri atau dengan orang-orang yang ada di dekat kita.
Sama seperti yang dilakukan oleh sang Kakek. Dia menyimpan semua rahasianya selama ini sendiri, tanpa ada pihak keluarga yang tahu. Dan saat semua ketakutan yang dia miliki sejak hilangnya Bros Bunga tersebut, dia hidup dalam ketakutan, meskipun tidak tampak dari luar.
Dan sekarang, saat Bros Bunga itu muncul kembali, ketakutan sang Kakek, semakin besar. Apalagi, cucu-cucunya juga sudah besar dan justru, yang membawa kembali Bros Bunga itu sehingga muncul dan terlihat oleh mata sang Kakek adalah, istri dari cucunya sendiri. Mr Ginting.
Karena itu juga, sang Kakek berusaha untuk bisa mendapatkan Bros Bunga itu lagi, dengan cara apapun. Dia tidak mau jika, ada orang yang akan mengetahui apa yang ada di balik Bros Bunga tersebut.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, akhirnya mobil yang mengantar miss Kiara, alias Yati, sampai di depan pintu masuk gedung tinggi, yang merupakan kantor pusat dari perusahaan keluarga suaminya. Mr Ginting.
Di kantor inilah, Mr Ginting dan sang Kakek bekerja setiap hari. Termasuk dengan Surya Jaya juga.
"Bapak bisa langsung pulang. Saya akan bersama Kakek nanti," kata miss Kiara, begitu dia keluar dari dalam mobil.
Dia memberitahu pada supir yang mengantar, dan sedang membukakan pintu mobil untuknya.
"Baik Miss," sahut pak supir patuh, dengan mengangguk mengerti.
Setelahnya, miss Kiara berjalan dengan anggun, menuju ke lobby kantor.
Tapi sayangnya, miss Kiara tidak tahu, di mana letak kantor suaminya. "Di lantai berapa ya? Aku lupa bertanya tadi," gumamnya lirih.
Selama ini, miss Kiara memang tidak pernah ikut ke kantor atau mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan suaminya. Jadi, dia benar-benar tidak tahu, apa dan di mana posisi Mr Ginting dalam perusahaan keluarganya sendiri.
Miss Kiara berpikir bahwa, semua itu bukan area yang bisa dia masuki, sebagai seorang istri kontrak. Karena pekerjaannya, tidak memperbolehkan dirinya ikut campur dalam urusan yang lain, kecuali jika itu ada hubungannya dengan tugas-tugasnya sebagai seorang istri pada umumnya.
Karena merasa kebingungan, dan di depan pintu lift, akhirnya ada seseorang yang menegurnya.
"Maaf, apa ada yang bisa Saya bantu?"
Yati menoleh ke arah sumber suara. Ternyata, orang yang menegurnya dan menawarkan bantuan padanya adalah security.
Dengan malu, Yati tersenyum mendengar tawaran dari security tersebut.
"Maaf. Saya mau bertemu dengan Mr Ginting. Ada di lantai berapa ya? Saya tidak tahu letak ruangan kantornya," jawab Yati, memberitahu pada security, dengan maksud kedatangannya ke kantor ini.
"Apa sudah ada janji?" tanya security itu lagi.
__ADS_1
Yati mengangguk. Tapi security meragukan jawaban dari Yati. "Biasanya, resepsionis kantor mencatat tamu-tamu yang datang ke kantor ini. Jika Anda sudah ada janji dengan Mr Ginting, biasanya juga ada daftar tamu, yang bisa di terima Mr Ginting hari ini."
Security menjelaskan prosedur yang berlaku di kantor milik suaminya sendiri.
Tentu saja, Yati mengerutkan keningnya, mendengar semua perkataan dan penjelasan dari security tersebut.
"Apa harus daftar dulu ke resepsionis, jika ini adalah undangan dari Mr Ginting sendiri?" tanya Yati, yang ternyata tidak dikenali oleh security tersebut, jika dia adalah istri dari Mr Ginting sendiri.
"Tentu saja," jawab security itu dengan tegas.
"Mari Saya antar ke tempat resepsionis," ajak security itu, sebelum Yati mengatakan, siapa dia yang sebenarnya.
Tapi karena tidak mau berdebat, akhirnya Yati mengikuti langkah security tersebut, yang mempersilahkan dia untuk berjalan di depan, sedangkan security itu ada di belakangnya.
Setelah berada di depan meja panjang yang menjadi tempat kerja resepsionis, security tersebut mengatakan maksudnya.
"Mbak, maaf. Ini ada tamu untuk Mr Ginting. Mungkin ada namanya dalam daftar tamu hari ini. Coba cek dan hubungi Mr Ginting."
Mbak-mbak resepsionis kantor, mengiyakan permintaan dari security. Dia mencari-cari daftar tamu, yang ada di layar komputernya.
"Oh ya, dengan siapa ya tamu yang sudah di daftarkan untuk bertemu dengan Mr Ginting?" tanya resepsionis kantor, karena untuk hari ini, di daftar tamu kantor, hanya ada pertemuan dengan klien dan beberapa tamu dari perusahaan lain yang semuanya adalah nama-nama laki-laki. Tidak ada tamu perempuan yang terdaftar.
"Miss Kiara. Maaf, Saya tidak tahu jika ada prosedur seperti ini, untuk bisa bertemu dengan suami Saya sendiri," ujar Yati memberitahu pada mereka berdua, siapa dia yang sebenarnya.
Tapi ternyata, resepsionis dan security tersebut tidak ada yang percaya. Mereka berpikir jika Yati mengada-ada, dan juga terobsesi dengan Mr Ginting, yang memang banyak diganggu oleh wanita-wanita yang memujanya.
"Apa kalian berdua tidak percaya dengan ucapan Saya tadi?" tanya Yati, yang melihat keduanya meragukan pengakuannya tadi.
Resepsionis dan security saling pandang. Tapi tidak memberikan jawaban.
Akhirnya, Yati mengeluarkan handphone miliknya, dan menekan nomor Mr Ginting, suaminya sendiri.
Tut
Tut
Tut
..."Halo Sayang, Aku sudah ada di bawah. Di depan meja resepsionis. Tapi mereka tidak memberitahu di mana letak ruangan kantormu, dan mencurigai jika Aku berbohong."...
__ADS_1
Yati langsung mengadukan nasibnya, yang sedang di tatap dengan curiga kedua pegawai suaminya sendiri.
..."Benarkah?" ...
..."Turun Saja. Sama Kakek juga, biar sekalian jalan. Dari pada kemalaman nanti."...
..."Baiklah. Aku akan segera datang bersama dengan Kakek."...
Setelah telpon tertutup, Yati tersenyum dan kembali memasukkan handphonenya ke dalam tas.
Tapi, security dan resepsionis tetap diam dan tidak ada yang mengatakan apa-apa. Mereka berdua menuggu kebenaran dari apa yang tadi didengar. Karena mereka belum yakin dengan semua yang tadi mereka dengar sendiri. "Bisa jadi, dia hanya mengarang dan menelpon orang lain, untuk meyakinkan." Begitulah kira-kira pikiran mereka berdua, security dan resepsionis.
Namun sayangnya, semua yang tadi diragukan memang benar adanya. Tampak Mr Ginting dan sang Kakek, keluar dari dalam lift khusus, yang hanya diperuntukkan bagi para petinggi perusahaan.
Mr Ginting dan sang Kakek, tersenyum begitu melihat keberadaan Yati.
"Kiara," sapa sang Kakek, dan langsung memeluk istri dari cucunya itu.
Mr Ginting justru diam dan tidak langsung memeluk istrinya. Apalagi, sang Kakek lebih dulu mengambil alih posisinya untuk memeluk Yati, alias miss Kiara.
"Maaf Tuan. Saya pikir, istri Anda adalah wanita-wanita yang biasa datang dan hanya ingin menganggu saja."
Security tadi, bersama dengan resepsionis kantor, meminta maaf atas kesalahan mereka, yang menahan istri dari Mr Ginting, yang merupakan Bos besar mereka di perusahaan ini.
Setelah sang Kakek melepaskan pelukannya pada Kiara, Mr Ginting mengengam tangan istrinya itu dan memperkenalkannya lada kedua pegawainya, yang memang tidak tahu, jika wanita yang sedang berada di sampingnya itu adalah istrinya sendiri. Bukan wanita-wanita yang hanya sekedar pemujanya saja.
"Maaf miss Kiara. Kami tidak percaya dengan pengakuan Anda tadi."
Security meminta maaf pada Yati. Begitu juga dengan resepsionis, yang ikut meragukan perkataannya tadi.
Kiara tersenyum, mendengar permintaan maaf dari resepsionis dan security.
"Tidak apa-apa. Saya justru berterima kasih pada kalian berdua, karena sudah membuat suami Saya aman dari para wanita-wanita yang menggodanya."
Sang Kakek dan Mr Ginting, mengangguk dan tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh Yati, sebagai jawaban pada orang-orang yang meragukannya tadi. Ini menandakan bahwa, Yati memiliki pemikiran dan attitude yang baik dan tidak membalas perkataan mereka dengan kata-kata yang tidak baik dan kasar.
Mr Ginting jadi semakin kagum dengan istrinya itu. Ada sesuatu yang tiba-tiba berdesir dalam hatinya. Tapi Mr Ginting tidak tahu, apa arti dari perasaannya itu.
Dan sekarang, Yati siap untuk diajak sang Kakek pergi untuk jalan-jalan. Menemani sang Kakek yang katanya kesepian, dan butuh teman untuk berbincang-bincang. Meskipun sebenarnya bukan itu tujuan dari sang Kakek mengajaknya jalan-jalan sore ini.
__ADS_1