
Setelah hari yang penuh dengan kebahagiaan dengan jalan-jalan dan berakhir di Bogor, saat mereka berdua duduk bersama di teras villa di Puncak, Yati merasa saat yang tepat untuk membicarakan gagasannya.
Yati memberikan penawaran pada ayahnya untuk tinggal di Bogor, karena terlihat binar bahagia di mata sang ayah sejak tiba di puncak.
"Ayah, Yati liat senyum bahagia di wajah ayah sejak tiba di Puncak. Jika ayah menyukai lingkungan yang lebih sejuk dan alami di sini, apa tidak lebih baik kita tinggal di sini saja, Yah?"
Yati, berusaha memberikan penawaran dan alasannya. Dia hanya ingin melihat ayahnya bahagia di hari tua.
Tuan Wasito tersenyum, matanya berkaca-kaca penuh haru. Siapa yang tidak bahagia, melihat anaknya perhatian padanya. Padahal dulu, dia tidak pernah membayangkan bahwa anaknya itu masih hidup.
"Yoo ... Nduk. Ay-yahhh meras-saaa sang-ngaaat nyam-maan di sin-iii.
"Ayah, bagaimana kalau kita pertimbangkan untuk tinggal di Bogor? Jadi nanti Ayah bisa menikmati suasana ini setiap hari."
Laki-laki senja itu cukup terkejut, tapi memejamkan matanya untuk menikmati rasa bahagia yang menyusup ke dalam hati.
"Ap-paaa k-amuuu serius, Nduk? Iku, ten-nanaann?" sang ayah bertanya memastikan.
"Ya, ayah. Yati, serius. Yati ingin melihat ayah bahagia dan sehat setiap hari. Bogor memiliki udara yang lebih sejuk dan alami, mungkin itu bisa membantu pemulihan ayah."
Ternyata, Yati memiliki pemikiran yang jauh ke depan untuk kesehatan ayahnya. Dan yang pasti, ini juga demi kenyamanan mereka.
Ibu Nina yang baru saja datang bergabung, ternyata mendukung rencana Yati ini.
"Ibu setuju denganmu, Mbak Yati. Ini adalah kesempatan bagus untuk kesehatan atau rasa agar merasa lebih baik."
Tuan Wasito tampak menahan air mata bahagia, karens terharu oleh usulan Yati dan dukungan ibu Nina.
Laki-laki itu terdiam, merenung sejenak sebelum akhirnya berbicara dengan susah payah.
"Sa-yaanng, A-yaah sang-gatt ber-ter-rima kas-sih. Matur su-wuun atas usul ini. Ka-uu benar-ben-nar mem-buat ay-yah ter-sentuuh."
Tuan Wasito tampak menjeda kalimatnya, mengambil nafas terlebih dahulu sebelum kembali mengatakan apa yang ingin ia sampaikan.
"A-yaah ak-kan ber-pikkirrr un-tuukk mem-pertiim-baangkannyaaa deng-aan ser-riuus."
Meskipun tersengal-sengal karena memaksakan diri untuk berbicara, Tuan Wasito tetap tersenyum sambil memegang tangan Yati.
"Ayah, Yati hanya ingin melihat ayah bahagia. Jika ini bisa membuat ayah merasa lebih baik, maka Yati sangat mendukung."
Mereka berdua tersenyum satu sama lain, tahu bahwa apapun keputusan yang diambil, yang terpenting adalah kebahagiaan dan kesejahteraan ayahnya.
__ADS_1
Sesuai dengan semangat keluarga mereka yang saling mendukung, mereka bersama-sama tersenyum dengan momen istimewa ini dalam keadaan sama-sama bahagia.
Karena ayahnya setuju, Yati akan segera mencari lahan atau villa murah untuk tempat tinggal.
Tabungannya masih ada dan usaha ayahnya yang ada di daerah Jawa Tengah sana, masih bisa dikerjakan oleh orang terpercaya sehingga ayahnya bisa menikmati hari tua tanpa beban.
***
Pagi harinya, setelah percakapan dan kesepakatan mereka di Puncak, Yati mulai bergerak untuk merencanakan masa depan yang lebih baik bagi ayahnya.
Wanita itu memutuskan untuk mencari lahan atau villa murah di Bogor untuk tempat tinggal mereka.
"Ayah, aku akan mencari lahan atau villa murah di Bogor. Aku ingin kita memiliki tempat yang nyaman dan damai untuk tinggal."
Yati pamit, sementara sang ayah masih menikmati sinar pagi hari di teras villa. Sedangkan ibu Nina, ada di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka pagi ini.
"N-nduk. K-amuuu begitu per-hatiiaan. A-yah sang-gatt ber-ter-rima kas-sih atas sem-mua yang k-amu lakukaaannn."
"Ini adalah hal yang tepat, Ayah. Aku ingin ayah menikmati masa tua dengan tenang dan tanpa beban."
Mereka berdua mulai merencanakan langkah-langkah berikutnya, sebelum Yati benar-benar pergi mencari informasi tentang lahan atau villa yang cocok.
***
Setelah beberapa minggu, Yati menemukan beberapa opsi yang menjanjikan. Mereka berdua pergi melihat lahan atau villa-villa tersebut untuk memastikan bahwa itu adalah tempat yang sesuai dengan harapan mereka.
"Mbak Yati, sepertinya Tuan suka dengan tempat ini. Rasanya seperti tempat yang cocok untuk Tuan tinggal di sini."
Ibu Nina, mewakili Tuan Wasito untuk berbicara dengan Yati. Dan nyatanya, Tuan Wasito benar-benar menganggukkan kepalanya setuju.
"Yati juga merasa begitu. Yati akan segera mengurus semuanya agar kita bisa segera tinggal di sini. Benar kan, Yah?"
Lagi, Tuan Wasito mengangguk menjawab pertanyaan anaknya. Dia senang dengan tempat ini.
Dengan tekad dan semangat, Yati dan tuan Wasito akhirnya berhasil menemukan tempat yang cocok untuk tempat tinggal mereka di Bogor.
Laki-laki itu merasa lega karena usahanya di Jawa Tengah masih dapat berjalan tanpa kendala, dan ia bisa menikmati masa tua dengan nyaman dan tenang bersama anaknya di lingkungan yang lebih sejuk dan alami.
Ini adalah langkah besar dalam merancang masa depan yang lebih baik dan bahagia bersama, setelah apa yang mereka lalui di daerah mereka yang dulu.
Untuk Yati sendiri, keputusannya untuk tinggal di Bogor memiliki makna yang lebih dalam. Selain kenyamanan fisik dan lingkungan yang lebih baik. Bagi Yati, Bogor menjadi tempat di mana ia bisa memulai lembaran baru dan terbebas dari pandangan orang tentang masa lalunya yang kelam sebagai PSK.
__ADS_1
"Ayah, selain kenyamanan dan udara yang sejuk, Bogor memberikanku kesempatan untuk memulai hidup baru. Aku bisa menjauh dari pandangan orang-orang yang tahu tentang masa laluku."
"Mbak Yati, Tuan Wasito pasti mendukungmu sepenuhnya. Ibu juga tahu, betapa sulitnya bagi Mbak Yati, menjalani hari-hari dengan beban masa lalu yang begitu berat."
Tuan Wasito tampak mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu bagaimana beban mental yang disandang anaknya itu.
"Terima kasih, Ayah, Bu Nina. Yati ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan membuktikan bahwa Yati juga bisa meninggalkan masa lalu jauh di belakang sana dengan menatap masa depan lebih baik."
Ibu Nina tentu saja sepenuhnya dukungan. Tidak ada yang tidak senang saat mendengar keputusan Yati, dan hanya mereka yang iri yang tidak merasa senang.
"Mbak Yati adalah pribadi yang kuat dan berharga. Ini adalah kesempatan bagus untuk membangun masa depan yang lebih cerah, Mbak."
Yati senyum tulus, ia senang mendapatkan dukungan dari Bu Nina dan juga ayahnya.
"Terima kasih, Ibu Nina. Dukungan Ibu sangat berarti bagiku. Terima kasih, Yah."
Dengan semangat baru, Yati bersiap untuk memulai babak baru dalam hidupnya di Bogor. Dia memiliki keyakinan bahwa di sana dia bisa menemukan kedamaian dan kesempatan untuk mengembangkan diri untuk lebih baik.
Kehadiran ayahnya dan dukungan dari Ibu Nina memberikan kekuatan tambahan dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih baik dan lebih positif.
***
Di desa, orang-orang heboh dengan kedatangan Mr Ginting yang mencari mis Yeti.
Kedatangan Mr. Ginting ke desa menjadi perbincangan hangat di kalangan penduduk setempat. Kedatangan seseorang dengan status yang cukup tinggi pasti akan menimbulkan kehebohan dan rasa penasaran.
Warga desa banyak berbisik-bisik, membicarakan tentang hal ini. Bahkan ada yang bertanya langsung dengan Mr Ginting!
"Apa kabar, apa tujuannya Mr. Ginting datang ke desa kita?" tanya orang tersebut.
Warga Desa yang lainnya, tersenyum dengan maksud tertentu.
"Kabarnya dia mencari seseorang bernama Mis Yeti. Mungkin ada urusan penting, dan kamu tahu sendiri, kan?" tanya orang tersebut bermaksud menyindir.
Warga Desa lainnya tertawa-tawa, mendengar sindiran tersebut.
"Ini seperti cerita dari film-film, ya? Siapa sih Mis Yeti ini?" tanya orang lain, yang tidak tahu siapa Mis Yeti yang dimaksud.
"Katanya, Mr Ginting sangat ingin bertemu dengannya. Mungkin ada hubungan khusus di antara mereka, tau sendiri deh!"
Kabar tentang kedatangan Mr Ginting dan pencariannya terhadap Mis Yeti cepat menyebar di desa. Orang-orang mulai membicarakan kemungkinan alasan di balik kunjungannya, dan beberapa dari mereka bahkan berusaha mencari tahu lebih lanjut tentang siapa Mis Yeti sebenarnya.
__ADS_1