Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Kemajuan Kondisi Ibu


__ADS_3

"Tidak. Lebih baik Aku tidak ikut campur dalam urusan mereka. Yang penting, ibu sudah membaik."


Begitulah akhirnya keputusan yang diambil oleh Yati. Dia tidak mau, memperpanjang masalah lagi, dengan permasalahan yang ada pada masa lalu mereka semua.


Yati sudah cukup merasa senang, karena ibunya sudah kembali sadar. Meskipun belum pulih benar, dengan kejiwaan dan fisiknya.


Dan kesadaran dari ibunya itu, juga berkat kedatangan Mr Andre, yang tadi datang menjenguk. Meskipun akhirnya, Yati tahu semua kebenaran yang ada pada diri Mr Andre, sebagai dalang dari semua kejadian yang telah dia lakukan pada waktu yang lalu.


"Miss Yeti!"


Yati menoleh, saat suara Mr Andre memanggil namanya.


"Saya masih menunggu di sini. Apa Kamu tidak melihatnya tadi?" tanya Mr Andre, yang memang dilewati oleh Yati.


Bukan sengaja dilewati begitu saja. Tapi karena Yati dalam keadaan melamun, sehingga dia tidak memperhatikan sekitarnya.


"Maaf," ucap Yati pendek.


Sekarang, Mr Andre mensejajari langkah Yati, untuk keluar dari dalam area rumah sakit. Mereka berdua, pergi dari tempat, di mana ibunya Yati di rawat.


"Saya antar ke penginapan," kata Mr Andre, menawari Yati, untuk diantar oleh dirinya, sampai di kamar penginapannya.


"Terima kasih Mr Andre. Tapi Saya ingin pulang sendiri. Tidak terlalu jauh juga dari sini, dan ini juga belum begitu malam. Sebaiknya Mr Andre kembali ke hotel, dan bersiap untuk berangkat besok pagi."


"Kamu mengusirku miss Yeti?" tanya Mr Andre, dengan mencoba untuk memegang tangannya Yati.


"Tidak. Tapi Saya sedang tidak ingin melihat Anda disekitar Saya."


Mr Andre menghela nafas panjang, mendengar jawaban dari Yati. Dia tahu, jika wanita-nya ini sedang marah, karena semua cerita yang tadi dia sampaikan.


Pengakuan yang dia berikan pada Yati, membuatnya dijauhi oleh wanita-nya itu. Tapi dia juga merasa sangat bersalah, dengan semua yang sudah dia lakukan Waktu dulu.


"Maaf. Maafkan Aku miss Yeti. Aku terlalu takut, tapi juga serakah waktu itu. Aku takut, jika suatu hari nanti, mikro chip tersebut akan terbongkar, dan Aku akan terlibat. Sedangkan semua kegiatan yang Aku lakukan untuk menyingkirkan sang Kakek adalah, karena dia terlalu kejam, pada kami, orang-orang yang dia pekerjaan. Apalagi, Aku juga melihat bagaimana cara dia memperlakukan ibumu waktu itu. Perasaan marah, kecewa dan benci, menjadi satu, dan Aku tidak bisa berbuat apa-apa."


"Kenapa Anda tidak memanggil ayah kandungku, untuk menyelamatkan ibu? Dan justru, Kakek membawa ibu sampai ke sini. Ke negara Singapura ini?"


Mr Andre tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Yati padanya. Dia terdiam, karena memang tidak bisa menjawabnya.


"Entahlah. Aku tidak terpikirkan untuk mencari keberadaan ayahmu waktu itu. Aku juga tidak mencegah Tuan Besar, untuk membawa dan mengasingkan wanita-nya itu, ke Singapura. Itu juga karena Tuan Besar tidak mau, jika diketahui oleh orang lain, apalagi keluarnya sendiri."


"Anda tidak bertanggung jawab atas segala sesuatu yang sudah Anda lakukan. Lalu, bagaimana keadaan ayahku sekarang ini?" tanya Yati, yang ingin tahu, bagaimana keadaan ayah kandungnya.


"Aku tidak tahu keberadaannya yang sekarang. Terakhir kali, yang Aku ketahui dari beberapa orang, dia ada di ujung timur pulau Jawa. Aku sudah memberitahu bahwa, sekarang dia sudah berganti nama. Jika tidak bertemu di sana, Aku juga tidak tahu, di mana sekarang ini dia menetap."

__ADS_1


Yati menahan nafas, untuk menahan diri agar tidak berteriak marah pada Mr Andre. Dua juga tidak mau berdebat lagi, karena merasa sudah cukup untuk semua yang dia ketahui.


Dengan membulatkan tekad, Yati tidak mau tahu dan berhubungan lagi dengan Mr Andre.


"Pergilah Mr. Saya sudah tidak mau berhubungan dengan Anda lagi, dalam keadaan apapun."


"Tapi... "


"Pergilah, sebelum Saya berubah pikiran dan memberitahu semua ini pada Kakek ataupun Mr Ginting."


Perkataan yang diucapkan oleh Yati, membuat Mr Andre mundur dua langkah. Dia tahu bahwa, Yati bukan hanya sekedar wanita biasa.


Dilihat sekilas, Yati memang polos, dan ramah. Tidak banyak pengetahuan dan pengalaman. Tapi dia juga keras kepala, jika sudah memiliki keinginan dan tekad.


Yati tidak bisa diremehkan begitu saja, karena kekuatan seorang geisha, sudah ada di dalam dirinya.


Geisha yang tidak memiliki perasaan apapun, untuk sekedar memberikan maaf, dan juga rada kasihan pada orang yang tidak dia anggap.


Akhirnya, Yati kembali berjalan menuju ke arah kamar penginapannya, seorang diri. Sedangkan Mr Andre, kembali ke tempat parkir, di mana mobilnya berada.


*****


Dua hari kemudian, ibunya Yati, di perbolehkan kembali ke dalam kamarnya sendiri. Dia masih dalam pengawasan pihak rumah sakit, karena kadang kala masih mengalami gangguan pikiran dan belum bisa stabil layaknya orang normal pada umumnya.


"Hari ini, rumah sakit akan memutuskan, apakah ibu bisa pulang atau tidak. Semoga, sikap ibu bisa lebih baik lagi, sehingga pihak rumah sakit, bisa melepaskan ibu sebagai pasien yang sehat, baik secara fisik maupun mental spikologisnya.


Dengan harapan yang tinggi, untuk bisa mendapatkan kabar gembira untuk ibunya, Yati pergi ke rumah sakit, begitu menyelesaikan sarapannya. Dia tidak ingin membuang-buang waktu untuk berdiam diri di dalam kamar saja.


Setelah berjalan sekitar sepuluh menit kemudian, Yati sampai di depan gerbang rumah sakit.


Dan baru saja dia menginjakkan kaki di teras depan, untuk masuk ke dalam pintu masuk, handphone miliknya berdering.


Klunting


Klunting


Klunting


Yati mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Dia berhenti di depan pintu, di tanjakan ke dua.


Ternyata, panggilan tersebut dari pihak humas rumah sakit.


"Ada apa ya?" gumam Yati, sebelum menekan tombol hijau, untuk menyambungkan panggilan telpon tersebut.

__ADS_1


Karena di rumah sakit ini kemarin-kemarin dia datang bersama dengan sang Kakek, dengan mendaftarkan dirinya sebagai orang yang bisa dihubungi dengan cepat. Yati juga di kenal sebagai miss Kiara, di rumah sakit ini.


..."Halo."...


..."Halo miss Kiara, ada berita tentang ibu Anda. Dia..."...


..."Apa yang terjadi?" ...


..."Sebaiknya Anda segera datang ke rumah sakit sekarang."...


..."Saya sudah berada di depan pintu masuk utama rumah sakit....


..."Jika begitu ke ruang isolasi IGD."...


..."Hah! Apa yang terjadi?"...


..."Segera datang ya Miss." ...


Klik!


Panggilan telpon terputus. Yati tidak bisa bicara apa-apa lagi, karena merasa khawatir dengan kondisi dan keadaan ibunya.


Yati segera berjalan menuju ke arah pintu masuk. Dia bergegas pergi ke arah, di mana tadi pihak rumah sakit memberitahunya.


"Ibu. Apa lagi yang ini? Apa yang Kamu lakukan Bu?"


Dengan berjalan cepat, Yati bertanya-tanya sendiri dalam hati.


Baru saja Yati sampai di depan pintu IGD, khusus untuk ruangan isolasi, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Dokter. Bagaimana keadaan ibu Saya?" tanya Yati cepat.


Yati merasa sangat yakin, jika dokter tersebut baru saja menangani ibunya.


"Apa Anda adalah miss Kiara? maksudnya Yati atau miss Yeti?"


Dengan cepat, Yati mengangguk mengiyakan pertanyaan dari dokter tersebut.


Dengan menundukkan kepalanya, dokter tersebut membuka kacamata yang dia pakai. Setelah itu, dia juga mengambil sesuatu dari saku baju kebesarannya sebagai seorang dokter.


"Ini ada pesan untuk Anda Miss."


Yati menerima pemberian dokter tersebut dengan tanda tanya. Dia melihat ke arah wajah dokter tersebut, dengan bingung, karena di wajah dokter, ada kesedihan, kekecewaan dan entah apa lagi, yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


Dan Yati merasa yakin, jika telah terjadi sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan selama ini.


__ADS_2