
Yati bertekad untuk berani, dan melihat bentuk dari makhluk yang sudah menganggu tidurnya. Dia tidak ingin terus-menerus di teror dengan rasa takut, hanya karena untuk tidur pada malam hari.
"Pokoknya, nanti malam Aku harus berani membuka mata. Aku akan pastikan, melhat makhluk tersebut. Jika bisa, Aku ingin bertanya, sebenarnya mau apa dia menganggu tidurku!"
Di lain pihak, Mr Ginting juga sedang menyusun sebuah rencana. Dia akan menahan diri, untuk tidak masuk ke dalam kamar Yati. Ini supaya Yati penasaran, karena sudah waspada pada malam ini.
"Aku akan menunggu besok malamnya. Biar dia pikir, jika makhluk itu sudah pergi dan tidak akan datang lagi. Biar dia tidak waspada dan bersiap-siap dengan senjatanya. Siapa tahu, dia ingin memukuli makhluk halus itu dengan sepatu, tas atau bantal yang ada di dalam kamarnya. Atau bisa jadi, dia sudah menyiapkan air satu ember untuk menguyur makhluk itu. Hehehe... ada-ada saja dia!"
Pada saat ini, Mr Ginting sedang berada di kantor dan meeting bersama dengan para petinggi perusahaan. Termasuk kakek dan Surya Jaya, sepupunya.
Semua orang, termasuk kakek dan Surya Jaya, yang melihat kakak sepupunya itu sedang tersenyum tidak jelas, jadi melihat ke arah kakeknya.
Tapi ternyata, kakek mereka berdua juga sedang melihat tingkah cucunya yang kaku dan dingin, Mr Ginting.
"Kang mas Kamu kenapa Surya?" tanya kakek terlebih dahulu, sebelum Surya Jaya bertanya hal yang sama seperti yang sedang ditanyakan oleh kakeknya saat ini.
"Surya baru mau tanya ini pada Kakek. Surya juga gak tahu lah," jawab Surya Jaya, sambil mengangkat kedua bahunya.
"Mungkin kehidupannya saat ini sedang baik, karena sudah ada Kiara bersama dengannya. Kakek harap, Kiara mampu membawa Ginting pada kebahagiaan yang sudah Kakek rebut semasa dia masih kecil dulu," kata kakek Mr Ginting, saat ingat dengan semua peraturan yang dia buat untuk Mr Ginting sedari kecil.
Kakek yang mengatur semua aktivitas Mr Ginting, sebagai ahli warisnya di kemudian hari. Ini karena ayah dan ibu Mr Ginting, sudah tiada, saat mengalami kecelakaan pesawat karena perjalanan mereka ke Meksiko. Dan kedua orang tuanya Mr Ginting, dinyatakan meninggal di dalam kecelakaan tersebut.
Itulah sebabnya, semua peninggalan ayah dan ibunya Mr Ginting, juga ikut dikelola oleh kakek. Dia mengatur pendidikan Mr Ginting, sebagai seorang ahli waris dengan sekolah-sekolah yang punya peraturan ketat dan harus berada di asrama, untuk melatih kedisiplinan dan tidak ada waktu luang, hanya untuk sekedar bermain-main.
Oleh karena itu juga, akhirnya Mr Ginting terkesan kaku dan tidak bisa beramah tamah dengan orang lain, meskipun itu dengan saudaranya sendiri.
__ADS_1
Dengan kakeknya, Mr Ginting seakan-akan dendam, karena merasa dirampas kebebasannya dan juga masa anak-anaknya menjadi hilang.
Sungguh, tidak ada yang tahu bagaimana perasaan Mr Ginting yang sebenarnya. Karena raut wajahnya yang selalu tampak datar dan sama sekali tanpa ekspresi.
Dan itulah yang menjadikan dirinya mendapat julukan salju abadi dari beberapa orang yang ada di sekitarnya.
"Aku yakin deh Kek. Ini karena kang mas Ginting, membayangkan dirinya sedang bersama dengan miss Kiara itu. Oh ya, apa pesta pernikahan mereka sudah Kakek siapkan? kata Kakek kang mas Ginting memberikan waktu hanya dua minggu saja kan?" tanya Surya Jaya, mengingatkan pada kakeknya, yang masih terus memperhatikan bagaimana cucunya itu sedang melamun sendiri.
"Apa Kamu juga meragukan Kakek ini Surya?" tanya sang kakek, menjawab pertanyaan dari cucunya yang satu, Surya Jaya.
"Hehehe... bukan begitu Kek. Surya cuma mengingatkan saja. Jika kakek sampai lupa dan pestanya tidak ada, kang mas pasti akan marah besar dan tidak mau bertemu lagi dengan Kakek setelah ini," jawab Surya Jaya memberikan beberapa alasan.
"Kamu tidak iri kan?" tanya Kakek menebak.
"Iri lah Kek. Coba miss Kiara itu punya saudara perempuan yang lain atau kembarannya juga bisa, Surya pasti mau tuh!" jawab Surya Jaya dengan bersemangat.
Keduanya, kembali memperhatikan bagaimana tingkat Mr Ginting, yang seperti pemuda sedang jatuh cinta.
"Mungkin, dia sedang bucin-bucin nya Kek. Apalagi mereka sudah menikah, bisa melakukan apa-apa, tidak ada yang larang dan takut ketahuan kan. Jadi kang mas Ginting, merasa gimana gitu. hihihi..."
Surya Jaya merasa geli sendiri, disaat membayangkan bagaimana keadaan Mr Ginting dan Kiara jika berada di rumah.
"Hush! Dasar otak Kamu itu yang miring. Ya pastinya mereka bisa ngapa-ngapain juga lah. Kan sudah sah. Makanya, Kamu itu jangan main-main saja dengan cewek-cewek. Cepat nikah, biar tahu, bagaimana rasanya menikah. Kamu pasti menyesal karena terlambat menikah nanti, jika sudah tahu rasanya."
Surya Jaya, jadi meringis saat mendengar perkataan dari kakeknya itu. Dia jadi kena dampaknya juga, karena membicarakan tentang Mr Ginting yang bukan-bukan, bersama dengan istrinya, miss Kiara.
__ADS_1
*****
Pada malam hari, di rumah Mr Ginting.
Yati sedang menunggu kedatangan suaminya, untuk bisa menikmati makan malam bersama. Dia sudah duduk terlebih dahulu, karena Mr Ginting meminta tadi.
Saat ini, Mr Ginting sedang menerima telpon dari rekan bisnisnya, sehingga makan malam mereka tertunda untuk beberapa saat.
"Maaf menunggu," kata Mr Ginting, begitu dia duduk kembali ke tempat duduknya yang tadi.
Yati hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, mendengar permintaan maaf dari Mr Ginting.
"Ah, formal sekali di rumah ini. Apa Aku tidak bisa bersikap seperti biasanya dan santai, layaknya berada di rumah sendiri dan bukan di sebuah istana negara atau pemerintahan."
Yati mengerutu dalam hati, dan ini, bisa diketahui oleh Mr Ginting. Tapi Mr Ginting tetap diam saja. Dia tidak ingin mengusik hati istrinya itu, dengan semua kata-katanya nanti.
"Biar dia berbicara dalam hati terus. Aku jadi tahu, apa yang sebenarnya ingin dia lakukan," batin Mr Ginting, sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya sendiri.
Melihat Mr Ginting yang tidak bereaksi, akhirnya Yati terdiam dan ikut menikmati makan malam yang tadi sempat tertunda.
Dia tidak ingin mengusik ketenangan suaminya saat ini. Apalagi, sekarang mereka sedang dalam keadaan makan, yang seharusnya tidak boleh ada pembicaraan, hingga acara makan selesai.
Akhirnya, mereka berdua makan malam bersama dalam keadaan saling diam dan berpikir di dalam hatinya masing-masing.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah menyelesaikan acara makan malam mereka.
__ADS_1
"Apa Kamu jadi minta di temani untuk tidur malam ini?" tanya Mr Ginting tiba-tiba.
Yati, yang tidak pernah menyangka jika akan mendapatkan pertanyaan seperti tadi, jadi tersedak dan menyemburkan air putih yang dia minum, ke arah depan. Dan ini tentunya mengenai wajah Mr Ginting, yang memang duduk berada tepat di depan Yati.