
Seorang wanita, yang belum terlalu tua, tapi juga sudah tidak muda lagi, duduk sendiri di kursi goyang, di teras samping rumah kecil, yang didatangi oleh Yati, bersama dengan sang Kakek.
Tidak jauh dari tempat duduk wanita itu, ada taman kecil, yang ada ayunannya.
Kata pelayan yang mengurus wanita tersebut, biasanya wanita itu akan bermain ayunan, jika sedang bermain dengan anaknya, boneka yang saat ini ada di dalam pelukannya.
Jadi, wanita itu duduk di kursi goyang dalam keadaan memeluk bonekanya, yang dia pikir sedang tertidur pulas.
Yati merasa miris melihat keadaan wanita-nya sang Kakek, yang sekarang ini ada dihadapannya. Padahal, menurut Yati sendiri, wanita itu cukup cantik dan berkulit putih, meskipun tanpa perawatan yang berarti, selama dia ada disini keadaan depresi.
Ada perasaan aneh yang dirasakan oleh Yati saat menatap ke arah mata wanita itu. Perasaan itu datang, saat mereka berdua, secara tidak sengaja saling pandang dan bertubrukan dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan oleh Yati sendiri. Meskipun itu hanya dalam waktu beberapa detik saja, karena wanita itu segera kembali menunduk dan memeluk bonekanya lagi.
"Bagaimana Kiara?" tanya sang Kakek, yang berada di samping Yati.
"Kenapa dia tidak melihatku Kek?" tanya Yati ingin tahu. Dia tidak menjawab pertanyaan dari sang Kakek, dan justru melempar pertanyaan sendiri.
"Ya, begitulah keadaannya."
Jawaban yang diberikan oleh sang Kakek, membuat Yati menoleh dengan cepat.
"Apa Kakek tidak pernah berusaha untuk memberikan pengobatan atau membawa dia ke spikiater?" tanya Yati ingin tahu.
"Aku sudah pernah membawa spikiater ke rumah ini beberapa kali. Tapi dia justru mengamuk dan tidak mau berbicara apapun, pada saat spikiater bertanya kepadanya," jawab sang Kakek memberi tahu, apa yang sudah dia lakukan untuk kesembuhan wanita-nya itu.
Itulah sebabnya, dia hanya menempatkan orang-orangnya, untuk menjaga dan merawat dengan baik, dan tetap memperlakukan layaknya seorang manusia normal. Tidak ada yang boleh memperlakukan dia dengan tidak baik. Karena itu juga, dia memasang beberapa cctv, untuk memantau kondisi dan situasi di rumah ini.
Yati menghela nafas panjang, kemudian mencoba untuk mendekati wanita itu.
"Bu," sapa Yati, dengan semua perasaannya yang tidak menentu.
Wanita itu tidak merespon sapaan Yati. Dia justru semakin mempererat pelukannya pada boneka, yang ada di dalam pangkuannya itu. Mungkin dia berpikir jika, Yati akan merebut anak yang sedang ada didalam pelukannya itu.
Yati memejamkan mata, untuk menetralisir raut wajah dan perasaannya sendiri.
Dengan pelan, Yati mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dan ternyata itu adalah sebuah baju berukuran kecil dan tentu saja, itu adalah baju bayi, yang dulu dia kenakan pada saat mbok Minah menemukan dirinya.
Baju bayi itu juga terpasang dengan Bros Bunga, dengan posisi dan letaknya, yang sama persis, seperti yang diberitahukan oleh mbok Minah pada Yati waktu itu.
Sang Kakek melihat semua itu dengan mata tidak percaya, jika dia akan melihat baju bayi yang sama, dengan baju bayi yang dia serahkan pada pengawalnya berpuluh tahun yang lalu. Dan sang Kakek menjadi semakin yakin bahwa, gadis yang ada di hadapannya pada saat ini adalah anak dari wanita-nya, hasil dari perselingkuhannya dengan laki-laki, pengawalnya sendiri.
'Lalu, kenapa dia memberitahu Ginting bahwa dia adalah keturunan ningrat, yang sudah tidak lagi mengikuti tradisi keluarga besarnya, dan pergi ke luar negeri, jauh sebelum Yati lahir.'
__ADS_1
Sang Kakek jadi bertanya-tanya, mengapa semua ini dilakukan oleh Yati, pada cucunya.
'Dan laporan yang diberikan oleh Andre, kenapa sama seperti yang Ginting ceritakan? Ada apa dengan mereka semua? Apa ini sebuah konspirasi untuk melawanku?'
Pertanyaan demi pertanyaan, muncul di dalam hati sang Kakek. Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang disekitarnya saat ini.
"Bu. Ibu ingat dengan baju bayi ini?"
Yati berusaha untuk mengingatkan kembali, kenangan wanita itu, pada masa lalunya. Mungkin, dengan melihat baju bayi dan Bros Bunga itu, wanita-nya sang Kakek, akan mengingat beberapa hal, yang mungkin masih ada di dalam memory otaknya, meskipun Yati tidak merasa yakin, jika usahanya itu bisa berhasil.
Wanita itu tampak melihat sekilas ke arah Yati, kemudian beralih pada baju bayi, yang sedang dipegang oleh Yati. Tapi ternyata, wanita itu kembali menunduk dan memeluk anaknya, boneka, dengan erat.
Yati, hampir saja putus asa, dan melipat kembali baju bayi tersebut, pada saat wanita-nya sang Kakek, mendongakkan kepalanya melihat ke arahnya lagi.
"Bayi... Bayi..."
Hanya satu kata itu saja, yang diucapkan oleh wanita tersebut. Dia tidak melanjutkannya dengan kata-kata yang lain.
"Ya, ini baju bayi Bu. Apa Ibu ingat sesuatu?" tanya Yati, berusaha untuk membantu dan mengingatkan kembali kenangan tentang baju bayi tersebut.
"Bayi... Bayi... bayiku... huhuhu...!"
Wanita itu mengulang-ulang kata bayi, dan yang terakhir, dia justru menangis dan meronta-ronta sendiri, dengan memeluk bonekanya itu, lebih erat lagi, meskipun tidak ada yang merebut bonekanya.
Wanita tersebut terus saja menangis dan meronta-ronta sendiri, kemudian berlari menuju ke dalam rumah.
"Bayi... bayiku! Mana bayiku?"
Dari dalam rumah, terdengar teriakan wanita-nya sang Kakek, yang mencari keberadaan bayinya. Dia terus berteriak-teriak memanggil-manggil bayinya.
"Bayiku, kembalikan bayiku!"
Yati menoleh ke arah sang Kakek, yang tetap diam ditempatnya. Mungkin, sang Kakek merasa bersalah, atas perbuatannya pada wanita-nya itu.
Dari raut wajah sang Kakek, Yati melihat sebuah penyesalan. Meskipun Yati juga tidak tahu, penyesalan yang seperti apa yang dirasakan oleh sang Kakek untuk saat ini.
"Kek. Apa Kiara harus berusaha lagi?" tanya Yati, pada sang Kakek.
Setelah beberapa menit kemudian, sang Kakek baru menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Yati padanya. Tapi itu bukan suatu jawaban, melainkan sebuah pertanyaan juga. "Apa yang Kamu pikirkan, saat melihat dan mengetahui keadaannya sekarang ini?"
"Maksud Kakek, apa Kiara bisa menyimpulkan begitu?" tanya Yati, mempertegas pertanyaan dari sang Kakek.
__ADS_1
Dengan menganggukkan kepalanya, sang Kakek tidak perlu menjawab pertanyaan dari Yati. Dia meminta pada Yati, supaya bisa menilai sendiri, apa yang sebenarnya terjadi pada wanita-nya itu. Yang kemungkinan besar adalah ibu dari Yati sendiri.
"Bayiku! Mana bayiku?"
Tiba-tiba, wanita itu muncul dari dalam rumah, dan menyerang sang Kakek. Dengan boneka yang sedang dia pegang.
"Aduh!" teriak sang Kakek, yang merasa kesakitan pada kepalanya.
Boneka tersebut, mengenai kepala sang Kakek. Meskipun tidak terlalu keras, tentu saja, itu membuat sang Kakek merasa terkejut, dan reflek mengaduh, pada saat boneka tersebut mengenai kepalanya.
"Bayi. Mana bayiku?"
Wanita itu terus saja berteriak, menanyakan keberadaan bayinya, pada sang Kakek.
"Kamu ingat? baju bayi yang ini, Bros Bunga ini juga?"
Sang Kakek meminta baju bayi tang ada di tangan Yati, untuk dia perlihatkan pada wanita-nya itu.
Dua orang pelayan dan pengurus rumah, berusaha untuk menenangkan wanita tersebut, tapi dicegah oleh sang Kakek.
"Biarkan dia. Biar dia mengingat semuanya lagi."
Wanita itu langsung merebut baju bayi, yang berada di tangan sang Kakek. Dia mencium baju bayi itu berkali-kali, dengan terus berkata, "bayi, bayiku... bayiku mana?"
Sang Kakek, membiarkan wanita itu melakukan apa saja yang dia inginkan.
Setelah puas menciumi baju bayi tersebut, wanita itu mengalihkan perhatian dan atensinya ke arah sang Kakek, dengan tatapan matanya yang tajam.
"Katakan, dimana bayiku?" ucap wanita itu bertanya. Dia seakan-akan peduli lagi, dengan apa yang akan dia dapatkan, jika berlaku kasar pada sang Kakek.
Tapi sang Kakek tetao diam, dan tidak mengatakan apa-apa tentang bayi dan semua pertanyaan yang diajukan oleh wanita-nya itu.
"Bros. Bros Bunga ini... Bros, Kamu!"
Wanita itu mulai memperhatikan baju bayi yang sekarang ada di tangannya. Dia juga memperhatikan Bros Bunga, yang ada pada baju bayi tersebut.
"Bros. Kamu... Andre, Andre!"
Sang Kakek mengerutkan keningnya, mendengar teriakan dari wanita-nya, yang memanggil-manggil nama Andre.
Yati juga melihat dengan bingung, antara sang Kakek dan wanita, yang saat ini tiba-tiba jatuh pingsan, setelah berteriak memanggil-manggil nama Andre.
__ADS_1
Entah siapa yang di maksud oleh wanita itu, dengan memangil nama Andre, saat melihat Bros Bunga yang ada di baju bayi tersebut.