Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Kebimbangan Hati


__ADS_3

"Mr Ginting?"


"Mr Akihiko?"


Di depan toko Yati, sebuah pertemuan tak terduga sedang berlangsung. Mr Ginting dan Mr Akihiko berdiri di hadapan satu sama lain, masing-masing penuh dengan niatan yang berbeda tapi mereka datang dengan tujuan yang sama.


Niatan untuk bertemu dengan Mis Yeti, tetapi dengan tujuan yang sangat berbeda.


"Ya, ini saya." Mr Ginting, mengangguk ramah.


"Mr Ginting, ada urusan apa di sini?" tanya Mr Akihiko ingin tahu.


Mr Ginting, tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dengan pandangan yang penuh tekad, merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya kepada Yati. Dia ingin meminta Yati kembali menjadi istrinya, menguburkan masa lalu yang rumit, dan memulai lembaran baru bersama.


Pria itu merasa yakin bahwa cintanya yang mendalam akan meyakinkan Yati untuk memberinya kesempatan kedua. Tapi ia tidak mau memberitahu Mr Akihiko.


"Anda sendiri, ada perlu apa di sini, Mr Akihiko?" tanya Mr Ginting balik.


Mr Akihiko berdiri dengan sikap percaya diri yang khas. Dia datang dengan iming-iming yang tak bisa ditolak, yakni sebuah peluang untuk kembali bekerja di bisnisnya dengan janji menjadi istrinya atau menerima warisan yang dijanjikan.


Pria Jepang itu merasa bahwa, Yati memiliki potensi yang berharga bagi bisnisnya dan dia ingin memanfaatkan kesempatan ini.


Kedua pria ini saling berhadapan, tak ada yang berbicara untuk memberikan jawaban atas niatan mereka, selama beberapa saat. Tapi atmosfer yang terasa tegang menggambarkan betapa pentingnya pertemuan ini bagi mereka.


Pandangan mata mereka berdua saling beradu, mencerminkan niat yang berbeda tapi sama-sama kuat.


"Mr ... Mr Ginting?" sapa Yati bingung, apalagi matanya kembali awas melihat satu orang lagi yang ada di depan tokonya.


"Mr ... Mr Akihiko?"


Akhirnya, keluar juga sapaan penuh tanya itu dari mulut Yati. Wanita itu berusaha tetap tenang, dengan latihan kedua pria tersebut.


"Mis Yeti, aku ingin bicara denganmu. Ada banyak yang harus kita bahas," pinta Mr Ginting, dengan nada lembut tapi tegas.

__ADS_1


"Mis Yeti, sudah lama tidak bertemu. Saya juga ingin membicarakan kesempatan yang menarik bagimu," sahut Mr Akihiko, memotong percakapan mereka sebelum Yati memberikan tanggapan atas pernyataan Mr Ginting tadi.


Yati, yang mendengar suara keduanya, merasa hatinya berdebar-debar. Dia merasa terkejut dan bingung dengan pertemuan ini. Dia tidak pernah mengira bahwa Mr Ginting dan Mr Akihiko akan bertemu di depan tokonya.


'Bagaimana bisa keduanya datang bersamaan?'


Dalam hati, dia merasa bahwa dia harus siap menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Dalam beberapa detik ke depan, keputusan besar harus dibuatnya, dan takdirnya juga akan berubah.


'Siap atau tidak, aku tidak bisa mundur dan menghindar juga '


Yati merasa bimbang di tengah situasi yang tak terduga ini. Di satu sisi, hatinya masih terkenang dengan perasaan yang pernah dia alami bersama Mr Ginting dan Mr Akihiko. Namun, di sisi lain, dia juga merasa bahwa dia tidak boleh terpengaruh oleh keadaan atau tawaran-tawaran yang datang begitu saja.


Saat melihat kedua pria yang berdiri di hadapannya, Yati merasa bahwa dia harus tetap teguh pada prinsipnya. Dia tidak ingin memutuskan sesuatu hanya karena situasi yang mendesak atau tawaran yang menggiurkan. Dia ingin memilih dengan bijaksana, tanpa terbawa arus emosi atau tekanan dari luar.


Dalam hatinya, Yati berusaha untuk tenang dan mengingatkan dirinya sendiri tentang nilai-nilai yang penting baginya. Dia tahu bahwa keputusan besar seperti ini harus didasarkan pada perasaan dan pertimbangan yang mendalam. Dia tidak ingin menyesal di kemudian hari karena membuat keputusan dalam keadaan yang tidak tepat.


'Aku harus tetap tenang dan berpikir dengan jernih. Keputusan ini adalah tentang hidupku, dan aku harus mengambilnya dengan penuh pertimbangan.'


Dalam situasi yang begitu kompleks, Yati merasa bahwa kekuatan dan ketenangannya sendiri adalah kunci untuk membuat keputusan yang tepat.


"Ya-yatiii, ap-pa yaangg terja-adi?" tanya ayahnya Yati, yang keluar dengan kursi rodanya, bersama dengan Bu Nina.


Tuan Wasito muncul dengan tenang, meskipun dia duduk di kursi roda. Meskipun usia telah menghampirinya, aura kekuasaan dan kekuatan yang melekat padanya masih terasa kuat.


'Itu mereka, Mr Ginting dan Mr Akihiko?' batin Pria tua itu.


Tuan Wasito menatap kedua pria yang berada di depan anaknya dengan tatapan tajam, seolah-olah aura itu sendiri memberikan perasaan intimidasi pada keduanya. Meskipun dia tahu bahwa kedua pria ini bukanlah orang biasa, Tuan Wasito tidak menunjukkan ketakutan atau ketergantungannya.


Tuan Wasito duduk dengan sikap tenang dan berbicara dengan suara yang tenang tetapi penuh otoritas, meskipun saat mengucapkannya kesusahan.


"Siap-pa ka-kalian?" tanya tuan Wasito dengan menyipitkan matanya.


"Saya, Ginting."

__ADS_1


"S-aya, Mr Akihiko."


Di saat dua pria itu menyebutkan nama mereka masing-masing, Tuan Wasito mengangguk. Tebakannya tidak meleset, sebab dari wajahnya saja ia sudah bisa membedakan.


"Mr ... Mr Gintiiing, Mr ... Akihiko. Sep-pertinyaa pertemuan ini, sebaiknya ke dalam."


"Yah," panggil Yati, yang terkejut dengan ajakan ayahnya untuk kedua pria itu.


Tuan Wasito, mengangguk pada kedua pria tersebut dan pada anaknya. Ibu Nina, juga ikut mengangguk sebelum akhirnya diminta untuk membawa Tuan Wasito kembali ke dalam.


Tapi sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar, Tuan Wasito kembali berbalik dan menatap kedua pria itu.


Mr Ginting dan Mr Akihiko saling bertatapan, merasakan kehadiran Tuan Wasito yang begitu kuat meskipun dalam kondisi seperti itu. Mereka merasakan tekanan dari tatapannya dan merasa bahwa mereka berada di hadapan seseorang yang tidak bisa diabaikan begitu saja.


Mr Ginting sendiri, yang sudah tahu latar belakang dari ayahnya Yati, hanya bisa mengangguk hormat.


"Tuan Wasito, saya datang dengan niat baik. Saya ingin bicara dengan Mis, Yeti."


"Tuan Wasito, saya punya kesempatan menarik untuk Mis Yeti. Saya, ingin membicarakannya sekarang," ungkap Mr Akihiko, mengatakan maksud kedatangannya.


Tuan Wasito mengangkat alis, tapi tidak memberikan tanggapan apapun untuk keduanya.


Pria tua itu masih diam, dengan memandang satu persatu kedua pria itu secara bergantian. Setelahnya, Tuan Wasito beralih menatap anaknya, Yati.


"Mr ... Ak-kiihiko? A-pakah Anda, meng-nganggap Yatiiih sep-perti suatu kesem-ppatan bisnis?" tanyanya terbata.


Mr. Akihiko agak tergagap, mendengar tebakan yang diungkapkan oleh ayahnya Yati sendiri.


"Ti-dak, Tuan Wasito. Saya ..."


Tuan Wasito, dengan cepat mengangkat tangan untuk menghentikan Mr Akihiko yang sedang berbicara. Ia tidak perlu mendengar jawaban itu sekarang. Ia melihat bahwa, mantan Bos anaknya itu memiliki niat yang berbeda, dan ini adalah masalah yang harus diselesaikan oleh Yati.


'Seperti ada sesuatu yang tersembunyi,' batin Tuan Wasito masih menatap Mr Akihiko.

__ADS_1


__ADS_2