
Di Bogor, Yati akhirnya mampu menemukan ketenangan dalam hatinya. Meskipun masih ada banyak hal yang harus dihadapi, bibir wanita itu yang sedang tersenyum menjadi tanda bahwa, ia semakin tenang dan bahagia menjalani perubahan dalam hidupnya.
Kehadiran ayahnya, Tuan Wasito, menjadi sumber dukungan dan kebahagiaan baginya untuk hari-hari ke depan
Setiap hari yang ia jalani di Bogor, Yati kini tampak lebih ceria. Ia beraktivitas dengan penuh semangat, dan senyum yang terukir di wajahnya tidak pernah lepas begitu saja.
Tuan Wasito, senang melihat perubahan ini. Wajah bahagia anaknya adalah hadiah yang sangat berarti baginya, dan ia merasa bangga melihat Yati mampu mengatasi berbagai rintangan dalam hidupnya.
"A-yah ... sang-gaat senang me-lihatmu kem-bbali baha-giiaaa, Nak." Tuan Wasito, berbicara dengan mata berbinar.
"Ayah, Yati belajar untuk menerima kenyataan dan keadaan, dengan mencoba terus melangkah maju." Yati tersenyum lebar, membuat ayahnya ikut tersenyum.
"Itulah yang seharusnya kita lakukan, Mbak Yati. Kehidupan selalu membawa perubahan, dan kita harus siap menghadapinya."
Dari arah samping, Bu Nina datang membawa minuman, bergabung dalam perbincangan keduanya. Perawat Tuan Wasito, ikut merasa senang dengan keputusan yang dibuat Yati kemarin.
Mereka berbicara dengan ringan, tetapi di balik percakapan mereka, ada kehangatan dan kedalaman.
Yati merasa bahagia memiliki ayah yang selalu mendukungnya, dan Bu Nina yang sudah dianggapnya seperti seorang ibu.
Tuan Wasito merasa bangga memiliki anak yang begitu kuat dan tegar, menjalani segala sesuatu yang harus dilalui.
"Ayah, aku bersyukur memilikimu di sampingku." Yati mengucapkan rasa syukurnya dengan tulus.
"A-yahh juga ber-syukuurr mem-miliki k-amu seb-bagai anakku, Yatiiih."
Mereka merasa hubungan mereka semakin erat. Dalam perjalanan hidup yang penuh liku-liku ini, mereka merasa bahwa bersama-sama adalah cara terbaik untuk menghadapi segala tantangan.
Dukungan dan cinta yang mereka berikan satu sama lain adalah kekuatan yang akan terus membimbing mereka melangkah ke depan. Dalam kebahagiaan dan kesulitan, mereka berjanji untuk saling mendukung, menjadikan setiap hari sebagai hadiah berharga yang mereka nikmati bersama.
Drettt Drettt Drettt
Pembicaraan mereka akhirnya terjeda, karena ponsel milik Tuan Wasito bergetar. Ada panggilan masuk ke ponsel tersebut.
"Dari kampung, Tuan."
Bu Nina, yang mengambil ponsel tersebut di atas meja kemudian menyerahkan pada Tuan Wasito. Tapi Tuan Wasito, mengalihkan benda pipih tersebut kepada anaknya, setelah melihat siapa yang menghubunginya.
Tuan Wasito meminta Yati yang menerima panggilan tersebut, sebab itu dari anak buahnya di kampung. Bisa dipastikan akan memberikan laporan atas usaha-usaha miliknya.
__ADS_1
Klik
"Tuan Wasito, deretan toko terbakar. Saya sudah berada di lokasi kebakaran. Kebakaran ini terjadi tiba-tiba dan cepat sekali merembet ke beberapa toko."
Anak Buah bicara langsung tanpa sapaan terlebih dahulu, via telepon, dengan suara khawatir. Ini membuat Yati mengerutkan kening, bingung dengan maksud pembicaraan orang tersebut.
"Bagaimana? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa, begitu cepat?" tanya Yati, yang sebenarnya tidak tahu maksud dari laporan anak buah ayahnya barusan.
"Eh, emhhh ... itu Mbak Yati ..."
Anak buah tersebut, menceritakan kronologi kejadian yang diketahui. Ia juga meminta supaya Yati dan ayahnya segera kembali ke kampung untuk sementara waktu.
Kehidupan yang tampaknya mulai menemukan keseimbangan di tengah cobaan, kembali terhempas oleh situasi yang tak terduga. Kabar kebakaran yang melanda beberapa toko milik Tuan Wasito menjadi pukulan keras bagi Yati dan ayahnya.
"Kita harus pulang ke kampung secepatnya, Yah." Yati, mengajak ayahnya dengan suara bergetar.
"Be-benar, Nduukk. K-ita harus t-ahuuu lebih ba-nyak ten-tang a-pa yang ter-jadi." Tuan Wasito, mengganguk dengan perasaan cemas.
Sekarang, mereka segera bersiap-siap untuk berangkat ke kampung dengan menempuh perjalanan panjang lagi. Mereka terpaksa harus kembali ke sana, karena peristiwa yang tak terduga tersebut.
Dalam waktu singkat, Yati dan Tuan Wasito kembali ke kampung. Kehadiran mereka tidak hanya sebagai tanda keprihatinan, tetapi juga sebagai bentuk kesiapan untuk menghadapi situasi sulit ini bersama-sama.
Mereka tiba di kampung dengan perasaan campur aduk. Duka atas kehilangan yang mereka alami dirasakan dengan kuat, tetapi juga ada tekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka melihat toko-toko yang hangus terbakar, dinding-dinding hitam yang menjadi saksi dari tragedi ini.
"Se-muaa in-niii hancurur ..."
Tuan Wasito berkata dengan suara tercekat, melihat ke arah keruntuhan bangunan yang berserak dan berantakan.
"Polisi sedang bekerja untuk mencari tahu penyebabnya, Ayah." Yati, mencoba menenangkan ayahnya, meskipun ia juga merasa sedih.
Saat mereka berjalan di sekitar tempat kejadian, Yati dan Tuan Wasito mencoba mengumpulkan informasi dari warga sekitar. Tanggapan yang mereka dapatkan sangat bervariasi, dari spekulasi hingga ketidakpastian.
"Permisi, ada yang tahu kira-kira siapa pelakunya?" tanya Yati pada segerombolan warga yang berkumpul.
Di daerah ayahnya ini, Yati belum pernah dikenalkan sebagai anaknya Tuan Wasito. Jadi, Warga juga hanya mengira bahwa Yati termasuk salah satu dari mereka yang datang menonton saja.
"Ada yang mengatakan ini ulah preman, ada juga yang mengatakan ada masalah persaingan bisnis." Warga, menjawab pertanyaan Yati dengan suara cemas.
"Ap-papun y-ang terjadi, po-polisi h-arus menca-cariii keb-benarannya." Tuan Wasito bergumam tidak jelas, memandang ke kejauhan.
__ADS_1
Kehilangan yang mereka alami menjadi semakin berat dengan ketidakpastian mengenai penyebab kebakaran ini. Namun, mereka tidak akan menyerah. Dalam keadaan yang sulit ini, Yati dan Tuan Wasito akan tetap berdiri bersama, mencari kebenaran dengan bantuan pihak kepolisian, dan mencari cara untuk bangkit dari keterpurukan.
***
Di saat malam tiba, Tuan Wasito meminta seluruh anak buahnya berkumpul di rumah untuk membicarakan tentang kejadian ini.
Tuan Wasito, dengan suara cemas dan tidak jelas, bertanya pada mereka semua. Tapi karena ucapannya kadang tidak dimengerti, Yati akhirnya mewakili sang ayah untuk bertanya.
"Siapa yang bisa memberikan penjelasan sedikit saja, tentang kronologi kejadian kebakaran kemarin?" tanya Yati, dengan memperhatikan satu persatu dari anak buah ayahnya.
"Saya, mendengar dari beberapa saksi di sekitar, mereka mengatakan melihat seseorang yang mencurigakan sebelum kebakaran terjadi."
Salah satu dari mereka, mengangkat tangan kemudian memberikan jawaban dengan menerangkan sesuai yang ia ketahui.
"A-pa tanda-tandanyaa?" tanya Tuan Wasito dengan kening yang terlihat berpikir keras.
"Yah, biar Yati yang urus ini. A-yah, sebaiknya beristirahat."
Yati, mencoba untuk mengambil alih kepemimpinan pertemuan ini, dengan meminta pada ayahnya supaya beristirahat saja. Ia tidak mau jika kesehatan ayahnya terganggu.
"Ba-baikklahh. K-amu, hati-hati ya, Nduk."
Tuan Wasito, setuju dengan permintaan anaknya dengan menganggukkan kepalanya. Pria tua itu berpikir bahwa, ke depannya usaha ini juga akan menjadi milik Yati.
Akhirnya, salah satu dari anak buahnya memanggil Bu Nina supaya mengurus ayahnya yang mau beristirahat.
Setelah ayahnya pergi, Yati kembali fokus dengan pertemuan ini dengan memberikan pertanyaan demi pertanyaan yang dibutuhkan, kemudian bersama dengan mereka-mereka menyusun rencana.
"Ok, sekarang kita lanjutkan." Yati, kembali meminta pada orang tadi untuk memberikan penjelasan yang lebih rinci
"Seseorang melihat ada seseorang yang tak dikenal berkeliaran di sekitar toko-toko, seolah-olah sedang mencari-cari sesuatu. Dan beberapa menit kemudian, api sudah mulai berkobar, Mbak Yati."
"Apa ada yang mengenal orang tersebut?" tanya Yati, cepat.
"Tidak, Mbak Yati. Jika kami kenal, tentu kami akan segera melaporkannya pada polisi."
Yati, mengangguk-angguk sambil merapatkan bibir untuk berpikir. Tangannya mengetuk-ngetuk meja pelan, mencoba berpikir dengan mencari beberapa kemungkinan yang bisa menjadi motif dari pelakunya.
'Apa yang ada di pikiran mereka? Mengapa mereka melakukan ini? Apakah mereka disuruh seseorang?'
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Yati, mencoba menerka-nerka dengan musibah yang dialami oleh ayahnya kali ini.