
Yati sudah selesai mandi, dan merapikan dirinya sendiri, disaat pintu kamar diketuk seseorang dari luar.
Tok tok tok!
Yati belum membuka pintu kamar, karena dia belum yakin, jika pintu kamarnya yang sedang diketuk.
Tok tok tok!
Tit!
Ternyata, selain diketuk, pintu itu dilengkapi dengan bel kecil, yang terhubung dengan tombol yang ada di dekat saklar lampu tidur juga.
Click!
Akhirnya, pintu kamar dibuka oleh Yati dari dalam. Pintu kamar,. tidak ada gagang pintu untuk pegangan saat membukanya, tapi aku kunci khusus yang digunakan.
Itulah sebabnya, tidak bisa keluar masuk dengan mudah dari kamar ke kamar yang lain.
Termasuk pelayan rumah juga, selain waktunya untuk membersihkan kamar dan ruangan. Itu pun ada pelayan khusus yang mengawasi mereka, karena dia bertugas sebagai pelayan ahli kunci, yang berarti dia adalah kepercayaan Mr Ginting sendiri.
"Maaf Miss. Anda di panggil Mr Ginting untuk datang ke ruangan kerjanya," kata pelayan, yang tadi datang mengetuk pintu kamar Yati.
Yati mengangguk. Dia pun melangkah keluar dan mengikuti pelayan tadi dari arah belakang.
"Ternyata ada di sebelah kamarku? Kenapa tidak datang sendiri sih?" gerutu Yati, di dalam hati.
Ini karena dia merasa jika, Mr Ginting terlalu kaku, sehingga apa-apa, harus melalui pelayannya.
"Apa ini pelayan kepercayaan ya? Pakaiannya, sedikit berbeda di banding dengan pelayan yang lain."
Yati, kembali bertanya dan memperhatikan kondisi sekitarnya dengan lebih teliti, supaya dia tidak salah, jika akan bertanya dan memerlukan sesuatu.
Pelayan tadi, juga melakukan hal yang sama, saat berada di pintu, yang katanya ruangan kerja Mr Ginting.
Tok tok tok!
Tit!
Pintu terbuka sendiri. Dari dalam, tidak ada Mr Ginting yang membukanya.
Yati jadi heran dan ada rasa ragu, saat dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Silahkan masuk Miss. Mr Ginting ada di dalam," kata pelayan, dengan membungkuk hormat.
__ADS_1
Pelayan itu, tidak ikut masuk dan masih berdiri di luar pintu.
"Tidak perlu takut. Masuklah," kata pelayan itu lagi, seakan-akan tahu jika Yati dalam keadaan ragu untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Yati, akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut, setelah menghela nafas panjang terlebih dahulu. Setelah itu, pintu tertutup dengan otomatis.
Mr Ginting, keluar dari dalam kamar mandi, dan tampak terkejut melihat keberadaan Yati, yang sudah ada di dalam ruangannya.
Tapi dengan cepat, dia menetralkan kembali raut wajahnya sehingga terlihat datar lagi.
"Lebih cepat dua menit dari yang Aku perintahkan. Apa dia lebih cepat saat mandi tadi," pikir Mr Ginting, di dalam hati, saat melihat Yati yang sudah ada di dalam ruangannya, dalam keadaan rapi.
"Ehemmm! Duduklah," kata Mr Ginting, meminta Yati untuk duduk.
Tanpa menunggu Yati untuk duduk, dia lebih dulu duduk di sofa.
Mr Ginting, memperhatikan bagaimana cara berjalan dan berpakaian 'istrinya' yang terlihat pas dimatanya.
Saat ini, Yati memakai pakaian longdres dibawah lutut, dengan model sederhana namun tetap terlihat anggun.
"Aku pikir, dia akan memakai pakaian yang seksi, hanya untuk sekedar menggodaku, ternyata tidak. Pantas saja, tidak akan ada yang tahu apa sebenarnya profesi dia selama ini, jika diluar 'dinas' nya."
Mr Ginting, masih menakar penilaiannya terhadap penampilan Yati.
"Kamu sudah siap dengan posisi istri?"
Yati, memicingkan mata melihat Mr Ginting, yang tadi bertanya kepadanya. "Maksudnya?" tanya Yati ingin tahu lebih lanjut, mengenai pertanyaan dari suaminya itu.
"Hahaha... Kamu pasti paham dengan kata 'istri' kan? atau harus diajarkan juga, sama seperti kemarin?" Mr Ginting, tertawa lepas, melihat ekspresi wajah Yati yang seperti gadis polos tentang keadaan yang sedang mereka alami saat ini.
"Tapi..."
Yati tidak menerus kalimatnya, karena Mr Ginting berdiri dan mendekat ke arah tempatnya duduk.
"Apa? Kamu pikir Aku tidak normal? apa perlu bukti sekarang?"
Mr Ginting, terus mendekat dan berdiri tepat di depan Yati.
Yati diam dan tidak bereaksi. Dia menunggu, apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh suaminya itu.
Mr Ginting menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, seakan-akan ingin menciumnya.
Dalam jarak yang cukup dekat, Yati bisa merasakan hembusan nafas Mr Ginting, yang menyapu wajahnya. Dia, siap dengan apapun yang akan dilakukan Mr Ginting padanya. Toh memang itu sudah tugasnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Tapi, ternyata semua tidak seperti yang dipikirkan. Mr Ginting tersenyum miring, melihat ekspresi wajah istrinya itu. Dia pikir, Yati akan segera menyambutnya dengan sebuah ciuman, atau sekedar kecupan yang sesaat saja, untuk membuat dirinya tergoda, sehingga on dan akan menyerangnya.
"Apa Aku tidak menarik?" tanya Mr Ginting, dengan menjauhkan wajahnya dari hadapan Yati.
Yati hanya tersenyum tipis mendengar perkataan suaminya, Mr Ginting.
"Atau Kamu pikir, Aku tidak bisa memuaskan Kamu?" tanya Mr Ginting lagi, sambil melihat ke arah Yati dengan intens.
Sekarang, dia kembali mendekatkan wajahnya, untuk melihat Yati dari dekat.
Mereka berdua saling berhadapan dari jarak dekat. Hembusan nafas mereka saling menyapu wajah lawan bicaranya.
Yati tidak berkedip. Begitu juga dengan Mr Ginting. Mereka berdua saling diam dan hanya saling pandang saja, tanpa melakukan apapun.
Cup!
Tiba-tiba, Yati mengecup pipi Mr Ginting sekilas. Kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, dengan tersenyum samar.
"Hanya begitu saja?" tanya Mr Ginting, memicing karena curiga jika Yati benar-benar tidak tertarik dengannya.
Akhirnya, Mr Ginting mundur dari hadapan Yati dan kembali ke tempat duduknya sendiri.
"Mungkin Aku tidak menarik ya? tidak sama seperti laki-laki, yang pernah ada bersama denganmu," kata Mr Ginting, dengan nada pelan.
Seakan-akan tidak percaya dengan dirinya sendiri.
Sekarang, Yati yang bingung dengan perkataan suaminya itu. Dia pikir, Mr Ginting tidak suka dengan wanita dan tidak ada niatan untuk melakukan hubungan intim, layaknya pasangan suami istri.
Melihat keadaan Mr Ginting yang seperti dalam keadaan kecewa dan putus asa, Yati jadi merasa bersalah atas perbuatannya yang tadi.
"Maaf Mr Ginting. Saya pikir, Anda sama seperti yang sering dikatakan oleh orang-orang yang ada di sekitar Anda kemarin."
Yati akhirnya mencoba untuk melakukan pembicaraan dengan Mr Ginting, soal bagaimana hubungan mereka seharusnya.
Mr Ginting tersenyum hambar. Dia menggeleng sambil tersenyum, mendengar perkataan Yati, tentang dirinya.
"Apa semua itu tidak benar?" tanya Yati lagi, untuk menyakinkan dirinya sendiri, bahwa Mr Ginting memang benar-benar menginginkan sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Mr Ginting, sebagaimana mestinya.
"Apa Aku perlu memohon?" tanya Mr Ginting, menjawab pertanyaan dari Yati.
Suasana jadi canggung. Mereka berdua saling diam untuk memikirkan bagaimana caranya bicara dan memulai pembicaraan yang lebih baik lagi, untuk memastikan bahwa semua bisa terjadi sebagaimana seharusnya terjadi.
Mr Ginting, merasa canggung karena tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Dia tidak tahu, bagaimana memperlakukan mereka sebagai seorang wanita yang sebenarnya.
__ADS_1
Sedangkan Yati, masih meragukan perkataan Mr Ginting, yang dia pikir hanya sedang menguji dirinya saja.