
Yati masuk ke kamar ayahnya dan duduk di samping tempat tidur pria tersebut.
Tuan Wasito, perlahan membuka mata merasakan kedatangan seseorang.
"Ayah, bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Yati, saat ayahnya tersenyum setelah melihatnya.
Pria tersebut menggerakkan bibirnya untuk berbicara dengan Yati-susah payah.
"Be-ben-benar ... ca-ca ... pa-capa ..."
Tuan Wasito berhenti sejenak, mencoba merapikan kata-katanya.
Yati menyentuh lembut tangan ayahnya, memberikan kekuatan dan semangat pada tubuh ringkih itu.
"Ayah, jangan terlalu dipaksa bicara. Aku mengerti. Bagaimana dengan kondisi tubuh Ayah? Apakah ayah merasa lebih baik?"
Tuan Wasito tersenyum, meskipun tidak terlihat sempurna. Dia juga mengangguk pelan.
"I-iya ... ag-agak ... b-ba-baik ..." jawabannya terbata-bata.
Yati segera menyeka air mata yang mulai berlinang. Dua tidak tahan lihat keadaan Tuan Wasito yang dulunya gagah!
"Ayah, aku ada di sini untukmu. Aku akan merawatmu sebaik-baiknya," ungkapnya memberitahu.
Pria itu terharu mendengar perkataan anaknya, yang sebelumnya tidak pernah diketahui keberadaannya. Bahkan ia telah berprasangka buruk, jika anaknya telah tiada.
Tuan Wasito mengangguk dan tersenyum tipis yang tetao tak terlihat seperti sebuah senyuman.
Tangan Yati meraih segelas air minum untuk ayahnya.
"Minumlah, Ayah. Ini akan membantu menghilangkan dahagamu."
Dengan susah payah, Yati membantu pria tersebut untuk minum supaya lebih baik.
"Ayah, jangan khawatir tentang Yati. Aku sudah memutuskan untuk pindah ke sini dan merawat Ayah."
Tuan Wasito tersenyum lagi, wajahnya menunjukkan rasa terharu atas keputusan yang diambil Yati.
Lagi, Yati menyentuh punggung tangan ayahnya dengan lembut.
"Aku tahu Ayah tak bisa bicara dengan lancar lagi, tapi ingatlah bahwa kita tetap bisa berkomunikasi dengan cara lain. Aku akan selalu berusaha memahami apa yang Ayah ingin sampaikan."
Pria tua itu mengangguk mengerti dan tersenyum. Dua bersyukur atas kehadiran anaknya di masa tuanya sekarang ini.
Lagi-lagi, Yati menyeka air mata yang kembali menetes.
__ADS_1
"Aku akan selalu berada di samping Ayah, mengurusmu dan memberikan rasa nyaman untuk ayah."
Meskipun tidak memberikan tanggapan apapun, Tuan Wasito menggenggam tangan Yati erat-erat. Seakan-akan sedang mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya.
Yati merasa lega dan berusaha tersenyum, merasakan dan melihat respon ayahnya.
"Sekarang istirahatlah, Ayah. Aku akan selalu di sini jika kamu butuh sesuatu," ujarnya sambil mengelus-elus punggung tangan pria tua tersebut.
Dengan gerakan lemah, Tuan Wasito mengangguk dan memejamkan matanya perlahan.
Tak lama kemudian, Yati keluar dari kamar dengan perasaan campur aduk. Dia bersyukur dapat merawat ayahnya, namun juga merasa sedih melihat kondisi ayahnya yang semakin hari semakin lemah.
***
Setelah beberapa hari tinggal bersama ayahnya, Yati merasa tidak tega melihat kondisi pria tua tersebut.
Dia minta pendapat pada perawat untuk membawa ayahnya ke Jakarta, supaya mendapatkan perawatan yang lebih baik dari rumah sakit terbaik.
"Tidak apa-apa, Mbak Yati. Bapak perlu juga ditangani dokter yang lebih ahli. Saya, sudah pernah menyarankan tapi bapak tidak mau."
"Ehm, begitu ya? Coba, mengko tak bilang sama ayah. Semoga ayah mau menerima saranku."
Perawat tersebut, yang sudah merawat Tuan Wasito selama satu tahun terakhir ini menggangguk setuju. Dia juga kasian melihat kondisi Tuan Wasito yang seperti tidak memiliki semangat.
"Semoga, Mbak Yati. Saya lihat, Tuan sering tersenyum dan tidak seperti sebelum Mbak di sini."
Yati mengangguk paham. Dia sangat peduli dengan kondisi ayahnya yang semakin lemah karena sakit stroke. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk ayahnya, termasuk fasilitas perawatan yang lebih baik di Jakarta.
Itulah sebabnya, Yati memiliki niatan untuk membawa ayahnya ke rumah sakit dengan fasilitas lengkap dan dokter yang lebih berpengalaman agar ayahnya bisa mendapatkan perawatan terbaik di Jakarta.
Mempertimbangkan berbagai hal, Yati masih memiliki sisa tabungan dan barang mewah milik ayahnya yang bisa dijual. Ini memang bukan keputusan yang mudah. Menggunakan tabungan pribadi dan menjual barang mewah milik ayahnya tidak berarti apa-apa, demi kesehatan sang ayah.
Yati ingin memastikan ayahnya mendapatkan perawatan yang layak. Ini adalah pengorbanan yang tidak seberapa, tapi menunjukkan betapa kasih sayang Yati pada sang ayah.
Sekarang, Yati duduk di samping tempat tidur ayahnya. Dia mencoba untuk berbicara dengan lembut, meminta izin dan persetujuan ayahnya.
"Ayah, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
Tuan Wasito mengangguk samar, menunjukkan bahwa dia mendengarkan apa yang ingin dikatakan anaknya.
"Yati sudah berpikir untuk membawa Ayah berobat ke Jakarta. Di sana, kita bisa mendapatkan fasilitas perawatan yang lebih baik dan dokter yang lebih berpengalaman."
Ekspresi wajah pria tua tersebut menunjukkan bahwa dia merasa terharu dengan niat Yati. Tapi, dia tidak memberikan tanggapan apa-apa-menunggu anaknya itu berbicara lagi.
"Yati tahu ini bukan keputusan yang mudah. Tapi Yati sangat peduli dengan kesehatan Ayah dan ingin Ayah mendapatkan yang terbaik."
__ADS_1
Yati menjeda kalimatnya, mengambil nafas panjang untuk mengutarakan maksud dari niatannya ini.
"Yati, punya sisa tabungan dan berniat menambahnya dengan menjual beberapa barang mewah milik Ayah. Jika sudah terkumpul, bisa digunakan untuk biaya perawatan di Jakarta."
Tuan Wasito menatap Yati dengan penuh rasa cinta dan penghargaan. Dia hanya mengedipkan matanya sebagai tanda setuju!
Yati menyentuh tangan ayahnya, memastikan bahwa apa yang dilakukannya ini adalah yang terbaik-menurutnya!
"Tolong izinkan Yati dengan niatan ini, ayah! Yati akan membawa Ayah ke Jakarta. Yati ingin melihat Ayah sembuh dan mendapatkan perawatan terbaik," ungkapnya meyakinkan.
Lagi, pria tua itu mengangguk perlahan, menunjukkan persetujuannya.
Melihat respon ayahnya, Yati merasa haru dan terharu.
"Terima kasih, Ayah. Aku akan segera mengatur semuanya. Kita akan berangkat ke Jakarta secepat mungkin."
Tuan Wasito menggenggam tangan Yati erat-erat, memberikan jawaban atas permintaan izinnya tadi.
Dengan tersenyum dan suara lembut, Yati kembali meyakinkan pria tua itu.
"Aku akan selalu berada di samping Ayah, mendukung dan merawat Ayah dengan sepenuh hati."
"I-ya ... ya ..." jawab Tuan Wasito dengan mengangguk tulus.
Yati juga merasa lega, setelah mendapat izin dari ayahnya.
"Sekarang istirahatlah, Ayah. Aku akan segera mengurus semuanya."
Tuan Wasito mengangguk, mengerti dan memejamkan mata.
Setelahnya, Yati berdiri dan menyentuh kening ayahnya. "Aku menyayangi Ayah. Aku akan segera kembali."
Pria tua itu menunjukkan senyum bahagia, dan berkata dalam hati, 'mungkin ini adalah karma ku. Tapi aku bahagia, meskipun dalam keadaan seperti ini.'
Tuan Wasito bahagia bisa lebih dekat dengan anaknya, meskipun kondisi kesehatannya tidaklah sebaik waktu masih muda dulu.
'Senua milikku juga akan menjadi milikmu, Yati.'
Tuan Wasito membatin lagi, saat mendengar pintu kamarnya terbuka. Menandakan bahwa Yati sudah pergi dari kamarnya.
Yati memang keluar dari kamar ayahnya dengan hati yang campur aduk. Dia bersyukur atas izin ayahnya, namun harus penuh perhitungan. Sebab dia tidak lagi memiliki pekerjaan tetap sehingga tidak mendapatkan pendapatan yang tetap juga.
Dua hari kemudian, Yati dan ayahnya berangkat ke Jakarta. Dia mengendarai mobil sendiri tanpa supir pengganti. Awalnya, sang ayah menyarankan untuk meminta satu dari anak buahnya agar ikut, tapi Yati menolak dan meminta orang tersebut untuk menjaga rumah dan toko ayahnya saja.
"Tidak perlu, Ayah. Yati bisa, dan biarkan mereka terjaga di rumah."
__ADS_1