
Novel ini diganti penulisan dari POV 1 (Sudut pandang pemain utama) berganti POV 3 (Sudut pandang orang ke 3, yaitu penulis) . Di mulai dari bab ini. Terima kasih buat yang udah kasih masukan, entah baik dan buruk semua othor terima dan koreksi. Kurang dan lebih mudah-mudahan bisa menjadikan pembelajaran yang baik buat saya pribadi, maupun yang lainnya.
Jika boleh bertanya pada Tuhan, ia bertanya kenapa nasibnya seburuk ini? Kenapa Tuhan menjemput ibunya secepat ini? Kenapa dirinya diterpa masalah yang maha dahsyat. Wanita itu bahkan belum sempat menguatkan diri atas masalah yang menghantamnya di usia yang masih remaja, bahkan usia dewasa masih ia coba raih, tapi sang ibu tempat bersandar dan kekuatanya sudah diambil oleh Sang Pencipta. Dialah Jasmin atau orang sering menyebutnya Mimin. Jalan hidupnya penuh liku, bahagianya sejak kecil harus diganti dengan nestapa diusianya ke tujuh belas tahun.
Di ruangan yang tidak terlalu luas dengan gorden panjang sebagai penyekatnya, wanita berparas cantik dengan wajah pucat, tengah menata kepingan kepingan kesedihan. Ia masih terus mengingat ucapan laki-laki yang penah mengisi penuh hatinya. Laki-laki yang pernah memperjuangkan cintanya hingga ia merasa wanita paling beruntung, karena telah memilih laki-laki yang mau memperjuangkan restu untuk cintanya.
Cinta yang sempat kandas karena restu, dan terjalin lagi karena rasa yang masih sama-sama kuat hingga nekad menikah meskipun belum mendapatkan restu, berharap seiring berjalanya waktu, restu itu akan datang. Namun, lagi-lagi Tuhan mengujinya dengan perjuangan sang suami yang berhenti dan memilih kembali ke keluarganya dengan meninggalkan bukti cinta di rahimnya. Goresan-goresan luka terus di torehkan di hati Mimin baik dari David maupun orang tuanya. Tekanan dan ancaman terus wanita itu terima. Hingga detik ini rasa tenang belum juga menyelimuti hati Mimin.
"Mbak Mimin, kenapa ngelamun terus? Lebih baik baca buku yang dokter Mara berikan, baca Al-Quran atau Dzikir. Ingat Mbak Mimin nggak boleh kepikiran hal-hal yang tidak penting dan harus tenang, kalau Mbak Mimin kaya gini terus yang ada nanti malah makin lama sembuhnya," ucap Suster Ria, suster yang di tugaskan Lydia untuk menjaga Mimin.
Wanita berparas cantik dengan hijab panjang pun mengerjapkan kedua bola matanya berkali-kali setelah suster Ria memperingatkan dirinya yang tanpa sadar melamun lagi.
Senyum tipis tersungging di bibir pucatnya. "Aku masih kepikiran ucapan laki-laki itu (David)," balas Mimin, hanya dengan suster Ria dia bisa bebas bercerita, setelah Lydia mengatakan kalau hubungan dirinya dengan Lydia harus dibatasi. Kini wanita itu hanya bergantung dengan suster Ria yang bisa menemaninya ngobrol dan juga memberikan masukan untuk menguatkan dirinya.
"Mbak Mimin, jangan pikirkan Tuan David terus, ingat nggak kata Mbak Lydia dan Dokter Sera, kalau memikirkan dia terus Mbak Mimin akan semakin terbelenggu sama masa lalu dan juga nanti semakin sulit untuk sembuh. Lawan pikiran buruk itu. Mbak Lydia dan suaminya tidak akan tinggal diam kalau mantan suami Mbak Mimin akan mengambil Iko. Mbak Lydia sudah melakukan beberapa cara untuk tetap melindungi putra Mbak Mimin, jadi jangan bikin mereka kecewa dengan cara Mbak Mimin seperti ini, tunjukan sembangat Mbak Mimin untuk sembuh dan setelah itu langsung tunjukan pada Tuan David kalau Mbak Mimin juga bisa kuat. Jangan biarkan mereka terus menekan Mbak Mimi."
Entah berapa kali suster Ria memberikan semangat untuk Mimin, tetapi nyatanya api semangat yang berkobar hanya sesaat. Apabila wanita itu tengah sendiri Mimin akan kembali bersedih dan murung serta teringat ancaman David terus menerus.
Nyatanya meyakinkan diri sendiri dari rasa cemas tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh perjuangan yang sangat hebat, dan untuk Mimin yang pernah mengalami depresi ringan kecemasan yang datang tiba-tiba masih sering terjadi itu sebabnya ia diperlakukan termasuk istimewa penangananya dalam pengobatanya, ada Pskiater yang menampingi dia untuk terus bisa menekan perasaan cemas yang berlebih.
Mimin pun kembali memutar butiran tasbih yang terus dia genggam, dengan bibir terus ber Dzikir, menyebut asma Alloh, berharap hatinya dikuatkan kembali agar dia dihilangkan dari rasa cemas yang tidak seharusnya ia pikirkan.
__ADS_1
Di lain tempat...
Malam hari rumah mewah dengan tiga lantai, dua keluarga yang terhubung dengan tali pernikahan sedang merayakan pertemua yang hangat.
"Mamih senang banget dapat menantu seperti Lydia dia pandai merawat suaminya tidak hanya itu dia juga pandai memasak, bahkan rasanya uang belanja Mami utuh, karena hampir setiap hari ada saja sopir datang membawa makanan yang diantar oleh anak Besan ini. Dia sangat baik," puji Mami Misel di hadapan ibu dari sang menantu, ucapan sang mertua tentunya membuat wanita berhijab itu memerah wajahnya.
"Mami itu bisa banget kalau buat Lydia jadi gede rasa, nanti kalau dipuji terus biasanya malah bakal malas Mam," balas Lydia dengan setengah berkelakar.
Buka puasa kali ini pun lebih berasa istimewa dari biasanya, di mana ke dua orang tua Lydia dan juga ke dua orang tua Aarav saling berkumpul untuk mengobrol hal yang tidak terlalu penting. Mengikat dua keluarga semakin erat dengan cerita-cerita yang ringan dan menghibur.
"Ngomong-ngomong nanti anak-anak Besan lebaran pada pulang ke Indonesia tidak?" tanya sang ibu dari menantunya, sebut saja namanya Ibu Isah.
"Alhamdulilah setiap tahun pasti pulang Besan, dan ini juga kalau tidak ada halangan besok pulang, mengingat lusa sudah lebaran. Di novel ini lebaranya dicepatin, soalnya udah nggak sabar ingin nyiciip kue buatan Lydia. Candan kue lebaran...
"Besan yang sabar yah, memang ujian orang itu beda-beda, mudah-mudahan apa yang di inginkan oleh Besan segerat terkabul."
Lydia dan Mami Misel serta Iko dan Ibu Isah pun terus ngobrol di lantai dua tepatnya di ruangan keluarga. Sedangkan tim laki-laki masih memilih lantai dasar untuk mengobrol. Yah, lantai dasar memang menjadi favorit Aarav untuk menyambut tamu, bukan menyambut tamu saja, tetapi untuk bersantai seperti malam ini.
Obrolan ringan dengan sesekali candaan pun masih terdengar dari empat laki-laki yang sedang duduk santai di sofa dengan sesekali menyeruput kopi sebagai teman berbagi kisah.
"Ngomong-ngomong, di kampung sedang musim apa Pak?" tanya Papi Sony untuk me membuka obrolan yang semakin hangat.
__ADS_1
"Sebentar lagi panen mungkin nanti saatnya pulang dari Jakarta langsung bisa panen," jawab Bapak dari Lydia sebut saja Pak Rubi.
"Wah, pasti seneng banget yah bisa tinggal di desa adem dan pemandangannya juga sejuk," balas Papi Sony lagi.
Tidak salah memang yang tinggal dikota menilai tinggal di desa itu nyaman, sejuk, sayuran tinggal petik, biaya hidp murah. Tanpa mereka tahu hidup di desa juga tetangganya tidak selamanya enak, banyak juga yang kerjaannya ngomongin tetangga yang lain. Dan sebagian yang tinggal di desa memimpikan tinggal di kota dengan lingkungan yang saling tidak ada waktu untuk mengurusi urusan tetangga. Sehingga kuping rasanya adem.
Tinggal di kota dan di desa ada plus minusnya, tidak semuanya indah seperti yang di bayangkan. Apabila sesaat memang sangat indah sesuai impian, tetapi apabila sudah menetap ya akan tahu juga nikmat dan tidaknya.
"Yah, seneng nggak seneng Besan, harus di nikmati sudah jadi pilihanya tinggal di desa meskipun banyak plus minusnya."
Obrolan pun terus belanjut untuk saling bercerita pengalaman hidup masing-masing, sedangkan Aarav hanya sesekali nimbrung. Malam hangat yang entah kapan lagi akan terulang, rasa ngantuk dan lelah pun terkikis dengan obrolan dan canda tawa yang ringan. Seolah hilang sudah segala beban hidup untuk sesaat dengan kebersamaan ini.
Dilain tempat perbedaan pun dirasakan oleh keluarga lain.
"Bodoh sekali kamu David, kenapa tidak kamu tekan terus wanita itu agar berkata di mana anak kamu. Tidak mungkin dia mau membunuh anak itu. Papah yakin pasti anak kamu masih hidup. Kamu harus datangi lagi wanita licik itu, dan tanya kembali di mana anak kamu. Beri uang yang lebih banyak agar wanita itu berbicara jujur. Atau kamu butuh Papah yang bicara?" tanya Tuan Wijaya pada sang putra semata wayang.
David langsung tersentak kaget dengan ucapan papahnya. Laki-laki itu sudah membayangkan apabila sang papah ikut campur urusan dirinya dan mantan istrinya yang ada Mimin akan kembali menghilang dan dia tidak akan bertemu dengan anaknya untuk selamanya.
"Tidak usaha Pak, biarkan David yang selesaikan masalah ini."
"Kalau gitu kamu pakai otak kamu untuk berpikir, agar wanita itu mau berkata jujur!"
__ADS_1
Bersambung....
...****************...