
Pagi terus berlalu, dan malam pun menyambut, hingga tanpa terasa satu tahun telah berlalu paska hari raya idul fitri, dan kini Mimin sudah jauh sekali perubahan dari segi kesehatan, dan dia juga sudah ke luar dari rumah sakit dan bekerja dengan Hadi dan juga Aarav. Lydia dan Aarav pun sudah mulai disibukan dengan sidang adopsi Iko, setelah melakukan musyawarah bersama Iko pasangan suami istri itu kembali melanjutkan hak asuh Iko untuk dirinya. Itu dilakukan untuk melindungi Iko agar tidak diambil David apabila sudah jadi anak angkat Aarav dan Lydia, maka David tetap tidak bisa mengambil Iko, tetapi beda cerita apabila ia akan tetap menjadi anak Mimin, maka David bisa mengambil hak asuh dari Mimin dengan tuduhan kalau Mimin tidak bisa merawat anak mereka.
"Mas ngomong-ngomong mulai sidang putusan adopsi Iko kapan?" tanya Lydia pada Aarav sembari melatih baby Iko yang sedang berlatih berjalan. Kini umur Baby Iko sudah lima belas bulan sehingga dia sudah mulai berlatih berjalan. (Berlatih berjalan beda-beda usia dan sebenarnya usia lima belas bulan mungkin sebagian anak sudah berjalan, tapi untuk Iko baru berlatih karena dia lebih dulu berbicara.)
"Hari senin besok, doakan tidak lama kita akan mendapatkan hak adopsi yang sah, agar tidak jadi masalah lagi. Kalau Iko sudah jadi anak kita kan tidak ada yang memperebutkanya lagi. Dan ini juga waktu yang bagus karena David sedang sibuk dengan keluarga baru dan bisnis barunya." Saran diam-diam terus mengawasi gerak gerik David agar dia bisa sibuk dengan dunianya dan tidak sadar kalau anak yang sedang diperjuangkan dia adopsi adalah anak dari dirinya.
"Amin, lagian Mimin kan juga nanti dia akan tetap jadi orang tua kandung Iko, kapan pun dia mau bertemu dengan Iko maka tidak akan jadi masalah. Iko akan jadi anak dia, kita hanya menyelamatkan dari David," balas Lydia, saking tegangnya dia menghadapi sidang putusan dan juga serangkaian adopsi yang takut kalau pihak David keburu tahu kalau anaknya belum jadi meninggal maka akan jadi masalah untuk Mimin dan juga keluarga besar Lydia, karena pasti David tidak akan tinggal diam.
"Kalu gitu Mas berangkat kerja dulu yah, doakan agar keluarga David tidak tahu kalau kita sedang memperjuangkan adopsi anaknya. Kalau tahu pasti bakal banyak sekali masalah yang dia buat." Nyatanya bukan hanya Lydia dan Mimin saja yang sangat takut kalau David tahu anak Mimin masih hidup.
Untuk saat ini Mimin dan Lydia bisa bernafas dengan tenang karena sejak ancaman dokter Doni yang akan menyuntikan sel kangker laki-laki itu tidak lagi mengganggu Mimin, dan bisa dikatakan David itu percaya kalau anak Mimin memang sudah meninggal dunia.
Sehingga Mimin bisa bekerja dengan tenang, hidup dengan tenang bahkan beberapa kali datang ke rumah Lydia untuk bermain dengan anaknya. Mimin dalam satu tahun ini benar-benar bisa fokus dengan pekerjaanya dan juga bisa fokus dengan pengobatannya. Hasil pun tidak pernah mengkhianati usaha wanita itu, yah dokter Doni sudah menyatakan sembuh tetapi wanita berjadar itu tidak boleh besar kepala dia harus rutin kontrol untuk memeriksakan dirinya dan juga dia harus menjalani gaya hidup sehat dan diet untuk penderitaan kangker, makanan yang dia makan selalu yang sehat tidak memakan makanan yang siap saji dan masih banyak lagi makanan yang tidak ia makan hanya untuk menjaga kesehatan tubuhnya.
Pekerjaan pun wanita itu sudah menjadi tim sukses dari supermarket sehat hubunganya dengan Hadi dan Aarav pun sangat baik, dia banyak mengeluarkan ide-ide cemerlang untuk memulai usaha yang di khususkan menyadarkan masyarakat kalau makan sehat dan gaya hidup sehat itu penting dari pada seperti Mimin yang mengobati sakit.
"Amin, kayaknya sekarang mereka tidak akan sadar deh kan sibuk dengan keluarga baru." Lydia sangat bersyukur karena David punya keluarga baru dan mungkin sudah lupa dengan Mimin.
__ADS_1
Wanita itu tidak bisa membayangkan kalau David tidak punya keluarga baru dan pasti mereka akan terus mencari fakta yang mereka tidak tahu.
Aarav membalas dengan anggukan kepala. "Hai jagoan, Papah mau berangkat kerja yah, Jagoan jaga Bunda yah, jangan nakal dan jangan rewel yah," ucap Aarav pada Iko yang sudah mulai tahu kalau diajak berbicara, bahkan anak itu sedang berlatuh berjalan dan ngoceh-ngoceh.
"Baik Papah, Iko tidak nakal, Iko akan jaga Bunda," balas Lydia dengan menirikan suara anak kecil.
Setelah berpelukan dan juga Iko bermanja-manjaan dengan sang papah, Aarav pun akhirnya berangkat kerja.
Sedangkan Lydi seperti biasanya akan bermain dengan jagoannya yang makin pintar.
"Papah sudah bekerja, dan kita sekarang masuk lagi ke rumah yah, dan kita bermain sama bunda," ucap Lyda dengan mengajak Iko selalu berbicara dan juga bergerak untuk melatih Iko aktif.
Anak usia lima belas bulan itu pun sedang sangat senang melatih berjalan sehingga apapun menjadi alat untuk berpegangan, dan melangkah.
"Bi, nanti minta tolong jagain Iko yah, Lydia mau istirahat dulu tubuh Lydia sangat cape karena hampir semalaman Iko bangun terus ngajak bermain," ucap Lydia yang sebenarnya sejak pagi tadi dia merasakan tubuhnya tidak enak badan, tetapi dia tidak ingin membuat sang suami panik sehingga berpura-pura baik-baik saja.
"Baik Neng, apa mau nanti dipijitin sama Bibi? Atau sana Mbok Jum?" tanya Bi Lilis sembari mengambil alih jaga Iko. Yah, Lydia lebih percaya untuk menjaga Iko pada Bi Lilis karena dia yang lebih muda dan tenaganya lebih kuat karena menjaga Iko yang sedang aktif-aktifnya sehingga butuh tenaga yang super banyak, apabila di amanhkan sama Mbok Jum kasihan karena pasti tenaganya kalah dengan Iko yang aktif itu.
__ADS_1
"Tidak usah Bi, biar Lydia istirahat sebentar saja, nanti juga sudah kembali segaran. Ini hanya karena Lydia yang kecapean," ucap Lydia sembari memijit tengkuk lehernya yang berasa berat.
"Baiklah biar Iko dengan Bibi bermain Neng istirahat saja. Iko pun bermain dengan Bi Lilis sedangkan Lydia memilih istirahat di kamarnya. Berharap kalau badan yang tidak enak akan segera kembali sehat.
Sedangkan di tempat lain.
Supermarket sehat yang menjadi proyek Aarav dan juga Hadi sudah berdiri dengan megahnya. Begitupun supermarket segar milik David dan rekan bisnisnya sudah berdiri juga. Tempat mereka memang tidak berjarak yang cukup jauh, mereka berdoiri di depan perumahan mewah, dan juga kampung yang padat penduduknya.
Baik David maupun Aarav memiliki target masing-masing. Selama ini dua orang itu tidak banyak berbicara, mulai sejak David memutuskan sepihak kerja sama dengan Aarav hubungan dua orang itu kurang baik. Apalagi setelah David tahu kalau Aarav menggandeng Hadi yang notabenya lebih tajir dari dirinya dan membangun tempat belanja pesaing dirinya membuat David seperti cacing terkena air garam.
Apakah David akan terus menganggap Aarav sebagai pesaingnya dan mencoba bersaing secara sehat atau sebaliknya?
Bersambung....
...****************...
#Mohon maaf untuk beberapa hari ke depan up hanya satu Bab, karena othor sedang mudik sinyalnya Masyaallah sulit sekali. 🙏🏻
__ADS_1