Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Calon Rekan Bisnis Baru


__ADS_3

"Kalau gitu kita buka puasa dulu, habis itu tarawih dan semua masalah ini kita serahkan semuanya sama Tuhan biar Tuhan yang atur semuanya," ucapku mencoba menghibur mas suami.


"Ok Bun, lagian besok juga ada yang mau datang ke rumah Bun, katanya ingin kerja sama, mudah-mudahan yang ini jauh lebih baik dan memang bisa amanah."


Aku pun mengembangkan senyum, dan ada segurat kebahagiaan karena nyatanya belum juga satu kali dua puluh empat jam, mas suami sudah mendapatkan calon pengganti Pak David. Tentunya aku juga nggak pernah putus untuk mendoakan yang terbaik untuk mas suami agar rezekinya makin lancar.


"Kamu nggak keberatan kan Sayang kalau aku undang calon orang yang akan menjalin kerja sama dengan Mas, ke rumah kita. Rencananya Mas mau undang buka bersama, sebenarnya bisa saja sih kalau di luar, tapi biar lebih enak ngobrolnya makanya Mas undang ke rumah. Lagian kalau di rumah bisa sekalian bermain dengan Iko," ucap mas suami dengan wajah yang jauh lebih bahagia dari pada tadi.


"Tidak apa-apa dong Mas, nanti biar Lydia siapkan bukaan lebih."


Sembari buka, kami terus membahas kerja sama yang sebenarnya aku tidak begitu paham dengan pekerjaan mas suami, tetapi untuk menghangatkan obrolan aku pun menjadi pendengar yang baik, dan sesekali menanggapi juga, yang ternyata mas suami berencana membuat cabang supermarket nya yang lebih modern, dari yang  sebelumnya.


Hari pun terus berganti, dan tiba saat aku disibukan dengan menyiapkan hidangan untuk buka puasa yang sedikit lebih banyak hal itu karena barusan mas suami kembali mengabarkan  kalau calon orang yang akan menjalin kerja sama dengan mas suami jadi datang untuk meeting di rumah kami.


Seperti biasanya meskipun repot dengan Iko, tetapi berkat kerja sama dengan Mbok Jum dan Bi Lilis hidangan buka puasa pun sudah siap bahkan siap lebih awal dari biasanya dan memang apa yang kami siapkan pun mengambil hidangan yang simpel dan tidak terlalu repot, selain menghemat waktu juga menghemat tenaga.



Seolah keberuntungan menghampiri aku yang baru selesai membersikan diri dan juga memandikan Iko, mas suami pun datang dan sesuai dengan yang dikatakan yaitu bersama dengan seorang laki-laki yang mungkin umurnya lebih tua dari mas suami sedikit, itu terlihat dari rambutnya yang sudah setengah berwarna putih, tetapi tidak mengurangi karisma dan juga wibawanya. Yah, laki-laki itu terlihat sangat berkarisma dan berwibawa, dan juga terlihat kalau orangnya sangat sabar wajahnya teduh, itu yang aku lihat sekilas dari jendela kamarku.


Apabila dibandingkan dengan David, jelas lebih terlihat teduh yang ini, itu yang aku lihat sekilat, dan mudah-mudahan memang pandangan mataku tidak salah dalam menilai seseorang karena aku juga kasihan dengan mas suami kalau sampai orang ini berbuat seperti Pak David.


Setelah aku mengamati mas suami dan juga sudah di pastikan masuk ke dalam rumah, aku pun langsung  turun ke bawah untuk menyambut tamu, itu yang mas suami ajarkan agar teman kerjanya tahu istrinya dan juga tahu kalau mas suami sudah tidak beristrikan Mbak Siska lagi. Sehingga aku harus dikenalkan dengan rekan kerjanya.


"Yuk Mas kenalin sama teman Mas yang akan kerja sama dengan Mas, kebetulan dia juga orangnya asik dan ibadahnya baik jadi cukup masuk dengan Mas, malah rencananya kita akan tarawih bersama dan setelah itu baru membicarakan bisnis," jelas mas suami yang sebenarnya tidak harus menjelaskan pada aku, tetapi mungkin mas suami masih ingat ucapan aku yang cemas ketika mas suami dekat dengan David karena kelakuannya yang aku anggap buruk, yah aku memang berbicara dengan mas suami apabila bergaul biasakan dengan orang yang bisa berpengaruh baik.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Lydia senang kalau Mas suami berteman dengan orang yang cukup baik agamanya, dan juga Lydia berharap kalau suami juga agamanya ikut lebih baik lagi," balasku memberikan semangat, dan setelah itu ikut Mas Aarav untuk menemui teman bisnisnya.


"Di, kenalin ini istri aku namanya Lydia dan ini anak aku namanya Iko." Mas suami mengenalkan aku pada laki-laki yang berparas cukup manis.


"Hai Iko, selamat kenal Lydia, aku Hadi, calon teman bisnis Aarav," ucapnya dengan mengatupkan tangan di depan dada, lagi-lagi aku memberikan nilai lebih untuk attitude-nya yang mana lagi-lagi kalau dibandingkan dengan teman bisnis sebelumnya yang sempat gagal bekerja sama, Tuan Hadi pastinya jauh lebih sopan, dan bisa menghormati wanita.


"Salam kenal juga Tuan Hadi," balasku dengan mengatupkan tangan juga.


"Jujur aku kalau ketemu dengan wanita berhijab itu jadi teringat dengan mantan istri saya, dan kadang suka kepingin nikah lagi tapi kalau ingat kenangan itu suka takut juga untuk berumah tangga," ucap laki-laki yang ada di depanku dengan wajah yang terlihat sangat sedih. Entah apa yang terjadi dengan Tuan Hadi dan istrinya, tetapi aku lihat bahwa laki-laki itu sangat mencintai mantan istrinya.


Aku paham ini adalah cara Tuan Hadi mencairkan kedekatan kita, dan lebih baik membicarakan diri sendiri dari pada membicarakan orang lain.


"Di doakan semoga dapat pengganti almarhum yang seperti kriteria yang kamu inginkan. Lagian waktu sepuluh tahun menduda sudah cukup lama loh, apa nggak mau cari teman untuk  berbagi cerita," balas Aarav yang sepertinya sudah tahu betul kisah Tuan Hadi.


"Kalau dibilang pingin pasti pingin Rav, tapi masih belum bisa menggantikan posisi almarhum di hati."


Kami pun terus bercerita hingga tidak terasa sudah Adzan Magrib berkumandang, cerita pun diakhiri dengan obrolan yang yang masih seputar rumah tangga Tuan Hadi, yah ini memang obrolan hangat untuk perkenalan, bukan untuk bisnis, untuk bisnis waktunya nanti setelah tarawih.


"Maaf jamuannya ala kadarnya, soalnya ada bayi jadi masaknya sesempatnya," ucapku meskipun aku sudah berusaha menjamu dengan sebaik mungkin.


"Kalau ini sih bukan ala kadarnya, tapi paket komplit," balas. Pak. Hadi yang sepertinya semangat untuk menikmati olahan dari tanganku.


"Ayo Di, makan yang banyak. Kalau makannya cuma sedikit kasihan bundanya Iko udah masak banyak dan cape malah makannya cuma sedikit."


Kami pun menikmati makan bersama dan tentu Iko juga duduk di samping kami.

__ADS_1


Seorang baby Iko. tengah menyimak obrolan kami, dan Iko berpartisipasi dalam obrolan.



"Ngomong-ngomong, Tuan Hadi punya anak?" tanyaku, mengingat dari cerita yang aku dengar tadi beliau sudah menikah selama lima tahun, tetapi istrinya meninggal karena sakit dan sampai sekarang sang almarhum istrinya sudah sepuluh tahun berpulang tetapi tidak juga menikah lagi, dengan alasan belum ada yang cocok. Karena kata laki-laki itu menikah itu harus ada kecocokan agar terus harmonis dan bisa saling melengkapi.


Yah aku pun setuju dengan apa yang diucapkan Tuan hadi bahwa menikah harus ada kecocokan dulu minimal satu atau dua sehingga kalau sudah ada modal ke cocokan bisa saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan sehingga rumah tangga juga harmonis.


"Belum Mbak Lydia, makanya lihat anak kalian jadi ingin nikah lagi. Mungkin Mbak Lydia punya teman atau saudara yang  agamanya cukup baik boleh di kenalkan. Perginya cari yang agamanya cukup biar saling meraih surganya," ucap Tuaan Hadi yang membuat aku tersenyum sendiri.


"Maaf bukanya nggak mau mengenalkan dengan teman atau saudara, tapi takut nggak cocok nanti malah jadi berimbas dengan kerja sama sama mas suami," balasku dengan jujur. Yah, apalagi kalau ada masalah dengan rumah tangganya nanti berimbas sama yang lain sehingga aku hanya  tersenyum dengan ucapan Tuan Hadi.


"Hahaha aku nggak kaya gitu Mbak Lydia, urusan kerjaan ya urusan kerjaan, pribadi ya pribadi, nggak mungkin urusan pribadi di campur aduk ke dalam urusan pekerjaan.


"Kenalkan saja Bun, kalau ada teman yang masuk kriteria Hadi, kasihan dia udah sepuluh tahu menduda," kelakar mas suami, yang di sambut tawa renyah juga oleh Hadi.


"Iya nanti dicari teman atau sodara atau malah reader's yang sesuai dengan kemauan Tuan Hadi," jawabku setengah berkelakar.


Yah malam ini kami pun meeting dengan santai, bahkan aku yang biasanya tidak pernah mau tau dengan urusan mas suami malam ini aku pun ikut meeting ala-ala Lydia bahkan aku beberapa kali memberikan masukan.


Itu semua karena Tuan Hadi memang orang yang hangat dan juga ramah dan baik, bahkan dengan Iko. Tuan Hadi cukup akrab dan Banyak Iko pun beberapa kali di gedong oleh Tuan Hadi. Sehingga aku merasa seperti dengan orang yang sudah cukup lama kenal, jadi ngobrol pun nyambung.


Di mana menurut Mas Aarav beliau adalah orang yang cukup terpandang, selain orang tuanya yang menguasai tambang batu bara, Tuan Hadi sendiri menggeluti bisnis minimarket dan kos-kosan mewah di beberapa kampus besar di beberapa kota besar.


#Hayo siapa yang mau jadi istri Tuan Hadi (Arti namanya aja yang memimpin) Yang mau jadi istri Mulya Hadi Al Hussain sok daftar gratis di depan bayar di belakang....

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2