
Di saat Aarav dan keluarganya sedang menikmati hidangan yang lezat menurut lidah Aarav, di tempat lain seorang laki-laki paruh baya sedang dikuasai oleh api kemarahan karena selama ini dia merasa ditipu oleh wanita yang sangat dia benci.
Plukkk... Tuan Wijaya melempar amplop berwarna coklat yang cukup tebal, tepat di hadapan sang putra. "Kamu lihat itu!" ucapnya dengan nada yang dingin dan ketus, ditambah wajahnya mereh, menandakan bahwa laki-laki paruh baya itu sedang menahan marah.
David pun menatap amplop berwarna coklat yang ada di hadapannya. Laki-laki itu kembali menatap sang papah yang sedang berdiri dengan tatapan yang tajam.
"Apa ini Pah?" tanya David, dengan tangan mengambil amplop yang ada di atas meja.
"Dari awal Papah sudah tidak percaya kalau wanita itu kehilangan anaknya, tapi kamu yang bodoh, mau saja dibodohi oleh wanita itu, dan sekarang anak kamu sudah di jual pada keluarga Sony," bentak Tuan Wijaya yang langsung mendapatkan reaksi terkejut dari sang putra.
Laki-laki itu bahkan rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membayar orang-orang yang ahli dalam menyelidiki maslah apapun. Bagi laki-laki paruh baya itu uang tidak jadi masalah asal dia menemukan fakta mengenai cucunya.
__ADS_1
"Ta... tapi David sebelumnya sudah mencari tahu fakta-fakta itu, tidak mungkin kalau orang-orang David berkata bohong," balas David, laki-laki itu bahkan lupa untuk membuka amplop yang sudah ada di tangannya.
"Itu karena kamu bodoh David, kamu itu anak paling bodoh bisa saja dibohongi oleh wanita itu, kamu tidak boleh simpati pada wanita itu, dia sudah menjual anak kamu pada keluarga Sony dan mereka gantikan anak kamu dengan pundi-pundi rupiah yang dia gunakan untuk pengobatan wanita itu. Itu sebabnya dia bisa sembuh dari sakitnya, tanpa menjual anak kamu dia tidak akan punya uang untuk membiayai pengobatannya yang tidak murah itu. Dan sekarang dia bisa hidup dengan enak, bisa kerja dan bisa sembuh semua yang dia dapatkan karena dia menjual cucu ku," tuduh Tuan Wijaya yang langsung membuat David kembali dikuasai api kemarahan.
"Ja... jadi anak yang Aarav asuh itu anakku?" gumam David dengan pandangan yang kosong lurus ke depan.
"Kamu pikir anak siapa lagi, selain wanita itu yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Pantas saja dia tidak menerima tawaran dari Papah dulu, itu semua karena dia sudah berniat untuk menjual anak itu yang pastinya Sony dan anaknya memberikan uang yang jauh lebih tinggi dari yang Papah dulu tawarkan. Memang wanita itu otaknya licik, sekarang kita harus cari cara untuk mengambil anak itu dengan paksa. Karena kalau kita lapor pada polisi dan mengambil hak asuh anak itu tidak akan bisa. Kita harus ancam dan ambil anak itu dengan paksa. Jangan biarkan wanita itu dapat uang yang lebih lagi dari keluarga Sony. Papah yakin seratus persen dia juga sedang mengincar Hadi, apalagi Hadi dan keluarganya hartanya jauh lebih banyak wanita itu pasti sedang merencanakan sesuatu agar bisa membuat Hadi jatuh ke dalam pelukannya, otaknya sudah dikuasi dengan harta. Sok-sokan tubuh di tutupi hijab dan cadar, yang terlihat hanya mata agar orang-orang bisa simpati dan perhatian pada dia, dan kenyataanya dia hanya sedang mencari mangsa yang lebih besar lagi," racau Tuan Wijaya, agar anaknya percaya dengan yang ia katakan.
"Semua bukti ada di amplop itu, mata kamu tidak buta, dan kamu juga bisa baca dan bisa lihat silahkan kamu lihat sendiri. Yang jelas bagi Papah, Mimin itu wanita yang sangat licik. Kalau dia saja licik bahkan lebih mempercayakan anaknya untuk Aarav dengan jaminan pasti uang yang tidak sedikit dari pada diserahkan pada kita. Mimin tahu kalau dengan Aarav dan Hadi dia bisa mendapatkan uang yang lebih besar, dan pastinya dia bisa bersembunyi di balik hijab panjangnya untuk menutupi tubuh yang pasti dia jual juga, tidak mungkin dia sok suci sedangkan Jono saja masuk perangkapnya. Wanita itu memang benar-benar pandai mencari mangsa yang lebih besar," imbuh Tuan Wijaya lagi yang tidak memberikan kesempatan pada David untuk menilai Mimin dari bukti-bukti yang ada di dalam amplop berwarna coklat itu.
"Jadi benar aku punya anak?" David dengan telaten membaca dan mengamati bukti-bukti yang ada di dalam amplop berwarna coklat yang sang Papah dapatkan tidak harus menunggu satu kali dua puluh empat jam. Gigi David saling bergemelutuk ketika melihat bukti-bukti yang menguatkan kalau anaknya secara hukum sudah jadi anak pasangan Aarav dan Lydia dengan sah, nyatanya adalah darah dagingnya. Yang sejak awal tidak dia akui.
__ADS_1
"Sepertinya Mimin sedang bermain-main dengan aku, dan aku akan buktikan kalau dia tidak bisa berbuat macam-macam denganku, kalau anak yang sudah aku titipkan di rahimnya dia jual untuk memenuhi kebutuhannya, apa harus aku titipkan anak lagi biar aku punya banyak anak?" gumam David dalam batinnya, bibinya pun terangkat sebelah, ketika otaknya menemukan ide untuk kembali menjerat mantan istrinya. Dia sudah dua kali menikah dengan wanita yang lain, tetapi hingga detik ini istrinya yang sudah dia nikahi satu tahun lebih tidak juga memberikan tanda-tanda kalau wanita yang dia nikahi akan hamil dan memberikan dia anak seperti Mimin.
"Apa Papah punya cara untuk mengambil anak itu dan memberikan Mimin dan keluarga Aarav pelajaran?" tanya David, dengan pandangan mata terus menatap foto sang putra yang sangat tampan dan terawat dengan baik.
"Hanya ada satu cara, yaitu kita ambil anak itu dengan paksa dan bawa ke luar negri, biar mereka bingung mencari cucu Papah, kita yang besarkan jauh lebih baik dari yang mereka berikan. Kalau anak itu tetap ada di Aarav, dan Sony, yang ada suatu waktu dia akan gunakan anak itu sebagai mesin ATM. Mana mungkin Sony dan anaknya mau begitu saja merawat anak yang tidak ada hubungannya darah. Kecuali keluarga itu sedang merencanakan sesuatu untuk menekan kita nanti. Kita harus memiliki rencana satu langkah di depan mereka."
David pun terus terpikirkan apa yang dikatakan oleh sang Papah. Bahkan dia sudah tidak fokus bekerja yang dia pikirkan adalah buah hatinya. Dalam otaknya tersusun banyak rencana dari mulai mengambil Iko dan kembali membuat Mimin jatuh ke dalam pelukannya. Laki-laki itu yakin sang papah kali ini mendukungnya yang ingin. kembali menjalin hubungan dengan mantan istrinya tidak ada lain tujuannya agar memiliki keturunan yang banyak. Bukankah sang papah cita-citanya ingin punya cucu yang banyak.
"Yah aku harus bisa buat Mimin kembali lagi dalam pelukanku, tidak akan aku biarkan dia menggoda Hadi."
Bersambung....
__ADS_1