
"Pak hari ini ada lembur nggak?" tanya Mimin pada Hadi. Mengingat ia dan Hadi adalah satu tim, dan Hadi sebagai pemilik saham terbesar setelah Aarav.
"Kenapa ada acara?" tanya balik Hadi, udah jadi kebiasaan Mimin kalau pulang lebih dulu pasti ada acara entah itu memeriksakan diri ke dokter atau hubungan dengan kasusnya.
"Lydia, semalan kirim pesan katanya Iko mau nginap dengan saya, jadi mau ke rumah Lydia jemput Iko."
"Kalau gitu kamu tunggu di loby saya antar."
Mendengar ucapan bosnya, Mimin langsung mengangkat wajahnya dan bersiap menolak permintaan Hadi.
"Aku tidak akan biarkan kamu naik kendaraan umum kalau mau ke rumah Lydia itu terlalu berbahaya. Rumah itu persembunyian Lydia dan keluarganya, jangan sampai ada yang tahu dan membuat penghuninya tidak nyaman lagi." Hadi yang tahu kalau Mimin akan menolak kebaikanya pun langsung menyelanya, dan memberikan alasan kenapa ia memilih untuk mengantarkannya.
Wanita berhijab itu pun tidak bisa menolak lagi, karena apa yang Hadi katakan benar juga, terlalu berbahaya kalau orang-orang suruhan Wijaya yang mungkin saja masih berniat jahat, tahu rumah Aarav dan keluarganya bisa-bisa akan tidak sangat aman untuk Lydia dan keluarganya terutama Iko.
"Kalau gitu saya turun duluan Pak..."
"Hemzzz. Aku akan segera menyusul." Begitu Mimin meninggalkan ruanganya, Hadi pun langsung menyelesaikan pekerjaan yang sebentar lagi selesai. Dan segera menyusul Mimin ke bawah.
"Kamu tidak beli apa-apa untuk Iko?" tanya Hadi begitu mobilnya perlahan meninggalkan kantor.
"Mungkin cari ikan saja, dia lagi senang banget sama ikan, entah makan dan mainanya selalu berhubungan dengan ikan," jawab Mimin, karena ia tahu Iko akan sangat senang kalau dapat ikan meskipun aquarium sudah banyak, tetapi tetap saja anak kecil itu akan sangat senang kalau ada yang bawa ikan lagi.
"Baiklah, tidak jauh dari sini ada yang jual ikan.
Mimin hanya membalas dengan anggukkan kepala, dan kembali diam hingga mobil yang ia tumpangi berhenti di sebuah toko ikan hias.
"Sekalian belikan aquarium yang bulat kayaknya itu bagus dan mungkin Iko akan bisa merawatnya," usul Hadi begitu sudah sampai di toko ikan hias.
"Iko belum bisa merawatnya Mas, kalau beli jangan yang mahal-mahal, ikan yang dari Mas Hadi aja sudah mati dan entah sudah habis berapa kilo hanya untuk Iko mainan ikan."
"Tidak apa-apa nanti juga lama-lama dia ngerti dan tanggung jawab dengan apa yang Iko pelihara."
Setelah berdebat cukup panjang kini Mimin pun membeli aquarium gelas yang bulat tentu lengkap dengan alat pompanya dan ikan hias yang lucu-lucu.
__ADS_1
"Mas..." Mimin memanggil Hadi dengan suara yang lembut.
"Iya, ada yang mau diomongin?"
"Saya minta maaf yah, karena masalah saya dan ayahnya Iko, Mas jadi terbawa-bawa, dan harus bolak-balik ke kantor polisi untuk menjadi saksi dan banyak membuang waktu Mas." Akhirnya dari sekian abad Mimin membahas sesuatu yang bukan lagi soal pekerjaan. Biasanya Mimin sangat sulit diajak bicara kecuali masalah pekerjaan.
Hadi yang mendengar permintaan maaf dari bibir Mimin pun langsung memalingkan pandanganya."Aku tidak pernah merasa keberatan menjadi saksi atas masalah kamu dan aku juga tidak pernah merasa waktuku terbuang untuk mengurusi semua ini. Kamu jangan merasa bersalah. Aku anggap masalah kamu masalah aku juga."
Mimin menunduk dengan memainkan jari-jarinya.
"Aku lebih suka kita kalau di luar kantor tidak lagi membahas pekerjaan seperti sekarang. Mungkin kamu butuh teman untuk bercerita agar kamu tidak merasa sendiri, banyak yang mendukung kamu untuk bangkit dan lebih baik lagi, jangan sia-siakan dukungan itu." Hadi melihat kalau Mimin sekarang bisa sedikit terbuka denganya, dan ini kesempatan yang langka mengingat biasanya ia dan Mimin akan saling diam, dan sekali pun bicara mengenai pekerjaan.
"Saya tahu itu, tampa orang-orang yang ada di belakang saya mungkin saya tidak akan duduk di samping Anda. Mungkin saya akan tetap menjadi Mimin yang putus asa dan hanya menangisi takdir ini. Saya tidak akan lupa kebaikan sekecil apa pun itu. Terima kasih sudah menjadi bagian dari orang baik itu, yang telah mendukung saya."
Mimin mengulas senyum hal itu bisa dilihat dari sorot matanya.
"Aku suka dengan sikap kamu, kamu diam meskipun diinjak-injak oleh seseorang, tetapi diammu bisa mengubur mereka yang menginjak-nginjakmu. Tetap menjadi Mimin yang seperti ini, jangan pernah takut untuk membuat keputusan terbaik, kamu sudah banyak melewatii hari yang berat selangkah lagi kamu akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya."
"Orang baik pasti dikelilingi orang baik juga termasuk aku," kelakar Hadi.
Mendengar ucapan itu Mimin langsung menoleh ke arah Hadi.
"Percaya diri sekali," balas Mimin dengan mengulum senyum di balik cadarnya.
"Yah, karena dari kemarin menunggu ada yang mengatakan baik, tapi tidak ada juga jadi lebih baik dipuji sendiri. Anggap saja hadiah dari diri sendiri, apresiasi untuk diri sendiri karena sudah memilih menjadi orang baik, padahal sangat mudah untuk menjadi orang jahat dan kesempatan pun selalu datang menggoda dengan berbagai tawaran hadian yang menarik, tetapi lebih memilih tetap bertahan dengan kebaikan meskipun tidak dihargai."
"Curhat... Pak..." ledek Mimin dengan mengulas senyum.
"Mau emang dicurhatin?" ledek balik Hadi.
"Kenapa tidak, mungkin Bapak butuh teman untuk ngobrol," balas Mimin dengan serius.
"Sayangnya aku butuhnya teman ngobrol yang serius, mau emang?"
__ADS_1
"Apa saya kurang serius?" tanya balik Mimin seperti menantang.
"Aku seius loh ini ngomongnya."
"Saya juga tidak suka yang terlalu bercanda, karena hidup saya sudah terlalu lucu, kadang saya seperti orang gila saking lucunya hidup ini."
Hadi menatap Mimin dengan tatapan yang tajam.
"Jadi mau kalau diajak serius?"
"Saya lebih suka pembuktian dari pada pertanyaan."
"Mana yang harus aku buktikan. Kalau kamu mau saat ini kamu butuh bukti seperti apa, akan aku buktikan?"
Untuk beberapa saat Mimin justru diam.
"Aku tidak memaksa kamu untuk menjawab pertanyaan aku, tetapi asal kamu tahu kalau aku sangat serius dengan ucapanku, mungkin aku memang belum secara resmi bicara dengan kamu dengan keseriusanku, tetapi kamu pasti sudah dengar baik dari Lydia maupun Aarav. Aku serius dengan ucapanku, Min. Mungkin kamu bisa membiarkan aku kesempatan untuk membuktikan kalau laki-laki tidak semuanya sama, mungkin kamu boleh dikecewakan oleh papah kamu dan juga kembali dipatahkan oleh David mungkin setelah ini aku akan memberikan kepercayakan pada kamu kalau tidak semua laki-laki itu sama seperti papah kamu dan juga ayahnya Iko."
Deg!!! Hati Mimin langsung berdesir.
"Dari mana Mas tahu soal papahku?" tanya Mimin dengan suara lirih.
"Sebelum saya menaruh hati dengan kamu, dan sebelum kamu terlanjur masuk ke dalam hatiku, jujur aku lebih dulu mencari tahu siapa kamu sesungguhnya. Karena aku juga laki-laki yang ingin memiliki pasangan baik jadi tidak ada salahnya bukan kalau aku mencari tahu wanita yang sudah menarik perhatianku. Maaf kalau aku lancang mencari tahu siapa kamu sebenarnya, itu karena aku tidak ingin salah memiliki wanita, dan menyakiti hatiku maupun hati kamu."
"Lalu apa yang Mas tahu dari semua yang Mas cari tahu dengan hidupku?" tanya Mimin dengan wajah seriusnyya.
"Kamu wanita baik."
Bush... Mimin langsung memerah wajahnya. Untung cadar menutup itu semua, adai tidak ada cadar pasti ia akan malu dengan wajahnya yang memerah.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1