
Setelah membayar sate, Mimin pun kembali melanjutkan perjalanannya masuk gang komplek rumahnya. Wanita bercadar itu berjalan sedikit tergesa, ketika ia merasa kalau ada laki-laki yang mengikutinya. Rumah dokter Sera dengan tukang sate hanya berjarak lima rumah sehingga Mimin berjalan lebih cepat hingga akhirnya Mimin sampai juga di depan rumah dokter Sera.
"Jasmin ..." Mimin yang merasa namanya di panggil dan suara yang cukup familiar di telinga pun membalikan tubuhnya.
Deh! Ia terkejut ketika tahu siapa yang memanggilnya, saking terkejutnya hingga sate yang ia pegang pun jatuh.
Laki-laki yang jelas masih Mimin kenal pun mengembangkan senyumnya. Hatinya lega karena setelah sekian lama ia mencari sang adik akhirnya ia bisa melihatnya. Pantas saja ia kesulitan menemukan Jasmin, itu karena penampilan adiknya yang jauh berbeda.
Berbeda dengan Julio yang bahagia karena bisa bertemu dengan sang adik. Mimin justru menunjukan sifat sebaliknya, dari sorot matanya ia menujukan tidak suka dan tidak ingin bertemu dengan sang kakak.
Mimin mengambil kembali kantong makanan yang sempat jatuh. Ternyata gak berhamburan satenya karena diikat toh, makannya Mimin ambil lagi, sayang katanya apalagi belum lima menit.
"Maaf, saya tidak kenal." Mimin kembali mengayunkan kakinya menuju pintu gerbang. Yang jaraknya tidak terlalu jauh.
"Jasmin, di mana makam Ibu?" tanya Julio dengan suara serak. Wanita bercadar itu tidak memperdulikan apa ucapan laki-laki yang jelas dia sangat kenal. Meskipun dalam hatinya sedang sangat marah pada laki-laki itu. Jasmani mencoba abai dan tidak ingin menambah kebenciannya.
"Jasmin, Ayah ingin bertemu dengan kamu." Julio masih tidak kehabisan akal ia menggunakan ayahnya untuk menarik perhatian Jasmin, dan mereka bisa ngobrol. Julio ingin memperbaiki hubungan dengan adiknya.
Namun, nampaknya apa yang dilakukan oleh Julio tidak membuahkan hasil. Mimin masih acuh dan kali ini sedang berusaha membuka gerbang.
__ADS_1
"Min, bukanya kamu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Ibu, siapa yang membuat Ibu meninggal. Maaf kan kami."
Deg! Mimin tersentak kaget dengan ucapan Julio, tubuhnya pun langsung kaku seolah tangannya tidak bisa di gerakan. 'Maafkan kami' benar berarti kalau ibunya meninggal karena ulah ayahnya. Padahal ia ingin apa yang ia pikirkan tidak benar, tapi apa Julio seolah mengatakan kalau mereka memang pelakunya.
Terlebih ketika suara Julio semakin berat, Mimin bisa tahu kalau saudara laki-lakinya sedang menangis, dan itu semakin menguatkan dugaan kalau Julio menyesal atas semua perbuatannya.
"Temui Ayah, dia akan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi," lirih Julio dengan suara parau.
Mimin pun yang sangat marah pun membalikan badannya. Sama halnya dengan Julio yang menangis. Mimin pun sudah mengeluarkan butiran bening dari sudut matanya.
"Kenapa baru sekarang datang? Kenapa baru sekarang tanya di mana makam Ibu? Kenapa tidak ada di saat aku butuh? Kenapa tidak ada di saat terakhir pertemuan dengan Ibu? Apa sebegitu bersalahnyaa Ibu samai anaknya sendiri tidak mau datang dan menemuinya untuk terakhir kalinya? Kenapa meminta maaf di saat Ibu sudah tidak ada? Kenapa?" Mimin meluapkan kemarahannya hingga suaranya bergetar, sesak di dadanya sedang ia coba keluarkan dengan marah pada kakak laki-lakinya.
"Jangan mendekat. Kita bukan sodara. Kata maaf sudah tidak akan mengebalikan semuanya. Kenapa maaf sekarang disaat aku sudah tidak butuh kalian," balas Mimin dengan air mata yang semakin deras.
"Ayah ingin bertemu dengan kamu. Ayah selalu menunggu kamu pulang Ayah sedang sakit keras." Kali ini Julio berusaha menggunakan kondisi ayahnya untuk membuat Mimin mau memaafkan kesalahan mereka.
"Dia bukan ayahku. Bukanya dia dulu yang tidak mengakui aku anaknya. Lalu ngapain nunggu aku menemui dia. Kalian pikir aku bisa memaafkan dia yang membunuh ibuku. Di mana perasaan kalian meminta aku datang dan menemui seorang pembunuh," jerit Mimin, agar Julio tahu betapa sesaknya dadanya. Betapa susahnya kehilangan sosok ibu. Bagaimana menderitanya ketika rindu dengan seseorang yang sudah tidak bisa ditemuinya lagi. Betapa sakitnya ketika menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ibunya meninggal. Julio tidak akan tau itu.
"Kamu, tidak akan bisa tahu betapa susahnya hidup tanpa seorang ibu, kamu tidak akan tahu Julio, karena kamu tidak lahir dari rahim ibuku. Kalau kamu lahir di rahim ibuku pasti kamu tahu betapa beratnya hidup ini tanpa beliau. Dan sekarang kamu datang meminta aku menemui ayahmu. Itu sama saja kamu membuat luka baru di hidupku. Mana lagi yang ingin kamu lukai dari tubuhku. Mana lagi yang ingin kamu patahkan dari hidup ini. Setelah semuanya kamu ambil dan kamu lukai tubuh ini? Andai luka itu membekas dan bisa diliat mungkin tubuh ini cacat keseluruhannya dengan luka yang kalian buat. Luka ini, di sini dan itu masih ada sampai sekarang (Mimin menunjuk dadanya) Tapi sekarang kamu datang, dengan entengnya meminta aku menemui laki-laki itu. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku? Apa kamu tidak merasakan betapa sakitnya ibuku di sana dilukai sama kalian? Salah kami apa sama kalian, sampai kalian buat buat hancur impian kami?" Mimin menjerit, ingin ia maki sepuasnya, pukul dan lukai laki-laki yang ada di hadapnya. Namun, ia tidak bisa. Ia tidak tau bagaimana cara melepaskan sakit yang sudah bertahun-tahun membekas.
__ADS_1
"Aku tahu, maka dari itu aku selama ini mencari kamu, untuk meminta maaf, tapi baru sekarang aku menemukan kamu. Aku sangat menyesal, Min." Julio berusaha mendekat pada Mimin agar bisa meraih tangan adiknya.
"Maafkan aku." Julio hendak meraih tangan Mimin dan ingin memeluknya. Namun Mimin langsung menghindar sehingga Julio tidak berhasil memeluk adiknya.
"Jangan mendekat dan jangan sentuh aku, Julio! Pergi dari kehidupanku Julio! Kamu datang hanya membuat luka baru di hati ini, Julio. Kamu bukan kakakku. Kalina hanya orang asing. Jangan sakiti aku lagi. Aku mohon, aku lelah menangis, aku cape, aku ingin bahagia. Kalian bukan keluargaku. Kalian jahat." Mimin terus meracau dan memakin Julio. Hingga dokter Sera dan suaminya pun datang. Di belakangnya Orlin pun menyusul setelah mendengar keributan di depan rumah mereka.
"Mimin, ini ada apa?" tanya Dokter Sera dengan memeluk Mimin yang tampak sangat lemah.
"Dok, tolong usir dia, dia orang jatah, dia yang bunuh Ibu. Dok tolong jangan biarkan dia di sini ..."
"Mimin ...." Semua pun panik ketika Mimin jatuh pingsan. Dokter Sera pun lansung menatap laki-laki yang disebut pembunuh. Ia tidak tahu siapa laki-laki itu, tapi dokter Sera sangat yakin laki-laki itu adalah orang yang kenal Mimin jauh sebelum dirinya mengenal Mimin.
"Bantu angkat Mimin, kita bawa ke rumah sakit, denyut nadinya melemahkan."
Deh!!! Julio menatap Mimin yang mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Ada apa dengan adikku? Apa yang dia alami? Apa yang tidak aku tau?"
Bersambung....
__ADS_1
...****************...