Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kabar Bahagia


__ADS_3

Hadi dan Julio berjalan ke taman belakang rumah yang jauh lebih sejuk dari pada di dalam rumah mereka.


Dua laki-laki yang berjarak empat tahun itu pun duduk dengan bersebelahan dengan dipisahkan meja di tengah-tengah mereka.


"Aku harus mulai dari mana, tapi kamu sudah tahu kan kondisi Ayah seperti apa. Jujur aku takut Ayah tidak lama lagi akan menyusul Ibu. Jadi kalau aku minta kamu menikahi adikku saat ini juga, apa kamu siap?" tanya Julio, tidak ingin buang waktu laki-laki itu langsung menyampaikan niatnya mengajak calon adik iparnya keluar kamar ayahnya.


Sebenarnya Hadi pun tahu, kalau Julio akan berbicara masalah ini, tapi ia kembali teringat doa ibunya yang langsung meng'aminkan tadi ketika ia bilang kalau hari ini juga menikah ia siap.


"Ya Alloh kok doa orang tua manjur banget yah. Jadi nyesel kenapa Mamah doanya baru sekarang-sekarang. Mana sambil bercanda. Coba kalau dari kemarin-kemarin udah sah kali sekarang sama Mimin," batin Hadi. Laki-laki itu justru lupa kalau ia belum menjawab pertanyaan Julio.


"Untuk pernikahan sekarang yang penting sah dulu di mata agama. Setelahnya mungkin kamu dan Mimin bisa merayakan dengan pesta setelah dan mendaftarkan pernikahan kalian ke KUA untuk disahkan juga kepernikahan negara," imbuh Julio yang mengira kalau Hadi tidak setuju dengan idenya.


"Kalau memang itu yang terbaik, aku kapan pun itu menikahi adik kamu tentu sudah siap. Apalagi aku bukan laki-laki yang masih ABG umurku sudah matang untuk membina rumah tangga jadi kalau memang hari ini kamu ingin aku menikahi adik kamu. Akan aku kabarkan pada keluargaku segera untuk menyaksikan pernikahan kita," balas Hadi dengan yakin.


"Alhamdulillah, aku senang dengarnya. Nanti aku akan siapkan semuanya. Aku akan cari penghulu untuk nikahan kalian." Dari nada bicara dan juga raut wajahnya, Hadi bisa melihat kalau Julio sangat bahagia dengan pernikahan Hadi dan juga Mimin.


"Tapi ngomong-ngomong, ini kan aku nikahin adik kamu, bukanya kalau dalam tradisi aku pernah baca, kalau kakak boleh minta sesuatu pada adiknya untuk melangkahi nikah. Kira-kira kamu mau minta apa dari aku, agar aku bisa menikahi adik kamu?" tanya Hadi, ia tidak ingin Julio sedih dengan dirinya yang melangkahinya dan menikahi adiknya, tapi nggak ada basa basi memberikan barang untuk dijadikan langkahan.


Namun, justru Julio terlihat kaget dengan pertanyaan Hadi. "Aku nggak tahu ada tradisi seperti itu. Dan lagi aku tidak ingin apa-apa dari kamu. Yang aku ingin tentu kamu bisa membahagiakan adikku, dan jangan sakiti dia," ucap Julio dengan serius. Yah, setiap kakak laki-laki pasti ingin adik perempuanya mendapatkan calon suami yang baik dan bisa menyayangi adiknya dengan tulus dan tidak menyakiti hati adiknya. Karena akan sangat sakit untuk seorang kakak melihat adik perempuanya disakiti.


"Kalau itu sudah pasti, aku akan bahagikan adik kamu semampuku. Akan aku obati luka-lukanya hingga ia kini yang ia tahu hanya bahagia. Sudah cukup kesedihanya. Kini tinggal ia bahagia dengan hudupnya. Jangan lagi ada air mata yang keluar dari mata indahnya karena ia merasa sedih. Dia hanya boleh menangis karena bahagia." Janji Hadi di hadapan calon kakak iparnya.

__ADS_1


"Aku senang dengan jawaban kamu," balas Julio. Ia justru terharu dengan jawaban dari calon adik iparnya. Terharu sekaligus malu, karena justru ia kalah perduli dengan calon adik iparnya.


"Yah, karena ketika laki-laki sudah berani menikahi wanita, itu tandanya aku mengambil alih tanggung jawabnya dari orang tua dan sodara-sodaranya, jadi itu sudah jadi pertimbangan aku. Lagi pula aku rasa tidak ada di dunia ini seorang laki-laki yang ingin istrinya sedih."


Siapa yang tidak terharu dengar jawaban Hadi, Julio saja sebagai laki-laki terharu sekaligus malu, karena diumurnya yang sudah menginjak tiga puluh empat tahu, ia belum kepikiran sama sekali bakal menikah dengan wanita mana pun. Dia tidak memiliki pemikiran seperti adik iparnya. Namun, malam ini ketika mendengarkan nasihat-nasihat dari Hadi, Julio jadi kepikiran ingin juga memiliki tanggung jawab pada wanita. Namun, kembali ia dihantui rasa takut, takut kalau tidak bisa membahagiakan wanita yang sudah diambil tanggung jawabnya dari orang tua.


"Ya udah kalau gitu aku akan cari tokoh agama atau penghulu yang akan menikahkan kalian."


Hadi pun mengangguk dengan semangat. "Aku juga mau mengabari ke dua orang tuaku untuk datang menyaksikan pernikahan kita.


Julio mengangguk dan pamit pergi. Sedangkan Hadi bingung. Mau nikah belum beli perhiasan dan juga mas kawin. Namun, sedetik kemudia ia mengulas senyum, karena pernikahanya sangat mendadak. Ia membayangkan kalau sang ibu dan papahnya pasti kebingungan dikira candaan saja.


Tanpa pikir lama Hadi pun memilih menghubungi ke dua orang tuanya. Namun, justru tangan Hadi lebih dulu menekan nomer ponsel Aarav. Yah, laki-laki itu juga tentu ingin sebagai sahabat Aarav hadir dipernikahanya.


[Hemz...] jawab Aarav begitu mengangkat telpon Hadi.


[As'salamualaikum .... Bambang,] ucap Hadi menyindir Aarav.


[Iya waalaukumus'salam ... Gue lagi sibuk gara-gara loe berdua nggak masuk kerja, jadi jangan ganggu gue,] balas Aarav dengan ketus.


[Justru gue telpon mau ganggu kerja loe. Bisa pulang nggak. Ini penting,] pancing Hadi, laki-laki itu sih sudah yakin kalau Aarav pasti akan merepet ketika tahu kalau Hadi akan menikah dengan Mimin dadakan, maklum kekuatan bibir papah Aarav itu melebihi kekuatan bibir emak-emak yang sedang menggosipkan anak tetangganya yang berangkat malam pulang pagi.

__ADS_1


[Gue lagi serius kerja Di, janganlah loe ganggu kerjaan gue,] balas Aarav dengan nada bicara yang lemah. Iya sih Hadi maklum banget kalau Aarav pasti sangat keteteran karena Hadi dan Mimin tidak masuk bekerja. Mereka tidak memiliki cadangan pekerja sehingga ketika Hadi dan Mimin tidak bekerja maka Aarav akan sangat keteteran.


[Gue sekarang mau nikah sama Mimin, kalau loe ada waktu datang. Buat saksi pernikahan gue. Tapi kalau sedang sibuk ya nggak datang, enggak apa-apa,] balas Hadi. Tidak apa-apa sih tidak datang sekarang. Yang penting saat resepsi nanti Aarav datang.


[Hah, loe ini sedang bercanda?] tanya Aarav.


[Gue serius, ayahnya Mimin kondisinya semakin lemah dan Julio menyarankan kalau kita nikah secepatnya. Makanya dia sekarang sedang cari pemuka agama untuk menikahkan kita. Agar sah dulu di mata agama.] balas Hadi menjelaskan kronologi Hadi dan Mimin akan menikah buru-buru.


[Hah, Mimin udah ketemu dengan ayahnya?] tanya Aarav lagi, seolah laki-laki itu tidak percaya. Baru tadi pagi ia ingin menghajar Julio, tapi siang ini justru diberi kabar kalau Hadi akan menikah.


[Udah, dan Mimin juga nampak bisa mengontrol emosinya.]


[Kok cepat banget, bukanya Mimin tadi pagi masih di rumah sakit. Dan loe juga baru pulang dari rumah sakit. Lah nanti kalian bikin mochi gimana? Ah loe itu ada-ada aja sih. Mana enak malam pertama ditunda.] Aarav justru terkekeh dari balik telepon ketika membayangkan kalau Hadi nahan si jojon biar nggak ngajak perang.


[Sue loe, jadi mau datang nggak? Kalau nggak juga nggak apa-apa sih. Nggak maksa, tapi ya paling gue tandai aja kalau loe emang teman nggak tau diri.]


[Kayaknya lebih baik nggak datang deh, biar ditandai temen nggak tau diri, jadi kesempatan untuk merepotkan semakinĀ  kecil.] Aarav kembali tertawa renyah. Ia langsung membereskan meja kerjanya tidak mau dong dia menyaksikan Hadi nikahi mantan pacarnya. Pengin tahu apakah Hadi akan lancar untuk mengucapkan ijab kabulnya, atau justru gerogi. Tapi rasanya kalau gerogi sangat tidak masuk akal yah apalagi Hadi kan juga bukan pertama kali nikah jadi pasti lebih lancar lah.


[Ya udah gue share lokasi rumah Mimin yah. Jangan lupa bawa kado dan kondanganya dengan saham.]


Nut ... Nut ... sambungan telepon sengaja Hadi putus. Sudah tahu betul watak Aarav pasti sekarang sedang ngomel di tempat yang berbeda.

__ADS_1


Bersambung. ....


__ADS_2