
[Kenapa tidak diangkat? Bukannya lagi online? ] Itu adalah pesan yang Mimin kirimkan.
"Astaghfirullah, aku baru ingat, Mimin bisa lihat kalau Hadi lagi online." Aarav menepuk jidatnya. Ia heran kenapa tadi malah milih main game dengan ponsel sahabatnya. Tidak kepikiran sama sekali kalau Mimin akan telpon.
"Bangunkan Hadi gak yah?" Aarav pun mulai bingung, satu sisi kasihan karena Hadi baru istirahat kalau dibangunkan ganggu tidurnya, tapi kalau gak diangkat juga Mimin pasti kepikiran macam-macam.
Setelah berpikir dengan matang akhirnya Aarav mengangkat telpon dari Mimin, ia takut nanti kalau tidak diangkat malah salah sangka, dan jadi masalah baru untuk Hadi.
[Assalamu'alaikum? Mas kok belum tidur?] Itu adalah kata-kata yang pertama kali Mimin ucapkan dari balik teleponnya.
[Wassalamu'alaikum. Min, ini aku Aarav,} balas Aarav dengan suara yang lirih. Karena takut suara bisingnya mengganggu istirahat Hadi. Ia bajakan memiliki mengangkat telpon di sofa yang cukup jauh dari tempat tidur Hadi.
Deg! Mendengar Aarav yang mengangkat telpon Hadi, Mimin pun langsung berpikir yang tidak-tidak. Ia yakin mimpi buruk yang ia alami tadi adalah suatu tanda kalau Hadi sedang tidak baik-baik saja.
[Rav, ko ponsel Hadi ada di kamu, apa Hadi tidur di rumah kalian, atau ....] Mimin memastikan kalau pikiran buruknya tidaklah benar.
[Iya, Hadi lagi tidur ....] Aarav pun menjeda ucapannya ia ragu apakah akan mengatakan yang sebenarnya terjadi dengan Hadi atau tetap merahasiakannya dulu, tapi kalau dirahasiakan juga nantinya akan tahu.
[Min, sebenarnya aku lagi di rumah sakit. Hadi lagi sakit dan sekarang dia baru tidur karena habis minum obat.] Akhirnya Aarav pun memutuskan kalau ia mengatakan yang sebenarnya terjadi. Meskipun Mimin panik tapi tidak masalah, mungkin dengan Mimin tahu Hadi akan ada yang merawat dan mendoakan agar cepat sembuh.
Mendengar ucapan Aarav tubuh Mimin pun langsung lemas. Mimpi buruknya tadi memang benar-benar seolah memberikan pertanda kalau calon suaminya sedang butuh doa darinya.
[Ngomong-ngomong Mas Hadi sakit apa Rav?" tanya Mimin dengan suara yang semakin lirih, Aarav pun tahu kalau Mimin sedang kaget dan sedih mendengar kabar buruk ini.
[Aku belum bisa menjawab Min, karena hasil lab belum keluar untuk info lebih akurat sakitnya apa mungkin bisa ditunggu sampai besok.] Untuk sakit Aarav dan mengenai operasinya Aarav tidak ingin memberi tahu Mimin, karena pasti akan kepikiran untuk Mimin. Biarkan Mimin tahu untuk kondisi Hadi lebih baik besok saja.
[Tapi kondisi Mas Hadi gimana?] tanya Mimin, perasaanya semakin tidak tenang.
__ADS_1
[Tadi sudah dikasih obat oleh perawat, sekarang sedang tidur. Kayaknya sudah mendingan.]
[Apa ini ada hubungannya dengan sakit perut tadi gara-gara angkat Iko?] Pertanyaan yang sama dari Mimin dan Lydia.
[Tidak, mungkin memang sebenarnya Hadi sudah merasakan kalau badanya tidak sehat, dan angkat Iko tidak ada hubungannya dengan sakitnya," jawab Aarav sama seperti yang ia berikan jawaban pada Lydia. Karena memang sakit yang Hadi alami tidak ada hubungannya dengan mengangkat tubuh Iko.
[Syukurlah, kalau sekarang kondisinya udah baikan. Apa aku perlu ke sana untuk gantian jaga mungkin kamu butuh istirahat?] tanya Mimin, sebelum ia memutuskan menjenguk calon suaminya.
[Tidak usah, aku juga baru datang. Mata masih seger makanya ini lagi main game, dari ponselnya Hadi. Kamu istirahat aja, dan doakan Hadi biar cepat sembuh. Jangan terlalu panik, mungkin Hadi karena kurang istirahat aja kok. Nanti juga sembuh.]
Setelah memastikan kalau Aarav bisa jaga Hadi sendirian Mimin pun langsung beranjak dari atas kasurnya menuju kamar mandi untuk bersuci. Ia benar-benar memanfaatkan waktu sholat malam ini untuk meminta kesembuhan untuk calon suaminya.
Setelah ia mendoakan Hadi, Mimin pun kembali istirahat meskipun pikirannya tidak sepenuhnya tenang, tetapi ia mencoba mengistirahatkan tubuhnya sebelum ia nanti bangun lagi di pagi hari dan akan ke rumah sakit untuk menjenguk Hadi terlebih dahulu sebelum berangkat kerja.
*********
Sedangkan di rumah sakit. Bertepatan dengan Aarav mematikan sambungan telepon dari Mimin, Hadi pun membuka matanya.
Aarav berjalan menghampiri ranjang Hadi. "Calon bini loe." Aarav pun mengembalikan ponsel sahabatnya.
"Mimin?" tanya Hadi cukup kaget.
"Lah, emang calon bini loe ada berapa Bambang? Ya Mimin lah, kecuali kamu punya calon bini lima mungkin gue harus sebutkan dengan detail siapa yang telpon," balas Aarav setengah berkelakar.
"Mimin tau kalau gue sakit?" tanya Hadi dengan nada bicara yang terdengar cemas.
"Kenapa emang? Loe ingin Mimin tidak tahu kalau loe sakit?" Aarav duduk kembali di samping Hadi, kali ini main game dengan ponsel sendiri.
__ADS_1
"Untungnya apa gue berbohong kalau loe nggak sakit, cepat atau lambat Mimin juga akan tahu kalau loe sakit, jadi gue rasa tidak ada salahnya kalau gue katakan yang sebenarnya," ucap Aarav dengan percaya diri.
"Terus dia gimana reaksinya?" tanya Hadi dengan kepo.
Aarav mengalihkan pandanganya menatap pada Hadi. "Ya menurut loe, kalau loe tahu Mimin tiba-tiba sakit gimana? Pasti kaget kan? Ya itu yang Mimin rasakan. Tapi tadi gue sudah bilang kalau loe sudah baikan."
"Dia mau ke sini?" Hadi terus mencecar Aarav dengan banyak pertanyaan.
"Mau loe gimana? Mimin datang ke sini malam-malam kaya gini?" tanya Aarav dengan bibir menyungging sebelah.
"Ya jangan lah, ini kan sudah larut malam, gue cemas malah kalau dia datang ke sini," jawab Hadi dengan nada yang ketus.
"Ya itu yang gue katakan pada Mimin, tidak usah ke sini karena loe sudah baikan. Cukup doakan dan tetap tenang. tenang gue bisa diandalkan jaga loe."
"Serius kan loe ngomong kaya gitu?" Hadi justru sekarang yang menguji kesabaran Aarav.
"Loe pikir gue godain Mimin. Gila aja, kalau gue berani godan Mimin, selain pawangnya galak, ekor gue juga udah tiga. Mikir ribuan kali kalau mau godain cewek lain." Aarav membalas dengan nada yang ketus.
"Ya bukan gitu maksud gue. Tapi terima kasih yah sudah jagain gue. Sekarang gue mau ke kamar mandi kalau loe mau tidur-tidur aja, gue udah nggak ngantuk." Hadi pun dengan dibantu oleh Aarav berjalan ke kamar mandi. Sedangkan Aarav yang sebenarnya masih cape dan ngantuk pun memilih naik ke ranjang Hadi. Mungkin merebahkan di ranjang yang cukup luas sebentar bisa membuat badanya tidak terlalu cape.
Menit terus berganti tanpa terasa Aarav justru terlelap dengan pulas di atas ranjang pasien. Sedangkan Hadi yang baru ke luar dari kamar mandi hanya terkekeh dengan kelakuan sahabatnya.
Berhubung Hadi baik, ia pun memilih duduk dengan menonton acara televisi untuk menghilangkan kejenuhannya. Hingga pagi menyapa Hadi tidak juga kembali tertidur.
Jadi konsepnya Hadi yang menjaga Aarav di rumah sakit ini mah. Katanya bisa diandalkan jagain Hadi yang lagi sakit. Bukti menunjukkan papah Aarav malah merajut mimpi.
Bersambung....
__ADS_1
Teman-teman sembari nunggu kelanjutan papah Hadi dan papah Aarav yuk mampir ke novel bestiee othor di jamin bikin baper.