
Padahal udah atuh Min, kalian kan sudah deket banget. Nikah ajah, sekalian biar bisa jaga Mas Hadi juga, mungkin kalau ada yang menjaga gak akan kecolongan lagi. Lagian kalau udah ada niat baik disegerakan godaan setan banyak." Lydia yang melihat sahabat sudah sangat dekat dengan Hadi pun takut kalau malah nantinya akan jadi fitnah.
Terlebih Mimin dan Hadi kerja satu tempat kerjaan yang sama. Belum lagi Jadi juga sering antar jemput Mimin, semakin sering orang tentu berpikir yang tidak-tidak. Apalagi dari pakai Mimin juga sangat mencerminkan wanita yang sangat paham peraturan dalam islam. Meskipun awal Mimin memakai hijau dan penutup wajah adalah salah satu untuk pengobatan, tapi pikiran orang pasti tidak akan bisa dicegah. mereka akan beranggapan kurang baik.
Mendengar nasihat Lydia Mimin dan Hadi pun saling pandang.
"Gimana?" tanya Hadi, karena laki-laki itu kalau mau menikah saat ini juga juga sudah siap, tapi yang selalu menahan dengan alasan belum siap adalah Mimin.
"Emang apa yang kamu pikirkan Min?" tanya Lydia ketika melihat kalau sahabatnya justru selalu bingung kalau ditanya dengan kesiapannya untuk menikah.
"Jujur kalau aku mah ikut Mimin saja. Tidak ingin memaksa juga kalau Mimin belum siap," jawab Hadi. Meskipun laki-laki itu juga belum tahu sampai kapan Mimin akan ragu terus. Padahal dokter Sera juga sudah menasihati dengan hal yang sama dengan yang Lydia katakan. Namun, belum berhasil membuat hati Mimin yakin dan siap untuk menikah lagi.
"Aku takut kalau kamu terlalu lama menunda malah nantinya kamu kembali dilanda keraguan. Cobaan menikah itu banyak termasuk godaan syetan agar kita tidak menikah, karena dengan menikah kita dapat pahala yang banyak dan terhindar dari godaan syetan, dan mungkin saja bukan Syetan menghasut agar kamu jangan menikah. Lebih baik pikirkan lagi deh, Iko juga udah gede. Kayaknya kalau alasan Iko tidak mungkin. Apalagi alasan David, bukanya urusan kamu dan David sudah selesai, kamu sudah benar-benar ingin lepas dari David kan? Bukan kamu sedang menunggu yang tidak seharusnya kamu tunggu?" tanya Lydia, karena ternyata cara berpikir Lydia dan Mimin cukup berbeda jauh. Di saat Lydia dulu tidak ingin membuang waktu karena takut nanti syetan keburu menghasut dan merubah pikirannya dirinya maupun Aarav, justru pikiran Mimin selalu masih ragu saja.
Mimin mengangkat wajahnya, dan menatap Lydia. " Maksud kamu menunggu yang tidak seharusnya ditunggu itu apa? Aku menunggu David gitu? Gila kali kalau aku masih memberatkan laki-laki itu. Aku hanya masih mempersiapkan diri, banyak yang mengganggu dalam pikiran aku." Lagi, Mimin hanya bilang masih ada yang mengganggu dalam pikirannya untuk menikah, tetapi ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia ragukan.
Namun, Hadi yakin dengan sangat kalau apa yang sebenarnya menghalangi dan dalam keraguan Mimin adalah dalam bawah sadar perasaanya mungkin wanita itu sangat ingin memperbaiki hubungan dengan ayah dan juga abangnya. Hadi mencoba mengerti apa yang Mimin rasakan, dia tidak bisa menjadikannya, karena dalam hatinya ada bongkahan kemarahan sekaligus rasa rindu anak terhadap orang tuanya, menjadi satu.
Sudah berapa kali Hadi bahas soal menikah dan Mimin selalu ingin menunggu, tetapi padangan matanya kosong dan seperti ada air mata yang sedang wanita itu tahan, seperti halnya sekarang ini. Mungkin dia tidak bisa mengartikan perasaan apa yang ada dalam dirinya, tetapi Hadi mencoba mengerti bagaimana hati Mimin. Lagi pula Hadi juga sedang mencoba mencari tahu di mana calon mertua dan calon iparnya.
Berharap saja sebelum pernikahannya mereka sudah bisa dipertemukan dan sudah bisa menikahkan Mimin langsung. Serta bisa saling memaafkan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Min, jangan terlalu diambil pusing. Jujur aku sekarang juga ingin benar-benar sembuh dulu baru menikah. Aku ingin bisa menjaga keluargaku dengan kesehatan. Mungkin ini waktunya aku untuk fokus dulu dengan kesehatanku," ucap Hadi yang tidak tega melihat Mimin selalu berat untuk mengatakan apa yang sedang ia rasakan. Benci, marah dan rasa rindu yang jadi satu sehingga Mimin tidak bisa mengatakannya dengan jujur.
"Terima kasih Mas, nanti aku coba untuk kembali mempertimbangkan saran Lydia," balas Mimin.
Entah berapa kali Mimin selalu berkata seperti itu, mungkin benar apa yang dikatakan Hadi, dalam hati Mimin juga sebenarnya ia bukan tidak mau segera melangsungkan pernikahan dengan Hadi, tetapi dalam hati Mimin ia sedang mencoba berdamai dengan papah dan abangnya.
Sebelumnya Mimin memang sudah bertanya pada Abah tentang pernikahan yang tidak direstui oleh seorang wali yang sah baik ayah maupun abang dan keluarga ayahnya. Sedangkan Mimin sendiri pernikahan pertama sudah sangat menyesal karena tidak meminta restu dulu dengan kedua wali yang jelas ia tahu masih hidup.
Justru Mimin berbohong kalau kedua walinya yang ia punya, dia katakan telah meninggal dunia. Kini Mimin ingin dalam pernikahannya dengan Hadi ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, kalaupun ia dinikahkan oleh wali hakim setidaknya ada persetujuan dari sang papah ataupun abangnya.
Namun, hatinya sedang berusaha berdamai dengan segala kebenciannya dengan orang yang sangat ia salahkan dalam kepergian ibunya. Nyatanya tidak semudah dengan ucapan maaf baru mengingat wajah ayah dan juga abangnya ia kembali dikuasai dengan kebencian.
"Ya udah kalau gitu sarapan dulu yu. Iko juga belum sarapan loh." Mami Misel kembali mencoba menghangatkan lagi agar tidak canggung.
Iko menatap Lydia, seolah ia sedang meminta izin dengan bundanya.
"Ya udah, Iko makan sama Mamah." Lydia memberikan piring agar Mimin mengambilkan makan untuk anaknya. Pagi ini pun sebelum berangkat sarapan bersama di rumah sakit.
"Kamu, makan yang banyak Di. Operasi butuh banyak tenaga," ucap Aarav dengan santai. Sontak saja Mimin yang tidak tahu kalau Hadi akan menjalani operasi pun langsung kaget dengan ucapan Aarav.
"Mas Hadi mau operasi?" tanya Mimin menatap Hadi yang dari tadi lebih suka makan tim telur yang Mimin buatkan bubur hanya beberapa sendok saja, sedangkan tim telur sutra sudah hampir habis.
__ADS_1
Aarav yang memang mengira kalau Mimin sudah tahu pun hanya menatap Hadi. Heran kenapa tidak memberitahukan Mimin, dengan kondisi sebenarnya.
"Iya, tapi belum tahu kapan. Sedang nunggu hasil lab," balas Hadi. berhubung Aarav sudah mengatakan jadi Hadi pun jujur dengan keadaanya sebenarnya.
"Sakit apa? Kenapa nggak ngomong?" cecar Mimin, dari nada bicaranya terdengar cukup kecewa, karena ia seperti orang asing yang sengaja tidak diberitahukan Hadi sedang dalam sakit yang cukup serius.
"Ada infeksi di usus besar, nanti bakal dilakukan pembedahan, dan memotong usus yang bermasalah. Maaf aku nggak kasih tahu kamu, karena aku tidak ingin kamu cemas. Tapi kamu tenang saja orang tuaku sedang ke sini, jadi aku aman ada yang jaga. Aku hanya butuh istirahat cukup," balas Hadi yang tahu kalau Mimin tentu cukup kecewa dengan rahasia yang ia lakukan.
Mendengar jawaban Hadi, Mimin mencoba mengulas senyum. "Ya udah kalau gitu semoga semuanya berjalan dengan lancar. Maaf hanya bisa mendoakan. Karena Mimin harus bekerja," ucap Mimin dengan bersiap akan berangkat kerja.
Hadi menatap Mimin, ia merasa Mimin semakin sensitif entah mau datang bulan atau dia memang tersinggung dengan Hadi yang tidak jujur mengenai sakitnya?
"Iya tidak apa-apa. Aku Terima kasih banyak sudah mendoakan. Kamu kerja hati-hati yah. Rav nitip Mimin kalian berangkat bareng ajah." Hadi menatap Lydia agar mengizinkan suaminya berangkat kerja bareng Mimin.
"Iya gak apa-apa kan satu kantor bareng ajah." Lydia tidak keberatan dengan Mimin menumpang mobil suaminya.
"Enggak usah, aku nanti mau mampir kesuatu tempat kok. Aku duluan ajah yah." Mimin langsung pamitan dengan sahabat dan semuanya termasuk Hadi.
"Di, Mimin kenapa sih? Kok aku lihat beda banget?" tanya Lydia, sembari setengah berbisik.
"Entah Lydia, aku juga merasa begitu." Hadi masih kepikiran dengan sikap aneh Mimin.
__ADS_1
"Udah jangan kamu pikirin. loe fokus sembuh aja dulu. Masalah Mimin mungkin dia lagi datang tamu bulanan." Aarav menepuk pundak Hadi dengan pelan.
"Gue pamit kerja. Semoga operasinya lancar dan jangan kepikiran yang lainya. Loe pasti bisa melewati ini."