
Aku merasakan putus asa ketika sudah beberapa kali aku menghubungi dokter Sera, tetapi tidak juga dokter Sera mau memberitahukan di mana alamat Mimi mondok.
[Maaf Lydia, bukan saya tidak mau memberitahukan keberadaan Mimin, tetapi Mimin yang belum juga mau ditemui oleh siapa pun. Dia selalu bilang malu dan malu dengan kondisi fisiknya] Itu adalah pesan kesekian kali dokter Sera yang belum juga mau memberitahukan di mana keberadaan Mimin, yah ini adalah dua hari paska aku tahu syarat-syarat untuk adopsi. Aku memutuskan untuk menghubungi dokter Sera agar aku bisa meminta kerja sama dengan Mimin, sekalin aku juga ingin meminta izin untuk persetujuan memberitahukan jati dirinya pada mas suami.
Cepat atau lambat semuanya akan tahu kalau Tiko adalah putra dari Mimin, tetapi aku juga yang sudah berjanji kalau tidak akan membongkar jati diri Mimin, ingin menanyakan izin dari Mimin, agar Mimin tahu kalau aku masih bisa menepati janjiku, aku tidak mau Mimin merasa kalau aku tidak tepat janji, dan ketika aku akan memberitahu mas suami maka atas seizinya juga, dan tentu aku juga harus jujur siapa suamiku sebenarnya.
Setelah dua hari aku berpikir, aku pun sudah memutuskan dengan bulat kalau aku akan saling terbuka dengan Mimin, semuanya aku lakukan demi Iko. Demi aku mendapatkan hak asuh Iko, aku tidak tahu apakah Mimin akan bertahan sampai satu tahu, dua tahu atau sampai Iko besar. Sehingga aku ingin sebelum Mimin meninggal (Karena umur tidak ada yang tahu) Aku ingin menemui Mimin, dan ngobrol tentang Iko dan tentang izin dia untuk aku adopsi Iko. Minimal ada rekaman dan apabila memang Mimin tidak berumur panjang aku ada bukti yang menguatkan kalau memang Mimin tidak mengizinkan aku untuk memberikan putranya pada keluarga mantan suaminya. Syukur-syukur tentu Mimin berumur panjang dan sembuh agar keluarga mantan suaminya menyesal pernah meminta Mimin menggugurkan kandungannya, tentu aku berharap Mimin jangan kembali memaafkan David. Biarkan David menyesal dan hidup dalam penyesalan. Jahat? Yah entahlah aku justru merasakan seolah David menyakiti aku.
Saat ini aku harus memiliki bukti yang kuat agar mantan suami Mimin tidak mengambil Iko. Namun, nyatanya aku tidak juga mendapatkan izin untuk tahu di mana tempat Mimin berada. Sehingga aku harus lebih sabar lagi.
[Dok, tolong katakan pada Mimin, aku ingin bertemu Mimin karena Iko, dan kalau Mimin sudah siap untuk aku temui, dokter segera beri alamat Mimin aku akan datang hanya berdua dengan Iko, dan aku ingin menemui Mimin demi keperluan persayaran adopsi.] Yah, aku pun ceritakan semua syarat-syarat adopsi yang mana mas suami sempat katakan dua hari yang lalu.
[Yah saya tahu Lydia, untuk mengadopsi anak memang sedikit sulit dan saya akan berusaha untuk menasihati Mimin agar mau ditemui sama kamu. Aku pun tidak bisa sembarangan memberi alamat Mimin, mengingat Mimin memang dari awal sudah mewanti-wanti saya untuk tidak memberitahukan alamat tempatnya bersembunyi.]
[Iya Dok saya berharap kalau Dokter mau membantu saya, dan begitu pun Mimin dia mau bertemu dengan saya agar saya memiliki surat yang kuat agar Iko tidak jatuh ke tangan keluarga mantan suaminya.]
__ADS_1
Dan setelah aku bercerita panjang kali lebar, kini aku pun sudah sedikit tenang karena dokter Sera mau membantu menasihati Mimin agar mau bertemu dengan aku, dan kini aku tinggal menunggu kabar baik dari dokter sera.
Seperti biasa setiap Iko tidur siang aku akan menggunakan waktu ku untuk mengecek pekerjaan, aku ingin tetap menghasilkan uang agar aku bisa membantu Mimin tanpa memakai uang-uang mas bojo meskipun aku tahu, mas suami tidak akan keberatan kalau aku memakai uangnya apalagi untuk membantu sesama, tetapi aku ingat sekali aku pertama kali kenal bisnis tempat fitness adalah dari Mimin, dan dengan aku mengolah bisnis itu selain aku yang memiliki perekonomian yang cukup aku juga semakin banyak membuat lapangan pekerjaan, dan aku tidak ingin lupa kalau Mimin lah yang membuat aku bisa mapan seperti saat ini.
Yah, aku bisa bilang mapan, karena setiap bulan aku juga merasakan masukan uang dari bisnis itu, dan aku punya tabungan sendiri yang cukup banyak untuk aku pribadi dan itu tandanya aku bisa membantu memberikan biaya pengobatan Mimin dengan uang-uang pribadiku.
"Iko, yang baik kita talun ke bawah yah, saatnya masak untuk buka puasa nanti. Apa Iko mau bantu," ucapku sembari menirukan suara anak kecil. Setelah dua jam aku bergelut dengan laporan-laporan setiap tempat finest aku pun melanjutkan pekerjaan aku seperti biasanya yaitu menyiapkan bukaan puasa.
Yah hampir setiap hari sebisa mungkin untuk urusan masak aku yang mengerjakannya, meskipun sembari sibuk dengan jagoan yang tidak jarang bosan dan menangis, tetapi ada Bi Lilis dan Mbok Jum yang siap membantu keriwehan di dapur.
Iko lagi bermain dengan Papah, dan Iko lagi ngapalin wajah Papah tuh...
__ADS_1
"Mas, kamu ada masalah?" tanyaku ketika aku lihat wajah mas suami tidak seperti biasanya. Kali ini terlihat seperti murung dan lemas. Biasanya juga lemas sih tapi tidak seperti hari ini yang jauh lebih lemas.
"David beneran batalin kerja sama kita," balas mas suami meskipun ngomongnya terlihat tenang tetapi dari wajahnya tetap saja mas suami seperti kesal.
Aku langsung mengambil duduk di samping mas suami, "Mas rugi dong?" tanyaku dengan serius, yah aku tahu kalau mas bojo bilang baik-baik saja, tetap saja dari wajahnya sudah jelas kecewa.
"Kalau rugi, lebih ke rugi waktu dan juga yang bikin malas adalah dia memutuskan kerja sama tanpa sopan santun, alias hanya asistennya yang datang dan langsung meminta kerja sama putus begitu saja, diminta alasannya mereka tidak memberikan alasan yang pasti. Kesel sih sebab kita memikirkan usaha sudah lama, dan seperti ada kecurangan yang mana dia seperti akan tetap melanjutkan pembangunan toko dengan konsep yang sama, tetapi menyingkirkan Mas, jadi siapa yang nggak kesal, sedangkan konsep pembangunan toko dan lain sebagainya, kebanyakan ide dari mas, dua minggu meeting ini itu tiba-tiba pas sampai detik pembangunan disingkirkan. Padahal kalau dia profesional jangan melibatkan urusan pribadi dengan bisnis, tapi ya sudahlah, kalau memang tuduhan Mas benar semoga saja dia tahu betapa sulitnya mencari ide, dan juga semoga saja dengan putus kerja sama dari David Mas dapat pengganti yang jauh lebih baik lagi."
"Amin..." Aku merasakan kesedihan itu, bukan hanya sedih, tetapi juga ada rasa bersalah yang aku rasakan.
"Maaf yah Mas, ini semua pasti gara-gara Lydia, gara-gara ucapan Lydia kemarin Pak David jadi membatalkan kerja sama kita," ucapku dengan wajah yang mengiba dan bersalah. Yah andai aku tidak memancing kemarahan Pak David pasti kerja sama mas suami tidak akan gagal, dan mas suami tidak akan merasakan kesal sampai wajahnya terlihat BT.
"Bukan kesalahan kamu Sayang. Kalau Mas memang melihat sepertinya kalau David itu memang tipe orang yang licik, tapi kalau pun dia melakukan karena omongan kamu, biarin saja, lebih baik Mas disingkirkan sekarang dari pada nantinya sudah semakin rugi banyak. Kamu doakan saja yah, biar Mas dapat pengganti David yang jauh lebih baik untuk urusan kerja sama, insyaAllah kalau rezeki akan kembali dapat pengganti David," ucap Mas suami dengan menatap Iko.
"Amin, Lydia pasti doakan terbaik untuk Mas Aarav, mungkin memang Pak David bukan yang terbaik untuk teman bisnis Mas Aarav sehingga Tuhan jauhkan Mas dari beliau. Tetapi Tuhan nggak tidur, kalau niatnya jelek pasti dapat balasan juga," balasku, jujur di hati ini rasanya semakin gondok yang ber doubel-doubel kesel dengan kelakuan David.
__ADS_1
Masalah Mimin saja udah bikin aku kesal. apalagi sekarang ditambah David membuat masalah dengan mas suami makin kesel dong hati ini.
Bersambung....