Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Salah Paham


__ADS_3

"Iko.... Kake, Nenek dan Tante Olin kangen Iko." Dokter Sera dan anak serta suaminya sangat antusias saat Iko datang. Bakan anak kecil itu seperti piala bergilir semuanya ingin gendong. Mimin dan Hadi hanya menyimak dengan senyum bahagia karena melihat Iko yang banyak disayangi oleh orang-orang.


"Iko juga kangen. Tante Olin nanti main kaya dulu lagi yah." Iko memang sangat dekat dengan anak dokter Sera.


"Main apa bola, atau ular tangga?" tanya Olin mengingat semua dimainkan kalau ada Iko dibrumahnya.


"Semuanya..." Tangan Iko direntangkan menunjukan kalau ia ingin main semua permainan.


"Ok deh Pangeran ...." Olin menunjukan  hormat pada Iko, yang langsung disambut gelak tawa oleh anak tampan itu.


"Kalau gitu, aku pulang dulu yah, nanti kalau ada apa-apa kamu infoin aku aja," ucap Hadi setelah memastikan Iko dan Mimin sampai di rumah dokter Sera. Memang Mimin yang mau untuk tetap tinggal di rumah dokter Sera. Di mana keluarganya yang sudah menganggap Mimin seperti anaknya juga. Meskipun Mimin sudah sangat mapan secara ekonomi dan mampu untuk menyewa rumah sendiri, tetapi Mimin lebih nyaman untuk tetap tinggal dengan keluarga dokter Sera.


Ia merasakan seperti memiliki keluarga baru, yang tidak pernah ia rasakan dari keluarganya sendiri.


"Baik Mas, terima kasih yah, karena sudah ngantar sampai ke rumah Lydia dan balik ngantar sampai sini," balas Mimin, dengan suara lembutnya.


"Sama-sama aku lebih suka seperti ini karena aku bisa memastikan kalian sampai dengan selamat dan aku bisa tenang."


Pandangan Mimin dan Hadi saling bertemu sesaat, lalu Mimin memutus kontak pandangan itu, dan menunduk dengan wajah yang terasa panas.


"Besok kamu berangkat jam berapa?" tanya Hadi.


"Hah, berangkat kerja?" Mimin justru terkejut dengan pertanyaan Hadi, dan kembali melemparkan pertanyaan.


"Iya dong emang berangkat ke mana?"


"Oh kirain. Besok karena mau ke rumah Lydia dulu antar Iko pulang, mungki jam enam akan berangkat."


"Kalau gitu saya akan jemput, jadi kalian tunggu aku jangan pergi dulu."


Mendengar ucapan Hadi, Mimin langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak usah Mas, nanti kan bisa diantar dokter Sera atau mungkin supir Lydia bisa jemput," tolak Mimin dengan halus mengingat ia kasihan kalau Hadi harus bolak balik mengantarkan dirinya dan juga Iko.


"Jangan tolak tolong, kasih kesempatan aku membuktikan dan memasikan kalau kalian baik- baik saja." Wajah memohon Hadi terlihat sangat memelas sehingga Mimin yang memang hatinya baik pun tidak tega melihatnya.


"Baiklah, nanti saya dan Iko tunggu." Akhirnya Mimin pun setuju dengan Hadi yang akan menjemput pagi hari nanti.

__ADS_1


"Iya Mas, terima kasih banyak loh sudah bantu saya sejauh ini, bahkan sampai benar-benar memastikan keamanan kami."


"Iya, kalau gitu aku pulang yah."


"Iya, Mas udah pamitan tiga kali loh." Mimin pun terkekeh dengan kelakuaan Hadi.


Tangan Hadi menggaruk-garuk lehernya dan kali ini benar-benar pulang meskipun Mimin bisa lihat kalau Hadi terlihat berat, seperti ada yang ingin diobrolkan lagi. Namun, waktu harus mengakhiri semuanya. Dan akan bertemu esok hari.


*********


Pukul dua dini hari, Mimin terbangun ketika di depan rumahnya seperti ada bunyi-bunyi mencurigakaan. Dadanya bergemuruh ketika ia mengingat kalau Wijaya ingin mengambil Iko. Ia melihat putranya masih tertidur dengan lelap di antara dirinya dan Olin. Memang selama ini Mimin selalu tidur dengan Olin.


"Lin... bangun Dek..." Mimin membangunkan Olin agar bangun ia takut kalau ada orang jahat yang ingin mengambil anaknya, atau justru ada maling.


"Kenapa Mbak?" tanya Olin meskipun masih ngantuk.


Hust... Mimin meletakan tanganya di depan bibir, memberi kode pada Olin agar tidak berisik.


"Ada apa?" Kali ini Olin pun berbicara dengan berbisik pelan.


Olin pun mengikuti apa kata Lydia, dia menajamkan pendengaranya. "Ya Alloh Mbak, jangan-jangan dia adalah orang suruhan kakek tua itu," bisik Olin justru membuat Mimin semakin kalut, tidak berani membuka pintu kamar Olin untuk memastikan siapa yang kira-kira membuat kegaduhan di tengah malam seperti ini.


"Mas Hadi..." gumam Mimin dengan mengambil ponselnya.


"Bang Hadi kenapa Mbak?" tanya Oliv masih dengan wajah yang bingung pasalnya ia juga takut kalau terjadi apa-apa dengan keluarganya.


Hust... Lagi-lagi Mimin meminta agar Olin diam ia akan menghubungi Hadi untuk meminta bantuan.


"Hallo... Ada apa Min?" tanya Hadi di mana Mimin harus melakukan panggilan sampai berkali-kali agar Hadi mau mengangkatnya maklum ini jam dua pagi, pasti Hadi lagi pulas-pulasnya tidur.


"Mas, maaf ganggu malam-malam, di rumah kaya ada orang yang coba buka pintu...."


"Ok aku akan segera ke sana." Tanpa menunggu ucapan Mimin selesai, Hadi pun langsung memutus sambungan teleponya. Dengan perasaan campur aduk Hadi langsung menyambar jaketnya meskipun hanya memakai kolor pun jadi yang penting calon istri dan calon anaknya tidak ada apa-apa.


Biasanya ia akan memakai mobil, tetapi berhubung kondisinya darurat Hadi pun memilih memakai motor. Pakai mobil akan sangat lama dan membuang waktu sehingga ia takut kalau terjadi apa-apa lebih dulu. sehingga motor adalah kendaraan paling tepat untuk kondisi darurat seperti sekarang.

__ADS_1


Tidak harus menunggu lama, Hadi kini sudah berada di depan rumah dokter Sera, kesan pertama sepi tidak ada tanda-tanda orang yang jahil.


"Pagarnya terkunci," gumam Hadi. Pandangan matanya melihat ke kanan dan kiri di mana jam segini masih sepi dan tidak ada yang lewat. "Masa sih ada yang mau masuk rumah, sedangkan pagar terkunci."


Namun, berhubung Hadi penasaran ia pun langsung masuk ke dalam rumah dokter Sera, meskipun pagar masih dalam keadaan di kunci. Hadi memilih menaiki pagar agar bisa mengecek apakah benar di dalam sana ada yang sedang bersaha masuk atau tidak.


Dengan mengendap-ngendap Hadi masuk dan niat hati mengintip ke dalam rumah.


Namun-


"Maling... Maling...."


Bruggghhh.... Brughhh... Hadi kena hajar.


"Tolong, saya bukan maling saya Hadi," pekik  Hadi yang mengenali suara siapa yang memukulinya.


"Hadi...." Pukulan pun berhenti.


"Ngapain kamu ke sini?" Ternyata yang memukuli Hadi adalah Pak Sono, suami dokter Sera.


Hadi memegangi punggungnya yang terasa sakit, karena kena pukul dengan sapu.


"Mimin barusan telpon kataknya ada suara-suara pintu yang seperti akan dibuka. Karena saya khawatir kalau orang yang akan masuk rumah sini adalah orang suruhan Tuan Wijaya jadi saya putuskan datang ke sini," jelas Hadi dengan tangan masih memegang punggungnya yang terasa panas dan pegal.


"Mas Hadi... ini ada apa?" Mimin meminta penjelasan pad Hadi.


"Pak Sono ini ada apa?" Kali ini Mimin bertanya pada suami dokter Sera.


Mimin sejak telepon Hadi siaga satu di balik pintu kamarnya. Sehingga ketika mendengar keributan ia pun yang penasaran langsung membuka pintu kamarnya dan betapa kagetnya Hadi dipukuli oleh Pak Sono.


"Ini semua salah paham sepertinya," jawab Hadi dengan masih meringis menahan sakit di punggungnya.


"Jadi yang kamu dengar kegaduhan bukan pintu yang berusaha dibuka paksa. Tapi Bapak lagi benerin motor yang mogok." Pak Sono menunjukkan motor tuanya. Laki-laki paruh baya itu memang suka mengoleksi motor antik. Bukan hanya mengoleksi hobbynya pun memodifikasi sehingga sebenarnya sudah tidak aneh mendengar suara-suara berisik seperti memukul besi dan suara berisik lainya. Tapi karena Mimin terlalu parno sehingga tidak berpikir pada kebiasaan Pak Sono.


Mendengar penjelasan suami dokter Sera, Mimin langsung menatap Hadi dengan iba.

__ADS_1


"Mas saya minta maaf."


__ADS_2