Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Semangat Untuk Sahabat


__ADS_3

Aku melihat Mimin beberapa kaliĀ  mengernyitkan keningnya dan juga tangannya memijit pelipis yang mungkin sangat sakit.


"Min, kamu sudah bangun..."


Huweekk... Huweekkk...


"Mas, bisa minta tolong ke luar dulu, biar Lydia urus Mimin dulu," pintaku pada Mas suami apalagi Mimin kayaknya mau muntah, takutnya beneran muntah, dan pasti Mas suami akan jijik.


Aku pun melihat Mas suami yang panik, tetapi juga tidak lama meninggalkan kami hanya berdua.


Aku pun memijit tengkuk leher Mimin, mungkin akan muntah, tetapi sepertinya perut Mimin kosong sehingga ia tidak mengeluarkan apa-apa.


Aku menyeka sudut mata sahabatku yang mengeluarkan air mata. "Masih mau muntah?" tanyaku dengan mengusap wajahnya yang berkeringat. Aku melihat Mimin menggelengkan kepalanya pelan, untuk memberkan jawaban.


"Aku dengar kabar kamu memburuk dari dokter Sera. Makanya aku segera ke sini. Aku senang kamu bisa melewati fase terberat kamu, dan aku berharap untuk saat ini kamu mau menjalani pengobatan. Aku tahu berada di posisi kamu itu berat, tapi bukanya kita tidak boleh berhenti berjuang. Tuhan maka baik tidak mungkin memberikan ujian diluar batas kemampuan Kita. Tiko butuh kamu ibunya, ayolah Min semangat untuk sembuh setidaknya kamu punya Tiko yang akan menjadi anak kamu untuk selamanya," ucapku dengan suara yang lirih.


Yah, aku tahu mungkin saat ini Mimin sedang tidak memerlukan nasihat dari ku, tetapi aku juga ingin Mimin tahu bahwa banyak yang perduli dengan dia, bahkan dokter Sera, Ambu mereka sampai mau menjaga Mimin, itu sudah membuktikan kalau banyak yang sayang dengan Mimin.


"Tiko di mana?" tanya Mimin dengan suara yang sangat lirih.

__ADS_1


"Iko ada dengan dokter Sera di mobil, karena tidak boleh bawa bayi masuk ke rumah sakit. Iko kangen sama kamu, bahkan saat aku menunjukan foto kamu, Tiko seperti tahu kalau kamu itu ibunya. Sembuh yah Min, kasihan Iko kalau kamu kaya gini terus," ucapku dengan nada bicara yang tidak kalah lirih.


"Aku akhir-akhir ini sering memimpikan David ingin mengambil Tiko. Itu nggak mungkin kan Lyd?" Dari cara berbicara dan tatapan Mimin aku tahu kalau wanita itu sangat takut kalau dia akan kehilangan anaknya.


Aku mengusap punggung tangan Mimin, yang mana sekarang tidak separah saat pertama aku bertemu. Sebelum aku menjawab pertanyaan Mimin, lebih dulu aku pastikan kalau tidak ada orang lain selain kita berdua.


"Sebenarnya aku dari kemarin ingin bertemu dengan kamu, itu ada hubungannya dengan mantan suami kamu. Mungkin kalau aku cerita kamu tidak akan percaya bahwa ternyata dunia kita itu sangat sempit. Aku kenal dengan mantan suami kamu Min, bahkan bisa dibilang hubungan kami dekat. Maka dari itu aku butuh kamu agar tetap sehat dan menjaga Iko, hanya kamu yang berhak untuk melindungi Iko, aku tidak akan bisa melindungi anak kamu Min, setatus kami nggak kuat kalau harus melawan David," ujarku yang mana dari ucapan aku, aku bisa melihat kalau Mimin nampak bingung.


"Maksudnya?" Mimin kali ini nampak lebih segar setelah kami membahas Iko.


"David, adalah teman bisnis suami aku, yang mana baru beberapa hari lalu istrinya keguguran dan dokter mengatakan tidak bisa punya anak lagi. Sangat besar kemungkinan David akan mengambil Iko kalau tahu Iko adalah anak kalian," jelasku, yang mana dari wajah Mimin aku lihat kebingungan.


"Sebenarnya, aku hanya menebak saja sih. Mengingat kisah laki-laki itu hampir sama dengan yang kamu ceritakan. Mimin yang nampak penasaran pun langsung mengambil ponselku dengan gemetaran (Ponselnya Lydia nggak jadi rusak).


Dari reaksi Mimin, ketika melihat wajah David aku sudah melihat betapa kesalnya sahabatku itu, tetapi aku membiarkannya untuk memberikan kesempatan untuk mengolah emosi yang ada di diri Mimin.


"Kamu kenal udah lama?" tanya Mimin sembari tangannya mengembalikan ponsel ke aku.


"Setelah kamu mengamanahkan Iko untuk aku rawat. Baru tiba-tiba seperti sebuah sekenario film. Malam itu juga aku di pertemukan dengan laki-laki itu, yang ternyata keluarganya adalah teman bisnis suami dan mertuaku. Aku pun cukup kaget ketika mendengar ceritanya seperti cerita yang kamu katakan. Oleh sebab itu aku sangat ingin bertemu dengan kamu untuk memastikan kalau laki-laki itu adalah suami kamu. Tapi benarkan tebakan aku kalau laki-laki yang ada di foto ini adalah laki-laki yang sama yang meninggalkan kamu demi kembali ke keluarganya dan parahnya lagi demi uang dia rela meninggalkan kamu?"

__ADS_1


Dengan lemah Mimin mengangguk. "Iya dia orang yang sama," jawab Mimin dengan suara lemah dan air mata mengalir dengan gerakan yang elegant. "Aku harus gimana Lydia, aku tidak mau Tiko diambil oleh mereka. Anak David sudah mati ketika laki-laki itu meminta pisah dan bahkan meragukan Tiko anaknya. Ia sempat bertanya apakah anak yang aku kandung adalah anaknya atau justru anak Bang Jono mandor tempat aku kerja saat itu. Sakit hati aku Lydia suamiku bertanya seperti itu. Belum Tuan Wijaya, meminta aku menggugurkan cucunya dengan digantikan uang dua milliar. Aku sejak saat itu sudah menganggap anak dan cucu mereka sudah mati. Tiko anakku, anakku seorang diri, sampai kapan pun."


"Aku tahu, oleh sebab itu aku ingin kamu bernuang untuk sembuh. Hanya kamu yang bisa memberikan kenyamanan untuk Iko, hanya kamu yang tetap bisa menjaga Iko. Aku tidak bisa, setatus hukumku tidak kuat. Belum untuk mendapatkan setatus hukum yang kuat harus memerlukan waktu yang lama. Kamu berjuang yah, demi anak kamu." Aku menatap mata Mimin yang terlihat dalam, itu semua karena tubuh dia yang kurus.


"Apa aku bisa?" tanya Mimin dengan suara yang lemah.


"Bisa pasti bisa. Besok kamu akan menjalani serangkaian pemeriksaan, dan semoga dengan adanya pemeriksaan bisa tahu kamu sakit apa sebenarnya, dan kamu bisa melanjutkan dengan pengobatan yang tepat yang ditujukan dengan sakit yang kamu derita. Aku yakin kamu itu kuat . Jangan biarkan orang lain untuk menghancurkan kamu. Bukanya aku kenal kamu itu adalah wanita paling kuat tetap melewati perjalanan yang sangat berat setelah semua ujian kamu bisa lewati masa diujian terakhir kamu malah nyerah. Kamu harus optimis ini adalah rintangan terakhir kamu sebelum kamu menemukan kebahagiaan yang seutuhnya." Tidak henti-hentinya aku memberikan semangat untuk Mimin hingga aku bisa melihat wajahnya yang awalnya pucat, kini semakin cerah.


"Lyd, ngomong-ngomong tadi siapa? Apa tadi suami kamu?" tanya Mimin dengan lemah, mungkin Mimin lupa wajah Mas suami mengingat mereka sudah berpisah sejak lama.


"Iya, apa kamu mau kenalan? Tapi kamu jangan kaget yah, kamu kenal suami aku," ucapku setengah berkelakar.


"Kaget? Kenapa aku harus kaget? Apa aku kenal dengan suami kamu?" tanya Mimin dengan kepo.


"Yah, aku pun bingung kenapa aku dan kehidupan kamu selalu terhubung," balasku sebelum aku memanggil Mas suami untuk berkenalan dengan Mimin, dan aku berharap dengan kami yang saling terbuka dan saling kenal tidak ada lagi rahasia, bisa saling bantu untuk melindungi Iko dari keluarga David.


"Ayolah siapa dia, kenapa aku jadi deh-degan sekali."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2