Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kode Cinta Perjuangan


__ADS_3

"Lydia mau minta izin sama Mas untuk memberikan perawat pribadi untuk Mimin, karena dia tidak punya siapa-siapa lagi, dan juga dia butuh pantauan dari orang yang mendampingi agar bisa memantau perkembangannya."


Aku menatap Mas suami cukup lama diam, sehingga aku jadi merasa serba salah.


"Lakukanlah, apa yang terbaik untuk Mimin, semakin baik perawatannya akan semakin besar kemungkinan untuk dia sembuh jadi kalau menurut kamu yang paling baik maka lakukanlah," balas Mas suami, yang cukup membuat aku merasakan tegang untuk mendengar jawabannya.


Meskipun aku tahu mas suami tidak akan marah ataupun keberatan dengan rencanaku, tetapi rasanya kalau mengambil keputusan sepihak aku justru merasa kurang nyaman, seperti ada yang mengganjal, aku ingin apapun yang aku lakukan, setidaknya mas suami tahu, dan tidak jadi masalah dikemudian hari. Itu adalah perinsipku.


"Sayang rasanya sudah lama kamu tidak membuat gombalan untuk aku, rasanya jadi kurang romantis, hidup datar-datar ajah. Mana nih gombalannya kangen dibaperin sama kamu." Mas suami seolah merajuk karena aku yang akhir-akhir ini kurang romantis.


Yah, mungkin karena aku yang mulai sibuk dengan adanya Iko dan juga masalah Mimin belum lagi masalah keluarga dan adikku yang cukup membuat aku kepikiran, meskipun aku terlihat baik-baik saja, tetapi tidak memungkiri sebagai kakak tertua ada rasa yang terus mengusik, kapan kami akan berkumpul lagi? Kapan orang tuaku akan merasakan hangat rumahnya dengan anak-anak dan cucu yang saling berkumpul, dan masih banyak pertanyaan kapan yang dalam diam selalu mengusik pikiranku, apalagi hari lebaran semakin dekat, meskipun aku berkata tidak apa-apa lebaran tahun ini kami tidak berkumpul, masih ada lebaran tahun depan dan depan lagi, tetapi rasanya hati ini masih seperti tidak ikhlas kalau lebaran tahun ini akan menjadi lebaran paling tidak biasa dalam keluargaku.


Bahkan mungkin untuk pertama kalinya lebaran Bapak dan Ibu akan merayakan bukan di kampung halaman kami, di mana biasanya dari lebaran yang sudah-sudah Bapak dan Ibu selalu membuka open house untuk warga dan selalu rame dari lebaran pertama kadang sampai lebaran ke tiga masih ramai tamu yang akan datang, tetapi sepertinya tradisi itu mulai lebaran tahun ini akan hilang.


Aku cukup lama berpikir dengan keras kira-kira puisi tema apa yang akan aku buatkan untuk mas suami. "Sebenarnya sedang tidak ada ide, tapi kira-kira Mas ingin dibuatkan puisi tema apa? Biar nanti Lydia coba buatkan meskipun mungkin tidak akan natural banget karena kadang kalau buat puisi itu disesuaikan dengan situasi dan juga kondisi yang mendukung akan kurang berasa romantis," ucapku dengan mengusap rambut Iko yang ada dalam pangkuan mas suami.


"Puisi tentang cinta aja, seperti pertama kita jadi pasangan suami istri yang hampir setiap momen selalu dibuatkan puisi cinta, rasanya hati bahagia dan  dunia seperti milik berdua, yang lain ngontrak aja lah."


"Puisi tentang perjuangan? Sumpah pemuda..." ucapanku langsung di potong mas suami.

__ADS_1


"Bukan seperti itu juga Bunda, yang romantis dong, biar nanti ngantuk," protes Mas suami, padahal niat aku baik loh, agar bakin bersemangat dalam berjuang.


"Kalau mau ngantuk bukan dibacakan puisi Mas, tapi biasanya dibacakan dongeng itu baru ngantuk, karena imajinasi kita di dalam alam bawah sadar membayangkan apa yang sedang dibacakan oleh si pendongeng, dan itu membuat cepat ngantuk dan tertidur, kalau dibacakan puisi ngantuk nanti banyak peserta puisi saat lomba malah pada tidur dong," balasku setengah berkelakar, yang mana Iko justru sepertinya sangat senang melihat Papah dan juga Bundanya sangat asik tawar menawar, seperti penjual dan pembeli di pasar.


"Coba lihat Mas anak kamu seolah sudah tahu apa yang sedang kita obrolkan," ucapku sembari menunjuk baby Iko yang kedua bola matanya terus menatap kearah kami dan bibir sesekali melengkung sempurna seolah tahu apa yang sedang kita obrolkan.


"Hahaha, bobo yuk jagoan udah malam nanti malah kesiangan sahurnya. Bukanya kata Mamih kamu mau bikin kue buat lebaran? Kenapa nggak beli aja biar praktis dan nggak cape?" tawar Mas suami yang pemikirannya hampir sama dengan mami mertua praktis dan tidak cape, dan banyak perabot yang kotor, pastinya nambah-nambah kerjaan saja.


"Memang kalau beli praktis, tetapi kebersamaanya kurang Mas, kadang yang di nanti saat hari raya itu bukan sekedar kumpul dan makan-makanya, tetapi momen seperti ini, membuat kue, ketupat dan memberikan hantaran dan lain sebagainya yang biasa di sebut tradisi yang membuat hari raya banyak dirindukan, terutama yang sedang merantau ke negara lain yang jauh dari keluarga momen seperti ini pasti sangat menjadi hal yang sangat dirindukan, jadi Lydia rasa selama masih bisa dikerjakan dan tidak mengganggu Iko, masih aman, lagi pula ada Bi Lilis dan Mbok Jum yang menjadi  tim repot," tawarku dengan menunjukkan senyum terbaik, ya meskipun ini memang mungkin sangat ribet untuk mereka yang tidak biasa, tetapi percayalah buatan tangan sendiri akan jauh lebih enak.


#Eh, tapi kenyataannya biasanya kalau udah bikin malah malas makannya, udah giung duluan.


"Mas, mungkin ini bisa mengobati rasa rindu Mas terhadap gombalan yang biasa Lydia buat. Meskipun mungkin ini terlalu kurang masuk akal, tetapi ini di buat dalam hitungan menit jadi tolong hargai dan beri nilai sempurna untuk sebuah karya yang mungkin tidak begitu cocok dengan suasananya."


**Arti Hadirmu**


Wajahmu sangat menyejukkan kalbu. Senyummu selalu membuat hariku berwarna. Kata-katamu membuatku selalu bersemangat. Hidupku kian berirama. Hitam dan putih tidak lagi dominan. Tergantikan dengan warna-warna indah mu. Hingga kini aku tersadar. Kamu begitu sempurna di mata dan hatiku. Setidaknya, aku bisa melihatmu, memelukmu, dan juga mencumbu mu. Wahai suamiku rasanya dunia akan semu tanpa hadirmu.


Aku pun langsung memeluk dan mencium suamiku yang langsung mengembangkan senyum terbaiknya. Senyum malu-malu seperti biasa kalau aku memberikan hadiah puisi cinta.

__ADS_1


"Ini sih puisi paling baik yang pernah Mas dengar, memuji tetapi Mas suka," jawab Mas suami yang aku tahu ini adalah pujian dan nilai sempurna untuk karya darurat ku.


"Hehe perasaan dari kemarin kalau Lydia bikin puisi selalu saja terbaik yang pernah Mas dengar emang sebelumnya Mas nggak pernah dengar atau lihat orang buatkan puisi untuk Mas?" tanyaku hanya memastikan sekali lagi bahwa akulah yang pertama dan terakhir kalinya yang selalu membuatkan puisi cinta untuk kang mas bojo.


"Jangankan membuatkan untuk Mas, yang baru dengar saja, dari kamu Sayang, yang lainya ya biasa lah menyatakan cinta, biasa saja dan memuji dengan biasa saja, makanya untuk pertama kali mendengar kamu selalu membuatkan puisi cinta untuk Mas cukup senang dan selalu ketagihan, ini memang mungkin buat kamu sebuah hal yang sederhana, tetapi membuat candu untuk Mas, kamu memang pandai membuat suasana romantis," puji Mas suami, sebenarnya kalimat pujian bukan sekali ini aku dengar tetapi, aku selalu juga baper setiap kali Mas suami mengucapkannya.


**Kode Cinta** **Perjuangan**


"Jarum jam menekan kuat ingatan. Menandakan tarikan selimut akan segera tiba. Di ujung bantal putih terlukiskan kelopak mawar. Di situ terdengar aksara doa. Memandang tajam gerak jarum jam di atas meja. Tanpa menunggu lama datang di balik kedip mata. Sajak dikumandangkan sebelum terbenam dua bola mata. Setiap kali getaran di atas ranjang. Membawa hidup nyenyak dalam sunyi. Kemudian muncul benih dalam memori ingatan. Suatu desah dipenuhi dengan semerbak harum keringat perjuangan. Yuk berjuang, eh maksud Lydia yuk bobo...


Aku tersenyum sembari mengambil Iko yang ternyata sudah tertidur dengan nyenyak karena mendengar gombalan sang bunda, mungkin muak juga mendengar bundanya bersyair yang terdengar sangat katro.


Dari ekor mataku aku melihat Mas suami terus tersenyum dan menatapku tanpa kedip.


#Mbak Lydia emang nggak kaleng-kaleng kalau kasih kode buat Mas suami.


Selamat menjalankan sahur.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2