Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Garis Dua?


__ADS_3

Lydia merasakan jantung bergetar tak beraturan, hati terus berselimut cemas, ketika wanita itu mulai masuk ke kamar mandi. Satu demi satu benda pipih ia gunakan. Matanya terpejam tidak berani menatap langsung benda itu. Lima benda pipih Lydia jejerkan dengan rapi. Ini bukan pertama kalinya ia melakukan tes seperti ini, tetapi saat ini perasaan wanita itu benar-benar diselimuti dengan kecemasan. Mungkin karena dirinya yang sudah satu tahun setengah menunggu kabar gembira itu sehingga rasa cemasnya naik berkali-kali lipat dengan sebelumnya, setelah ia cukup berani dengan apa yang akan ia lihat. Lydia pun memberanikan diri membuka matanya dan menatap benda pipih itu.


Nah kalau kaya gini hasilnya apa?



Tanpa terasa air mata mengurai di pipi wanita berhijab itu, lidahnya kelu, tidak bisa berucap apa-apa. Lydia melihat satu demi satu benda pipih itu yang semuanya hasilnya hampir sama. Garis dua yang cukup jelas, seolah mengabarkan bahwa ia sedang berbadan dua.


Wanita itu segera meraih ke lima alat test kehamilan dan dia sudah tidak sabar ingin mengabarkan pada suami dan keluarganya, bahwa mereka akan mendapatkan anggota baru. Setelah wanita itu mengucapkan rasa syukur dan terima kasih pada Tuhan, karena telah mempercayakan nyawa bersemayam di rahimnya. Kini dia bergegas akan kembali ke ruangan keluarga.


"Hay Sayang, ini Bunda semoga kamu di dalam sana baik-baik saja yah, sehat selalu sampai kamu hadir ke dunia ini untuk melengkapi kebahagiaan keluarga kita," gumam Lydia dengan mengusap-usap perutnya yang datar. Wanita itu benar-benar tidak menyangka kalau dirinya hamil mengingat dalam hitungannya jatah datang bulan belum terlewat. Apalagi Lydia tidak menunjukan ciri-ciri orang hamil, ia tidak merasakan mual di pagi hari, sensitif dengan bebauan, dan makan ia pun masih sangat teratur. Sehingga mana mungkin dirinya curiga kalau perubahan suaminya yang tiba-tiba hanya mau makan kalau mami mertuanya yang masak.


Dengan hati yang berbunga-bunga wanita berusia tiga puluh delapan tahun pun kembali ke ruangan keluarga, ingin segera memberitahukan kabar bahagia ini.


"Loh Papi dan Mas Aarav kemana Mam?" tanya Lydia yang tidak melihat papi mertua dan juga sang suami.


Wanita paruh baya yang sedang menonton televisi pun langsung mengalihkan pandangan matanya pada sang menantu yang baru datang. Lalu menepuk sofa kosong di sampingnya, kode agar Lydia duduk bersebelahan dengan dirinya.


"Papi baru saja berangkat kerja lagi. Di kantor banyak kerjaan. Kalau suami kamu biasa sedang ngasuh jagoan. Dia hari ini tidak ingin kerja katanya, hanya ingin main sama Iko, bahkan Mami yang mau ngasuh saja tidak diizinkan," adu mami mertua dengan mengalihkan pandangan ke taman belakang di mana jagoan dan papahnya sedang bermain-main dengan ikan peliharaan sang Opa.


"Mami jangan sedih, sebentar lagi pasti rumah ini akan makin rame." Lydia memberikan satu alat tes kehamilan yang dia genggam pada sang mami mertua.

__ADS_1


"Ya Tuhan, ini kamu beneran hamil?" pekik Mami Misel dengan antusias mengambil benda pipih dengan garis dua itu.


"Lydia juga baru tahu, maaf baru kasih hadiah ini di usia pernikahan yang sudah cukup lama," balas Lydia dengan suara lirihnya. Agar sang suami tidak mendengarnya.


"Tidak apa-apa. Justru Mami yang terima kasih ini kado paling-paling berharga." Mami Misel terus memeluk sanga menantu. Meskipun ini bukan cucu pertama, tapi rasanya akan beda, karena semua cucunya berjauhan yang dekat hanya cucu dari Aarav dan Lydia. Belum Aarav yang sudah dua kali menikah dan di pernikahan pertama dia tidak diberikan kepercayaan mendapatkan momongan, dan ketika saat ini kabar bahagia datang, tentu sambutan bahagia pun Lydia rasakan.


"Aarav sudah tahu?" tanya Mami Misel, masih dalam posisi berpelukan dengan menantunya. Lydia hanya membalas dengan gelengan kepala.


"Tadinya mau dikasih tahu bareng sama Mami, tapi malah sedang di taman belakang bermain dengan jagoan."


"Kalau gitu jangan kasih tahu dulu, lebih baik kita pastikan lagi ke dokter, dan juga mematikan kondisi cucu Mami bagaimana keadaannya?" ucap Mami Misel yang langsung di balas anggukan kepala oleh menantunya.


"Kamu mau ganti pakaian apa seperti ini saja?"


"Untuk pamitan biar Mami yang bilang, kamu langsung tunggu di mobil saja." Tanpa menunggu jawaban dari sang menantu wanita paruh baya itu pun langsung mengayunkan kakinya ke taman belakang untuk berpamitan dengan sang putra dan cucunya.


"Rav, Mami dan Lydia mau pergi sebentar yah, kamu tolong jaga Iko," ucap Mami Misel dengan mencium sang cucu yang sedang mengobok-obok  kolam ikan dan ikan-ikan sang kakek dijadikan mainan bahkan beberapa kali ditangkap oleh anak kecil itu.


Aarav langsung mengernyitkan keningnya. "Mami mau ke mana? Kenapa harus ajak Lydia? Memang tidak bisa sendiri?" balas Aarav, laki-laki itu memang tidak suka kalau sang istri pergi tanpa dirinya.


"Astaga Aarav, Mami hanya sebentar pinjam Lydia. Tidak akan sampai berjam-jam, cuma ke depan, kalau sendirian mana seru tidak ada teman ngobrol, kalau bareng istri kamu kan ada yang diajak ngobrol," dengus Mami Misel.

__ADS_1


"Kalau gitu Aarav antar," balas laki-laki itu lagi, yah dia memang sangat posesif pada istrinya mungkin takut ada yang melirik.


"Tidak usah, kamu jaga Iko saja, Mami dan Lydia diantar supir. Mami janji hanya sebentar. Nanti Mami pulangnya belikan oleh-oleh untuk kamu, dan besok Mami bakal masakan untuk kamu," bujuk sang mami, agar anaknya tidak ikut.


"Ya sudah, tapi beneran yah Mih, jangan lama-lama, padahal kan bisa kalau beli sesuatu lewat online kenapa masih saja keluar-luar. Iya tidak Ko." Aarav masih saja  seolah keberatan kalau istrinya dipinjam oleh sang Mami.


"Cuma sebentar Rav, nanti juga kamu bakal senang, toh Mami ke luar bareng dengan Lydia itu juga untuk memberikan kado untuk kamu," balas Mami Misel dengan menaik turunkan alisnya.


"Yah-yah, semoga saja kadonya sangat sepesial," jawab  Aarav dengan santai, meskipun dia sebenarnya tidak terlalu berharap diberi kado, karena laki-laki itu tahu kalau ini bukan hari sepesial dalam hidupnya.


"Mami jamin ini kado paling sepesial yang bernah kamu terima. Kalau gitu Mami dan Lydia pergi dulu sebentar yah, kamu jangan meleng  jaga Iko, dia senang bermain air, jangan sampai terjadi sesuatu sama cucu Mami." Tanpa menunggu Aarav menjawab wanita pauh baya itu kembali mengayunkan kakinya dengan tegas menuju halaman rumah, ia sudah tidak sabar ingin menyapa calon cucu barunya.


"Dih, Opa kamu kenapa sih jagoan. Tadi aja marah-marah, besok nggak mau masak lagi, tapi kenapa sekarang malah kayaknya semangat bener mau masak lagi untuk Papa. Apa Oma kamu sudah sadar kalau masakannya itu enak," gumam Aarav mengajak ngobrol jagoannya yang masih senang bermain ikan koi yang besarnya hampir berkilo-kilo. Yah, hampir setiap jagoan datang ikan pasti selalu jadi incarannya untuk main, bahkan kakinya dimasukkan ke dalam kolam dan akan tertawa dengan renyah kalau ikan-ikan yang cantik berebut seolah hendak memakan kaki imutnya yang dikira makanan.


"Gimana Mih?" tanya Lydia ketika melihat sang mertua berjalan dengan tergesa.


"Semuanya aman, tapi sebagai gantinya Mami besok harus masak lagi, tapi tidak apa-apa demi cucu yang ingin makan masakan Mami, mulai besok Mami bakal belajar masak kalau perlu panggil chef untuk mengajarkan cara-cara masak." Wanita paruh baya itu sangat bersemangat untuk masak makanan yang diinginkan sang putra. Terlebih setelah tahu kalau menantunya hamil dengan kata lain anaknya ngidam makan masakan omanya.


Tempat yang dulu-dulu selalu dihindari justru sekarang Mami Misel dengan semangat belajar masak, semuanya ia lakuin demi cucunya tidak ileran, nantinya. Kata orang jaman dulu kala, apabila sedang hamil dan apa yang diinginkan tidak keturutan maka anaknya ileran, itu sebabnya Mamih Misel rela masak demi anggota baru yang akan hadir meramaikan keluarga mereka.


Bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2