
Hadi dan Mimin pun pukul sebelas malam kembali ke rumah mereka dengan hati yang jauh lebih baik lagi. Meskipun masih ada rasa bersalah karena selama belasan tahun menyalahkan sang ayah atas meninggalnya sang ibu, padahal ayahnya tidak murni seratus persen bersalah meskipun ada rasa kesal dan marah gara-gara ayahnya yang memerintahkan Supri untuk mengambil harta yang menurut mereka sang ibu mengambil dan membawa harta itu. Mungkin kalau ayahnya tidak. memerintahkan Supri untuk mengambil harta itu, sang ibu tidak akan terlihat saling dendam dan saling mencaci dengan Supri sehingga terjadi dendam yang mengakibatkan hilangnya nyawa sang ibu.
Namun, tidak dipungkiri kalau dalam lubuk hati yang paling dalam Mimin tetap merasakan lega dan seolah semua kesakitan selama ini hilang sudah. Dengan penjelasan pengacara Hilmi.
Wanita cantik itu menyenderkan kepalanya di bahu Hadi dengan mata terpejam, menikmati rasa lega yang baru kali ini ia rasakan. Tangan Hadi pun mengusap wajah Mimin dengan lembut. Adegan romantis pun kembali terjadi di dalam mobil. Seolah dua pasangan suami istri itu sangat senang membuat iri sang sopir.
"Rasanya sekarang gimana setelah tahu semua fakta ini?" tanya Hadi dengan tangan yang terus mengusap wajah Mimin.
"Jauh lebih nyaman dan tenang," jawab Mimin dengan mata yang masih terpejam. Seolah ia enggan untuk membuka matanya. Ngantuk? Tidak juga hanya tidak ingin membuka matanya.
"Mas seneng dengernya. Jadi nggak sabar ingin buru-buru Lydia lahiran," gumam Hadi dengan suara yang lirih. Sontak saja mendengar ucapan Hadi, Mimin langsung membuka matanya dan duduk kembali dengan tegap.
"Kenapa jadi nggak sabar nunggu Lydia lahiran?" Mimin menatap curiga pada Hadi. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba ingin agar Lydia cepat lahiran. Orang mah yang sangat menunggu suaminya bukan Hadi.
"Hey Sayang, jangan salah paham dulu. Mas bilang gitu kan karena kalau Lydia sudah lahiran Mas akan gantian ambil cuti. Masih ingat kan kata Mamah Arum kita ngadain resepsinya di kota kelahiran Mas, alias di Kalimantan. Kalau Lydia belum lahiran kita ngadain pesta kasihan Aarav. Biarkan Aarav bahagia dulu dengan kehadiran anggota baru di rumah kelurga mereka. Baru kita bahagia dengan resepsi kita." Hadi menjelaskan dengan suara yang lembut dan penuh kesabaran.
Mendengar penjelasan sang suami Mimin pun hanya mengulas senyum tipis.
"Emang harus ngadain acara resepsi yah Mas. Kita sudah tua, bahkan bisa dikatakan sama-sama Duda ketemu janda. Kok Mimin rasanya malu yah. Malu aja gitu takutnya nanti malah jadi gunjingan orang-orang." Mimin justru sepertinya tidak menginginkan resepsi itu.
Mungkin karena saat pernikahan pertama tidak diadakan semeriah rencana resepsi seperti sekarang Mimin pun merasakan kurang nyaman ketika Hadi mengatakan ingin mengadakan resepsi.
__ADS_1
Berbeda dengan Mimin yang nampak tidak antusias untuk merayakan pernikahan mereka. Hadi justru kebalikkannya. Ia sangat antusias dengan resepsi kali ini.
"Bukan seperti itu Sayang, resepsi hanya orang-orang yang kita kenal saja, lagian pernikahan kan kabar gembira makannya Mamah dan Papah ingin mengabarkan kabar gembira ini. Lagian Mas dulu nggak ada resepsi saat pernikahan pertama. Ya itung-intung ini ganti resepsi pernikahan yang pertama dulu tidak ada resepsi." Ini bukan alasan Hadi saja tapi memang itulah yang terjadi di pernikahannya dulu.
Kembali Mimin terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Hadi.
"Masa sih Mas tidak ada resepsi, padahal itu pernikahan pertama Mas Hadi, dan juga keluarga Mas Hadi itu bisa dibilang berkecukupan, tapi kenapa tidak ada resepsi? Kalau Mimin memang saat itu nikah secara diam-diam jadi tidak ada resepsi." Penasaran itu yang Mimin rasakan karena kalau biasanya orang dipernikahan pertama maka perayaan pun akan gila-gilaan.
"Dulu usia Mas dan istri pertama masih sama-sama kecil saat nikah, jadi bisa dibilang disembunyikan juga pertamanya. Makanya pas sudah siap umur mau bikin resepsi udah malas duluan," jawab Hadi dengan wajah malu-malu.
Mendengar penjelasan Hadi, Mimin pun makin penasaran dengan pernikahan pertama mas suaminya itu. Memang Mimin biasanya akan sangat cuek dengan urusan orang lain dan juga Mimin tidak terlalu kepo dengan kisah Hadi sebelumnya tujuannya tentu karena dia cemburuan. Yah, Mimin dan Hadi bisa dikatakan sama-sama cemburuan. Sehingga caranya ialah dia menjaga hatinya dengan tidak tahu lebih dalam dengan kisah rumah tangga sang suami dengan mantan istrinya.
"Emang usia Mas berapa saat menikah dengan mantan?" tanya Mimin dengan kepo.
"Serius? kok bisa masih pada sekolah nikah?" Kan Mimin yang awalnya tidak ingin kepo malah menjadi semakin ingin tahu dengan kisa masa lalu suaminya.
"Kok jadi penasaran banget?" goda Hadi.
"Abisan lucu, masih sekolah sudah main nikah-nikahan. Atau jangan-jangan ada tambungan sebelum pernikahan." Mimin sekarang berbalik meledek Hadi.
"Hey, jangan sembarangan nuduh, mas tahu aturannya. Ingin nikah cepat itu karena tidak ingin berbuat dosa. Makanya memutuskan untuk menikah duluan baru rencananya akan melangsungkan resepsi ketika sudah saling cukup umur, dan ketika sudah cukup umur malah udah malas dan kehilangan keinginan untuk mengadakan resepsi. Karena kalau tidak menikah bisa-bisa justru berbuat dosa," jelas Hadi, dan jawabannya cukup membuat Mimin terharu dengan ucapan Hadi yang sangat luar biasa tidak ingin merusak wanita.
__ADS_1
Mimin menatap kagun pada cara berpikir sang suami. Pantas saja bisa bertahan tidak buru-buru menikah hingga sepuluh tahu, karena Hadi benar-benar laki-laki yang bisa menjaga wanita dengan baik, dan untuk memilih calon istri Hadi juga tidak sembarangan.
"Ngomong-ngomong kalau nanti merayakan pernikahan kita, apa keluarga mantan istri Mas tidak keberatan?" tanya Mimin, karena usia pernikahan yang sudah lama dengan matan istrinya, dan juga menjaga cintanya sampai sepuluh tahun, takut membuat hubungan Hadi dengan keluarga mantannya jadi tidak baik-baik saja.
Kali ini Hadi yang tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Mimin. "Hubungan Mas dan keluarga manta itu sangat baik. Malah jujur sebelum Mas terlalu jauh mendekati kamu. Mas lebih dulu bercerita dengan ibu mertua dan ayah mertua Mas ceritakan sosok kamu semuannya tanpa ada yang ditutup-tutupi, dan mereka luar biasa, tidak merasa keberatan ketika Mas bilang ingin menjadikan kamu pengganti putrinya. Mereka dukung Mas sampai memberikan doa juga. Dan terakhir ketika kita sudah menikah Mas juga ceritakan. Bukan ingin membandingkan satu dengan yang lain hanya saja ingin meminta restu agar pernikahan kita diberkati. Karena semakin banyak yang mendoakan semakin berkesempatan juga mendapatkan yang kita inginkan."
Kembali Mimin terharu dengan jawaban Hadi, dia tidak begitu tahu Hadi sampai apa yang laki-laki itu tidak banyak yang Mimin ketahui. Bahkan sebelumnya Mimin tidak ingin tahu dengan kisah mantan istri dari suaminya, tetapi setelah tahu Mimin tidak memiliki rasa cemburu justru kagum terutama dengan sifat keluarganya yang cukup baik dan menerima dirinya menjadi pengganti putrinya.
"Kenapa kamu jadi diam? Kamu tidak sedang membandingkan diri kamu dengan matan istri Mas kan?" tanya Hadi yang masih teringat pesan dari Lydia yang mengatakan kalau belum bisa lepas dari mantan istrinya jangan mencari pengganti lain dulu, karena akan sangat menyakitkan untuk seorang istri kalau dibanding-bandingkan dengan mantan sekalipun itu sudah meninggal dunia.
Buru-buru Mimin menggelenkan kepalanya.
"Tidak aku hanya terlalu senang karena Mas itu ternyata sebaik itu_" ucapan Mimin terhenti ketika ia sadar kalau mereka tidak pulang ke rumah.
"Mas kok kita ke sini?" tanya Mimin dengan mata memastikan kalau dia tidak salah lihat.
"Iya bulan madu, mumpung Iko dengan keluarga angkatnya dan mamah sama papah sudah pulang," bisik Jadi yang langsung membuat Mimin memerah wajahnya.
#Tarik terus Om, jangan kasih kendor biar cepat nyusul Lydia dan Aarav. Kasih ponakan lagi buat Om Handan siapa tau bisa tobat play boy-nya.
Bersambung...
__ADS_1
...****************...