Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kabar Duka


__ADS_3

Di saat Mimin dan Hadi tengah menikmati keharmonisan keluarga. Apalagi ini adalah pertama kalinya Iko tidur bersama Hadi dan Mimin sehingga mereka benar-benar merasakan arti keluarga yang sesungguhnya.


Di rumah mewah, yang berbeda dengan Mimin.


"Mas Julio, Tuan besar kondisinya semakin memburuk. Dari Mbak Mimin pulang Tuan belum bangun juga," ucap Damian. Perawat yang ditugaskan menjaga Lukman.


"Tolong kamu jaga dulu Man, aku ada kerjaan diluar dulu, tapi aku usahakan malam ini aku akan pulang." Julio sudah biasa menghadapi ayahnya yang naik turun kesadaranya sehingga sudah tidak kaget lagi dengan kabar yang dibawakan oleh Demian. Yah sesuaui yang dikatakan oleh Julio, Demian pun kembali menjaga tuan besarnya. Meskipun saat ini kondisi Lukman semakin kritis bahkan denyut nadinya sudah semakin lemah. Biasanya denyut nadi saat normal akan berkisar delapan puluh hingga seratus tiga puluh per menit untuk usia Lukman, saat ini tidak sampai seraus permenit bahkan untuk beberapa kali kurang dari delapan puluh. Itu sudah cukup membuat Demian ketakutan.


"Tuan, Mas Julio sedang kerja, dan Mbak Mimin sedang di rumah suaminya kalau Anda sudah tidak kuat berjuang. Saya  mewakilkan dari kedua anak Anda sudah ikhlas kalau Anda mau pergi. Saya ucapkan terima kasih sudah berjuang hingga detik ini. Anda adalah laki-laki yang kuat." Demian pun langsung berbisik di telinga Lukman ketika nadi pasienya semakin melemah.


Tidak lama kemudian. Lukman pun membuka matanya. "Man, ...." Lukman seperti mengenal kalau yang ada di sampingnya adalah Demian.


Lukman mendekat pada Lukam, dan bersiap mendengarkan apa yang akan diomongkan oleh laki-laki tua itu.


"Anda mau ngomong apa Tuan," ucap Demian dengan suara berbisik di samping telinga Lukman.


"Maaf ..." Lagi kata maaf yang keluar dari bibir Lukman.


Demian mengembangkan senyum seolah Demian adalah kedua anak Lukman.


"Tuan Saya sudah memaafkan Anda jadi kalau Anda sudah lelah dan tidak kuat berjuang saya yakin Mas Julio dan juga Mbak Mimin akan ikhlas." Demian mengulang ucapanya barusan. Lukman mengedipkan kedua bola matanya dengan lemah.


Demian langsung membacakan doa untuk pasienya. Laki-laki itu pun untuk terakhir kalinya mengucapkan kata maaf. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Yah tepat pukul tiga pagi Lukman berpulang.


Demian pun langsung mengabarkan pada Julio, laki-laki itu sendang mengurus tokonya ketika siang tidak bisa bekerja dengan tenang karena ada Mimin, sedangkan ketika malam adalah waktu yang tepat untuk mengecek penjualanya.


Kembali Demian menghubungi Julio.

__ADS_1


[Iya Man, saya akan pulang sebentar lagi. Ini pekerjaan saya juga sudah selesai," ucap Julio seolah laki-laki itu tahu kalau Demian telpon lagi untuk memberikan kabar kalau Tuanta semakin memburuk kondisinya.


[Mas, Tuan Lukman sudah sembuh,] balas Demian dengan suara lirih. Laki-laki itu tahu kalau Lukman banyak masalah tapi proses meninggalnya cukup tenang. Ya meskipun harus diuji dengan sakit yang cukup parah selama tiga tahun ke belakang.


[Apa kamu bilang Man? Ayah sudah sembuh. Maksud kamu ...] Julio menggantung ucapanya. ia tidak menyangka kalau ayahnya pergi tanpa menunggunya pulang. Di tempat lain Julio langsung terisak sedih dengan kabar yang Demian bawa.


"Tuan, sudah tenang Mas, jangan ditangisi," ucap Demian, krtika mendengar suara samar dari tangisan Julio.


[Mimin sudah tahu kalau Ayah sudah meninggal dunia?" tanya Julio. Mungkin saja Demian sudah merngabari apa yang terjadi pada ayahnya.


"Belum Tuan, saya tidak ada nomor Mbak Mimin," ucap Demian dengan jujur, dan memang benar kalau laki-laki itu tidak punya ponsel Mimin.


"Ya udah biar nanti saya yang akan kabari adik saya. Tolong bantu urus keperluan ayah, saya akan langsung pulang," balas Julio tanpa menunggu lama laki-laki itu langsung berkemas untuk pulang, dan mengurus pemakaman ayahnya.


******


Di tempat lain bunyi ponsel sejak tadi terus berdering menandakan ada yang memanggil. Hadi pun membuka matanya. Laki-laki itu kembali mengembangkan senyum bahagianya ketika melihat anaknya yang tidur sudah pindah tempat ke atas dadanya.


Setelah puas melihat wajah pulas istrinya yang sedang tidur dan juga wajah damai dan menggemaskan anaknya. Hadi pun melirik ke ponselnya. Malas itu yang Hadi rasakan karena ia seolah sudah tahu kalau yang melakukan panggilan adalah sahabat usilnya. Namun lagi-lagi bunyi ponsel terus bergetar dan menjerit-jerit meminta agar Hadi mengangkatnya.


Hadi pun dengan pelan-pelan memindahkan Iko yang sedang tertidur pulas di atas dadanya ke atas kasur.


Setelah memastikan kalai Iko aman. Kini Hadi pun melihat kira-kira siapa yang usil tengah malam melakukan panggilan telepon.


Kening Hadi mengerut sempurna ketika ia tahu bahwa yang melakukan panggilan bukanlah Aarav yang usil tapi justru Julio.


"Julio, kira-kira kenapa Julio telpon malam-malam?" batin Hadi. Meskipun ia belum mengangkat sambung telepon yang tapi laki-laki itu pikirannya semakin takut terjadi sesuatu dengan ayah mertuanya.

__ADS_1


[Hallo Di, bisa ke rumah nggak? Barusan Ayah meninggal dunia." Julio langsung menyampaikan berita yang cukup membuat Hadi terkejut.


Deg! Hadi yang nyawanya belum terkumpul semua pun langsung terkejut dengan ucapan Julio.


[Kamu lagi nggak bohong kan? Ini bukan prank?] tanya Hadi, ia sampai memastikan jam berapa kakak iparnya menelepon. Baru saja ia merasakan bahagia, karena bisa berkumpul dengan anak dan istri, tapi sekarang justru berita duka bergantian datang.


[Tidak ada untungnya bercanda Di, apalagi ini dengan nyawa.] Yah, Hadi pun baru sadar kalau suara abang iparnya pun terdengar sangat parau.


[Ya udah, aku dan Mimin akan segera datang ke sana!] Tanpa menunggu lama. Hadi pun langsung mematikan sambungan telpon dengan Julio. Pandangan matanya terfokus pada sang istri yang sedang pulas tertidur. Ia tidak menyangka sama sekali. Kalau mertuanya akan secepat ini pulang ke pangkuan Tuhan Yang Maha Kuasa.


Hadi berjalan menghampiri istrinya yang tidur di sisi lain ranjang, sedangkan Iko ada di tengah-tengah. Dengan hati-hati Hadi mengusap rambut Mimin. Wanita yang sedang pulas tertidur pun langsung tersentak kaget ketika ada Hadi yang di hadapannya. Mimin mengernyitkan dahinya.


"Ada apa Mas?" tanya Mimin dengan pandangan mata dialihkan ke sekeliling kamar, lalu menatap Iko yang masih tidur dengan pulas, tapi Mimin melihat wajah Hadi sangat serius seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan.


"Kita ke rumah Ayah yuk," ucap Hadi dengan setengah berbisik. Laki-laki itu tidak tega kalau langsung mengabarkan pada Mimin dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ini ada apa yah Mas. Ini jam tiga loh, ngapain ke rumah Ayah?" tanya Mimin dengan suara yang sudah bergetar. Meskipun Hadi tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Mimin bisa menebak ada yang tidak benar dengan ayahnya.


Hadi menunduk berat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Mas, Ayah baik-baik saja kan?" tanya Mimin lagi, meskipun ia semakin yakin kalau diamnya Hadi adalah ada yang tidak beres dengan sang ayah.


"Julio tadi telpon, mengabarkan kalau Ayah sudah pulang."


Deg!! Tubuh Mimin langsung bergeming kepalanya kembali pusing.


"Min, kamu tidak apa-apa kan?" Hadi langsung sigap menahan tubuh Mimin yang kembali lemas.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2