Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Serangan Yang Gagal


__ADS_3

Aku terus menatap punggung mas suami hingga naik mobil dan memastikan mobil sudah meninggalkan rumah. Gegas aku pun kembali masuk ke dalam rumah dan melanjutkan kerjaan yang lain untuk mengisi hariku agar tidak bosan menunggu suami pulang kerja. Namun, aku justru dikejutkan dengan pemandangan yang menganggu, di ujung gang aku masih melihat mobil Mbak Siska masih terparkir, sengaja wanita itu parkir cukup jauh dari  halaman rumah mas suami agar mas suami tidak mengetahi mobilnya, tetapi dari jendela ruang tamu rumah ini jelas terlihat, itu semua karena rumah kami lebih tinggi dari jalanan. Aku kembali teringat ucapan mas suami yang melarang agar aku jangan menemui wanita itu.


Meskipun dalam pikiranku cemas karena sudah pasti wanita itu akan balik lagi, tetapi aku mencoba tenang toh di rumah ini ada scurity dan ada Mbok Jum juga. Aku coba abaikan pikiran cemasku, aku kembali merapihkan bekas peralatan kotor setelah masak dan merapihkan sisa sarapan yang mungkin Mbok Jum dan satpam ingin mencicipi olahan tanganku. Tanpa harus cemas dengan mantan istri dari suamiku itu semua karena aku tahu pasti orang di rumah ini bisa membantu apabila aku tidak bisa melawan Mbak Siska.


Benar saja ketika aku sudah selesai mencuci piring, indra pendengaranku menangkap kegaduhan. Apalagi kalau bukan wanita yang dari tadi mengganggu pikiranku. Ingin aku abaikan wanita itu, tetapi rasanya malah tidak enak pada tetangga nanti malah, apa yang di katakan oleh wanita itu dianggap benar. Aku selingkuh dari Mas Aarav dan segala macam, sesuai dengan mulut busuknya ucapkan.


Setelah melalui pertimbangan yang berat, aku kembali membuka pintu ruang tamu dan kedua mataku langsung menangkap wanita yang dari tadi teriak-teriak seperti di hutan.


"Mbak Siska apa tidak malu pagi-pagi bikin rusuh di rumah orang?" tanyaku dengan nada bicara yang santai. Kalau dia tersinggung itu tandanya wanita itu setengah tidak waras karena yang aku katakan adalah kebenaran.


Aku tidak mendengar wanita itu menjawab pertanyaanku. Baiklah kesabaranku masih memiliki stok, meskipun kesabaranku tidak setebal kamus bahasa inggris, tetapi masih bisa diandalkan, untuk tidak terpancing oleh tingkah Mbak Siska.


"Mbak Siska ada perlu apa lagi datang ke sini? Mas Aarav juga sudah berangkat ke kantor? Bukanya urusan Mbak Siska dan Mas Aarav sudah selesai. Kami secepatnya akan pindah dari rumah ini, lalu Mbak Siska mau apa lagi? Kami hanya butuh waktu paling lama satu minggu. InsyaAllah kami sudah tidak ada di rumah ini lagi," ucapku lagi dengan kembali melemparkan pertanyaan.


Namun, kedua mataku awas menangkap gerak-gerik tangan Mbak Siska, takut kalau wanita itu menyerangku.


"Tingalkan Aarav, maka aku akan bayar berapa pun uang untuk kamu hidup, biar nggak norak dan hanya numpang hidup," balas Mbak Siska, dengan tatapan yang semakin tajam menatapku.


Bibirku melengkung dengan sempurna. Karena yang dikatakan Mas Aarav itu benar bukan harta gono gini yang dia minta sesungguhnya. Harta hanya alasan agar dia tetap terus terikat dan bolak balik datang ke rumah ini. Ah, aku sih tidak masalah justru mungkin aku harus sungkem sama Mbak Siska kalau dia terima perceraian ini mungkin tidak akan ada drama pernikahan palsu. Yang membawaku pada pernikahan sungguhan, tetapi kalau lama kelamaan rasanya risih juga di sambangi mantan istri dari suami kita.

__ADS_1


"Berati benar yah yang dikatakan oleh Mas Aarav. Mbak Siska itu hanya menjadikan rumah alasan, padahal nyatanya hanya ingin gangguin suami orang," jawabku dengan suara yang sedikit meremehkan.


"Kalau iya kenapa? Takut kalah saing?" balasnya sedikit  nada bicaranya meninggi.


Kembali aku terkekeh santai. "Kenapa harus takut kalah sainganya seperti ini, aku akan takut kalah saing, kalau saingan aku memang lebih baik dari aku, atau setidaknya setara, tapi kalau seperti Mbak kayaknya tidak harus takut. Kalau takut, tadi pasti tidak bakal aku ajak masuk Mbaknya," balasku masih santai, kayak di pantai. Meskipun kesabaran Mbak Siska yang setipis tisu sudah jelas-jelas terobrak-abrik oleh ucapan aku yang mengandung provokasi.


"Ternyata seperti  ini kalau di belakang suami suka merendahkan orang lain, kalau di hadapan suami baiknya minta ampun, dasar wanita bermuka dua," balasnya menyerangku, mungkin bermaksud memprovokasi aku agar terpancing dan melawan keributanya.


"Mohon maaf Mbak Siska tidak ada lagi yang pentingkan? Saya mau pamit masuk ke dalam yah. Maklum mau cari rumah baru untuk kita pindah," balasku dengan santai.


Namun bukanya aku dengar jawaban yang enak didengar malah aku mendapatkan serangan dari wanita itu, untung saja kedua mataku langsung menangkap serangan itu sehingga bisa menghidar dan memelintir tangan wanita itu ke belakang. Aku lihat scurity hampir membantuku, tetapi aku menggelengkan pelan kepalaku sebagai kode, aku masih bisa mengatasinya.


"Mbak Siska sepertinya kita harus kenalan lebih dalam, agar Mbak Siska bisa mempertimbangkan dua kali apabila mau menyerangku. Aku adalah Lydia anak pertama dari empat bersaudara. Aku memmiliki tiga adik perempuan semua. Aku terlahir dari desa kecil di tengah pulau Jawa. Aku suka dengan bela diri, terutama Taekwondo bahkan saking sukanya aku sudah mendapat sabuk hitam, dan sebelum aku  menjadi wanita rumahan aku sudah kenyang bermain tarung, bahkan aku pernah menjadi pelatih untuk adik-adik sekolah dasar selama empat tahun, sebelumnya aku memilih fokus dengan usaha Gym ku selain usaha GYM aku juga pernah sibuk mengajak masyarakat hidup sehat dengan melatih senam. Selain hobiku bikin rusuh dulu, hobiku yang lain adalah Workout, Anda tentu tahu orang yang lebih suka Workout dari pada Cardio itu tenaganya jauh lebih kuat dari latihan Cardio sendiri. Yah, aku suka melatih kekuatan ototku agar aku bisa menghajar musuh-musuhku," balas aku lagi dengan santai.


"Bukan aku ingin menakuti Anda, tetapi aku sudah terlalu cape untuk berkelahi, sebelum aku menjadi anak rumahan aku juga pernah merasakan masa remaja yang penuh tantangan, tawuran, mengikuti berbagai kejuaraan terutama belada diri jadi kalau Anda mengusik saya, bukan tidak mungkin sifat bar-bar saya akan keluar mengikuti siapa lawan saya," imbuh aku sebelum melepaskan cengraman tanganku yang kuat hingga kulit putih Mbak Siska merah dan ada tapak kukuku di pergelangan tanganya.


Mbak Siska beberapa kali mengibaskan tanganya yang sudah pasti sakit.


"Maaf Mbak kalau terlalu kencang nekannya padahal niat hati pelan-pelan. Masih bisa nyetir kan? Tidak harus aku antar kan?" tanya Lydia lagi dengan meledek. Namun bukanya jawaban yang Lydia terima tetapi justru tatapan tajam dari Siska.

__ADS_1


"Wanita gila..." balas Siska sebelum meninggalkan aku yang masih berdiri dengan santai.


"Kalau aku sih tergantung lawanya Mbak, kalau lawanya gila. Aku bersikap waras, malah nggak nyambung, jadi kalau aku gila berati lawanku gila," balasku sekalian memberikan senyum dengan bibir sebelah diangkat.


Kembali aku lihat wanita berpenampilan seksi itu ingin membalasku, tetapi aku tidak membiarkannya.


"Mbak Siska, aku lihat belum punya ilmu bela diri yang bagus yah? Bagaimana kalau aku buka kelas pelatihan untuk Mbak Siska, ya setidaknya tahu teknik untuk kuda-kuda, pukulan, tendangan, tangkian. Yang dasar-dasar saja agar tidak memalukan. Mau nyerang malah kena mental," ucapku, sebelum aku menutup pintu dan membiarkan wanita berpenampilan seksi itu mengumpatku dengan bibir merah meronanya.


Aku terkekeh di balik pintu ketika mendengar wanita itu benar-benar mengumpatku. Rasanya aku kembali ke jaman sebelum aku menutup diri. Yah, sebelum adik-adikku menikah lebih dulu dan mentalku di tebas dengan kejam oleh lidah-lidah setajam pedang milik tetanggaku.


Kadang memang orang tidak memikirkan dampak buruk atas ucapanya, seperti para tetanggaku dulu mereka seolah lucu meledekku, tapi tanpa mereka sadari mentalku perlahan sakit dan menarik diri dari keramaian. Menghilang sifat ceriaku yang suka tantangan, menjadi Lydia yang nurut dan pasrah.


Bibirku masih melengkung ketika aku mengingat dulu aktif dengan para pemuda yang giat melakukan sosilasi kesehatan lebih mudah mengajari anak-anak dari pada ibu-ibu. Ketika aku mengajari ibu-ibu senam, aku lebih banyak tertawa karena gerakan mereka yang sabodo teuing, yang penting gerakan ke kanan ikut ke kanan, beda dengan pelatihan anak-anak mereka akan menegur temanya yang gerakanya salah sehingga anak-anak bisa koreksi kalau gerakanya mereka tidak sesuai koreo.


Setidaknya masa mudaku tidak sia-sia aku pernah berkontribusi untuk meningkatkan rasa percaya diri dan membekali anak-anak muda dengan latihan Taekwondo secara gratis di alun-alun kota, dan senangnya mereka banyak yang mendengarkan tenik yang kami ajarkan terutama cara menangkis dan membela diri ketika ada yang berniat jahat. Aku kembali mengintip dari jendela kaca untuk memastikan Mbak Siska kali ini pergi benaran.


Aku mengusap dadaku ketika melihat kali ini mobil Mbak Siska pergi dari rumah ini.


"Kayaknya aku harus mulai latihan Workout lagi dan melatih ototku agar lebih kuat lagi," gumamku sembari bangga dalam diriku karena aku tidak harus sakit hati dengan hinaan wanita seksi itu. Aku malah merasakan kepuasan sudah membuat Mbak Siska kesal. Dalam diri ini ingin membuat kesal lagi, tapi juga ada rasa kasihan takut wanita itu kena mental. Aku harus ingat nggak boleh terlalu menyerang cukup berikan pelajaran ringan saja. Selebihnya biarkan Tuhan yang atur.

__ADS_1


__ADS_2