Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Ortu dan Anak yang Pengertian


__ADS_3

Sudah satu minggu paska Lukman meninggal dunia. Sudah satu minggu juga Mimin dan juga Hadi tidur di rumah orang tua Mimin. Iko pun selama ini tinggal dengan Mimin dan Hadi. Yah, mereka benar-benar memanfaatkan momen ini untuk kebersamaan antara, Iko dan baba barunya.


"Sayang, hari ini kita siap-siap pulang ke rumah kita yah. Kalau di sini berangkat kerjanya kejauhan," bisik Hadi dengan memeluk Mimin yang sedang mengajar ngaji bersama Iko.


Mimin mengusap punggung tangan Jadi yang melingkar di perutnya. "Ya udah, nanti Mimin pamitan sama Julio dulu yah."


"Asik ... akhirnya bisa pulang." Hadi nampak sangat senang dengan keputusan Mimin, yah selain karena kerjanya jauh kalau berangkat dari rumah orang tua Mimin. Di sini juga sepi, Handan tidak betah. Yah, mungkin benar kata orang sebagus-bagusnya rumah orang. lain, akan lebih kerasan rumah sendiri, dan juga rumah sendiri selalu lebih nyaman itulah yang dirasakan oleh Hadi. Sehingga ketika acara pengajian sudah selesai Hadi langsung bersemangat untuk pulang.


"Baba, Mama mau ke mana?" tanya Iko dengan bingung. Yah, anak kecil itu bingung selalu dipindah-pindah tinggalnya.


"Kita akan pulang lagi ke rumah Baba. Iko suka?" tanya Hadi yang makin hari makin lengket dengan anak tirinya itu.


"Horeh. Iko suka." Iko pun berdiri dengan menggoyang-goyangkan pantatnya seperti bebek karena senang ia akan pulang ke rumah babanya. Yang banyak mainanya.


Yah, sebagai kado dari nenek dan kakeknya. Ahmad pun menyulap taman belakang menjadi taman permainan. Segala permainan di sediakan di sana, dari trampolin, serodotan, jungkit-jungkit, ayunan, ada kelinci dan banyak binatang yang membuat Iko betah di rumah babanya.


Meskipun di rumah bunda Lydia, dan oma Misel juga banyak permainan. Namun, tetap beda bagi anK kecil itu. Yah, inilah keberuntungan Iko dia sangat beruntung karena banyak yang menyayangi dirinya. Bahkan di saat masih kecil dia benar-benar dimanjakan dengan berbagai mainan yang mungkin anak-anak seusianya tidak punya.


Mimin pun langsung berpamitan dengan Julio yang masih kerja. Di mana laki-laki usia tiga puluh empat tahun itu memang sangat rajin bekerja. Bahkan pagi, siang dan malam seperti ini dia masih kerja. Alasannya barang pasokan datang di tokonya pada saat malam hari. Maklum sebagai pekerja toko ofline dan juga online banyak pembeli dan juga peking barang dan kirim masih dikerjakan dengan tenanga yang belum banyak. Sehingga Julio harus mengurus sendiri sesuatunya.


Setelah Mimin izin dengan Julio dan laki-laki itu juga tidak bisa melarang karena memang Mimin itu saat ini sudah menikah dan haknya Mimin untuk ikut suaminya. Yah, malam ini juga Mimin, Hadi dan Iko langsung pulang ke rumah Hadi. Apalagi orang tua Hadi juga lusa sudah bilang akan pulang ke Kalimantan. Ia kelamaan ada di Jakarta sehingga pekerjaanya banyak yang terbengkalai. Apalagi Handan tidak bisa diandalkan dalam urusan pekerjaan kantor. Dia datang ke kantor orang tuanya paling absen saja. setelahnya ia lebih senang berdebat atau justru mengurus klien-klienya.

__ADS_1


Dari awal memang Handan tidak pernah tertarik dengan urusan perkantoran. Masih ingat kan ketika ditawarkan infestasi saham, dia selalu tidak mau dengan alasan tidak tahu bagaimana untung dan cara pembagian saham dan lain-lain hingga Hadi pun memaksa untuk infestasi baru Handan mau kalau tidak dipaksa dia pasti akan tetap menyukai profesinya saat ini.


******


Tidak menunggu waktu lama, Mimin dan suaminya serta buah hatinya sudah sampai di depan rumah Hadi. Iki pun langsung senang dan ingin turun buru-buru.


"As'salamualaikum ..." Suara Iko, dan kedua orang tuanya langsung menggema di rumah mewah Hadi.


"Wa'alakumussalam ..." Ahmad dan Arum pun langsung membalas salam anak, menantu dan cucunya.


"Astaga cucu Nenek udah datang. Sekarang bobo di sini kan? Iko bobo sama Nenek dan Kakek mau? Lusa Nenek dan Kakek akan pulang ke Kalimantan pasti nanti akan kangen banget sama Iko." Arum tidak henti-hentinya memeluk Iko. Sedangkan Hadi dan Mimin sudah jelas dikacangin.


Udah jadi rahasia umum kalau sudah punya cucu pasti anak dan menantu ya nomer sekian. Cucu dulu yang disapa.


"Ya udah boleh, tapi kalau malam jangan nangis yah," balas Mimin, tahu arti tatapan Iko.


"Yeh, Iko bobo sama Kakek dan Nenek." Iko berjingkrak bahagia anak kecil itu memang jauh lebih senang tidur dengan kakek dan neneknya karena dengan kakek dan neneknya lebih dimanja. Jadi Iko pun senang. Maklum Arum dan Ahmad adalah tipe nenek dan kakek yang sangat sayang dengan cucu. Sehingga Iko sangat dekat dengan mereka. Meskipun Iko dan kakek serta neneknya tergolong baru untuk urusan kenal mengenal.


"Kalian mau makan apa langsung tidur?" tanya Arum pada Mimin dan juga Hadi.


"Tidur aja Mah, tadi sebelum ke sini sudah pada makan. Lagian pengin tidur cepat. Mumpung Iko ada yang ngasuh. Sejak di rumah almarhum ayah tidurnya tidak teratur." Hadi yang mengambil alih jawaban atas pertanyaan Arum. Ya jelas Arum dan Ahmad tersenyum-senyum sendiri. Mengerti arti dari ucapan Hadi. Padahal mereka tidak tahu kalau selama ini Hadi masih puasa.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu. Nikmati waktu kebersamaan kalian. Dan soal Iko biar Mamah dan Papah yang asuh," balas Arum dengan bibir masih tersenyum senyum bahagia.


Arum dan Ahmad yang sudah jauh berpengalaman pun langsung membawa Iko untuk tidur ke kamar mereka. Memberikan waktu untuk mamah dan babanya.


Benar-benar orang tua dan anak yang pengertian.


"Kita ke kamar yuk, cape banget paengin tidur awal." Hadi pun mengulurkan tangan pada sang istri. Mimin pun dengan manja menggelayut ditangan sang suaminya. Mereka berjalan dengan mesra menuju kamar mereka. Kamar yang baru ditempati dua kali oleh Mimin, dan sudah selama satu minggu tidak ada yang nempati lagi.


"Mas mau langsung tidur?" tanya Mimin, kasih kode sekaligus menawarkan surga.


"Apa tamu kamu sudah pergi?" tanya balik Hadi. Ya kali kalau tamunya sudah pergi malah dianggurin ya sayang dong. Gas lah biar cepat dapat kado adiknya Iko.


"Kalau gitu Mas tunggu sebentar yah. Mimin akan pastikan sekali lagi apakah sudah suci atau belum." Mimin masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa pakaian yang sudah disiapkan oleh dirinya untuk menyenangkan sang suami. Yah dia ke kamar mandi bukan untuk memastikan apakah tamunya sudah pergi atau belum. Mimin pun membersihkan tubuhnya hingga pasti wangi dan memakai pakaian dinas untuk pertama kalinya.


Wanita itu tanggalkan rasa malunya. Sebagai pemburu surga kepuasan suami pun menjadi prioritas utamanya. Yah. Itulah yang ada dalam pikiran Mimin.


Di saat Mimin bersiap ingin memberikan yang jadi hak suaminya. Memberikan yang terbaik dan yang pasti beda. Hadi sendiri yang niatnya rebahan justru pulas tertidur.  dengan tangan masih memegang ponselnya. Dan tubuh masih setengah bersandar ke dasboard tempat tidur.


#Ya Alloh Abang, bangun itu kasihan Mimin udah pakai baju dinas....


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2