
Kembali ku ayunkan kaki ini ke dalam kamar. Meskipun perasaan ini masih juga belum menemukan ketenangan, meskipun masih banyak pertanyaan yang mengganjal mengenai temanku, tetapi aku juga tidak boleh terlalu membuang energiku untuk masalah Mimin, benar kata dokter Sera kalau Mimin hanya butuh satu orang yang mengerti dirinya. Apalagi tadi dokter Sera juga sempat melarang ku, ketika aku ingin menjenguk Mimin, atau bahkan bertukar kabar langsung dengan temanku itu.
[Maaf Lydia, bukan saya tidak mengizinkan kalu datang ke sini atau telpon dan mengajak ngobrol dengan Mimin, saya tahu niat kamu baik. Kamu ingin memberikan dukungan dan semangat untuk Mimi, tetapi Mimin justru hatinya berkecil hati. Dia pernah bercerita kalau dia sesungguhnya malu, minder, kalau ada temanya yang menjenguk dia. Dia berkecil hati, dia malu karena fisiknya yang sangat kurus dan kulit banyak hitam-hitam serta rambut yang lepek, bahkan dia juga bilang kalau wajahnya kayak nenek-nenek, itu sebabnya Sari tidak pernah datang mejenguk Mimin, karena memang Mimin setiap dijenguk juga bukanya bersemangat, tetapi malu dengan kondisi fisiknya. Sehingga kami memutuskan biarkan senyamanya dia. Dan kamu juga semoga tahu dengan maksud Mimin, cukup doa untuk dia, karena mungkin saja dari doa kamu, Mimin mendapatkan kesembuhan.]
Aku duduk termenung menatap mas suami dan juga jagoanku yang tidur dengan sangat nyenyak. Tangan ini dengan sendirinya ingin mengusap rambutĀ tipis Iko. Ada rasa sakit setiap aku melihat wajah polosnya. Setelah puas menatap jagoanku aku pun beralih pada mas suami.
Ada kebimbangan dalam hati ini akan rahasia siapa Iko sesungguhnya. Aku melakukan hal yang sama pada mas bojo. Ku belai rambutnya yang hitam.
Hingga aku melihat kedua mata mas suami membuka, padangan mata bingung dengan sorot mata merah menatapku. "Maaf jadi bangun," ucapku dengan senyum terbaikku.
"Kenapa? Iko bangun?" tanya mas suami dengan suara seraknya.
"Tidak, hanya terlalu senang saja melihat wajah Mas dan Iko yang sedang tertidur. Sedang mengucapkan rasa syukur pada Tuhan, karena.malam ini kita menempati rumah baru, juga dengan anggota keluarga baru. Saking senengnya Lydia sampai tidak ngantuk dan seolah ingin terus menatap kalian tidur," ucapku dengan senyum damai, aku mencoba jujur dengan perasaanku.
__ADS_1
Yah, memang itu yang aku rasakan dalam batin ini, selain rasa cemas, tidak tenang dan juga ada rasa yang mengusik di hatiku yang dalam, dalam sisi hatiku yang lain, tidak henti-hentinya akau mengucapkan syukur yang tak terus menerus aku mendapatkan kebahagiaan yang tiba-tiba.
"Tidurlah..." Mas Aarav menepuk ranjang sisi dia tidur. Aku pun sebagai istri patuh, baik hati dan tidak sombong, langsung mengikuti apa yang mas Aarav minta. Tidur di sampingnya dan berbantalkan lengan mas suami, tangan mas suami pun melingkar di atas perutku. Rasanya kegundahanku sedikit menguai, dan berganti rasa nyaman.
"Apa yang kamu rasakan Mas juga rasakan, dulu saat Mas masih memiliki hubungan dengan mantan, lima tahun menikah, dan sudah berjuang ingin medapatkan anak rasanya sulit sekali, tetapi di tahun ke tiga. Mas semakin sadar, mungkin Tuhan tidak memberikan kita anak karena kita berdua terlalu sibuk mengejar dunia. Mas sibuk dengan pekerjaan Mas dan Siska juga sibuk dengan pekerjaannya. Sampai Mas minta Siska untuk tetap di rumah dan mencoba program dan dia juga mencoba mengurus rumah tangga seperti orang-orang diluar sana ketika menikah, maka suami cari nafkah dan istri di rumah mengurus rumah dan menjadi ibu untuk anak-anaknya. Mungkin dengan dia di rumah program yang kita jalan itidak bisa berhasil. Namun Siska selalu bilang, kalau dia di rumah justru stres karena hanya diam saja tanpa aktifitas seperti biasanya. Yah, Mas maklum sih dia dari muda sudah terbiasa bekerja jadi ketika diam di rumah tidak ada anak atau temanya akan sangat bosan hingga akhirnya di tahun ke empat dan lima menjadi awal semua perubahannya. Yah Sekarang Mas sadar kalau Tuhan belum memberikan sesuatu bukan karena kita buruk dan juga tidak pantas untuk mendapatkanya. Tetapi memang belum tepat waktunya. Buktinya menikah sama kamu belum ada satu bulan sudah dapat segalanya. Kamu anugrah untuk Mas."
Ucapan Mas suami membuat aku menjadi lebih tenang, perlahan aku juga memasrahkan hati ini memasrahkan kegundahanku aku tahu kalau aku masih menyimpan ketidak nyamanan di dalam hati jatuhnya aku malah akan menyakiti perasaanku sendiri, dan aku bisa-bisa tidak bisa menjaga suami dan jagoanku karena masalah yang seharusnya tidak terlalu aku pikirkan.
Mas Aarav menggelengkan kepalanya pelan, dan senyum yang damai. "Udah ada Iko, lagipula tidak ada alasan untuk mas mencari yang lain. Kamu itu sudah lebih dari sempurna. Kamu adalah sosok wanita, dan kamu adalah jawaban dari doa Mas....
"Tunggu, kenapa Lydia jadi teringat lagu cinta terakhir dari Bagas Ran. Kaulah jawaban doaku, kau diutus Tuhan tuk temani hidupku. Dikala hati ini rapuh. Hadirmu sembuhkan lukaku. Kau hapus lelahku dengan senyummu. Ku percaya kamu. Kaulah cinta terakhirku...." Aku sedikit menyanyikan bagian reff yang memang jujur lagu itu juga mewakilkan isi hatiku atas hadirnya Mas Aarav dalam hidupku di saat aku hampir menyerah Tuhan benar-benar menghadirkan sosok laki-laki yang aku tidak impikan sebelumnya.
"Tunggu, itu benaran ada lagu yang liriknya kaya gitu, enak juga," balas mas suami yang ternyata menyukainya, itu karena suaraku cukup merdu sehingga mas suami terhipnotis. PD ajah dulu yah, soal bagus nggak suara tergantung yang dengarnya. Eh salah, tergantung tempatnya. Biasanya kalau di kamar mandi suara langsung bagus dan merdu seperti diva, tapi kalau keluar jangan di tanya, panci emak nggak melayang ajah syukur.
__ADS_1
"Astaga Mas masa nggak tahu, itu cukup terkenal lagunya karena memang sangat enak." Aku pun mengambil ponsel dan mencari lagu itu dan memutarnya. Bahkan mas suami sangat menghayati setiap lirik lagu yang enak itu, tidak hanya satu kali putaran, ternyata sampai berkali-kali di putar, ketagihan, terutama bagian reffnya yang benar-benar sangat mewakilkan perasaan kita.
"Mas selama ini dari mana aja, kenapa lagu seenak itu tidak tahu?" tanyaku setengah mengejek, emang sih tidak semua orang suka musik, tetapi dengan mendengarkan musik bisa mengurangi resiko stres.
"Kayaknya mas selama ini dari go'a," kelakarnya, hingga kami pun terus terus mengobrol. Aku bahkan lupa padahal tadi aku yang meminta mas suami istirahat, tapi malah sekarang aku yang mengajak untuk mengobrol dengan santai hingga rasa kantuk itu hilang. Dan kami saling bercerita dengan romantis.
Bersambung....
Salam dari Iko yang dikacangin sama emak dan bapaknya. Mereka lagi pacaran Iko di biarin bobo sama gajah...
...****************...
__ADS_1