
Lydia yang sangat penasaran dengan rasa masakan sang mami mertua dan suaminya pun ikut mencicipi masakan yang dibilang enak oleh suami dan papi mertuanya. Meskipun Lydia sebenarnya sedikit sangsi setelah melihat raut muka papi mertuanya. Seperti menahan sesuatu, dan hal itu berhasil membuat rasa penasaran Lydia bertambah, ingin mencicip makanan yang terhidang dengan rapi dihadapannya.
Wanita itu pun langsung mengambil nasi dan pepes ikan, tidak menunggu lama Lydia pun menyiapkan satu sendok nasi lengkap dengan ikan pepes.
Uhuk...Uhukk.. wanita berhijab itu langsung terbatuk ketika satu sendok masakan masuk ke mulutnya.
"Kamu kenapa Sayang? Masakannya tidak enak yah?" tanya Mami Misel dengan suara yang terdengar sangat cemas.
"Maaf Mih, kayaknya masakan Mami terlalu banyak jahe, jadi rada pedas, lebih mirip seperti pepes jahe, dan sedikit kelebihan garam," jawab Lydia setelah minum satu gelas besar air putih.
"Masa sih, coba Mami cicipi, tapi kenapa Aarav kelihatanya enak banget makanya, bahkan dia sampai nambah nasi." Mami Misel yang penasaran dengan makanan hasil olahan tangannya pun mengambil makanan dan mencicipinya, sedangkan Papi Sony dan Lydia duduk memperhatikan Mami Misel yang sedang mencicipi makanan hasil kreasi dirinya dan sang putera.
"Astaga, ini namanya masakan apa?" ucap Mami Misel dengan melepehkan kembali makanan yang ada di dalam mulutnya. Sedangkan Aarav heran kenapa tiga sang istri dan ibunya mengatakan kalau masakan hasil olahannya tadi rasanya tidak karuan. Sedangkan lidah dia merasakan yang sebaliknya.
"Kenapa Mami dan Lydia seperti tidak suka dengan makanan ini, bukanya rasanya enak kan Pih?" tanya Aarav pada sang Papi yang ternyata sudah tidak makan lagi.
__ADS_1
"Sebenarnya rasanya kurang pas Rav, tadi Papi tidak enak kalau mau jujur, takut Mami dan kamu marah, tapi karena Mami sudah mencicipi makanan itu, maka Papi pun sepertinya harus jujur, kalau rasa masakan kamu dan Mami tidak enak" ucap Papi Sony dengan suara yang lirih dan jujur pake banget. Toh Mami Misel tahu betul kalau masaknya memang tidak enak. Bahkan dia sendiri bingung mau menamai masaknya apa? Pepes ikan rasa ikannya tidak ada, justru lebih dominan pepes jahe.
"Kok, aneh. Ini makanan enak loh Pih. apa karena bumbunya tidak tercampur dengan sempurna, sehingga punya Aarav enak sedangkan yang lain kurang enak?" tanya Aarav masih tetap yakin bahwa makanan hasil masakannya dan sang ibu adalah makanan yang enak.
Mami Misel yang penasaran pun mengambil pepes yang memang bungkusnya beda dengan yang barusan dia makan.
Uhukkk... Uhukkk... Kini gantian Mami Misel yang tersedak. "Ini rasanya tidak jauh dengan yang ini, apa mungkin lidah kamu sudah konslet Aarav kenapa makanan dengan rasa tidak enak begini kamu tetap bilang enak. Awas nanti perut kamu sakit," ucap Mami Misel dengan mendorong piring yang masih utuh makanannya. Lydia dan Papi Sony pun heran dengan Aarav yang tetap bisa menikmati makanan yang rasanya sangat aneh, lebih seperti makan dengan menu pepes jahe, dan juga rasa garam terlalu banyak.
"Terserah kata kalian, yang jelas kata Aarav ini adalah makanan yang enak. Bagaimana kalau besok Mami masakan Aarav lagi, ternyata masakan Mami tidak buru-buruk banget malah Aarav suka dengan masakan yang Mami olah," usul Aarav yang langsung di balas dengan mata Mami Misel yang melebar sempurna. Bagaimana tidak, marah hari ini saja dia masak karena terpaksa sekali, belum dengan hasil masakan yang hancur membuat Mami Misel tidak ingin lagi masak, karena hanya cape yang didapat pada kenyataanya makanan yang hampir tiga jam mereka masak tidak bisa dimakan. Bahkan sang suami dan menantunya memilih makan dengan telur dadar dan juga sop yang asisten rumah tangganya masak. Masakan yang cukup banyak itu pun mau tidak mau akan dibuang, karena di masak ulang pun rasanya tidak akan bisa tertolong. Nah, malah Aarav minta kalau besok dia ingin makan masakan sang mami lagi.
"Mih Please, Aarav ingin makan masakan Mami, terserah apa kata orang lain tentang masakan Mami, tapi untuk lidah Aarav masakan Mamih enak, malah juara rasanya lezat," balas Aarav dengan menunjukkan kedua jempolnya. Wajah Aarav pun terlihat kalau dia sangat bahagia setelah bisa makan masakan sang mami.
"Mih, Pi, Lydia pamit ke kamar dulu yah," sela Lydia yang justru dia kembali teringat masalah ia ingin mengecek apakah dia hamil atau tidak. Lydia juga merasa kalau sang suami sangat aneh. Yang mungkin saja kata-kata sang mami mertua dan iparnya benar kalau dia sekarang sedang hamil. Dan saat ini suaminya sedang mengidam.
Tanpa menunggu lama dan jawaban dari ke dua mertua dan sang suami. Lydia langsung beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar pribadinya.
__ADS_1
Dengan dada yang bergemuruh, Lydia pun membuka laci tempat menyimpan alat tes kehamilan. Tidak menunggu lama wanita itu langsung mengambil benda pipih itu, bukan hanya satu, tetapi justru ada lima benda pipih itu Lydia ambil, dia harus membuktikan dengan sangat akurat hasilnya nanti. Kalau hanya satu dia masih tidak percaya.
"Ya Tuhan semoga hasilnya positif," gumam Lydia sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Wanita itu pun menyiapkan mentalnya dengan matang sebelum masuk ke dalam kamar mandi, apabila hasilnya negatif.
Meskipun sang suami dan kedua mertuanya tidak pernah menyinggung dengan kehamilan, tapi Lydia sebagai wanita sudah sejak lama menginginkan bahwa ia bisa memberikan keturunan untuk sang suami. Apalagi saat ini umur wanita itu tidak muda lagi. Sehingga ia sangat berharga secepatnya bisa hamil.
Selama ini ia berpikir positif mungkin dirinya terlalu stres menghadapi serangkaian adopsi Iko yang cukup rumit dan menguji nyali karena takut yang teramat kalau keluarga David keburu mengetahui siap Iko sebenarnya. Dan setelah Iko resmi jadi anak asuhnya pikiran Lydia benar-benar bisa tenang.
Mungkin ini adalah kesekian kalinya dia mengetes apakah dia hamil atau tidak. Dari yang sudah-sudah ia selalu kecewa dan kembali berharap pada Tuhan kalau secepatnya ia mendapatkan kabar bahagia, apakah kali ini dia juga akan merasakan kekecewaan yang sama?
Bersambung....
...****************...
__ADS_1