Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Tidak Selugu penampilannya.


__ADS_3

Hadi dan Aarav masih terus ngobrol hingga malam pun semakin larut. Pukul satu Hadi dan Aarav pun mengakhiri obrolan mereka, setelah banyak pembahasan. Sekarang Hadi sendiri sudah tidak terlalu tegang dan juga karena mengobrol efek ramuan papah Ahmad pun sudah sedikit berkurang. Tubuhnya tidak setegang tadi.


Dengan perlahan Hadi membuka pintu kamarnya karena beranggapan kalau Mimin sudah tidur. Namun, justru Hadi terkejut dengan apa yang ia lihat Mimin justru masih duduk dengan pandangan mata ke ponselnya. Yah, Mimin sejak tadi juga sebari menunggu  Hadi yang sedang ngobrol dengan Aarav. Mimin juga memilih bertukar pesan dengan Julio. Ia menanyakan bagaimana kabar ayahnya. Persaanya belum tenang kalau ayahnya belum kembali bangun dan ngobrol dengan dirinya.


"Loh, kamu belum tidur?" tanya Hadi kaget ketika melihat Mimin juga masih terjaga padahal sudah pukul satu dini hari.


Mimin yang sedang fokus pada ponselnya pun tersentak kaget, dan mengalihkan padangan matanya pada suami barunya. Wanita berwajah cantik itu mengulas senyum dengan teduh. "Masih bertukar kabar dengan Julio, nanyakan kondisi Ayah," balas Mimin sembari menunjukan ponselnya di mana ia sedang bertukan pesan dengan abangnya.


"Ya udah aku mau gosok gigi dulu, habis itu kita istirahat, ini sudah malam, besok kita juga harus mulai beraktifitas. Kamu juga bukanya akan menemui ayah kamu lagi."


Mimin memberikan jawaban dengan anggukan. Sedangkan Hadi langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri sebelum pergi istirahat. Tidak harus menunggu lama kini Hadi sudah ke luar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar. Mimin pun sudah menyiapkan pakaian tidur untuk suami barunya.


"Aku tidak tahu biasanya Mas kalau tidur pakai baju apa jadi Mimin ambil yang ini, mau pakai atau ganti yang lain." Mimin menunjukan pakaian yang ia barusan ambil dari lemari suaminya.


"Pakai ajah, baju yang mana saja kalau kamu yang ambil ya dipakai. Lagian kamu kan juga lagi sakit ya jangan ambilin baju juga aku tidak apa-apa. Aku bisa ambil sendiri kok," balas Hadi, ia akan kembali lagi masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian tapi Mimin menahanya.


"Mau ke mana?" tanya Mimin ketika Hadi membalikan badannya.


"Kamar mandi, ganti pakaian," balas Hadi sembari menunjuk kamar mandi.


"Emang kalau di sini kenapa? Malu?" tanya Mimin. "Bukanya kita sudah suami istri kenapa harus di kamar mandi. Udah di sini aja. Nanti juga tahu semuanya," ucap Mimin dengan tenang. Sontak saja Hadi terkejut dengan ucapan istrinya. Karena Hadi pikir Mimin yang akan malu, kalau melihat dirinya beganti pakaian di depanya.

__ADS_1


"Kalau aku sih nggak malu, aku justru takut kalau kamu yang akan malu, atau risih kalau aku ganti baju di hadapan kamu,"  balas Hadi dengan mengulas senyum, senang karena ternyata Mimin tidak selugu penampilanya.


"Jujur untuk pertama pasti malu dan agak gimana gitu, tapi bukanya kalau sudah pasangan suami istri sudah biasa melihat itu, jadi ya anggap aja ini perkenalan." Mimin menggigit bibir bawahnya, dan memejamkan matanya ketika ia selesai mengucapkan kata-kata sakti itu. Wanita cantik itu tidak menyangka kalau bibirnya sangat lancar berbicara seperti itu. Padahal dia sendiri dalam batinya cukup malu dan juga tidak seberani itu. Tapi justru giliran ngomong lancar jaya kaya yang sudah profesional aja. Padahal dia juga masih perlu banyak belajar dan berlatih.


"Baiklah kalau kamu yang minta, aku akan berganti pakaian di sini." Tanpa menunggu jawaban dari Mimin, Hadi pun langsung memakai pakaian yang sudah Mimin pilihkan satu demi satu. Sedangkan Mimin yang memberikan tantangan agar Hadi memakai pakaian di hadapanya saja, justru menunduk malu dan tidak berani menatap Hadi yang sedang memakai pakaian.


Hadi sendiri ketika melihat reaksi Mimin pun terkekeh. Yah, wajar malu juga namanya juga masih pemula. Eh maksudnya bukan pemula tapi hanya belum kenalan aja dengan


Hadi pun duduk di samping Mimin yang masih menunduk. "Kirain bakal lihat, taunya nunduk juga," goda Hadi yang langsung memeluk tubuh kurus Mimin.


Serrr ... Darah rasanya berlarian ingin lebih cepat sampai di otaknya. Ketika tubuhnya di tarik ke dalam pelukan hangat sang suami. Hadi memang bukan cinta pertamanya, tapi rasa yang timbul melebih rasa ketika ia pertama kali merasakan jatuh cinta. Air mata Mimin pun langsung luluh ketika ia kembali diperlakukan selembut ini. Ia terisak dibalik dada bidang sang suami. Laki-laki itu biasanya akan datar-datar saja tapi ternyata Hadi cukup romantis.


"Entahlah, aku terlalu bahagia dan juga terlalu takut kalau kamu juga akan bosan dengan aku yang manja, cengeng, nawel dan masih banyak kekuranganku. Aku belum siap hidup sendiri. Aku juga masih terlalu kaget kenapa tiba-tiba aku sudah menjadi istri kamu," balas Mimin dengan jujur. Sontak Hadi pun terkekeh mendengar ucapan Mimin. Yah, ia terkekeh dan tertawa dengan renyah mendengar ucapan istrinya yang ternyara tidak sedewasa penampilanya.


Ya Hadi maklum sih dibandingkan yang lainnya usia Mimin paling muda. Dia juga banyak melewati hari tidak menyenangkan selama tahun-tahun ke belakang. Ia dipaksa dewasa oleh keadaan sehingga tidak memungkiri ketika ia bertemu dengan laki-laki yang mengayomi maka sifat manjanya akan keluar.


"Kamu lucu, kenapa aku berahadapan seperti ini seperti melihat Iko. Aku jadi kangen dengan anak itu. Tidak menyangka loh candaan aku dulu malah beneran. Aku sekarang beneran jadi ayahnya." Hadi mendekatkan wajahnya dengan wajah Mimin. Ya meskipun ia tidak bisa bermain-main lebih, tapi setidaknya mendekatkan emosi dan kedekatan seperti ini cukup membuat Hadi nyaman dan merasa benar-benar mendapatkan jodoh yang sangat sangat berbeda dengan istrinya yang dulu. Sifat Mimin justru berbeda dengan mantan istrinya. Mimin lebih cenderung manja dan tergantung dengan Hadi. Sedangkan mantanya dulu lebih cenderung mandiri dan sedikit tertutup.


"Hist, Iko anak aku ya pasti mirip ibunya." Mimin justru semakin mendekatkan wajahnya pada Hadi hingga hidung mereka saling bersentuhan. Lagi, Hadi tertipu dengan penampilan Mimin, nyatanya wanita yang sudah resmi dia nikahi justru lebih agresif dari yang dia bayangkan.


Senang tentu yang Hadi rasakan karena ia kini mendapatkan istri yang lebih menantang. Hadi dan Mimin pun menghabiskan sisa malam bersama dengan saling berkenalan antara anggota tubuh yang lain. Tanpa Hadi katakan Mimin bisa melayani suaminya dengan baik dan setidaknya malam ini Hadi tidak begitu kecewa. Justru sesuai yang dibayakan oleh Mimin, Hadi merasakan malam pertama yang sangat berbeda.

__ADS_1


Mimin menatap Hadi ketika laki-laki itu mengerang melepaskan ribuan calon anaknya. Ia menunduk dengan wajah merah. "Terserah kalau mau menilai aku wanita murahan, aku hanya takut kalau kamu tidur dengan merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Kamu berhak untuk mendapatkan ini dan aku berusaha menjadi istri yang baik di mata kamu," ucap Mimin, yah sebenarnya ia juga tidak nyaman dan merasa malu melakukan hal itu, apalagi secara tidak langsung dia yang menawarkan kenikmatan itu.


Hadi membenarkan pakaian bawahnya dan memeluk tubuh istrimya yang kali ini sudah tidak lagi mengenakan penutup kepala.


"Kenapa aku harus menilai murahan pada istri yang jelas tengah berusaha membahagikan suaminya. Kamu sedang beribadah masa aku bepikir seperti itu. Jujur aku justru senang dengan usaha kamu. Meskipun malam pertama kita tidak terlalu istimewa, tidak ada kamar pengantin yang romantis, tidak ada taburan kelopak mawar, tidak ada. lilin-lilin aromaterapi, tapi aku janji tidak akan melupakan malam pertama ini. Kamu adalah istri yang mengerti perasaan suaminya. jadi aku layak acungkan dua jempol." Hadi mengacungkan dua jempolnya. Mengakui kalau Mimin adalah istri yang bisa mengerti kebutuhan suaminya. Kemudian Hadi kembali memeluk tubuh Mimin.


"Tidur yuk sudah hampir jam tiga, Besok malah kesiangan lagi." Hadi menarik tubuh Mimin agar tidur di sampingnya.


Laki-laki itu memeluk tubuh sangat istri dengan posesif. Tidak membiarkan Mimin jauh dari tubuhnya.


"Apa kamu tidak merasakan sakit perut?" tanya Hadi dengan mengusap perut Mimin yang datar.


Serr... lagi Mimin merasakan rasa yang berbeda ketika sang suami mengusap perutnya.


Mimin menggeleng. "Sekarang sudah baikan karena kamu usap-usap," balas Mimin. Dia tidak pernah diperlakukan sehangat. Mimin pun membalas pelukan suaminya.


"Tetep seperti ini yah, jangan pernah berubah. Aku takut bahagia yang aku rasakan saat ini tidak akan bertahan lama," isak Mimin yang masih merasakan trauma. Sebab dulu pernikahan juga bahagia dan hangat, tapi itu hanya sementara setelah kehamilan Iko justru dia tidak lagi diperlakukan hangat.


"Aku janji tidak akan membuat kamu sedih." Entah itu janji keberapa tapi memang sesayang itu Hadi pada Mimin.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2