
Pagi hari sudah menyapa bahkan matahari pun masih malu untuk menampakan cahayanya yang hangat. Namun Aarav sudah heboh membaca berita yang ada dari ponselnya.
"Nah kan, kena batunya juga," ucap Aarav dengan gemas. Bahkan ia sampai tidak memperdulikan ketika anaknya mengajak ngobrol.
"Ada apa sih Mas, itu loh Abang Iko ajak ngobrol," tegur Lydia kasihan anaknya ngajak ngobrol malah dikacangin. Aarav pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap Lydia dengan wajah bahagiaanya.
"Coba deh kamu baca berita ini Sayang." Aarav lebih memilih menggendong Iko dan berjalkan ke Lydia dan membiarkan sang istri membaca berita yang membuat ia bahagia di pagi-pagi buta.
Tanpa banyak tanya Lydia pun langsung membaca berita yang membuat Aarav tersenyum bahagia. Beberapa saat ruangan kamar yang luas pun sepi ketika Lydia membaca berita yang ada di ponsel Aarav.
"Ya Tuhan kasihan sih yah, tapi kadang kalau lihat tingkah dia itu ngeselin banget. Apalagi saat terakhir kita bertemu dengan kakek tua itu yang secara tidak langsung mendoakan kita agar cepat masuk penjara, tetapi malah dia yang kesulitan untuk sembunyi dari kepungan karyawannya," gerundel Lydia.
"Enggak dibayangin gimana pusingnya Wijaya ngadapin karyawan yang sudah kaya gitu. Polisi juga kenapa bisa telat memberikan pengamanan pada rumah Wijaya jadi kaya gitu."
"Tapi itu nanti rumah yang sudah dikuasai oleh karyawannya bakal diapakan Mas?" tanya Lydia di mana rumah mewah Wijaya yang kurang pengamanan diambil alih oleh karyawanya dan sekarang dikepung oleh karyawanya. Entah benda apa saja yang diambil tetapi dalam berita dituliskan sebagian barang berharga milik tuan Wijaya pun raib.
"Mungkin nantinya bakal di lelang, tapi kasihan kalau barang berharga atau sura-surat penting nggak sempat di selamatkan, bisa-bisa malah bikin masalah maru untuk dia."
"Ya Tuhan, kok malah Lydia jadi kasihan yah. Nanti dia akan tinggal di mana dong?" tanya Lydia tidak terpikirkan bagaimana nasibnya. Wijay dari orang kaya raya, tetapi sekarang barang berharganya hilang dan rumah pun dikuasai oleh karyawanya , bahkan rumah terancam di lelang agar bisa membayar hak para ratusan karyawan yang tidak di gajih beberapa bulan terakhir.
"Harusnya Wijaya kalau sudah tahu ada guncangan hebat dalam perusahaanya segera ambil kebijakan PHK dini atau gimana jangan dipaksakan produksi banyak tapi menindas karena seekor semut yang diinjak pun lama-lama bisa menggigit apalagi kalau semutnya banyak bisa-bisa terlalu berbahaya untuk seekor gajah pun."
"Mungkin Tuan Wijaya sejak ditinggal David sangat kesulitan untuk mengolah perusahaan yang banyak bahkan bukan hanya perusahaan yang ia punya tetapi juga kebun kelapa sawit yang sangat luas, pasti untuk berpikir ke sana dia juga butuh pikiran yang luas dan cepat penanganan, apalagi konsentrasinya terpecah oleh kasus anaknya sehingga dia mungkin kurang fokus dengan perusahaanya." Lydia mencoba mengerti berada diposisi Wijaya yang cukup berat. Meskipun ia kesal dan benci dengan Wijaya tetapi tidak tega juga memikirkan masih kakeknya Iko.
"Tapi bisa juga memang dalam perusahaan itu ada pernyakitnya, dan ketika satu pernyakit tidak diatasi maka akan berakibat pada sakit yang lain itulah pentingnya kita selalu turun tangan pada perusahaan, jangan terlalu terobsesi banyak cabang dan perusahaan, tetapi tidak diawasi dengan benar bakal menyimpan pernyakit-pernyakit yang mengerikan dan bisa membuat sakit parah bahkan mengakibatkan masalah yang jauh lebih besar pada diri kita sendiri nantinya."
__ADS_1
Lydia menatap Aarav yang semakin hari semaki membuatnya jatuh cinta. Usia perkawinanya sudah sampai dua tahun bahkan lebih, tetapi Aarav justru semakin terlihat sangat menyayanginya. Tidak pernah Lydia merasa seperti tidak dihargai oleh suaminya. Aarav pun selalu memberikan perhatian-perhatian kecil pada dirinya sehingga cinta Lydia semakin besar.
"Mas ...." panggil Lydia dengan suara setengah mende-sah.
"Apa Sayang. Iko belum tidiur baru juga bangun. tunggu nanti Iko main dengan yang lain, sekarang Iko sedang manja sama papahnya," balas Aarav dengan memberikan tatapan genit pada istrinya.
"Apaan sih Mas, kan cuma panggil doang, kenapa sekarang jadi mesum banget sih pikiranya. Kalau panggil emang harus pengin yah," dengus Lydia dengan menyenderkan punggungnya ke tumpukan bantal yang tinggi. Hamil kembar itu sangat berasa apalagi untuk istirahat dan untuk jalan sudah berasa begah padahal kata orang-orang ketika baru usia empat bulan masih aman-aman saja, tetapi Lydia baru empat bulan juga sudah terlihat sering kelelahan.
"Ngomong-ngomong kamu periksa lagi kapan Yang, Mas udah nggak sabar ingin lihat anak kita cewek atau cowok yah kira-kira. Atau malah sepasang."
"Nanti Mas minggu depan, kenapa Mas mau temanin Lydia?" tanya Lydia, Aarav memang tidak selalu bisa menemani Lydia priksa hanya beberapa kali ia bisa lakukan. Kesibukannya membuat Lydia harus tahu dan bisa memeriksakan berdua saja dengan mertuanya.
"Mas usahakan yah, kalau sekarang-sekarang untuk bertemu dengan dua anak-anak Mas."
"Bunda, adek bayinya nanti cewek atau cowok?" tanya Iko dengan mengusap perut bunda Lydia yang sedang tiduran dengan badan bersandar pada bantal yaang tinggi.
"Bunda belum tahu Bang, emang Abang mau adik bayinya cewek atau cowok?" tanya Lydia, dengan senyum bahagia karena Iko sudah sayang pada calon adik-adiknya.
E .... Iko tampak berpikir dengan keras.
"Abang mau kaya adik Zara dan sama kayak Abang Iko satu," celotehnya dengan menujukan jari-jarinya seolah sudah tahu kalau dua itu berapa jari yang berdiri.
"Oh jadi Abang mau adik bayinya cowok dan cewek?" tanya Aarav sembari mengangkat Iko untuk ia letakan di atas perutnya sedangkan Aarav sendiri memilih merebahkan tubuhnya di samping Lydia agar Iko tetap bisa berdekatan dengan bundanya sekalian papahnya bisa peluk bundanya Iko.
Iko mengangguk dengan kuat. "Betul Yah. Abang mau nanti ada teman main bola. Kalau kaya adik Zara semua nggak mau cengeng adik Zara," adu Iko. Yah Zara memang sepupunya yang paling cengeng, tetapi Iko justru seolah senang meledek sepupunya itu sehingga jangan aneh ketika anaknya Amora sebentar-sebentar nangis karena abang Iki yang jahil.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong Zara, Mas kalau lihat Iko sama Zara jadi ingat Mas dulu sama Amora itu kaya gitu selalu meledek terus sampai nangis habis itu kalau Amora nangis, Mas panik sendiri karena bakal dimarahi oleh Mami, tapi asli sifat Zara mirip banget sama Amora fersi kecil, dan Mas itu hampir mirip dengan Iko, meskipun Iko lebih kecil dari Zara tapi jahilnya kayak mas dulu." Aarav bercerita dengan bersemangat.
Lydia pun langsung menatap suaminya yang tengah tetawa renyah mengingat keusilanya dulu.
"Pantas Amora kalau ketemu Mas sering berantem."
"Hey jangan salah Sayang, Mas berante-berantemnya waktu masih kecil. Udah besar mah baik bahkan saking baiknya kalau Amora ada kerja kelompok tugas sekolah atau apalah selalu mas ikuti biar nggak pacaran. Mas itu protektif banget sama Amora karena dia paling kecil udah gitu dia paling gampang dibohongi."
"Terus kalau Amora punya pacar?" tanya Lydia penasaran dengan cerita suaminya.
"Mas ikut kencan dong."
Lydia langsung menatap suaminya. "Jadi obat nyamuk dong?"
"Bahkan sampai ada yang ngira kalau Mas itu supir pribadinya Amora."
Hahaha Lydia tertawa renyah. Begitupun Iko yang ikut tertawa seolah tahu obrolan bunda dan papahnya.
Bersambung.....
...****************...
Ayo siapa yang mau main bola sama Abang Iko?
__ADS_1