
Dokter Sita dengan pelan-pelan mengoleskan gel di perut Mimin. Hingga rasa dingin dia rasakan.
"Kok tegang banget ada apa ini? Kan ini cuma ingin lihat apakah rahimnya ada masalah atau tidak, jangan tegang. Berdoa bareng-bareng biar hasil pemeriksaan ok semua," ucap dokter Sita yang tahu kalau Hadi dan Mimin sedang tegang.
Mimin dan Hadi pun mengulas senyum secara bersamaan. "Mungkin karena faktor umur Dok, takut sulit buat dapatin anak, jadi tegang deh," jawab Hadi dengan jujur meskipun dia tidak yang tua-tua banget cenderung matang malah.
"Memang umurnya berapa?" tanya dokter Sita, dengan mengerakan transducer di atas purut Mimin.
"Umur saya sudah tiga puluh enam tahun Dok dan istri saya sudah tiga puluh dua tahu." Hadi menjawab dengan pandangan mata yang juga di tunjukan pada layar empat dimensi di mana Hadi juga bisa melihat hasil tanpakan transdicer khususnya bagian rahim sang istri.
"Usia segitu lagi matang-matangnya. Sudah pantas mendapatkan buah hati." Dokter Sita menghentikan gerakan transducer di atas perut Mimin bagian bawah.
"Kayaknya kita tidak bisa melanjutkan program kehamilan ini," ucap dokter Sita dengan tangan yang tidak juga digerakkan lagi. Sontak saja baik Mimin maupun Hadi pun terkejut dan menujukan wajah sedihnya.
"Kenapa Dok, apa itu artinya saya bermasalah?" tanya Mimin dengan suara yang sudah berat. Hadi yang ada di samping Mimin pun mengusap punggung tangan sang istri untuk menenangkan agar Mimin jangan berpikiran yang tidak-tidak. Hadi justru melihat dari raut wajah dokter Sita seperti ada kabar gembira.
"Apa itu tandanya istri saya sudah hamil Dok?" tanya Hadi. Pasti dokter Sita ada alasan yang kuat dia tidak mengizinkan untuk melanjutkan program hamil mereka.
Dokter Sita mengembangkan senyum, dan mengangguk dengan semangat. "Ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan hamil, tapi di layar sana sudah terlihat ada kantung janin yang sudah terbentuk dan itu tandanya bakal ada penghuninya. Tapi ...."
"Tapi apa Dok?" Mimin dan Hadi yang sedang serius mendengarkan nasihat dokter Sita pun langsung bertanya dengan serentak. Ada rasa berat yang dia rasakan.
"Tapi untuk memastikanya nanti dua minggu lagi datang yah. Hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja." Dokter Sita menujukan calon buah hati mereka yang masih sangat kecil bahkan Hadi dan Mimin melihat seperti sebuah titik hitam.
"Apa itu calon janinnya Dok?" tanya Hadi sembari menunjuk layar monitor dan dia mendekat untuk memastikan seperti apa bakal calon anak mereka.
"Iya betul sekali itu calon buah hati kalian. Ternyata bibitnya memang unggul langsung tokcer loh ini." Dokter Sita mengacungkan kedua jari jempolnya sedangkan Hadi tertawa puas karena dia terbukti berbakat. Yah, siapa yang nyangka kalau dia akan secepat ini mendapatkan kabar gembira.
Mengingat dari pernikahan sebelumnya Hadi cukup memakan waktu lama untuk mendapatkan kabar bahagia itu. Itu juga semuanya harus berakhir kecewa.
"Jadi benar Dok, saya sudah hamil?" tanya Mimin yang memiliki pemikiran yang sama dengan Hadi tidak begitu percaya dengan apa yang dokter Sita katakan.
__ADS_1
"Seneng gak kalau udah langsung hamil?" tanya balik dokter Sita dan Mimin pun langsung mengangguk dengan air mata yang menetes. Tentunya itu adalah air mata bahagia.
"Itu berkat doa kalian. Tuhan tahu kapan rezeki itu akan datang. Kalau gitu kita ngobrol dulu yuk." Dokter Sita mengajak pasangan yang berhagia itu untuk duduk. Menjelaskan apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh wanita yang sedang hamil, makanan yang dianjurkan. Hadi membantu Mimin untuk turun, dan kembali duduk di tempat sebelumnya.
"Jadi apa saya aman Dok untuk hamil?" tanya Mimin masih memiliki perasaan yang takut kalau anaknya nanti akan memiliki sakit yang sama dengan dia. Mengingat sakit kangker katanya itu adalah sakit turunan meskipun dulu ibu atau ayahnya tidak memiliki riwayat sakit yang mengerikan itu.
Mendengar pertanyaan Mimin, Dokter Sita pun langsung mengerutkan keningnya. Bingung dengan apa yang Mimin tanyakan.
"Jadi gini Dok sebelumnya saya ada sakit yang cukup berbahaya." Mimin menjelaskan sakit apa yang menimpanya dan selama dua tahun ini dia juga masih terus melakukan kontrol dengan Dokter Doni dan dokter Marni, semuanya masih rutin Mimin jalani demi kesehatan tubuhnya.
Dokter Sita pun mengangguk anggukan kepalanya dan mendengarkan apa yang Mimin ceritakan. Wanita dengan wajah ramah itu pun mengangguk paham dan menghirup nafas dalam untuk menghirupnya.
"Sebenarnya sel kangker itu setiap tubuh manusia sudah punya sel itu. Sel kangker adalah sel yang makanannya dari gula. Ada yang bilang sel kangker itu adalah sakit turunan kalau ibu atau ayahnya sakit kangker anak atau cucunya akan mengalami hal yang sama. Namun, penelitian sekarang makin cangih dan sakit itu diturunkan hanya lima sampai sepuluh persen. Presentasi segitu cukup kecil dibandingakn dengan gaya hidup. Jadi jangan takut karena selama gaya hidup kita sehat. kurangi makanan mengandung gula perbanyak gerak tubuh sel kangker tidak akan berkembang karena makanan utama kangker adalah gula atau glukosa, kalau gula darah kita tidak ada yang berlebih dia akan mati karena berebut makanan dengan otot yang makannya juga gula. Sel kangker akan pergi dengan sendirinya karena merasa di tubuh kita tidak ada makanan jadi untuk kita yang punya orang tua atau anggota penderita kangker jangan sedih takut kalau kita aka bernasib yang sama. Segera rubah gaya hidup kita. Karena penyebab terbesar sakit itu bukan dari keturunan, tapi dari gaya hidup dan makanan kita. Sudahkan kita merubah gaya hidup sehat dan makanan kita juga sehat? Kalau belum boleh memiliki kecemasan itu, tapi kalau sudah jangan takut karena kangker takut sama orang yang memiliki kaya hidup sehat." Dokter Sera menjelaskan dengan sangat detail. Dan apa yang dijelaskan dokter Sera sama dengan apa yang dijelaskan oleh Dokter Doni.
Mimin mengangguk. "Dokter Doni juga menjelaskan sama seperti dokter jelaskan."
"Nah jadi jangan takut semuanya selain memang karena sudah takdir dari Tuhan, sakit itu diawali dari pola makan kita dan gaya hidup kita yang tidak sehat. Semangat yah, dan kalau memang butuh keyakinan lagi. Kamu juga bisa tetap berkonsultasi pada dokter Doni, agar semuanya lebih aman."
"Untuk Bapanya puasa dulu yah, sampai dedek bayinya kuat, takut ada apa-apa soalnya ini masih rawan banget," ucap Dokter Sita yang langsung dibalas dengan tatapan terkejut oileh Hadi.
#Hahaha baru juga buka puasa berapa minggu udah puasa lagi aja. Baba Hadi kasihan banget.
"Nanti kalau dedenya udah kuat boleh di buka lagi puasanya, asal pelan pelan mainnya," imbuh dokter Sita yang tahu arti tatapan Hadi.
"Ya gimana lagi Dok, demi anak enggak apa-apa lah puasa," balas Hadi dengan suara yang lemah. Mimin hanya menunduk mengulas senyum. Kasihan campur lucu melihat ekspresi sang suami. Setelah berkonsultasi dengan dokter Sita, Mimin dan Hadi pun kembali ke ruangan Aarav untuk mengambil anak mereka.
Mimin terkejut, setelah mengucapkan salam melihat Iko yang sedang asik membuka kado-kado yang tadi mereka bawa.
"Abang kamu lagi apa?" tanya Hadi, ah itu hanya pertanyaan iseng jelas Hadi tahu kalau anak sulungnya sedang membuka kado yang berisi mainan.
"Dede mau mainan Baba." Kan anak Mimin memang pinter banget. Katanya dedek bayi yang mau mainan. Abangnya hanya membantu membukakan selama adiknya belum bisa membuka sendiri, dan membantu memainkan selama adiknya belum bisa juga. Ingat Abang hanya membantu.
__ADS_1
"Oh, emang dede bayi bisa mainan?" tanya Mimin dengan duduk berhadapan dengan Iko yang sangat fokus membuka kado.
"Bisa itu dede bayi mainan mobil-mobilan." Iko menujuk ranjang adik bayinya yang diberi mainan mobil-mobilan. Memang mereka anteng gak nangis m, tapi bukan karena mainan tapi karena tidur dan kenyang.
"Kan Zura cewek masa dikasih mobil-mobilan?" tanya Hadi lagi.
"Dedek bayi suka kok main mobil-mobilan Baba." Ya udah lah terserah kata abangnya saja. Toh Aarav dan Lydia juga tidak keberatan asal tidak bahaya untuk anak-anak mereka.
"Gimana Di, hasilnya ok?" tanya Aarav ketika melihat wajah Hadi dan Mimin nampak bahagia.
"Ok dong. Nih buat kalian. Kado yang sesungguhnya." Hadi memberikan satu amplop pada Lydia.
"Apa ini Mas Hadi? Kan kalian juga tadi udah kasih kado." Lydia bingung dengan amplop yang Hadi berikan.
"Itu tadi kado hanya formalitas, kado sesungguhnya yang ada di dalam amplop itu."
"Udah Sayang buka aja, pasti itu isinya cek buat si kembar. Hadi kan sultan kadonya ya kalau nggak cek ya saham. Atau malah itu kado dari Om Ahmad dan Tante Arum cek atau bahkan surat tanah." Aarav terlalu tinggi harapannya. Lah othor aja mau.
"Iya juga yah." Lydia pun langsung membuka amplop itu. Semangat karena dia pikir cek satu milliar. Dan pandangan matanya langsung menatap Mimin dan Hadi setelah membaca surat yang tertera di dalam sana.
"Ini serius, Mas Hadi, Mimin?" tanya Lydia dengan kaget dan tidak menyangka kalau sahabatnya juga akan menyusul dia.
"Iya dong serius, hebat kan gue." Hadi menyimbongkan dirinya yang tok cer bibir unggul super premium. Eh salah super pertamax. BBM kali ah...
Bersambung....
...****************...
Pollow yuk IG othor biar tahu othor ada karya di mana saja. 🙏🏻 Ya kali aja mau ikutin othor ke rumah lainnya. 🙈
__ADS_1