
Setelah melakukan perjalanan yang tidak terlalu lama. Kini Hadi dan keluarga kecilnya pun sudah berada di rumah Lydia. Iko sendiri sudah tidak sabar untuk bertemu dengan bunda dan juga koleksi ikan-ikannya.
"Tunggu Sayang. Kita pamit dulu sama Baba dong." Mimin mencoba nahan Iko yang sudah ingin turun. Anak kecil itu pun langsung tertawa renyah, saking antusiasnya ia sampai lupa kalau belum pamitan dengan babanya.
"Baba Iko pulang dulu yah." Iko mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan baba Hadi.
"Iya Sayang, jangan nakal yah. Jadi anak yang baik." Hadi mencium kening, pipi kanan kiri putranya cukup lama. Setelahnya jangan di tanya anak itu langsung turun dari mobil dan memanggil bundanya dengan lantang.
"Bunda .... Iko pulang ...." Iko langsung memanggil Lydia sembari berjingkrak-jingkrak layaknya Kanguru.
"Tadi Julio kirim pesan katanya kalau hari ini tidak ada acara. Malam ini dia ajak kita temui pengacara ayah," ucap Mimin, kembali membahas wasiat ayahnya.
Hadi mengangguk, dan memberikan senyum teduh. "Nanti kita akan temui bersama dengan abang kamu. Kalau semuanya sudah terbuka dengan jelas. Kamu akan merasakan jauh lebih tenang."
Mimin tersenyum tipis seraya memberikan anggukan samar. "Terima kasih, lagi-lagi selalu ada di saat aku butuh."
"Kamu tidak usah berterima kasih terus. Aku sampai bingung harus jawab apa. Apa yang aku lakukan adalah bagian dari tanggung jawab aku sebagai suami jadi itu semua adalah kewajiban aku," jawab Hadi dengan yakin, dan menarik tubuh Mimin untuk di peluk. Cukup lama lagi-lagi pasangan itu membuat amang sopir ingin segera pulang.
#Kok othor lama-lama kasihan jadi amang sopir. Pengin buat episode khusus pov amang sopir kadinya....
"Ya udah Mimin pamit dulu yah." Wanita berwajah cantik itu pun mengulurkan tanganya untuk berpamitan pada suami tercintanya.
"Ya udah, kalian nikmati waktu kebersamaan kalian. Nanti pulang kerja Mas jemput baru kita akan temui Julio," balas Hadi dengan yakin. Dan Mimin pun membalas dengan anggukan.
__ADS_1
"As'salamualaikum ..."
"Waalaikumus'salam ...." Mimin melayambaikan tangannya, begitupun dengan Hadi membalas dengan memberikan senyum terbaiknya.
Mimin berjalan ke dalam rumah sang sahabat, dari dalam sana Lydia sudah menyambutnya dengan wajah tersenyum bahagia. Karena sudah beberapa hari tidak bertemu, ya meskipun tetap berkomunikasi melalui benda canggihnya. Rasa tetap aja beda.
"Iko ke mana?" tanya Mimin yang tidak mendengar celoteh anaknya yang makin hari makin bawel.
"Biasa kalau sudah ketemu dengan teman-temannya suaranya pun hilang." Lydia dan Mimin berpelukan. Meskipun sudah sulit untuk berpelukan. Mimin mengusap lembut perut buncit Lydia.
"Ngomong-ngomong udah dapat jadwal lahiran?" tanya Mimin, karena melihat perut Lydia makin besar. Benar-benar dua kali dari saat Mimin hamil.
"Sekarang baru usia tiga puluh lima minggu, tapi saat kontrol kemarin dokter sempat memberitahukan kalau berat baby sudah cukup jadi ada kemungkinan jadwal operasi dari kurang lebih dua minggu lagi kalau melihat dari usia kehamilan, bisa maju sekitar satu minggu lagi. Nanti di minggu depan akan kontrol lagi sekaligus menentukan jadwal kelahiran. Kalau semua sudah ok bisa dilakukan persalinan di awal. Karena memang kondisi bayi sudah normal." Lydia menjelaskan sembari mengajak duduk Mimin.
Dua orang sahabat itu pun ngobrol saling sharing pengalaman saat menjadi ibu. Terutama Mimin sang sudah lebih awal merasakan menjadi ibu. Ia pun banyak memberikan masukan-masukan untuk menghadapi persalinan. Meskipun Mimin yakin dokter juga pasti sudah mengajarkannya. Karena pasti sekelas Lydia yang suaminya memiliki uang tidak berseri pastinya mengikuti kelas-kelas kehamilan, belum juga ada mami Misel yang pastinya setiap saat akan siap memberikan tips-tips untuk menghadapi kehamilan.
Wanita itu ingin merasakan jadi istri yang bisa melayani suaminya. Yah, memanjakan suaminya dengan perutnya dan setelah itu dengan cara yang lain. Mimin yang payah sekali dalam urusan masak bahkan untuk nama-nama bumbu dan sebagainya Mimin banyak yang tidak tahu.
Bahkan bisa dikatakan jauh lebih handal Hadi dari pada Mimin yang sebagai wanita. Hadi bisa dikatakan menuruni bakat dari ibunya sehingga dia tidak ada masalah untuk urusan masak memasak. Bahkan dengan bumbu-bumbu seadanya Hadi bisa mengolah masakan dengan rasa yang lezat.
"Huh ternyata belajar masak jauh lebih sulit dari pada mengerjakan laporan keuangan perusahaan," ucap Mimin sembari meletakan semangkok opor ayam. Hampir seharian ini Mimin belajar masak. Di jam pagi, wanita cantik itu belajar menghafal nama-nama bumbu dapur dan biasanya digunakan dalam masakan apa. Setelahnya ia memasak tiga menu opor ayam. Tumis bunga kol campur dengan jamur kuping, dan terakhir udang goreng tepung.
Bisa dikatakan apa yang diolah oleh Mimin adalah masakan yang simpel-simpel. Namun, ia yang tidak biasa memasak pun langsung merasa harinya buruk.
__ADS_1
Melihat Mimin dengan wajah yang kusam. Lydia pun mengulas senyum. Tidak ketinggalan putranya yang justru tertawa renyah melihat ibunya yang sedang belajar masak.
"Lyd, coba kamu cicipi hasil masakan aku. Kenapa aky merasa tidak yakin yah rasanya. Padahal ini nanti bakal kita makan bareng-bareng. Kalau rasanya hancur seperti ini bagaimana?" elu Mimin, bahkan wanita cantik itu sudah berapa kali mencicipi masakan yang ia olahnya tetapi tetap saja ia merasa ada yang kurang dengan rasa masakannya.
"Ternyata mau bahagiain suami susah juga yah. Masak cape, mana belum tentu enak lagi. Modalnya juga tidak sedikit." Mimin mengambil beberapa sendok masakan masih tangannya untuk Lydia coba rasanya.
Sontak saja mendengar ucapan Mimin, Lydia kembali tertawa dengan renyah.
"Yah itulah pahalanya. Kalau kita melayani suami dengan ikhlas. Pahalanya tidak pernah main-main. Lagian, kalau mau bisa masak itu kuncinya dari sini. Kamu cintai dulu pekerjaan ini, jangan di buat beban, dan jangan dibuat keharusan. Lagian selama suami kita tidak menuntut yang lebih-lebih aku rasan tidak apa-apa kamu tidak melakukannya. Kecuali kalau suami kamu berkata kamu wajib memasak agar dapat pahala mungkin bisa kamu jadikan beban, tapi Hadi tidak kaya gitu kan." Lydia mengambil piring yang Mimin berikan untuk mencoba hasil masakan sahabatnya itu. Apakah layak untuk dikonsumsi atau tidak.
Mendengar nasihat dari sahabatnya, Mimin pun mengulas senyum sembari terkekeh.
"Mas Hadi sih tidak pernah minta aku masak. Bahkan ketika aku bilang kalau aku tidak bisa masak Mas Hadi tidak keberatan. Tapi tetap saja ada rasa ingin melayani suami dengan memanjakan lidahnya dengan olahan kita," balas Mimin Mimin dengan nyengir.
"Nah, itu Hadi tidak pernah meminta kamu untuk bisa masak. Kalau kamu yang ingin masak dan ingin melayani Hadi, kamu harus cintai masak dulu. Sukai dan nikmati setiap prosesnya. Kalau kamu bahagia aku yakin kamu juga pasti akan menghasilkan olahan yang enak. Bahkan aku butuh waktu yang lama untuk bisa masak masakan yang bisa disukai banyak orang." Kembali Lydia memberikan Mimin semangat.
"Iya deh, aku ke depannya akan rubah masak dari hati. Ngomong-ngomong masakan hasil olahan aku bagaimana kok nggak dicoba-cobain." Mimin kembali mengingatkan Lydia yang bahkan lupa kalau dia mau mencoba hasil olahannya.
Lydia pun tersenyum dengan apa yang Mimin katakan dan dia langsung mencoba masakan Mimin berawal dari opor ayah, dan ke dua tumis bunga kol dan jamur kancing.
"Uhukkk ... uhukkk ..." Lydia langsung mengambil minum dan meneguknya hampir tandas.
#Nah loh rasanya apa, jangan-jangan opor rasa kolak.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...