
"Mih, ini Lydia Mih," ucapku dengan suara yang lembut. Ketika mamih mertua langsung marah-marah begitu telpon tersambung.
[Ya Allah ini kamu Sayang. Suami kamu yang nakal ada di mana...?] tanya Mamih mertua dengan suara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. Sedangkan anaknya di balik kemudi dari tadi terkekeh tidak ada hentinya mendengar suara Mamih Misel yang sangat jauh berbeda. Ketika bicara dengan Mas Aarav dan dengan aku.
"Hahah... malu tuh Mamih... "
Aku ikut terkekeh ketika mendengar Mas Suami yang tertawa karena Mamih Misel yang langsung marah ketika aku yang mengangkat telponya.
[Malu tuh, yang kena marah mantunya,] ucap Mas Aarav pada Mamih yang masih tersambung.
[Lyd, apa itu Aarav?] tanya Mamih Misel dari nada bicaranya sih sudah ketahuan sangat marah dengan Mas Aarav yang mungkin berpikir kalau Mas Aarav sedang mengerjai sang Maminya.
[Iya Mih, ini Mas Aarav sedang nyetir. Makanya Lydia yang angkat telpon dari Mamih,] jawabku agar mamih mertua jangan salah paham, yah aku tahu sih Mamih Misel dan Papih Sony tidak mungkin marah. Mereka adalah orang yang sabar jadi sangat mustahil marah hanya gara-gara anaknya yang ngerjain.
[Kalian lagi di mana?] Suara Papih Sony kali ini yang terdengar.
[Lagi di jalan Pih, sebentar lagi sampai,]
[Pulang ke rumah Amora atau rumah kalian yang lama?] tanya Papih lagi.
[Amora, paling lima belas menit lagi sampai.] Kali ini Mas Aarav yang jawab, mengingat aku masih terlalu buta dengan wilayah Jakarta. Bahkan mungkin kalau jalan ke mini market pulang-pulang bisa nyasar apalagi soal alamat, taunya naik mobil udah sampai, jangan ditanya alamat pasti akan bingung sendiri.
[Ok, kami tunggu. Jangan lama-lama!] Setelah berbasa-basi Mamih Misel pun memutuskan sambungan teleponnya, dan Iko pun menatap aku terus dengan mata yang kedip-kedip, tetapi pandainya bayi itu tidak nangis sehingga tidak menggagalkan kejutan yang Mas Aarav buat. Coba kalau nangis Mamih dan Papih Sony pasti tahu kalau kita bawa bayi.
"Mas apa nanti Papih dan Mamih yakin tidak marah kalau kita adopsi bayi?" tanyaku lagi, meskipun dari respon mereka sepertinya mereka semua bersikap sangat hangat dan terbuka, dan aku juga bisa lihat kalau keluarga mas suami itu bukan tipe keluarga yang suka membedakan dan mengurusi hidup orang lain.
Lagi-lagi mas suami adalah pemerkira yang tepat, sesuai dengan perkiraannya, tidak sampai lima belas menit sudah sampai. Aku bahkan sudah membayangkan betapa berantakannya rumah kami saat ini, apalagi aku juga sekarang tidak bisa bantu-bantu mengingat tugasku sekarang ditambah dengan adanya baby Iko.
Aku lihat Mbok Jum, dan juga Bi Lastri serta beberapa asisten rumah tangga Mamih ada di sini. Yah tidak aneh sih meskipun aku tidak meminta bantuan pada mereka secara langsung, tapi Mamih Misel sudah pasti mengerahkan asisten rumah tangganya untuk bantu-bantu beres-beres di rumah baru kami.
"Loh Mbak, anak siapa ini?" tanya Mbok Jum sama halnya kaget seperti pertama kali Mas Aarav melihat aku menggendong bayi yang masih merah. Bahkan Bi Pasti pun tidak kalah kepo. Langsung menghampiri kami.
__ADS_1
"Anak aku dong Mbok," jawab Mas Aarav mewakili pertanyaan Mbok Jum.
"Iya Mbak?" tanya Mbok Jum lagi, dengan menatap tajam padaku, seolah wanita paruh baya itu tidak percaya kalau bayi yang aku gendong memang anakku. Sama halnya Mbok Jum, Bi lastri pun menatap aku tajam seolah tidak percaya dengan ucapan majikannya.
"Emang nggak mirip Lydia Mbok, Bi?" tanyaku sembari membuka ujung hijabku yang menutupi wajah tampan baby Iko.
Hay aku Baby Iko....
"Ya Allah, anak siapa serius ini Mbak Lydia, kenapa tampan sekali?" tanya Mbok Jum dan Bi Lastri kembali, tidak percaya pake banget aura-auranya dengan ucapan mas suami. Mereka nampak saling berebut untuk melihat baby Iko yang masih mencoba mengenali siapa yang berbicara.
"Anak Lydia dan Mas Aarav Mbok," jawabku, dan kali ini baru Mbok Jum percaya kalau aku yang jawab. Kalau Bi Lastri sih udah jelas percaya.
"Alhamdulillah, selamat yang Mbak Lydia dan Tuan Aarav. Akhirnya punya bayi juga," balas Mbok Jum dengan antusias.
"Selamat yah Ndok, akhirnya punya mainan baru, kalau gini sih pasti kamu juga bakal cepat ketularan." Bi Lastri mengusap pundakku dengan hangat.
"Padahal jawabanya sama aku dan Lydia, tapi kenapa kalau aku yang ngomong nggak percaya sedangkan Lydia yang ngomong percaya semua coba," protes Mas Aarav yang langsung di balas senyum tidak enak oleh Mbok Jum, dan Bi Lastri.
"Mungkin wajah Mas Aarav yang lebih seperti tukang bohong," balasku setengah berkelakar.
"Lydia... apa itu kamu sudah datang?" Suara Mamih dari dalam rumah sudah kedengaran padahal kamu masih di garasi, itu semua karena Mbok Jum, dan Bi Lastri yang masih belum puas melihat baby Iko.
"Iya Mih..."
"Ya Tuhan, apa itu Baby Tiko?" tanya Mimih dari tangga sembari menatap binar pada kami yang sedang menggendong Iko bahkan bayi yang awalnya terpejam, karena mendengar ada keributan sampai bangun dan memicingkan sebelah matanya.
"Namanya Iko, bukan Tiko. Udah Aarav ganti jadi Iko Uwais," balas Mas Aarav di mana mas suami langsung membawa barang milik baby Iko.
"Ckkk... kamu itu, mentang-mentang ngefans banget sama aktor laga itu, sampai anak juga diberi nama itu," Mamih melambai-lambai tanganya agar kami segera naik ke atas di mana memang rumah desain Amora itu lantai bawah khusus arena terbuka untuk bermain, ada kolam renang dan tempat santai alat GYM lengkap serta ada tempat santai untuk tempat kumpul keluarga kalau ada acara sehingga tidak harus menyewa cafe, gedung atau apalah. Cukup untuk menampung keluarga besar.
__ADS_1
Di lantai dua baru semua ruang tamu, dapur dan segala macamnya, dan lantai tiga di khususkan untuk kamar dan ruangan bersantai keluarga. Rumah yang sangat nyaman. Bahkan bayanganku akan berantakan nyatanya tidak itu semua karena yang kerja mungkin langsung satu kecamatan, sehingga selesai dalam satu hari.
"Sayang kamu dapat anak ini dari mana?" tanya Mamih yang langsung mengambil baby Iko.
"Dapat di kasih dari teman," jawabku dengan jujur, yah memang Iko itu dikasih, bukan aku yang minta. Tiba-tiba Mimin yang menitipkan Tiko untuk aku asuh.
Sontak aku lihat Mamih Misel langsung menatap aku tidak percaya. "Kamu jangan bercanda, jangan ikut-ikut suami kamu," balas Mamih dengan menatap Mas Aarav yang suka isengin orang tuanya. Sedangkan mas suami sih hanya nyengir kuda tanpa rasa bersalah.
"Hehe ini serius Mih, Lydia aja nggak nyangka kalau bakal dititipin bayi. Niatnya menjenguk ajah dan bantuin karena memang saudara teman Lydia sedang sendirian di Jakarta dan posisi teman Lydia sedang di luar kota, tapi malah pulang-pulang di minta bawa bayi ini," jawabku dengan serius, beda kalau mas suami yang jawab ada wajah senyum-senyumnya sehingga siapa pun yang mendengar tidak percaya.
"Mih, ngomong-ngomong Papih kemana?" tanya Mas Aarav yang mana aku juga baru sadar ternyata Papih nggak ikut nimbrung.
"Lagi jemput teman bisnisnya. Tadi katanya mau ke rumah kita untuk membicarakan bisnis kelapa sawit yang di Kalimantan, tapi berhubung kita lagi di sini, jadi Papih minta Pak Wijaya ke sini. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Mamih Misel dengan sopan.
"Tidak lah, santai saja, lagian juga nanti paling Aarav juga ikut meeting tipis-tipis."
Aku hanya menyimak obrolan Mas Aarav dengan Mamih Misel tanpa ingin kepo.
"Ngomong-ngomong, David katanya sudah balik lagi ke keluarganya. Kok bisa bukanya terakhir denger dia kabur sama cewek pilihanya."
Jantungku langsung tersentak kaget ketika mendengar nama David.
"Kamu kayak nggak tau ajah keluarga Wijaya, duit di mana-mana ngurusin masalah David mah ya gampang. Jatuhnya kasihan sama anak-anaknya. Suka sama suka, tapi harus terpisah karena orang tuanya. Semoga mereka semua, segera diberi kesadaran saja sih kalau tidak semuanya jodoh dari orang kaya yang paling baik," ucap Mamih Misel sepertinya sangat tahu dengan keluarga David-David itu.
"Iya, kasihan sih, tapi kan mungkin Tuan Wijaya ngandelin nya sama David lah wong dia anak satu-satunya malah kabur, ya pasti bakal ditarik paksa buat balik lagi. Lagian David juga salah, harusnya ambil hati orang tuanya dulu baru nikahin anak orang jangan malah kabur dari keluarganya. Kalau orang biasa kabur nggak bakal dicariin. Lah dia orang tuanya tajir melintir kabur mah yang percuma," balas Mas Aarav sembari terkekeh seolah sangat paham dengan masalah orang yang akan datang ke rumah ini.
Aku masih diam, tetapi otaku yang selalu penasaran pun seolah bisa menarik garis demi garis yang mas suami dan mamih mertua katakan.
"David? Aku jadi teringat dengan cerita Mimin. Mungkinkah David yang jadi suami Mimin yang dikatakan meninggal itu adalah David yang sama dengan anak Tuan Wijaya, orang kaya yang tajir melintir?"
Batinku menjerit-jerit. Aduh otak ini harus berpikir lagi.
__ADS_1
Bersambung...