
"Siapa keluarga ayah biologis Iko, yang kamu maksud Sayang?" tanya Mas suami semakin penasaran.
"Tuan Wijaya, dan David adalah ayah biologis Iko," jawabku dengan suara bergetar.
"Sudah aku duga. Dari awal sebenarnya Mas sedikit curiga kenapa kamu ingin tahu kisah David dengan detail."
Aku langsung memalingkan pandanganku ke Mas suami, yang sedang serius mengemudi mobil."
"Maksud Mas itu apa? Sudah aku duga. Duga apa, memang Mas selama ini curiga kalau David adalah ayah biologis Iko?" tanyaku kepo bin penasaran.
"Tidak sih, hanya saja kamu beberapa kali tanya soal David kayaknya tidak mungkin tanya tanpa ada sesuatu yang ingin kamu tahu dari David, tapi tidak apa-apa selagi Mas yang tahu. Untuk sekarang kamu tenang saja, jangan ambil pusing soal David ataupun Tuan Wijaya. Biar itu urusan Mas, bagaimana cara melindungi Iko, nanti Mas akan bicarakan dengan Papih. Kamu cukup fokus saja jaga Iko, dan jangan terpikirkan takut kalau David akan ambil Iko semuanya akan baik-baik saja kalau kita juga dalam keadaan baik-baik saja," ucap Mas suami yang jujur membuat aku sedikit merasakan nyaman.
Yah, setelah Mas Aarav mengatakan kalau tugas aku adalah menjaga Iko dan tidak terpikirkan dengan masalah David atau keluarganya yang akan mengambil Iko, pikiranku pun jadi tenang. Bahkan istirahatku pun semakin nyaman dan bisa tidur dengan nyenyak, tanpa ada rasa takut kalau David akan mengambil Iko.
Aku percaya, kalau Mas suami bisa diandalkan, apalagi aku sempat mengatakan kalau Tuan Wijaya menawarkan uang dua milliar agar Mimin mengguguurkan kandungannya. Tidak hanya itu aku juga mengatakan bahwa David sempat tidak percaya bahwa Iko adalah anak dari dirinya, hal itu karena Davis sempat menuduh Mimin selingkuh dari mandor tempatnya bekerja yang bernama Jono, dari situ Mimin menganggap bahwa David sudah mati. Anak David sudah mati dan juga cucu Tuan Wijaya yang sudah mati juga. Iko yang aku asuh adalah. murni anak Mimin.
"Sayang aku berangkat kerja dulu yah. Tadi Mas sudah bilang agar Mamih datang ke sini unjuk jaga Iko, kamu temenin Mimin untuk jalani pemeriksaan, dan jangan lupa tanyakan seperti yang semalam Mas katakan. Dan Mas hari ini juga akan menemui Papih dan juga Hadi," ucap Mas suami sembari pamitan di pagi hari ini.
"Padahal biar nanti juga Lydia bisa bilang sendiri sama Mamih, Mas. Tidak usah Mas yang bilang."
"Tadi sekalian buat janji sama Tuan Sony jadi sekalian ngobrol sama istrinya," balas Mas suami yang membuat aku tertawa dengan renyah. Tuan Sony dan istri adalah orang tua mas suami, pantas aku jatuh cinta dengan mas suami selain ganteng juga pastinya lucu.
Begitu Mas suami berangkat kerja tidak lama pun mobil Mamih Misel sudah aku dengar. Memang mertuaku itu tidak pernah mengecewakan meskipun acara aku pergi masih jam sepuluh, tetapi belum jam delapan sudah datang.
"Assalamualaikum..." Suara Mamih Misel sudah mulai terdengar dengan gembira.
"Iko... Oma datang Nak, kamu sedang apa?" Kembali Mamih langsung naik ke kamarku, yah untuk sekarang yang dicari Iko bukan lagi menantu ataupun anaknya. Yah, Iko semakin menggoda dan bahkan semakin membuat tidak bisa tidur karena kelucuannya.
__ADS_1
"Iko baru selesai mandi Oma," jawabku begitu Mamih Misel masuk ke dalam kamar.
"Aarav udah berangkat kerja?"
"Barusan Mih, mungkin malah baru ke luar dari gerbang perumahan," jawabku sembari mengeringkan tubuh Iko yang semakin gembil.
"Kok tadi nggak ketemu sama Mamih, apa Mamih tidak lihat. Biar Mamih yang lanjutkan ganti pakaian Iko, kamu siap-siap saja, nemuin ibu kandung Iko, biar urusan Iko sama Mamih, aman." ucap Mamih Misel dengan mengambil alih handuk dan melanjutkan tugasku. Nyatanya tanpa aku ceritakan tentang Mimin, Mamih Misel sudah tahu, hal itu pasti Mas Aarav sudah menceritakannya pada ke-dua orang tuanya.
"Terima kasih Mih, kalau gitu Lydia bersih-bersih dulu dan bersiap untuk pergi, tapi maaf Min kalau nanti sampai sore Lydia pulangnya. Apa Mamih tidak keberatan?" tanyaku dengan mengambil pakaian yang akan aku gunakan.
"Bahkan kalau sampai malam pun Mamih tidak merasa keberatan."
Yah, aku sih tahu betul kalau Mamih mertuaku memang sangat baik dan juga sangat bisa diandalkan sehingga aku bisa menemani Mimin periksa dengan baik dan juga dengan tenang tentunya.
Setelah memastikan Iko aman dengan mertuaku, aku pun langsung melanjutkan rencanaku yaitu pergi ke rumah sakit Menuju Sehat untuk menemani Mimin, menjalani pemeriksaan. Meskipun ada dokter Sera yang selalu mendampingi Mimin, tetapi aku juga ingin tahu kondisinya, dan untuk penangananya mengingat bisa dibilang untuk biaya Mimin perawatan adalah uang dari kantongku sehingga untuk menentukan perawatan dengan biaya menjadi tanggung jawabku.
Begitu aku datang pun langsung menuju ruangan rawat Mimin dan ternyata Mimin sudah melakukan serangkaian pemeriksaan dari satu jam yang lalu, setelah bertanya ke sana dan ke mari aku pun langsung menuju tempat Mimin melakukan pemeriksaan.
"Lydia, sudah lama datang? Mimin sedang di lakukan pemeriksaan di dalam, untuk semua organ tubuhnya dan pengecekan sel kanker. Dan kalau soal kondisi, malam tadi tidak terlalu menghawatirkan, bahkan bisa dibilang cukup bagus begitu kamu pulang dan juga saya masuk dan ngobrol sebentar Mimin kembali tertidur dengan tenang itu mungkin karena pengaruh obat sehingga tidur dengan tenang," balas dokter Sera, sembari menggeser tubuhnya agar aku bisa duduk bersebelahan dengan dokter Sera.
"Sudah lama Mimin di dalam? Dan kira-kira sampai berapa Jam untuk mengetahui hasilnya?" tanyaku dengan kepo karena aku yang memiliki bayi di rumah meskipun ada Mami mertua, tetapi kalau terlalu sering menitipkan Iko juga kasihan dengan Mamih Misel, meskipun tidak pernah protes Mamih Misel apabila aku menitipkan Iko, tetapi sebagai menantu yang baik dan tahu diri aku pun lebih memilih membatasi jatah keluar, hanya yang begitu penting yang akan membuat aku keluar rumah, dan menitipkan jagoanku.
"Baru satu atau dua jam di dalam sana, dan untuk hasil sore sudah bisa di ketahui sakit apa, tapi mungkin untuk memastikan lagi besok baru hasil yang akurat bisa diketahui beserta semua fungsi organ dalamnya."
"Dokter Sera tidak tugas?" tanyaku lagi, aku juga tidak enak kalau nanti dokter Sera terlalu sibuk mengurus Mimin yang ada malah kerjaan jadi terbengkalai.
"Saya tuker jaga, mungkin malam nanti saya akan jaga dan anak pertama saya yang akan gantian jaga Mimin, mengingat anak pertama saya masih sekolah dan ada waktunya di malam hari," jawab Dokter Sera yang bisa aku lihat kalau tubuhnya cukup lelah dan lemas.
__ADS_1
"Kalau gitu, nanti Lydia akan bicara dengan Mas Aarav soal perawat pribadi untuk Mimin, biar semuanya bisa diatur dengan baik dan dokter Sera juga bisa istirahat dan juga bisa berkerja dengan baik. Kalau gitu biar Lydia yang tunggu Mimin, sekarang dokter istirahat saja di kamar Mimin, lumayan satu atau du ajam, takutnya nanti malah dokter Sera sakit, makin repot semuanya."
"Kamu serius, kalau kamu nggak keberatan sih saya sangat senang sekali jujur sangat ngantuk belum nanti malam juga bagian jaga," balas dokter Sera dengan semangat dan wajah yang berbinar bahagia.
"Serius Dok, Lydia semalam sudah tidur cukup jadi sekarang gantian Lydia jaga Mimin."
Setelah aku mematikan kalau aku yang akan jaga Mimi, dokter Sera pun langsung berpamitan untuk kembali ke rawat inap Mimin dan istirahat. Yah, aku tahu betul ketika kurang istirahat maka tubuh pun rasanya sangat lemas dan tidak fokus dalam pekerjaan nantinya, itu sangat berbahaya untuk dokter Sera yang bertugas menjaga pasien.
Setelah hampir menghabiskan waktu tiga jam untuk menunggu akhirnya aku pun menemui dokter yang menangani Mimin.
"Siang Dok, apa saya sudah bisa tahu kira-kira teman saya sakit apa?" tanyaku pada dokter tampan di hadapanku.
"Siang Mbak, sebelumnya perkenalkan saya dokter Doni, Doni Mahendra, dokter spesialis kanker dan saya akan jelaskan sedikit informasi sakit apa yang mengganggu kesehatan pasien, dan pastinya pengobatan dan lain sebagainya." Dokter tampan yang duduk dihadapkan pun mengembangkan senyum terbaiknya.
Bersambung...
...****************...
# Welcome Dokter Doni Mahendra Bellamy, semoga betah di rumah baru yah, sembari nunggu novel Om dokter jadi, mampir sini dulu yah.
Yang sudah baca novel (Cinta Berselimut Dendam pasti tau siap Om Dokter) Yang belum baca yuk mampir di jamin gemes-gemes baper dan erosi (Udah Tamat hari ini)
Kenalan yuk sama Om Dokter, ini foto kalau lagi tugas sebagai dokter spesialis kanker, kinerjanya jangan diragukan lagi buktinya Alzam sembuh dari kangker tulang sarkoma, dan semoga Mimin setelah ditangani dokter Doni juga sembuh sama kaya Alzam.
Dan Ini dokter Doni kalau lagi nguli di. perusahaan Metropolitan Bellamy Jaya.
__ADS_1
Kalau di tanya setatus, masih jomblo usianya 33 tahun, iya jomblo baru deketin Mbak Gatot udah di tinggal kabur. Dia lagi galau ngejar cinta Mbak Gatot (gadis berotot) Do'akan yah abis lebaran Om dokter sold out, kasihan yang lain udah dapat pasangan cuma Om dokter yang jomblo.